๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Putus
Ayu sudah pasti marah. Dia tidak pernah mengangkat telponku sejak dua hari yang lalu. Terakhir bicara dengannya, dia bilang aku ingkar janji dan dia terdengar sangat kesal.
Aku dengan perasaan bersalahku, datang lagi ke sana menemuinya. Setidaknya untuk menjawab pertanyaan tentang kenapa aku mengingkari janjiku sehingga dia menunggu lebih lama dari yang kujanjikan. Meski tidak bisa berterus terang, aku ingin melupakan apa yang membebaniku sejenak dengan hanya melihatnya tersenyum.
Tapi, kusadari dia agak sedikit berubah dari terakhir kali aku melihatnya.
Siang itu dingin. Seperti biasanya, udara di kota pegunungan seperti Bukittinggi memang sangat dingin. Dan entah sejak kapan Ayu memiliki kebiasaan seperti ini.
“Kenapa tidur di lantai?” aku menemukannya terbaring di depan TV. Mengenakan celana pendek dan kaos longgar, ia seolah tidak merasakan dinginnya lantai –entah aku yang tidak pernah terbiasa dengan dinginnya udara di sini karena biasa tinggal di kota yang panas seperti Padang.
Ayu tertidur dengan posisi menyamping. Pipinya menyentuh lantai yang dingin, matanya terpejam damai, dan ia seolah nyaman dengan hawa dingin di rumah yang terlihat berantakan.
Aku memandangi sekelilingku heran. Biasanya tempat ini selalu rapi. Mengingat hari ini masih hari Rabu, aku jadi bertanya-tanya kenapa dia tidak bekerja? Apa dia sakit?
Aku mengusap dahinya –dingin. Dia tidak kelihatan pucat. Tapi, rambut panjangnya acak-acakan.
Ketika akhirnya terbangun dan melihatku, aku sangat lega. Tapi, dia hanya menatapku. Dan seharusnya, ia memelukku karena terlalu merindukanku.
“Dingin… nanti bisa masuk angin,” kataku sambil menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi pandanganku untuk dapat melihat wajahnya yang manis. “Kenapa kamu tidak pernah mengangkat telponku?”
Dia tidak menjawabku. Dia tampak merasa asing menemukanku. Seakan masih terperangkap di dalam mimpi, di mana yang ia tahu, bahwa seminggu belakangan di rumah ini ia selalu sendirian, bersama bayanganku.
“Padahal kita sedekat ini…,” ujarku lagi, mendekapnya ke dalam pelukanku dan aku menarik nafas panjang yang sangat lega.
Tapi, tidak dengannya.
---
Perasaanku mengatakan, setiap aku menemukan Ayu tengah memandangku ada sesuatu yang tampak mengganggunya. Dia tidak banyak bicara. Dia tidak melakukan sesuatu terhadap rumahnya yang berantakan –seakan sengaja membiarkannya karena benar-benar malas atau tidak pernah merasa bahwa kekacauan di sekitarnya mengganggu matanya.
Awalnya, aku bisa mengabaikan hal itu. Tapi, ketika aku duduk di depannya, aku melihat ada sebentuk kemarahan di matanya. Aku pikir, karena aku mengingkari janjiku dan dia belum bisa menerimanya. Tapi, lama kelamaan pandangan itu membuatku merinding. Seakan aku tidak benar-benar bisa menyembunyikan beban lain di mataku saat berhadapan dengannya. Seolah ia punya firasat bahwa aku melakukan kesalahan selagi ia menungguku dengan penuh harap.
“Handphone kamu tidak rusak,” katanya, seakan itu penting dikatakan pada saat seperti ini.
Aku terkejut. Aku kira ada masalah apa sampai dia menatapku seperti itu. Menelisik –penuh rasa curiga. Seolah aku baru saja membunuh seseorang, lalu mengubur Diantnya entah di mana.
“Oh ya?”, aku punya sekaleng Coca Cola di tanganku dan meminumnya. Dia membuatku sedikit khawatir.
“Harusnya kamu tidak meninggalkan handphone sembarangan,” dia berkata dengan suara yang dipaksakan terdengar setenang mungkin.
Ada apa dengan dirinya?
“Aku tahu, tapi aku pikir benar-benar rusak…,” jelasku, sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam sakuku. Sebuah handphone baru yang kubeli begitu aku ingat aku lupa membawa handphone yang rusak itu untuk diperbaiki, “Aku sudah membeli yang baru”
Ayu diam. Dan aku sadar, Ayu tidak pernah memegang handphone-ku sebelum ini. Dia tidak pernah meminjamnya untuk membuat foto apalagi memeriksa untuk memastikan aku tidak bermain-main –seperti yang biasa Tyas lakukan. Karena aku tahu, Ayu tidak pernah mencurigaiku, hingga aku lupa bahwa di dalam sana masih ada banyak hal yang tidak boleh dia lihat.
“Mana handphone-nya?” aku semakin khawatir, walaupun sudah terlambat untuk menyadari bahwa itulah yang membuatnya kacau.
“Bukannya kamu sudah membeli yang baru?” cetusnya, membuang muka. Dan aku semakin khawatir.
“Ayu, mana handphone-nya?” aku makin tidak sabar.
“Untuk apa?” tandasnya, memperlihatkan kemarahan itu juga, “Apa karena kamu belum sempat membaca pesan-pesan penting yang dikirim Tyas?”
Aku tidak tenang. Berdiri dari kursiku aku mengulurkan tanganku padanya, karena aku yakin di tangannya yang tersembunyi di belakang punggung ia memegang benda itu, “Ayu, mana handphone-nya?”
Ayu beranjak dari kursinya. Masih menatapku, ia berubah sedih, “Kamu mengatakan kalau kamu mencintaiku… dan aku... juga mengatakannya...,” ia berkata, dengan setetes air mata yang jatuh di pipinya yang pucat. Kata-kata yang merobek hati dan mengirimku pada penyesalan terdalam atas apa yang terjadi padanya “Tapi, bedanya… aku tidak pernah berbohong….”
Aku tidak pernah membohonginya. Aku tidak pernah berbohong saat kukatakan bahwa aku mencintainya. Tapi, bunyi pendek dari dalam saku celanaku, membuyarkan apa yang ingin kukatakan padanya.
Nama Tyas muncul di layar, membuatku bingung. Saat ini dia masih di rumah sakit. Aku terkejut, karena saat meninggalkan Padang menuju ke sini, Tyas masih belum sadarkan diri. Dia sudah sadar dan mengirim pesan itu padaku.
“Siapa?” tanya Ayu mendekat, seakan tahu bahwa inilah yang berusaha aku sembunyikan darinya.
Bahwa kesalahanku, hampir membuat seseorang kehilangan nyawa.
“Gina. Aku disuruh pulang,” jawaban bodoh itu terlontar begitu saja dengan cepat.
Tapi, Ayu tidak mempercayainya. Secepat aku menghindar secepat itu pula, ia merampas handphone-ku dan membaca SMS yang dikirim Tyas .
DENNIS, KAMU DI MANA? AKU INGIN BERTEMU.
Tanpa perasaan ia membantingnya. aku tidak melihat bagaimana hancurnya benda itu menghempas lantai keras yang dingin, karena dia menamparku. Untuk pertama kalinya, sejak bersama, dia menampar wajahku.
“Pembohong!!” suaranya memakiku, ibarat petir di siang bolong.
Membakarku dan menghancurkanku.
“Kenapa, Alan…,” Ayu mencengkram lenganku, mengguncang-guncang tubuhku, “Apa… karena aku tidak bisa memberi apa yang kamu mau, makanya kamu begitu…?”
Aku bingung. Harus bagaimana menjelaskannya?
Sekali pun aku membela diriku, -yang mana aku sadar bahwa itu memang tak akan mengubah apapun, Ayu kehilangan kendali. Aku tidak bisa menjelaskan bahwa bukannya aku sengaja.
Tapi, semuanya terlalu rumit untuk dijelaskan.
“Sebaiknya kamu pergi dari sini…,” dia menunjuk ke pintu yang masih terbuka tanpa menatapku.
Rasanya tidak adil bagiku dihakimi seperti itu. Kapan dia mengerti bahwa aku terlalu mencintainya sehingga aku harus menjadi kejam terhadap orang lain hanya untuk bisa bersama dengannya? Hanya untuk bisa bertemu dan sambutannya padaku seolah menyiratkan bahwa ia tidak ingin bersamaku, seakan aku benar-benar sengaja berkhianat?
Entah harus bagaimana membuatnya mengerti, bahwa aku sangat tersiksa.
“Memangnya seperti apa kamu memandang hubungan kita?” aku tidak menerimanya begitu saja, “Apa aku ini hanya tempat bergantung?”
Aku tidak mengerti dengan dirinya. Jika ini cinta, dia tampak tidak memahami kesulitanku sama sekali. Aku menyadari kesalahanku, meski dengan meminta maaf tidak akan ada gunanya. Dan yang kutakutkan saat itu bukan itu. Seperti waktu itu, dia akan lari, tapi mungkin kali ini tidak akan kembali. Jadi aku menahannya, memaksanya untuk tidak pergi ke mana pun, dengan caraku. Aku melihatnya meronta dan melawan, persis seperti dalam mimpi buruk itu. Tapi, bedanya, walaupun aku tahu itu adalah kesalahan fatal, aku tidak menghentikan diriku menyakitinya.
---
Kepalaku sakit. Aku membuka mataku, berusaha menajamkan penglihatanku, untuk melihat siapa yang berdiri di depanku. Aku tidak pernah merasa begitu lelah. Rasanya seperti bermimpi di dalam mimpi.
Dan hal yang pertama aku lihat dengan mataku, begitu aku membuka mata adalah sebilah pisau dapur dalam genggaman Ayu.
Dia berdiri. Dengan sisa air mata di wajahnya. Rambut yang kusut dan wajah yang pucat.
Aku tersentak. Bangkit dari rasa lelah karena aku tahu pisau itu akan menghujamku. Dan itu bukanlah mimpi.
Belum sempat aku terjaga sepenuhnya, dia melompat ke arahku!
“Kamu mau apa, Yu…,” suaraku sendiri juga gemetaran tanpa kusadari. Tanganku menahan tangannya yang menggenggam pisau, sementara mata pisau ada di depan wajahku. Sedikit lagi saja, mungkin aku sudah berada di neraka yang sesungguhnya.
“Kenapa, Lan?!” dia bertanya, wajahnya tampak sakit dan merana. Ia masih berusaha untuk menancapkannya padaku, “Apa lagi yang mau kamu lakukan untuk menyiksaku?!”
Aku menggeleng, membantah bahwa aku bukanlah orang jahat meski yang kulakukan tetap salah dan tidak bisa dimaafkan. “Tenang…,” ujarku, walau aku yakin dia tidak akan mendengarkanku lagi. “Buang, Ayu…”
“Harus Bagaimana lagi, Lan?! Harus Bagaimana lagi supaya kamu berhenti menyakiti aku?!” teriaknya, memaksa hendak menghabisiku. “Lebih baik kita tidak pernah ada!”
Aku panik. Tidak pernah, dia membuatku sedemikian takut padanya. Aku mulai kewalahan. Aku bingung. Bukannya aku tidak bisa melepaskan diri, tapi itu sudah pasti akan menyakiti dirinya.
Aku mencengkram erat tangannya yang menggenggam pisau hingga lemah sementara ia terus meronta. Hingga pisau terlepas dan jatuh ke lantai. Ayu masih melawanku dengan berteriak dan menjerit. Berusaha keras menyakitiku.
“Hentikan!!” teriakku, “Hentikan! Kita harus bicara!!”
Dia tampak tak ingin mendengarkanku, dengan membabi buta ia terus memukul tubuhku dengan semua tenaganya.
Aku kesakitan hingga tidak tahan lagi. Perlahan juga kehilangan kendali dalam kebingungan. Kedua tanganku yang berusaha melindungi diri dan menghentikannya, kemudian malah menyakitinya.
Aku mendorongnya menjauh dariku. Tubuhnya terhempas ke lantai dan dia jadi semakin gila. Pada saat ia melihat pisau itu lagi, ia merangkak untuk meraihnya dan aku mendapatkannya lebih dulu. Ayu meradang, menghantam tubuhku dengan tubuh lemahnya. Meraih tanganku dan berusaha merampas pisaunya yang berada di atas kepalaku agar ia tidak bisa menjangkaunya.
“Sudah!!” teriakku mulai terpancing emosi karena ia tak juga menyerah. Aku melempar benda itu ke sudut ruangan.
Suara benda itu menghantam dinding mengalihkan perhatian Ayu sesaat. Sebelum tanganku yang kasar menyadarkan dia lewat tamparan yang membuat seisi ruangan hening seketika.
Ayu terhenyak. Aku terbelit rasa bersalah, tamparan itu keras sekali. Hingga bahkan Ayu terduduk di lantai. Menjadi tenang dalam sekejap. Tapi, belum mampu meredakan emosinya.
“Ka…kamu…,” dia berusaha mengatakan sesuatu saat aku bahkan tidak dapat berkata apa-apa. Aku pikir tamparan itu dapat membuatnya berhenti. Tapi, malahan Ayu tidak peduli, ia malah membalasku dengan kembali memukulku.
“Berhenti!!” teriakku mulai marah, “Aku bilang berhenti! Ayu!!”
“Aku menyesal bertemu kamu! Aku menyesal atas apa yang terjadi sama aku berkat kamu! Aku menyesal, Lan! Aku menyesal pernah mengenal kamu! Aku berharap kamu mati! Agar kamu merasakan Bagaimana sakitnya aku saat ini gara-gara kamu sampai aku juga ingin mati!” teriaknya, “Aku benci! Aku benci! Aku ingin kamu enyah! Aku tidak ingin melihat kamu lagi!”
Kata-katanya, menusukku tiada henti. Sakit. Rasanya sangat sakit hingga aku ingin menghentikannya. Dia tidak pernah berusaha mengerti bahwa aku terlalu mencintainya sampai seperti ini.
Di ujung kata-katanya yang menyakitkan, aku tak lagi dapat menerima semua itu sebagai salahku. Aku hanya ingin dia melihat rasa sakitku lewat tatapanku.
Mata Ayu membelalak. Ekspresinya kesakitan dan ia telah berhenti mencaci maki diriku. Karena tenggorokannya tercekat. Tertahan oleh kerasnya lantai, dan tubuhku, ia tak benar-benar dapat bergerak atau menyakitiku lagi. Kedua tanganku mencengkram lehernya hingga ia berhenti melontarkan kata-kata yang merobek hatiku menjadi potongan kecil tidak berharga.
Dia tidak dapat bernafas. Dan tatapan yang garang telah melemah. Perubahan itu menyadarkan aku bahwa aku telah menjadi semakin tidak termaafkan.
Ayu menangis lagi, menatapku nanar. Dia sudah tenang tapi malah syok. Kulepaskan tanganku karena ia begitu ketakutan.
Aku tidak hanya menyakitinya dengan sikapku tapi juga tanganku. Entah masih pantaskah aku disebut sebagai kekasih, apa lagi lelaki…
Aku meraih tubuhnya, mendekapnya saat ia sudah tidak berdaya. “Saat ini adalah saat yang paling sulit dalam hidupku....,” bisikku penuh permohonan, “Mereka membuat aku gila… aku mohon, jangan menyerah soal aku, Ayu…,” akhirnya kuteteskan air mata penyesalan itu.
ooOoo
Komentar
0 comments