๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Ayu?!”
Jantungku berdetak keras. Di depanku hanyalah kegelapan dan suara hujan lebat yang mengamuk di luar sana. Keringatku mengalir deras.
Sungguh, entah apa yang kupikirkan saat itu. Tapi, menyadari bahwa kilasan mengerikan itu hanya mimpi, aku merasa sangat lega. Aku bangkit dari sofa –tempat tidurku, dan mengendap-endap membuka pintu pembatas tempatku dan tempat Ayu tengah tertidur lelap.
“Ya Tuhan…,” gumamku lega saat menemukan dia masih tertidur nyenyak di bawah selimutnya. Aku duduk di sisi tempat tidur, memandangnya. Aku berusaha bernafas teratur, mengusir bayangan menakutkan itu dari pikiranku.
Aku selalu berharap bahwa itu hanya mimpi. Hanya mimpi dari kegilaanku tentangnya. Sekali pun aku begitu menginginkan dirinya, itu bukanlah jalan yang bisa kuambil untuk menjadikannya milikku, hanya milikku.
Saat itu aku mulai berpikir. Aku tidak bisa tinggal bersamanya selama ia masih bersikap amat defensif padaku. Aku mengerti, yang ada di pikiran kekanakannya, hal-hal itu hanya dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Harusnya. Tentu ia tidak akan mengerti bahwa pernikahan hanya sebuah perlindungan. Sedangkan cinta adalah sesuatu yang bisa dirasakan begitu kuat setelah bersatu.
Andai aku bisa membuatnya mengerti. Tapi, mungkin saja ini belum saatnya.
Pagi-pagi sekali, aku menuliskan pesan di selembar kertas. Jika aku mengatakannya langsung, tatapan matanya yang tidak ingin menginginkanku pergi akan memaksaku tetap tinggal. Aku harus menyelesaikan banyak masalah yang kutinggalkan di Padang. Begitu semuanya selesai, aku akan membawanya pergi dari sini…
---
Tapi, ada sesuatu yang berada di luar rencanaku. Lagi-lagi, tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Tyas kembali masih dengan kesalahpahaman tentang semuanya. Ya, aku ingat aku belum mengatakan apa-apa padanya. Aku belum mengatakan padanya bahwa aku tidak bisa bersamanya lagi.
“Kamu kurus, Den...,” katanya, memandangku dengan sedih. “Aku cemas, makanya aku kembali ke sini. Aku sudah menelpon berkali-kali tapi kamu tidak bisa dihubungi…”
Aku tidak bicara, tidak memberinya sambutan hangat. Tidak membiarkannya memelukku, apalagi lebih dari itu. Aku sudah tidak ingin merusak diriku setelah semua usaha keras yang aku lakukan untuk keluar dari bayang-bayang mengerikan itu.
Tyas tampak mengerti, dan menjauh. “Kamu sudah menikah sekarang…,” gumamnya, kecewa.
Aku tidak ingin memikirkannya lagi. Aku meninggalkan Ayu di Bukittinggi setelah berjanji akan kembali padanya. Dan dia bilang akan menungguku.
“Aku sudah pernah mengatakannya, kamu tidak akan bahagia!” kata dia, “Menikah bukan satu-satunya jalan, sekarang kamu malah diinjak-injak oleh perempuan itu”
Tyas terlihat kesal. Aku sudah tidak ingin membicarakan rumah tatidaku yang seperti penjara bawah tanah. Karena ada hal yang membuatku sekarang bisa lebih tenang, tapi semua itu lenyap seketika oleh kehadirannya.
“Ceraikan dia, Lan,” kata Tyas , “Setelah itu kita kembali ke Jakarta, hidup bersama lagi…”
---
Sania menatapku. Entah sejak kapan dia memiliki sorot mata tajam yang tak pernah melunak bilamana berhadapan denganku. Sekali pun aku dan dirinya sudah berada di dalam ikatan yang sah di mana seharusnya ia memperlakukanku dengan lebih baik.
Tapi, aku sama sekali tidak ingin membuatnya merubah caranya memandangku. Bukannya tidak bisa, aku hanya tidak ingin melakukannya. Karena aku sudah memutuskan.
“Jadi…,” dia memulai dengan ragu-ragu.
Aku sadari suaranya gemetaran seperti ingin menangis dan aku sedikit menyesal harus mengatakannya.
“Ini tidak bisa dilanjutkan, Nia…,” kataku, meyakinkannya bahwa denganku ia hanya akan membuang-buang waktunya dan aku tidak bisa melepaskan banyak hal dalam hidupku demi pernikahan yang dipaksakan ini.
Masalahnya hanya satu, pernikahan tanpa adanya cinta hanya menciptakan neraka di rumah ini. Dan aku tidak ingin Raka tumbuh di dalamnya.
“Kenapa?’, dia bertanya, dengan setetes air mata yang tidak bisa bertahan menggenang di sudut matanya.
“Aku mencintai orang lain, kamu harus mengerti…,” ujarku sekali pun itu terdengar menyakitkan baginya.
Sania menarik nafas panjang, tidak ingin menatapku, ia hanya tertunduk.
“Maafkan aku, Sania. Kita hanya sudah terlalu terlambat untuk semuanya…,” kataku padanya, dengan mengingat bagaimana pertama kali kami bertemu dan saling jatuh cinta dulu.
Sania menangis juga, terisak di depanku. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Aku tahu aku menyakitinya, tapi aku tidak bisa bertahan di sini lebih lama. Namun, rasa bersalah yang lebih besar menghantuiku ketika aku menemukan Raka berdiri di pintu kamar memandangi kami.
Ketika aku memandang ke dalam matanya yang sama persis dengan mataku, aku seakan melihat apa yang ia lihat saat itu. Aku melihat kedua orang tuaku yang saling berbicara tentang sesuatu.
Aku melihat Mami tertunduk menangis.
Aku melihat Ayah di depannya, mengatakan sesuatu padanya dengan sangat hati-hati.
---
“Aku tidak akan membiarkan kamu menderita lebih lama…,” suara Ayah, pelan, berujar pada Mami yang tidak bisa berhenti meneteskan air mata kesedihan. “Kita ada di sini, karena cinta. Tapi, jika kamu tidak merasa bahagia dengan itu, kita harus merelakan apa yang paling kita inginkan untuk mendapatkannya…”
“Setelah itu bagaimana?” tanya Mami padanya, menatap dengan wajah terisak.
“Cinta tetaplah cinta, Liana. Tidak akan ada yang berubah setelah kita berpisah…,” kata Ayah padanya, “Hiduplah seperti yang kamu inginkan…”
Aku memejamkan mataku, ketika Ayah berdiri dari kursinya dan ia meninggalkan Mami di ruangan itu sendirian. Lalu aku melihat Ayu dan senyumnya yang tertinggal sebelum aku pergi meninggalkannya dalam tidur. Aku pasti menunggu kamu…
Akhirnya, aku berdiri dari kursiku dan Sania masih tertunduk menangis. “Aku ingin kembali ke Jakarta,” kataku.
“Siapa, Lan?” tanya Sania, masih duduk di sana, tanpa ingin memandangku.
Aku terdiam, berdiri di depannya. Mulai bingung dengan jawaban dari pertanyaan yang sebenarnya sudah ada di kepalaku, tapi tak bisa kuungkapkan.
“Siapa orang yang membuat kamu jadi tidak berperasaan seperti ini?” tanya dia lagi, sekarang menatapku tajam dan benci. Lebih dalam dari yang pernah ia hujamkan padaku setiap ia marah karena aku terlalu acuh.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.
Sania segera berdiri dari kursinya, sambil menarik nafas dan menyeka air matanya. Ia berusaha agar tidak terlihat menangis di depan tamu yang entah siapa. Sementara aku masih berdiri di sana, ingin menghampiri Raka untuk menggendongnya tapi anak itu malah lari.
Aku ingin mengejarnya, tapi, kedatangan seorang tamu tak diundang siang itu, membuat kekacauan yang lebih besar dari yang kuduga sebelumnya.
---
Tyas datang ke rumahku.
Aku sudah mengira sebelumnya dia masih punya cara untuk membuat keadaan menjadi terbalik. Membuatku terlepas dari kewajibanku yang menurutnya, membuatku melepaskan dirinya.
Tentu dia akan berpikir demikian karena dia tidak pernah tahu soal Ayu.
“Kamu memang tidak tahu malu ya? Percuma pakai kerudung tapi kelakuan kamu tidak ada bedanya dengan perempuan murahan!” teriak Tyas .
Sania syok. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari bibirnya, melihat seorang perempuan tidak dikenal menerobos masuk rumah. Lalu memaki-maki dirinya.
“ Tyas , sudah!” kataku, berusaha menariknya keluar.
“Lepaskan aku, Dennis!” dia berteriak padaku. “Aku harus melepaskan kamu dari perempuan tidak tahu malu ini!”
“Kamu siapa?” tanya Sania padanya, menahan kesal di balik sikap tenangnya.
“Aku pacarnya Dennis!” jawab Tyas emosi, “Kamu benar-benar egois ya?! Kalau kamu memang menyayangi anak kamu, tidak seharusnya kamu memaksa Dennis seperti ini! Kasihan anak itu, jadi korban dari ibunya yang selalu ingin balas dendam!”
Sania melirikku, heran, “Dia... pacar kamu?” dia mengernyit dan bibirnya melukis senyum sinis.
Aku tidak menjawab dan Tyas menatapku dengan dahi berkerut, lalu Sania yang tampak memegang kendali dari kekacauan ini.
“Ya ampun…,” Sania tertawa satu kali, membuang pandang ke segala arah, dan dia menguasai segala bentuk emosi di wajah Tyas yang tak lagi seberingas saat ia menerobos pintu. “Kamu punya berapa orang pacar? Kamu yakin meninggalkan aku demi perempuan ini, Lan? Aku kira... itu demi gadis yang bekerja di toko.”
Aku mulai bingung, aku tidak bisa berpikir. Tapi, inilah saatnya aku harus meluruskan semuanya dan setelah itu mereka boleh menganggapku kejam dan tidak berperasaan. Sejauh ini, bukankah aku telah menahan perasaanku sendiri?
“Bukan,” jawabku mantap, menatap Sania, lalu Tyas , “Bukan kamu, Tyas…”
“Apa?” mata Tyas membelalak, tidak mempercayaiku ia terus menatapku dengan mata yang seakan ingin melompat keluar dari rongganya. “Maksud kamu apa, Den?”
“Semuanya sudah berakhir. Kita tidak mungkin kembali bersama, Tyas ,” aku harus mengatakannya.
“Brengsek!!” teriak Tyas .
Aku sudah sering mendengar kata itu dari Tyas setiap dia marah. Aku juga sering ditampar olehnya dengan emosi ketika aku dianggap melakukan kesalahan. Dan setiap itu terjadi, aku berusaha untuk tidak berteriak. Namun, kali ini, aku tidak bisa tenang.
Aku tidak tahu kenapa aku mengejarnya untuk menyampaikan sebuah penjelasan yang memang sudah tidak dia butuhkan. Semua pertanyaannya telah terjawab. Tapi, aku mulai merasa khawatir.
“Kamu benar-benar brengsek, Dennis!” teriaknya lagi dan aku belum mengucapkan satu patah kata pun untuk memperbaikinya.
Memang. Aku tidak akan bisa.
“Puas kamu?!” dia memakiku di depan pintu rumahnya, “Aku benar-benar gila gara-gara kamu!”
“ Tyas , aku…,” kata-kataku terhenti oleh rasa menyengat di wajahku ketika dia menamparku lagi. Lalu tubuhku mundur beberapa langkah karena dia memukulku dengan tangannya yang gemetaran.
“Aku tidak bisa tenang karena memikirkan cara bagaimana supaya kamu bisa lepas dari perempuan itu! Aku bahkan menjadi perempuan yang tidak tahu malu karena membela kamu! Supaya kamu bisa kembali lagi…tapi apa?! Aku kira kamu memutuskan hubungan kita karena tanggungjawab dan aku berusaha untuk menghargai itu! Tapi, ternyata kamu melakukannya karena ada gadis lain?! Apa tidak cukup selama ini kamu cuma memanfaatkan aku?!” teriaknya, ke wajahku, “Apa sudah cukup, Den?! Aku harus Bagaimana lagi supaya kamu puas, hah?!”
“Aku minta maaf, Yas…,” ujarku, bingung.
Dia memukulku sekali lagi, lebih keras lagi. “Brengsek!!” cacinya.
Aku tidak bergeming, hanya memandang dia dengan sedih. Memikirkan kata-kata untuk membuatnya tenang. Namun, dari sekian banyak pertengkaran yang pernah terjadi di antara kami, hanya inilah satu-satunya masalah yang membuat dia bahkan tidak mau memandangku lagi.
“Minggir!!” usirnya, mendorong tubuhku. Dan ia melangkah dengan terburu-buru ke luar.
Aku mengikutinya sebelum dia naik ke mobilnya dan melaju seperti angin. Tapi, apa yang bisa kulakukan? Menahannya? Tidak, aku hanya khawatir bagaimana bila seseorang bisa mengendarai mobil dalam keadaan marah. Seolah aku dapat melihat bagaimana ia berusaha menyeka air matanya berkali-kali di atas mobil yang melaju kencang. Juga bagaimana emosi yang tidak terkendali membuatnya celaka.
Aku tengah mengumpulkan semua pakaianku, ketika Sania mengetuk pintu kamar dan ia menyampaikan sesuatu yang baru ia dengar dari tetangga sebelah. Sebuah mobil Honda Jazz putih menabrak pagar rumah orang di ujung jalan.
Komentar
0 comments