[Hal.16] [Ch.9] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Kehancuran Menjelang

Pada akhirnya aku tidak mendapatkan apa-apa. Aku pria yang gagal dalam segala hal. Aku berusaha mencari pembenaran dari setiap tindakan yang telah kuambil dan memikirkan semua akibatnya. Tidak ada satu pun yang bukan merupakan kesalahan. Jika semuanya bisa ditukar, aku akan menyerahkan semua yang aku punya hanya untuk bisa dicintai.
Setidaknya, aku punya banyak perempuan yang sekarang membenciku setelah dulunya sangat mencintaiku – cukup membuatku terpukul. Tapi, Ayu, adalah pengecualian. Dia tidak membenciku. Dia tidak pernah mengatakan bahwa dia membenciku sekali pun aku lelaki brengsek dengan sekian banyak kejahatan.

Kuingat lagi pertemuan terakhir kami waktu itu. Ketika aku memeluknya dengan sangat erat, mengucapkan maaf berkali-kali supaya dia berhenti menangis.

Ayu menggeleng, sebanyak aku mengucapkan kata yang tidak adil itu. Seolah tidak ingin memaafkanku dan menerima kenyataan bahwa ia harus melepaskanku betapa pun beratnya. Ia menggenggam tanganku, “Aku tidak bisa, Lan…,” ia berkata dengan suara yang gemetaran.

Aku hanya membelai puncak kepalanya sambil menatapnya memohon, “Kamu harus mencobanya, Ayu…,” ujarku.

Dia masih menggeleng lagi, “Aku tahu kamu akan melupakan aku begitu kamu bahagia,” dia berkata, terisak, menatapku dengan pipi yang sudah basah sekali, “Tapi, aku tahu kamu tidak akan bahagia… tidak akan, Lan…”

Aku menelan ludah, sementara ia menarik nafas untuk mengatakan sesuatu lagi.

“Aku tunggu…,” katanya, “Aku menunggu kamu, untuk membuktikan kalau firasatku benar…”

Entah dari mana ia memiliki firasat yang kuat tentang diriku yang tak lama kemudian hancur. Tapi, sayangnya ketika aku memutuskan untuk tidak membiarkan dia menunggu lebih lama, dia sudah pergi jauh.

---

Bukittinggi.

Pada awalnya, aku mengeluhkan hujan yang membuatku basah. Pada awalnya, aku khawatir jika aku sampai jatuh sakit karena tidak akan ada orang yang mengurusku. Semua orang, bahkan dunia ini telah menelantarkan aku tanpa satu kesempatan. Seolah buku catatanku harus selalu hitam dan merah.

Hujan merantai waktu yang berjalan seperti siput. Aku tidak menghitung. Hanya berdoa, dia akan terlihat, lalu melihatku. Dan berdoa lagi, dia tidak akan mengabaikanku. Memikirkan bahwa dia tidak membenciku cukup melegakan.

Pada akhirnya, dia terlihat samar-samar lewat derasnya hujan yang mengguyur pagi di Bukittinggi. Rentang waktu antara dari saat dia berjalan di emperan toko dan melindungi diri dari tempias air  yang bercucuran dari atap pertokoan sepanjang jalan, terasa sangat lama. Aku ingin menyebrang jalan tanpa peduli pada hujan.

Ayu menemukanku dan aku bersyukur pada hujan hari ini yang telah membuatku sakit. Ayu tidak melihat air mataku yang telah tercampur dengan butiran yang terasa dingin seperti alcohol menetes di kulitku.

“Dari mana kamu tahu aku di sini?” tanya dia.

“Aku memaksa Melani untuk bilang kamu pindah ke mana,” kataku, “Dan aku tidak tahu cara lain untuk memberi tahu kamu kalau aku menunggu…”

Dia menghembuskan nafas panjang dan aku sudah berada di bawah payung yang sama dengannya. “Nanti bisa sakit…,” katanya memandangi sekujur badanku yang sudah basah sekali.

“Aku membutuhkan kamu, Ayu,” kataku sebelum keinginanku satu-satunya terhanyutkan hujan.

Alis Ayu terangkat. Dia  terlambat menyembunyikan rasa bingungnya dengan menunduk.

“Satu kesempatan lagi, aku mohon…,” kataku lagi, sebelum mendengar penolakan dan aku sudah berencana sebelum dia berkilah aku sudah harus mengatakan semuanya. “Tidak akan aku sia-siakan…”

Tenggorokanku rasa terbakar dan perih. Aku sudah menyadarinya sejak kemarin, namun aku nyaris tidak merasakannya karena sibuk memikirkan kata-kata ini.

Ayu menatapku tanpa berkedip. Memberiku kesempatan untuk bisa melanjutkan kata-kataku –tapi entah untuk bisa kembali padanya.

Aku menggeleng-geleng sambil tertawa pada diriku sendiri, “Aku…aku tidak ingat lagi semua kata-kata yang sudah aku susun  untuk meyakinkan kamu…,” kataku, sedikit gusar. Aku membuang pandang tanpa berani menatap wajahnya lagi, “Sial…”

Ayu tersenyum juga, dan itu di luar harapanku, “Sudahlah…,” ujarnya lalu mengajakku pergi.

---

Aku, Dennis, seorang manajer personalia sebuah kantor pengacara ternama di Jakarta. Berwenang untuk menerima dan memberhentikan karyawan lain. Lulusan universitas terkenal, dengan gelar cum laude jurusan psikologi. Mendapatkan gelar sarjana hanya dalam waktu tiga setengah tahun. Prestasi saat kuliah sebanding dengan prestasi pekerjaan. Orang yang dingin, sombong, dan tidak berperasaan. Gila kerja dan disiplin. Rapi dan sistematis.

Sekarang, aku terlihat sangat buruk, kurus dan sakit. Tidak lagi mengenakan pakaian bagus. Gemerlapnya Jakarta tertinggal entah di mana dalam alam bawah sadarku yang seolah menganggap bahwa semua itu semu. Yang nyata bagiku sekarang adalah melihat Ayu berdiri di depanku dan aku menggenggam tangannya dengan erat setelah berjanji padanya, bahwa aku tidak akan pernah meninggalkannya lagi.

Ayu berdiri di sampingku.

Ketika melihat bayangan kami yang terpantul di cermin. Aku menyadari banyak perubahan pada diriku. Selain karena rambutku yang sudah panjang. Selama ini aku tidak pernah membiarkannya sampai menutup dahi. Aku mempunyai senyum yang lebih baik –sebuah senyum kekanakan yang datang terlambat dalam hidupku.

Hujan terus menerus menahan langkah kami. Aku memeluknya sangat erat seakan tidak melepaskannya. “Aku mencintai kamu, Ayu… apapun pasti aku lakukan untuk kamu…,” ucapku penuh kepastian. “Setelah ini kita pergi ke tempat yang jauh seperti yang kamu mau…”

“Kawin lari?” tanya dia.

“Ya…,” jawabku. “Aku punya semua yang kita butuhkan di Jakarta. Aku akan membawa kamu ke sana…”

---

Ketika kuingat lagi, malam itu jarak di antara kami sudah hilang sama sekali. Aku memeluknya dengan sangat erat dalam kegelapan yang menguasaiku. Tangannya menyentuh kulitku dan kepalanya di bahuku. Dia memberikan perasaan yang nyaman ketika di dekatnya dan aku tidak ingin melepaskannya. Aku mengawasinya sampai tertidur.

Air yang menyerbu kepalaku lewat keran terasa seperti hujan es. Dingin. Namun, melenyapkan semua perasaan  tidak tertahankan saat aku memeluknya. Aku merasa lebih tenang.  Namun, aku tidak tahu apa bisa tetap seperti ini ketika ada kesempatan lain yang sama di mana aku mungkin tidak dapat mengendalikan gejolakku padanya. Aku berhati-hati dengan menghindari situasi seperti itu.

Ketika tertidur di kursi dan terbangun karena merasa  tidak nyaman. Aku menemukan dia duduk di lantai di hadapanku. Tengah memandangiku. Aku terkejut lalu dia tersenyum.

“Aku tidak akan pergi…,” kataku saat mengulurkan tanganku agar dia meraihnya.

Kesempatan seperti ini akan banyak terjadi di hari lain, nanti. Karena aku selalu menahannya berdua denganku, terisolasi dari keramaian yang akan membuatnya mengalihkan perhatian dariku. Aku selalu tidak ingin, dia memandang hal lain selain dari diriku.

“Aku mencintai kamu, Ayu…,” aku mengulanginya lagi dan dia membalasnya dengan senyuman manis.

Tertawa bersamanya adalah hal  terbaik yang pernah aku lakukan. Tapi, aku sedikit kecewa ketika dia meninggalkanku di tempat potong rambut. Aku sudah tahu, setiap ada di keramaian, matanya menjadi stereo. Dia mudah bosan. Jadi aku meminta tukang pangkas menyelesaikan rambutku segera supaya aku bisa menyusulnya.

Aku benar soal sifat Ayu yang satu itu. Aku merasa kesal bukan karena aku cemburu, tapi karena sadar aku bisa merasa cemburu dan seumur hidup aku tidak pernah merasa cemburu.

Seorang pria asing selalu menarik perhatian Ayu, aku bahkan sudah tahu itu sejak pertama kali melihatnya. Aku jatuh cinta padanya, karena dia cerdas dan dia tidak pernah menyadarinya.

"Ada apa dengan kamu?” tanya dia mendahului langkahku dengan tanda tanya di wajahnya yang tersenyum,  "Kamu cemburu?"

Aku tidak dapat menyembunyikan rasa kesalku, “Aku tidak pernah cemburu,” cetusku.

Dia tahu aku berbohong, “Iya!” dia menegaskan, “Terus kenapa kamu marah?”

“Aku tidak marah,”

“Kamu marah!”

“Tidak!”

Aku hanya tidak suka.

Aku lebih tidak suka lagi ketika dia membuatku menjadi seperti anak kecil. Aku merajuk! Aku tidak percaya aku mengambil langkah yang sangat cepat untuk menyembunyikan wajahku darinya. Di saat bersamaan aku juga tahu, sikapku menggelikan.

Tapi, aku bersamanya. Aku tidak ingin  membangun sesuatu di atas kebohongan. Jika aku terlihat kesal karena cemburu, bukankah itu wajar? Aku memikirkannya sekali lagi dan berhenti untuk menunggunya. Aku adalah kekasihnya dan yang harus aku lakukan adalah memegang tangannya supaya tidak ada yang mengganggunya di depan mata kepalaku.

---

Separuh sore kami habiskan di kedai mie ayam pinggir jalan. Ayu menjadi pemanduku dengan banyak paksaan. Aku tidak suka makanan pedas, berminyak dan berbahan dasar daging-dagingan. Tapi, aku tidak bisa mengatakan itu. Aku tidak ingin terlihat angkuh atau lelaki gedungan dengan selera parlente. Walaupun sebenarnya aku sangat pemilih. Aku pemilih dalam hampir semua hal. Jika dia tahu itu, mungkin dia akan lebih memilih pergi sendiri.

Ayu menyukai apa yang tidak aku sukai, seperti mie ayam, pantai, film horor dan jalan kaki. Dan aku menyukai apa yang tidak Ayu sukai seperti soda kalengan, tidur siang, dan lagu indie. Kami ibarat dua garis lurus yang ujungnya tidak pernah bertemu.

“Apa benar-benar sudah tidak bisa menyala?” tanya Ayu, berdiri di belakangku sambil mengusap-usap rambutnya yang basa dengan handuk.

Aku membanting ponselku yang rusak ke atas meja lagi. Sejak datang ke sini benda itu tidak mau menyala. “Mungkin basah waktu aku menunggu kamu hujan-hujanan,” jawabku berbalik dan tersenyum padanya, mengabaikan benda itu untuk menariknya ke dekatku.

Dia membalas tatapanku, masih dengan senyum yang belum hilang dari bibirnya.

Kudekatkan wajahku, mengira ia akan tetap di sana, menunggu. Tapi, dia lagi-lagi tersenyum, tertunduk, dan menghindariku. Dia selalu menolakku dengan cara seperti itu. Seolah takut, jika dia membiarkanku lebih dekat lagi, ia akan terluka.

Ayu masih belum mempercayaiku setelah semua yang kulakukan hanya untuk bisa bersamanya…

“Kamu mau makan apa?” tanya dia setelah kembali dari kamar dan menyisir rambutnya.

Aku masih berdiri di tempat dia meninggalkanku, “Apa saja…,” jawabku, datar.

“Oh, ya sudah. Kalau begitu aku membeli makanan dulu. Kamu tunggu di sini,” katanya.

Aku membalikan badanku saat ia membuka pintu dengan payung dalam genggamannya. Aku membiarkannya pergi pada malam hujan di mana seharusnya aku tidak mengizinkannya. Aku hanya merasa kesal dan dia tidak pernah menyadarinya.

Malam itu, dia tertidur dengan lelap. Aku berdiri di sisi tempat tidur memandanginya. Kepalaku terasa sangat sakit. Aku ingin membangunkannya, mengatakan padanya, bahwa sakit kepala ini seakan ingin membunuhku. Tapi,  dia mungkin tidak akan mengerti. Dia mungkin akan mengambilkan obat, menyuruhku meminumnya dan tidur. Padahal sebenarnya bukan hal-hal seperti itu yang bisa menghilangkan rasa sakit ini.

Jadi, aku tidak punya pilihan lain. Aku mendekat ke sisi tempat tidur untuk mengecup dahinya dan Ayu seketika terbangun.

“Alan?” dia mengusap-usap matanya yang berat, dengan suara serak.

Aku memeluknya erat agar ia merasakan kerasnya detak jantungku, ketika berada sangat dekat dengannya. Tapi, ia meronta. Kedua tangannya memukul-mukul punggungku tapi aku tidak merasakan sakit.

Rasanya aku dapat melihat diriku yang memaksa menembus pertahanannya. Aku melihatnya menjerit tapi tak dapat mendengar suaranya yang kesakitan.

Rasanya aku masih berdiri di sisi tempat tidur dengan kebingungan memandang apa yang ada di depanku.

Tangan Ayu yang menggapai-gapai hendak meraihku –yang tengah berdiri, menyaksikan bagaimana ia melawan orang yang ingin menyentuhnya dan aku memejamkan mataku. Membiarkannya dipaksa, dan mengabaikan tangisan tidak rela ketika pria –yang adalah diriku, menyentuhnya.

Dalam penglihatanku, adalah wajahnya yang memohon dengan kesakitan. Namun kedua tanganku tidak melepasnya. Aku mulai ketakutan saat kusadari bahwa tubuhku bergerak sendiri, melawan pikiranku yang tidak ingin membuatnya menderita. Tapi, sudah terlanjur.

“Ayu…?’, suaraku gemetaran, saat aku bangkit darinya dan gadis itu menatapku nanar. “Ayu, maaf…”

Ayu masih menangis.

Aku menggelengkan kepalaku, tidak percaya dengan apa yang baru saja kulakukan. Aku tidak ingin seperti ini…

“Ayu…,” kusebutkan lagi namanya dan wajahnya sekarang menjadi tanpa ekspresi. Kuraih bahunya dan ia sama sekali tidak bergerak –terkulai lemas. Matanya telah terpejam.

---

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments