[Hal.14] [Ch.7] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Tyas  melambaikan tangannya, sambil tersenyum sebelum berbalik dan menyeret travel bag-nya. Kata-kata terakhirnya tentang penantian sedikit membebaniku. Pelukannya yang erat membuatku tidak bisa bernafas, dia tidak mau melepaskannya. Pelukan terakhir untuknya.

Jarak akan mengakhiri semuanya secara perlahan. Dia akan menemukan orang lain yang akan mencintainya layaknya seorang kekasih. Bukan seseorang yang hanya mencintai tubuhnya.

Aku pulang mengendarai mobil Tyas yang sengaja dia pinjamkan sebagai penggantian mobilku yang rusak. Ibuku sempat marah-marah karena aku tidak mengembalikannya.

Aku datang lagi ke sana. Tempat Ayu menghabiskan sepanjang hari yang membosankan pada sore hari di mana dia akan terlihat keluar dengan lesu. Lalu memberhentikan angkutan umum di ujung jalan.

Ketika Ayu melihatku, dia cukup terkejut. Aku tengah berdiri di depan mobil. Cukup lama untuk membaca situasi antara Ayu dan seorang gadis lain yang memandangnya dengan dahi berkerut. Mereka menyiratkan ketidaksukaan yang sama.

Ayu sudah ceria lagi, artinya dia sudah tidak apa-apa. Tapi, saat aku sudah duduk di belakang setir, Ayu masih berdiri di depan pintu mobil. Aku menunduk untuk melihat apa yang dia lakukan.

Aku menurunkan kaca, “Kenapa?” tegurku, menemukan dia berwajah cemas.

“Kita mau ke mana?” tanya dia.

Aku sedikit bingung, aku belum memikirkannya. Aku hanya memikirkan cara untuk bertemu tanpa merencanakan sesuatu.

“Naik,” kataku, dengan tenang dan dia mematuhinya.

Detik-detik saat ia membuka pintu lalu duduk dengan sangat hati-hati, seolah berjalan lambat. Aku merasakan ketakutannya ketika pintu menutup dan aku menyalakan mesin.

Apa yang membuat dia begitu cemas?

----

Apa yang kamu pikirkan?” aku menegurnya, begitu peduli setelah sebelumnya tidak pernah.

Ia menoleh sebentar, secepat kilat sebelum wajahnya kembali ke jalanan di depan kami. Takut, aku melihat bahwa dia hampir menangis.

"Apa aku menyakiti kamu?” aku setengah putus asa bertanya padanya. Melihat dia kebingungan.

Ayu menggeleng, "Tidak ada hubungannya dengan kamu, Lan,” katanya. Dan dia menatapku dengan matanya yang merah dan sebentar lagi air mata akan menetes.

Aku baru saja tahu dia sangat tertekan. Dia yang bisa kulihat dari senyum dan cerianya, tidaklah demikian ketika kulihat dia tidak dapat menahan tangisnya. Aku tidak bisa lagi fokus pada jalanan di depan karena melihatnya seperti itu. Jadi, aku menepikan mobil.

"Aku tidak pernah ngelawan. Sejak lulus SMA aku berusaha sendiri untuk hidupku. Harusnya aku kuliah, menjadi apa pun yang aku mau. Tapi mereka tidak mengizinkannya. Mereka pikir aku bodoh, manja dan lemah. Tidak bisa menjaga diri sendiri. Mereka meremehkan aku dalam banyak hal,” kata-katanya terdengar seperti gemuruh hujan deras yang tidak beraturan.

“Tidak usah pikirkan mereka,” kataku. "Ini hidup kamu. Hanya kamu yang berhak untuk memutuskan ke arah mana kamu pergi."

"Aku akan sering dimarahi, Lan. Aku tidak tahan dengan kata-kata mereka..."

"Tutup telinga kamu setiap kali mereka marah. Suatu saat, buktikan kamu lebih dari apa yang mereka pikirkan... Jangan dengarkan mereka. Dengarkan kata hati kamu. Kamu pintar, kamu berpendirian dan itu adalah kekuatan terbesar kamu untuk bisa jadi apa yang kamu mau..."

Dia hanya sendirian. Terisolasi dan ia tidak bisa keluar darinya. Aku memang tidak bisa membantunya keluar dari ruang isolasi itu. Karena aku bahkan tidak dapat menolong diriku sendiri. Aku juga seorang yang terisolasi oleh kenyataan pahit. Perasaan peduliku padanya, sangat aneh. Aku, memacari Tyas , tapi aku tidak pernah menunjukan bahwa aku peduli padanya. Entah karena aku tahu, Tyas tidak benar-benar mencintaiku karena aku Cina, dan kita tetap berpisah sekeras apapun berjuang.

Aku memindahkan Ayu, dari ruang isolasi miliknya ke duniaku, ketika aku putuskan  tidak akan melepasnya. Tapi, melihat ekspresi Ayu menemukan Kristus di dadaku, aku sedikit takut.

“Terus? Kenapa kalau Cina?” Ayu menyederhanakan pikiranku yang rumit.

Aku sedang berpikir, tidakkah dia merasa itu masalah besar? Tapi…aku berpikir kembali, aku yang datang padanya, melupakan kalung ini, melupakan perbedaan. Melupakan Sania dan Raka. Melupakan Tyas .Aku sangat terkejut dengan kenyataan itu.

Jika cinta sesederhana ini, kenapa aku menghukum diri sendiri hanya karena pengkhianatan Dian?

Aku merasa seperti seorang remaja yang tidak perlu memikirkan akhir dari sesuatu yang akan kita lakukan. Karena tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Aku ingin menyederhanakan semua beban dalam kepalaku dengan cara berpikir Ayu. Meski pada kenyataannya aku memang tidak bisa berpikir dengan cara demikian.

---

Aku nyaris tidak melakukan sesuatu untuknya, dan kalaupun ada yang aku pikirkan untuk aku lakukan…pastinya hanya beberapa hal kotor. Aku tidak tahu kenapa aku bisa tahan. Hingga melihatnya tertawa, dan aku semakin ingin menciumnya. Itu tidak benar-benar membantuku.

Hanya saja, dia sangat defensif terhadapku. Aku harus berusaha lebih keras untuk dapat memeluknya dan sedikit memaksa untuk menciumnya. Sedikit melelahkan, tapi inilah satu-satunya perempuan yang tidak kudapatkan dengan mudah.

Aku bisa saja memperdayanya, menuruti semua keinginanku –karena dia hanya gadis kecil. Tapi, aku tidak melakukannya. Aku rasa jika aku melepas satu saja kancing bajunya, dia akan meninggalkanku. Entah mengapa, aku tidak ingin itu terjadi. Aku memperhatikan, aturan main yang dia pakai di dalam aturan mainku –tetap di dalam mobil tanpa melakukan sesuatu.

Dia terlalu sabar, sesekali memandangku seakan menginginkan aku. Namun, reaksinya mengecewakan ketika aku mendekat. Masalahnya, dia hanya belum sepenuhnya percaya padaku, dan aku tidak punya cara agar ia mempercayaiku. Jika dia ketiduran, itu agak menyebalkan. Aku akan duduk diam, memandangnya sambil menyandar ke kaca jendela di sampingku. Menahan keinginan mendasar di dalam diriku. Waktu merangkak antara jarum detik dan menit. Begitulah, aku melewatkan waktu dengannya.

Dia selalu bertanya soal apa yang aku pikirkan. Aku tidak pernah menjawabnya dengan pasti. Dan inilah yang aku pikirkan. Yaitu dirinya. Bagaimana aku bisa mendekat, mencuri diam-diam nafasnya yang teratur. Lalu berpura-pura, aku tidak beranjak dari tempatku ketika ia terbangun dan menggeliat di sudut mataku. Aku mengingat itu setiap malam sebelum aku dapat tertidur setelah mengusir semua bayangan manis yang memeluk diriku. Tentangnya.

Dia tidak tahu, aku rusak. Aku memikirkan hal-hal liar yang harusnya kami lakukan melebihi apa yang pernah dia alami denganku. Hanya saja, mungkin aku tidak tega. Jika perbedaan atau masalah lain, akan memisahkan kami, setelah itu apa yang akan dia lakukan tanpaku?

---

“Alan!” Ayu melambaikan tangannya padaku dari pinggir pantai.

Angin seakan hendak menerbangkan tubuhku yang kurus dan aku memaksakan diri menemuinya di atas ombak kecil berpasir. Aku tidak terlalu suka pantai karena bau asinnya yang menjijikan.

Gadis itu mengajakku berenang dan aku menolak dengan alasan klasik. Tidak bisa berenang. Terdengar lemah untuk ukuran seorang laki-laki dua puluh sembilan tahun. Tapi, dia membuatku merasa lebih muda dari itu.

Aku tidak pernah pergi berkencan. Tidak pernah berpegangan tangan dengan seorang perempuan di depan umum. Hidupku membosankan. Aku menghabiskan semua masa mudaku untuk bekerja dan terkungkung tanggung jawab. Aku selalu memikirkan segala permasalahan dengan keras sampai kehilangan masa-masa di mana seharusnya aku menikmati hidupku.

Ketika ombak besar menerjang aku tidak siap. Tubuhku terombang-ambing di dalam air dan menyeretku. Ketika tangannya meraihku, aku merasa selama ini, aku bergantung padanya. Pada keceriaannya, dan senyumnya.

Aku sudah tidak bisa seperti itu lagi. Jadi aku tertawa, agar dia dapat melihat bahwa aku ini laki-laki yang akan menjaganya. Aku baik-baik saja karena dia peduli padaku.

Pada dasarnya pasti sulit bagi seorang gadis 19 tahun menjalin hubungan dengan lelaki yang berusia jauh di atasnya ditambah satu orang anak. Aku tidak tahu persis apa yang dia pikirkan soal itu. Namun, aku tidak lagi memusingkannya ketika dia berada sangat dekat denganku. Setiap bersamanya, aku dapat meninggalkan semua masalah yang aku buat. Untuk sementara.

Khayalanku dengannya membuatku tersesat, ketika dia tenggelam di antara kedua lenganku. Aku seakan mampu membuat waktu berhenti dengan memeluknya sangat lama, sambil menciumnya selama itu. Saat pikiran burukku mulai menyusup secara perlahan ke aliran darahku, aku memasuki tahap yang rentan di mana aku harus mendorongnya dariku.

Ayu terkejut.

Aku mengatur nafasku dengan tidak melihat pada wajahnya. Dengan putus asa aku kembali pada apa yang sempat terlintas di pikiranku dan mengeluhkannya.

Di matanya aku pasti terlihat sangat bodoh.

“Lan?” tegurnya dan reaksiku terasa berlebihan saat aku menatapnya dengan canggung.

Aku berusaha tersenyum. Masih menyembunyikan kegilaan pikiranku.

Tiba-tiba dia tertawa, makin lama makin keras, lalu menggeleng-geleng. “Aku pasti sudah gila…,” katanya, melirikku sebentar lalu tertawa lagi. Pipinya memerah.

Aku ikut tertawa karena dia manis.

Kami sama-sama sudah gila. Ketika dia kembali ke pelukanku rasanya jauh lebih baik. Dia sudah kehabisan kata-kata dan pertanyaan untukku pada saat ini, atau dia tidak bisa berpikir lagi. Dan jika dia seperti ini, bagaimana aku akan menahan diriku?

Pertahanannya terhadapku seakan telah runtuh. Dia tidak merasa khawatir sedikitpun, dan justru akulah yang mulai mencemaskannya.

---

“Aku bertengkar dengan orang tuaku,” kata dia, “Akhirnya aku melawan…”

Apa yang kamu katakan pada mereka?” tanyaku.

Ayu menghela nafas, “Aku mengatakan semua yang ingin aku katakan sejak lama,” jelasnya, murung, “Aku merasa muak pada hidupku gara-gara mereka. Aku pikir sudah cukup selama delapan belas tahun aku menuruti semua kemauan orang tuaku karena tidak ingin mereka teriak tiap sebentar.”

Aku tidak berkomentar, aku rasa semua yang aku katakan padanya untuk menghadapi masalah, membuatnya seperti itu. Menjadi pembangkang.

“Kalau tahu seperti ini, aku lebih baik tidak usah lahir ke dunia,” sambungnya, “Jika orang lain menghancurkan aku, aku masih bisa hidup karena punya keluarga. Tapi, kalau mereka yang menghancurkan aku, tidak mungkin ada orang lain yang bisa menggantikan mereka. Aku butuh mereka di saat aku merasa ingin diperlakukan lebih baik. Aku…jadi beranggapan, kalau patuh pasti tersiksa, harusnya melawan, supaya tidak diperlakukan seenaknya”

Desahan nafasnya terdengar berat. Dia tidak memandangku seolah sedang bicara dengan dirinya sendiri dalam keheningan. Sambil menerawang. Aku dapat melihat semua gambar dalam pikirannya tengah berputar-putar di atas kepalanya.

“Aku ingin lari sejauh-jauhnya, lalu sembunyi. Tidak akan ada orang yang menemukan aku atau menyakiti aku. Tidak perlu berpura-pura senang di depan orang lain. Tidak perlu bersentuhan dengan hidup orang lain. Atau mungkin, aku berharap, aku ini gila. Tidak bisa berpikir dan tidak ada yang perlu dipikirkan…”

Saat itu aku segera sadar, rasa takut terhadap akan kehilangkan diriku lebih besar dari rasa percayanya terhadapku. Dia terjebak dalam trauma akan segala sesuatu di sekitarnya yang menurutnya akan menyakitinya. Termasuk aku. Dan dia tidak pernah bisa mempercayai siapapun termasuk dirinya sendiri. Jika dihadapkan pada satu masalah besar, dia lebih memilih diam atau lari, lalu menganggapnya tidak pernah terjadi. Dia sama sekali tidak punya kekuatan.

---

“Kamu sudah tidak waras ya?!” untuk sekian kalinya Mami kembali berteriak padaku.

Meski aku tahu, bodohnya hal yang aku lakukan. Tapi, setidaknya aku mengharapkan ibuku mengerti, dengan siapapun aku menikah, itu pasti dengan orang yang kucintai. Aku juga tidak ingin, Ayu meragukanku, meski langkahku terlalu cepat.

“Kenapa kamu tidak bunuh Mami saja sekalian?! Supaya tidak perlu melihat kelakuan kamu lagi?!” makinya, dengan mata memandang ke segala arah, kecuali wajahku. “Apa ini harga yang harus Mami bayar untuk semua yang kita dapatkan sekarang, Alan?! Melihat kamu seperti orang jahat yang tidak punya perasaan?!”

“Aku berhak memilih jalan hidupku sendiri…,” kataku meyakinkannya.

“Tapi, bukan seperti ini caranya, Alan! Kamu tidak memikirkan perasaan orang lain?! Apa gadis itu sudah tahu kamu punya anak di luar nikah?! Apa dia bisa menerima semua itu?! Apa dia akan bersabar dengan umpatan Sania kalau perempuan itu tahu soal ini?! Apa orang tuanya bisa menerima kamu?!” teriaknya lagi, “Gadis itu terlalu muda! Dia bahkan tidak memahami apapun!”

“Aku sudah memikirkan semuanya, Mi…Mami harus percaya, aku bisa menyelesaikan semua masalah ini…,” ujarku, saat tak ada kata yang bisa kuungkapkan lagi. Aku bingung.

“Keluar!” Mami menjerit, ia menatapku. Tapi, tangan kanannya yang menunjuk ke pintu sangat menjelaskan bahwa aku harus pergi. “Mami tidak ingin melihat kamu lagi! Pergi!”

Kedua adik perempuanku muncul, mereka menyerbu Mami saat tubuh rentanya kelelahan dan ia duduk di kursi yang berada tidak jauh darinya.

Aku membatu beberapa saat, memandang ibuku yang sama keras kepalanya dengan diriku. Aku mendekat tapi selangkah lagi aku berada di dekatnya dia kembali membentakku. Sehingga, aku mengambil beberapa langkah mundur dan pergi.

Cepat atau lambat, Ayu sudah harus tahu, semua yang terjadi. Apapun yang dia katakan nanti, mau tidak mau aku pun harus menerimanya. Tapi, aku punya firasat, Ayu tidak akan meninggalkanku.

---

Aku memandang diriku sendiri Seorang Tionghwa, Cina, dan penganut Katolik yang broken home. Sedangkan Ayu, seorang pribumi, muslim dan tumbuh dalam keluarga yang utuh. Kita adalah dua nuansa yang berbeda dalam realita cinta buta. Ketika aku mengakui bahwa aku mencemaskan anggapan orang terhadapnya; dia tampak tidak mau memikirkannya.

Aku membakar Ayu dengan api yang merambat dari kedua tangan yang menyentuhnya dengan cintaku. Aku melihat Ayu terbakar, menjerit kesakitan tidak lama setelah penderitaan mengembalikan kami pada kenyataan. Ini bukan lagi soal perbedaan, ketika Ayu tahu kami bertemu pada saat yang salah untuk memulai.

Aku tak hanya membakarnya, aku juga telah menghancurkannya. Jika sekarang, Ayu membenciku untuk banyak alasan, aku mengerti...

Beruntungnya semua pikiran jelek dan kotor itu tidak membuatku merenggut apa yang dia punya. Aku bisa melepaskannya di saat itu harus saat Mami memberiku dua pilihan, mengakui Raka sebagai anak, atau ia tidak akan mengakuiku sebagai anak.

Aku melepaskannya di malam saat aku tidak bisa tidur karena membayangkan aku bahkan terlarang untuk merindukannya. Aku menutup telpon, memaksa diriku untuk tidak peduli seperti saat aku mengabaikan telpon masuk dan pesan singkat darinya. Aku sadar, itu memang sangat sulit dari awal. Tapi, setidaknya mungkin aku masih dapat melakukan sesuatu yang lain untuknya.

---

“Sudah lama kamu tidak main ke sini, Alan,” Melani –sepupu jauhku, terlihat agak menjengkelkan.

Aku hanya tersenyum simpul.

“Jadi…apa yang membuat kamu datang ke sini?’, tanya dia, “Aku dengar kamu mau menikah karena punya anak, tapi… ada gosip yang terdengar di bawah kamu pacaran sama salah seorang karyawan di sini. Dan setahuku kamu juga punya pacar di Jakarta”

Dia menodongku dengan banyak komentar hingga membuatku terdiam beberapa saat.

“Kenapa, Alan?’, tanya dia, sedikit mendongak padaku, dengan seringai, “Atau aku harus panggil kamu Dennis?”

Aku menghela nafas lelah. Makanya aku tidak terlalu suka beramah tamah dengannya. Dia sedikit menyebalkan dari biasanya.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku tidak menyangka masalah pribadi kamu menjadi omongan karyawan lain di sini,” dia terdengar mengeluh, “Kamu masih kerabat kita. Dan kita merasa tidak enak, kamu mempermainkan karyawan sini sampai dia jadi gila dan pekerjaannya berantakan. Padahal dia pribadi yang bagus dan rajin. Salah kamu kalau dia sampai dipecat”

Baik, aku minta maaf,” kataku dengan berat hati, memandang Melani dengan sangat menyesal. “Tapi, jangan pecat dia…”

“Di sini kita punya aturan, Lan,” dia mengingatkan, “Dia bolos tiga hari, tanpa keterangan, di tempat kerja sering melamun dan pekerjaannya jadi tidak beres. Tidak ada alasan untuk bawa-bawa masalah pribadi dalam urusan pekerjaan. Kamu tahu itu kan?”

“Aku tahu,” kataku, kebingungan, tidak tahu harus bagaimana mengatakannya, karena aku belum pernah memohon demi orang lain.

“Besok Mama mau memecatnya,” kata Melani.

“Aku mohon jangan, Lani,” kataku akhirnya, menatap dia sungguh-sungguh.

“Kamu memohon?”

“Itu bukan kesalahan dia,” jelasku, “Semua yang terjadi belakangan bukan salahnya”

Dia menatapku tidak percaya, “Terus terang aku terkejut…,” sambung Melani, “Aku tidak berhak untuk ikut campur masalah pribadi kamu, tapi… karena ini ada hubungannya dengan salah seorang karyawan, aku merasa aku harus tahu. Lebih dari itu, kita keluarga, Alan, sekalipun kamu tidak mengakuinya dan di Jakarta kita hanya seperti orang asing”

Aku masih diam.

“Kehidupan kamu sempurna. Kenapa tiba-tiba semuanya berantakan?”

Aku menggeleng, tersenyum, “Entah…,” jawabku, “Tapi, aku mohon, agar kalian tidak memecat Ayu. Semua yang terjadi bukan salahnya…”

Melani hanya menatapku, membalas tatapanku. Kuharap ia mengerti bahwa aku melakukan ini hanya demi satu alasan. Aku ingin Ayu lebih bahagia dari yang pernah ia dapatkan…

---

Aku mencerna semua yang Sania katakan dalam kepalaku. Suaranya seperti gemuruh air sungai deras yang bergesekan dengan batu. Hampir tidak jelas, tapi aku menyimak baik-baik kata-kata seperti pekerjaan dan tanggung jawab.

“Aku memohon sampai bersujud di depan Bapak, supaya dia setuju…kamu tahu?” tuntutnya, “Kamu yang membuat keputusan itu, tapi kenapa kamu juga yang membatalkannya, Lan?”

“Setelah dipikir lagi, aku merasa itu sama sekali tidak bagus untuk kita,” kataku, “Aku rasa keluarga kamu pasti lega karena akhirnya dibatalkan. Kamu tidak perlu meninggalkan mereka dan aku juga tidak akan lari dari tanggung jawab”

“Kamu pikir semudah itu?” Sania mengernyit.

“Aku tidak mungkin berbaur dengan keluarga kamu, aku tidak mau mendengar hinaan mereka atau mengungkit-ungkit kesalahan yang aku lakukan…,” lanjutku, “Atau biarkan Raka ikut aku”

“Ikut kamu?” tawa Sania terdengar sinis, “Aku ibunya, aku yang melahirkan dia, membesarkan dia, dan sekarang kamu mau mengambil Raka? Mau jadi apa kalau dia ikut kamu, Lan?!”

“Dia juga darah dagingku, semua ini tidak akan terjadi kalau kamu tidak egois dan menyembunyikannya dariku!” emosiku terpancing, “Aku mencintai orang lain dan aku tidak mungkin memaksakan diri menikahi kamu, Nia!”

 

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments