[Hal.13] [Ch.7] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Chaos

“Kalau Abang menikah dengan perempuan seperti itu, keluarga kita bisa hancur, Bang…,” Achen berbisik, sementara aku masih limbung, menemukan sebuah mobil putih berhenti di depan rumah. “Dia sangat cantik. Aku juga akan tertarik dengan perempuan cantik. Bisa-bisa mungkin kita berkelahi gara-gara dia.

Aku kira Tyas sudah kembali ke Jakarta.

Mami mendongak keluar dengan rasa penasaran dan ia menoleh padaku, begitu melihat seorang perempuan cantik turun dari sana.

 Tyas  melangkah hati-hati melewati pekarangan depan rumah yang sempit sebelum dapat melihatku sudah berdiri di pintu. Dia datang di saat yang tidak tepat.

“Siapa, Lan?” tanya Mami dari dalam rumah.

Aku tidak menjawab, karena berniat membawanya masuk. Aku rasa tanpa menjawabnya Mami sudah lebih dulu menduganya.

 Tyas  menyalami ibuku dengan sikap manis dan aku tidak pernah tahu dia bisa bersikap demikian sementara dia sedang diliputi amarah dan kesedihan. Tampaknya dia belum menyerah pada keputusanku. Senyumnya padaku menyiratkan sebuah kepercayaan diri untuk menunjukan bahwa aku belum bisa melepaskan diri darinya.

---

“Kamu tidak harus memaksakan diri,” kata dia, tenang. “Aku tahu kamu serius dalam hal apapun yang mau kamu lakukan. Aku merasa kamu punya ketakutan berlebihan karena dianggap tidak mau bertanggungjawab”

 “Sejak umur sepuluh tahun aku tidak punya ayah…,” kataku padanya, “Semuanya sulit setelah dia pergi”

“Asal kamu tahu, Den, aku bahkan tidak tahu siapa ayahku!” celetuk Tyas .“Mama-ku hamil aku waktu masih kuliah. Semuanya baik-baik aja…aku bahagia tinggal dengan ibuku…”

“Lalu aku harus seperti ayah kamu? Pergi dan tidak kembali?!” cetusku. “Melanjutkan hidupku seolah tidak pernah terjadi apa-apa?!”

“Maksudku bukan itu, Den!” ralatnya.

“Coba pikir, Bagaimana perkembangan seorang anak yang hidup di antara orang tua yang tidak saling mencintai? Semuanya akan jadi lebih buruk, ketika akhirnya mereka berpisah. Kamu tahu sakitnya saat orang tua kamu bercerai kan? Lihat apa yang terjadi pada kamu dan adik kamu gara-gara itu. Sedangkan di sisi lain, kamu hanya dengan ibu kamu bisa tetap hidup bahagia. Sekarang kamu sukses dan mapan, Den…”

Aku tidak percaya. Aku tidak percaya Tyas bisa mengatakan hal itu. Dan aku benci karena dia benar. Amarah di dalam diriku memanas, tapi aku tidak bisa melepaskannya.

“Aku mengatakan ini bukan hanya karena aku tidak mau kehilangan kamu. Tapi, aku tidak bisa membayangkan kamu mengorbankan seluruh hidup kamu karena salah memutuskan. Kamu masih bisa disebut seorang ayah selama kamu masih mau memperhatikan anak itu.,” katanya lagi dan aku tidak dapat menarik pandangan mataku dari kesedihannya. “Jangan menikah, Den…aku mohon…”

Tatapannya melumpuhkanku dalam sesaat. Semuanya terasa lebih membingungkan dari saat aku tidak tahu harus bagaimana. Pendirianku tertelan oleh keraguanku. Pada saat ini, aku sangat benci diriku, karena tidak dapat menolak apa yang dia berikan.

Terkadang, aku berharap, aku akan keluar darinya. Namun, dia terus menarikku.

---

“Kaca mata kamu mana?” tanya Tyas melirikku sebentar sebelum kembali ke jalanan di depan kami.

“Pecah,” jawabku, dan bayangan saat Achen menginjaknya muncul di kepalaku. Aku langsung ingat saat itu aku kesal, karena beberapa kali tersandung.

“Kenapa tidak beli lagi?” tanya dia.

“Belum sempat,” jawabku, sebenarnya hanya malas keluar rumah dan aku tidak terlalu membutuhkan kaca mata melebihi tidur.

Sebaiknya kita membelinya sekarang,” ujarnya. “Karena nanti aku tidak bisa lagi menyetir untuk kamu. Lusa aku harus kembali ke Jakarta”

Aku hanya tersenyum sekilas dan melempar mataku menembus kaca mobil. Melihat apa saja yang dapat mengalihkan semua perhatianku dari pembicaraan dengannya. Meski buram.

Tanganku menggenggam sesuatu dengan hampa. Aku merasa kosong. Entah. Mungkin tersesat. Terjebak. Sejenis itu.

Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan sampai mataku menemukan seseorang yang  nyaris kulupakan namun dalam sesaat sosok kecilnya mengembalikan hari itu ke ingatanku. Seorang gadis bernama Ayu.

Dia terlihat keluar dari tempat kerjanya. Gambaran singkat yang aku ambil sebelum mobil meninggalkannya di belakang adalah dia terlihat baik-baik saja. Namun, aku merasa tidak yakin dan menoleh lagi. Ayu sedang  memberhentikan angkutan umum di pinggir jalan.

Pemandangan itu berlalu dengan cepat, namun  kepalaku masih terus memutar hal yang sama. Penglihatanku kabur, tapi aku tahu, dia tampak pucat.

“Kamu lihat siapa?” tegur Tyas , menoleh curiga padaku.

“Tidak ada…,” jawabku tenang, lalu tersenyum untuk meyakinkannya.

---

Awan hitam menghalangi cahaya matahari ketika aku turun dari mobil. Angin meniup daun pohon-pohon dan mengotori halaman sempit rumahku. Hawa dingin mulai terasa namun aku baik-baik saja. Aku merasakan kantuk yang luar biasa melebihi perasaan lelah dan bosan. Aku pikir itu akan melenyapkan segala kegelisahan karena tertidur terkadang menjadi tabir pelindung dari hal-hal yang tidak ingin aku rasakan.

Namun, semua selalu terjadi di luar rencanaku. Aku menghentikan langkahku, tidak seperti biasanya saat kembali melihat ayah, aku sudah pasti membalikan badan dan pergi. Hal-hal seperti itu hanya aku lakukan ketika aku masih kecil.

Ayah selalu membawa kenangan itu bersamanya. Sehingga setiap kali aku melihat wajahnya, maka memori itu seakan melompat keluar dari benakku. Terpapar sedemikian rupa di hadapanku. Di mana aku mengecil dan setiap sudut rumah seolah diterangi cahaya. Kembali pada semua yang telah kita tinggalkan di masa lalu. Ayah, selalu membuatku merasa seperti itu. Dan saat ini, semua kemarahanku padanya telah luntur, seakan hujan yang turun begitu aku masuk rumah, menyapu segalanya.

Ibuku tersenyum padaku.

Ayah menyapaku, “Bagaimana kabar kamu, Lan?”

“Baik, Yah,” kataku.

Dia tersenyum sebelum mengajakku membicarakan soal cuaca dan beberapa perkembangan jaman sejak beberapa tahun belakangan.

Ini adalah satu permainan kenyataan. Keluargaku, tampak utuh, namun selangkah ayah tak terlihat lagi, semuanya kembali menjadi seperti semula. Hanya saja, tawa masih dapat tertinggal di bibir adik-adikku yang bermain-main dengan sisa-sisa sifat kekanakan mereka – sebelum itu habis, dan mereka akan menjadi sama sepertiku di kemudian hari.

“Bang Alan punya pacar kaya. Orangnya juga cantik!” kata Gina dan aku mendengus. “Dia juga meminjamkan mobilnya.

Achen tertawa sekali, “Bukan! Pacar Bang Alan bukan yang itu!” serunya, lalu aku punya firasat buruk soal ini. “Pacar Bang Alan bekerja di tempat Cece Wan!”

Aku menghembuskan nafas lelah. Dia memang tahu soal apa yang aku dan Ayu lakukan setelah hari itu. Aku memang tidak bisa membuatnya diam.

Bang Alan sudah putus dengan gadis yang ke rumah waktu itu!” sambung Achen disambut cibiran dari Gina. Mereka mulai mengulitiku dan aku lebih memilih diam.

Tapi, tidak, aku menyimpan semuanya –sisa-sisa sifat kekanakan itu, di suatu tempat yang tidak mudah dijangkau. Aku ingin menyentuhnya sekali lagi namun aku tidak bisa.

---

Aku melihat layar handphone lebih sering dari biasanya. Mengetahui bahwa aku mulai bergantung padanya, agak menjengkelkan. Masalahnya, aku sering melempar benda itu hanya karena tidak ingin mendengar suaranya. Sekarang, aku sedikit menyesal.

Aku telah membuang semua hal yang ingin kuketahui darinya saat ini –pesan singkat itu. Bodohnya, aku terlalu takut menghubunginya. Padahal hanya dengan satu tombol aku bisa langsung mendengar suaranya atau pertanyaannya. Tapi, aku tidak yakin.

Firasatku sudah mengatakan, gadis itu benar-benar menyerah. Suara operator terdengar konyol saat aku langsung mematikannya. Kali berikutnya juga. Sejam kemudian juga. Dua jam berikutnya, tak ada yang berubah.

Aku merasa semakin bodoh.

Aku tidak pernah merasa begitu resah seperti saat ini. Aku memang hidup dalam segudang persoalan hidup. Tapi tidak pernah berada dalam situasi seperti ini. Di mana aku merasa sudah begitu jahat terhadap seseorang. Biasanya, aku memang tidak peduli dan aku jarang ingin berurusan dengan orang lain.

“Kamu kenapa?” tegur Tyas , dia bersandar di punggungku dengan manja. “Ada masalah apa?”

Aku menggeleng sekali, berusaha menendang semua pikiran tentangnya. Membiarkan tubuhku mengambil alih semua bagian diriku. Aku benci diriku saat aku tidak ingin melakukan sesuatu, tapi aku tetap melakukannya.

Andai aku bisa berkata ‘tidak’, aku akan pergi, mungkin ke tempat itu. Memastikan dia baik-baik saja. Tapi, Tyas menahanku. Aku tidak dapat menarik diri darinya.

Tidak pernah aku merasa sebenci ini pada diriku…

---

Aku memandang jalan di depanku. Aku sangat kelelahan dan kotor. Beberapa kali aku menyapukan rambutku dengan frustasi ke belakang sambil menghembuskan nafas. Namun, perjalanan pulang terasa sangat panjang.

Rasanya, aku meninggalkan Tyas yang tertidur di kamarnya. Aku menyelinap keluar dengan sangat hati-hati seperti pencuri, mengumpulkan pakaianku dan mengenakannya dengan sangat pelan. Agar ia tidak terbangun dan memaksaku tetap tinggal.

Berkaca pada sebuah kehidupan yang normal, hidupku yang tidak punya aturan tampak terkutuk. Pikiranku membawanya kembali.

Melihatnya, seperti melihat dunia lain yang ingin kudatangi. Ayu keluar dari tempat yang ia benci dengan raut kusut. Satu-satunya hal yang dapat aku ingat ketika menunggunya. Dia akan menyebrang jalan dengan hati-hati, lalu memberhentikan angkutan umum.

Namun aku tidak melihatnya dan mataku tertuju ke toko tempat dia bekerja. Aku tahu, di jam-jam seperti ini biasanya ia akan muncul.

Ketika aku megembalikan pandanganku ke depan, aku menemukan seseorang lewat di depan mobilku. Aku terlambat menghentikannya dan…

Aku terkejut. Aku menabrak orang itu!

Aku terdiam, menyaksikan tubuh seorang perempuan menghempas kaca mobil sebelum jatuh berguling ke jalan.

Sekitarku menjadi hening. Aku melangkah pelan ke sesosok tubuh kecil yang tergeletak penuh darah di depan mobil. Ia mengenakan setelan kaos dan jeans. Rambutnya hitam bergelombang panjang dengan kulit yang memucat. Matanya yang terpejam memperlihatkan rasa sakit yang tidak sanggup ia tahan lagi.

Bibirku bergerak menyebutkan namanya. Tapi, tidak ada suara yang keluar. Ayu?

---

Tidak!

Tubuhku berguncang hebat. Nafasku sesak. Butiran keringat menetes di atas selimut putih yang menutupi sebagian tubuhku yang basah.

Aku duduk, mengatur nafas. Sepenuhnya aku telah sadar akan tempat asing dan seseorang di sampingku. Kegilaanku sudah berakhir. Aku harus menghentikan semua ini.

“Kamu mau ke mana?!” Tyas terbangun, dengan rambut acak-acakan.

Aku tidak mengamati seberapa berantakan dia saat itu. Aku mengenakan pakaianku dengan buru-buru.

“Dennis?!” panggilnya mulai gusar, “Kamu kenapa sih?”

Aku menoleh sebentar padanya, sebelum berlari keluar dan meninggalkan rumah itu.

Untuk pertama kalinya aku merasa takut terhadap perempuan yang bahkan hanya seorang gadis kecil yang tidak pernah pacaran. Yang belum tahu bahwa pacaran itu bukan hanya sekedar pergi ke suatu tempat berdua untuk mengobrol dan pegangan tangan.

Dia terlalu naif. Dan aku sangat yakin dia tidak akan sanggup denganku. Aku tidak ingin melihat pemandangan di mana dia berlari pergi sambil menangis karena aku tidak seperti yang dia pikirkan.

Aku mengabaikannya seakan aku tidak akan berurusan lagi dengannya. Tapi, dia mirip denganku ketika aku seusia dia. Itu yang membuatku kembali ke sana.

Aku tahu apa yang kulakukan sama sekali salah. Bilamana dia mengetahuinya dia pasti akan hancur. Aku mempunyai penyakit yang sudah akut dan untuk meredakan itu aku membiarkan Tyas menyentuhku. Aku bukan lelaki yang penuh cinta yang bisa membahagiakan seseorang.

Namun hati dan tubuhku seakan berkoalisi untuk melawan pikiranku. Dan tiba-tiba aku sudah ada di depan toko tempat dia bekerja. Lalu melihat dia keluar dari sana.

Aku harap ini nyata. Aku sudah berlari sejauh-jauhnya mengejar waktu sebelum ia meninggalkan tempat itu. Karena selain di sana, aku tidak tahu tempat lain di mana aku bisa menemukannya.

Aku tidak tahu apa yang aku lakukan ketika aku mengikuti langkahnya. Dan langkahku sendiri makin cepat untuk mengejarnya sebelum dia sempat naik angkutan umum yang akan membawanya pergi.

"Ayu!” aku sebutkan namanya.

Dia menoleh. Dan menatapku dengan tatapan yang tidak biasa. Seperti baru terluka. Aku ingin tahu apa yang ia pikirkan saat itu juga.

Aku mungkin telah menyakitinya dengan sikapku. Selama ini aku hanya memandang diri sendiri. Aku tidak pernah memikirkan orang lain.

Tidak ada canda tawa seperti saat pertama kali dia datang dalam hidupku. Kilasan saat dia menatapku di toko dan tersenyum padaku, meracuni pikiranku. Dia tidak memandang aku ini siapa, seolah tidak melihat salib di dadaku. Aku mungkin telah menghancurkan hatinya.

---

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments