[Hal.12] [Ch.6] TO LET HER GO

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Tyas  menatapku tanpa putus. Lalu menggeleng, “Aku merasa melihat dua orang yang beda sekaligus, Den…,” katanya membuang pandang kemudian. Ia menarik nafas panjang, tidak lama setelah ia diam.

Aku mengerti, diriku berada jauh di luar dugaannya.

 Tyas , di rumahku yang sederhana dan pada saat ia turun dari mobilnya ia kelihatan sangat terkejut. Ia melepas sunglasses-nya untuk melihat aku dan penampilanku lebih dekat. Sebelum memanggil namaku dengan ekspresi syok.

Aku mengenakan celana pendek dan kaos kebesaran milik adikku yang agak lusuh. Aku tidak memakai kaca mataku, terlihat kekanakan dengan sandal jepit yang warnanya sudah berubah menjadi gelap.

Adikku, Achen, menemukan dia dan berdecak seperti melihat santapan segar. Karena Tyas lagi-lagi mengenakan pakaian mengepas badan dan terlihat kontras dengan suasana sekitarnya.

Ibu dan adik perempuanku sedang tidak ada di rumah pada siang hari. Entah jika mereka melihat seperti apa kekasihku –yang terbayang di kepalaku adalah Mami yang geleng-geleng kepala dan si kembar yang saling berbisik membicarakan penampilan Tyas .

Aku dan Tyas duduk di teras. Awalnya bisu, sebelum dia berkata, aku sudah membohonginya.

Kenyataannya, Tyas tidak pernah bertanya tentang latar belakangku. Jika dia pernah, tentu aku akan menjelaskannya tanpa kebohongan. Tapi, selama ini yang aku tahu, dia selalu melihatku dari luarnya saja. Dia berpikir aku cerdas, brilian, dan punya segalanya.

Sudahlah…,” katanya berusaha tersenyum padaku, kembali menatap dengan lembut, “Aku tahu, siapa kamu tidak ditentukan dari hal-hal semacam itu…”

Aku masih diam, dan tiba-tiba dia bersandar di pundakku. Aku menghindar, dia tidak bisa berbuat sesukanya karena ada banyak mata tersembunyi yang akan mempermasalahkan sikapnya dan membuat ibuku marah.

“Aku tidak peduli siapa pun kamu,” katanya berujar, “Karena aku merasa, di saat tidak ada kamu, aku sama sekali tidak bisa  tenang. Aku selalu merasa seseorang akan mencuri kamu dan pergi jauh…”

“Aku punya masalah besar di sini,” kataku tegas,  mau tidak mau aku harus mengatakannya saat itu juga. Jika aku tidak ingin kata-kata Tyas selanjutnya akan mempengaruhi semuanya, “Kemungkinan aku tidak akan kembali ke Jakarta lagi”

Ekspresi manja Tyas berubah menjadi tegang, ia menatapku tanpa berkedip, “Masalah apa, Den?” tanya dia agak gemetaran.

Aku menggeleng, “Aku akan tinggal di sini, Yas ,” tegasku.

 Tyas  menghembuskan nafas, lalu tersenyum, “Ya, tidak masalah. Aku juga orang sini. Setiap liburan semester aku pasti pulang. Kita masih bisa bertemu,” katanya.

Aku menggeleng lagi, “Masalah sebenarnya bukan itu…,” jelasku lagi, dan suaraku sedikit tercekat di tenggorokan, aku diam sebentar sebelum memulai, “Aku punya anak dari seorang perempuan.”

“Hah?!” wajahnya kembali berubah syok.

“Aku punya tanggung jawab dan rasanya sudah tidak pantas bermain-main lagi…”

 Tyas  bangkit dari kursinya dan sekarang berdiri di depanku, “Jadi selama ini kamu pikir kita sedang bermain-main?!” teriaknya.

Aku mengangkat kepalaku, untuk menatap ekspresinya baik-baik. Meski begitu, tanpa kaca mata aku tidak dapat melihat dengan jelas. Yang pasti mata bulatnya berkaca karena ucapanku. “Bukannya aku pernah melamar kamu sebelumnya?” kataku, “Tapi, kamu berpikir bahwa pernikahan akan mengacaukan semuanya…”

“Aku menolak bukan berarti aku tidak mau! Bukannya setelah itu aku selalu ada di samping kamu? Aku hanya butuh waktu…,” jelasnya, membela diri.

“Tapi, aku tidak punya waktu lagi untuk kamu, Yas…,” kataku, “Semakin lama kita seperti ini, semakin itu menunjukan bahwa semuanya tidak mungkin”

“Apanya yang tidak mungkin?!” suaranya lebih keras.

Aku kembali tertunduk. Aku harus menenangkan diriku sebelum emosiku membuatku berteriak lebih keras darinya. Aku tidak mau para tetangga berdatangan dan berbisik.

 Tyas  terdengar menarik nafas panjang, “Aku tahu maksud kamu mengatakan itu semua…,” katanya, “Supaya aku cepat-cepat pergi dan kamu bisa memenuhi tanggung jawab kamu terhadap perempuan dan anak itu. Supaya aku marah dan semuanya jadi lebih mudah bagi kamu…padahal itu bukan maksud yang sebenarnya….

Aku meringis, sambil megusap dahi dengan telapak tanganku. Aku menatapnya sekali lagi dan ternyata Tyas sudah menangis, “Kamu salah,” kataku, tenang.

“Aku tahu aku memperlakukan kamu dengan kasar. Aku tahu aku memang egois dan seenaknya. Tapi,…di saat yang sama juga aku selalu ada di samping kamu saat kamu butuh… Kenapa?” tanya dia. “Kenapa kamu berubah pikiran, Dennis?”

Aku menatapnya tanpa jawaban. Aku tidak tahu bagaimana ekspresiku, tapi kuharap aku dapat terlihat tanpa perasaan di matanya.

 Tyas  mencoba berhenti menangis. Ia menarik nafas, menyeka air mata yang melunturkan riasannya. Ia sudah terlihat kacau sebelum tangannya menyapukan rambut panjangnya ke belakang dan malah membuatnya kusut. Meski berhenti menangis, namun ia terlihat lebih buruk dari menangis. Akhirnya terisak lagi, karena menatapku terlalu lama.

Ini pertama kalinya, aku melihatnya seperti itu.

“Maafkan aku, Yas… Aku tidak punya pilihan lain,” kataku, berujar pelan, “Aku laki-laki, dan seorang lelaki harus bertanggungjawab atas perbuatannya sendiri”

---

Tidur sepanjang hari mulai membuatku bosan. Sejak Tyas meninggalkan rumahku dengan menangis setelah menamparku keras-keras, aku tidak pernah keluar.

Aku sedang berbaring saat mendengar suara orang membuka pintu sebelum merasakan sakit tersengat di punggung. “Aduh!” aku menjerit.

“Kamu keterlaluan ya?!” teriakan Mami dengan tangkai sapu di tangannya membuatku seperti tersengat listrik. “Mana ada laki-laki yang suka mengurung diri di kamar?!”

Aku bangkit sambil mengeluh, “Sakit…”

Mami menghela nafas dan menurunkan tangkai sapunya. “Kamu sudah punya anak, tapi kelakuanmu masih seperti anak-anak…,” omelnya.

Kenapa Mami memukulku dnegan sapu?” gerutuku.

“Hampir sebulan kamu di sini, kamu tidak pernah melakukan apa-apa selain tidur! Sejak kapan kamu jadi malas?!” omelnya lagi, sebelum berbalik meninggalkanku bersama tangkai sapunya, “Apa kamu tidak bisa melakukan hal lain selain tidur?!”

Meski pun punggungku sakit, aku tetap bisa tersenyum. Ibuku sudah kembali seperti biasanya. Dan adik-adikku tetap membuat rumah menjadi ramai dengan suara candaan mereka.

Ada bekasnya, Bang!” seru Achen cekikikan. ketika melihat punggungku, untuk mengoleskan obat, “Memangnya Mami memukul Abang pakai apa sampai membekas begini?

“Tangkai sapu…,” keluhku.

“Aku sering dipukul Mami tapi tidak pernah sampai berbekas…,” komentar Achen.

Kulit Bang Achen sebenarnya jadi mengeras karena jarang mandi. Dipukul pakai apa pun juga tidak akan mempan!” celetuk Gina, tertawa cekikikan.

Tapi, memang... kulit Bang Alan halus seperti perempuan…,” kata Ivanna yang berdiri di belakangku, “Gina saja kalah…”

Gina merengut dan aku tertawa. “Dari pada kamu, perempuan tapi kulitnya lebih kasar…,” balasnya.

Ivanna mencibir.

“Kenapa semuanya masih di sini?!” tegur Mami, marah lagi. “Sekarang hari senin, warung pasti ramai! Kenapa belum siap-siap?!”

Kami langsung bubar tanpa komentar. Namun masih cekikikan satu sama lain.

Saat ketiga adikku sibuk membantu Mami, aku menghubungi Sania untuk memintanya mengantarkan Raka. Aku ingin lebih dekat sedikit dengannya walaupun dia masih menganggap aku orang asing.

---

Kedai nasi sudah agak sepi sore hari. Aku menggendong Raka turun dari taksi dan membawanya masuk. Reaksi dari keluargaku ketika melihat kami adalah terkejut, sebelum Achen menghampiri dan mengubah suasana kaku menjadi sedikit bersahabat.

“Alan kecil!” serunya.

Raka menggeleng, membalikan badannya dari Achen, dan sedikit merengek.

“Bang Achen!” celetuk Gina, “Dia takut dengan preman!”

“Apa?!” Achen sewot.

Ayo sini,” ujarnya mengulurkan tangan dan Raka malah menangis.

Aku panik, karena tangisannya makin keras.

Suasanya jadi heboh saat tidak ada seorang pun yang bisa membuatnya diam. Aku rasa dia belum terbiasa berada di lingkungan baru dengan orang-orang baru.

“Mungkin kepanasan…,” kata Ivanna.

“Mungkin juga lapar!” kata Gina.

Achen mulai membuat ekspresi lucu untuk menghiburnya tapi Raka malah terlihat geli dan merinding. Lalu menangis lagi.

Aku mulai hilang akal, sempat terpikir untuk menelpon ibunya dan menanyakan cara mengatasi suara tangisan yang membuat semua tamu kehilangan selera makan. Mami sudah pasti marah karena membuatnya menangis.

Achen dan Gina mulai saling menyalahkan.

Saat Mami datang, mereka semua menyingkir dan kembali pura-pura sibuk. Mereka terlihat bodoh, karena Mami sudah lebih dulu melihat mereka mengacau. Aku menggendong Raka dan masih mencoba membuatnya diam.

“Kenapa bisa menangis?” tanya Mami padaku, tatapannya lunak dan aku sempat terkesima saat dia meraih Raka, anak itu langsung menurut. “Kalian benar-benar tidak berguna. Menjaga anak kecil saja tidak becus.”

Aku tidak menjawab. Semua memandangi Mami yang berusaha membuatnya diam dengan membawanya keluar. Aku menarik nafas panjang lega.

Benar kata orang, punya anak itu tidak semudah membuatnya lahir ke dunia.

---

“Kamu sudah pikirkan semuanya, Lan?” Mami menanyaiku dengan serius.

Setelah warung sepi dan ketiga adik-adikku pulang lebih dulu. Raka juga sudah dijemput Sania. Jam dinding menunjukan pukul sebelas malam dan pecinan masih terlihat ramai di luar sana.

Aku masih berpikir, “Hanya itu satu-satunya jalan yang terpikirkan…,” jawabku, membingungkan. “Aku masih mempertimbangkan banyak hal…”

“Apa?” tanya Mami.

“Aku…,” aku mencoba menjelaskan.

 “Mami tidak ingin kamu mengambil keputusan yang keliru. Pernikahan itu bukan main-main, terlebih bagi orang yang berbeda dari segala sisi. Kalau kamu merasa demi Raka kamu sanggup menahan perasaan, kamu harus pastikan bahwa kamu benar-benar siap,”  katanya.

Aku diam dan masih berpikir. “Awalnya aku merasa dengan siapapun aku menikah, aku tidak peduli. Tapi, sekarang rasanya itu salah…,” jelasku.

“Kamu punya kekasih di Jakarta?” tanya Mami lagi.

Aku tidak menjawab.

Mami belum tahu soal kedatangan Tyas .Tapi, masalahnya bukan tentang Tyas .

Aku masih diam saat Mami berdiri dari tempatnya sambil menguap, “Pernikahan itu ikatan yang tidak bisa dipermainkan, Lan.,” katanya, “Karena harus dilandasi oleh cinta dari kedua pihak. Kalau salah satu saja tidak berkenan, semuanya akan kacau, apalagi kalau dua-duanya tidak ada cinta sama sekali”

Aku tetap duduk di tempatku. Aku baru berdiri setelah Mami minta pulang dan ia tampak sangat lelah.

Ucapannya malam itu terngiang terus di kepalaku.

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments