[Hal.47] [Ch.9] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Gue mulai tenang. Paling nggak setiap gue kirim pesan dia mulai ngebalas lagi. Semua udah kembali seperti biasa walaupun gue merasa jadi nggak normal karena harus ketemu psikiater –hanya supaya bikin Gladys senang, nggak apa-apa. Dia berulang kali meyakinkan kalau yang ke psikiater itu nggak selalu orang yang kepribadiannya bermasalah. Tapi, tahu, ternyata dia perhatiin gue lebih dari yang gue harapkan, ke psikiater juga belum seberapa. Gue cuma perlu duduk dua jam, menjawab pertanyaan bapak-bapak botak yang sisa rambutnya memutih itu dengan baik, untuk membuktikan kalau gue masih benar-benar waras.

“Pacar kamu mengirim kamu ke psikiater?” reaksi Adjani cukup melecehkan apalagi saat dia ketawa cekikikan.

“Yah, cuma untuk konsultasi…,” jawab gue, berusaha tetap tenang dan bersikap seperti orang normal.

“Tapi…,” dia bertanya, dan kelihatan berpikir. “Biasanya orang yang ke psikiater itu punya trauma psikis yang mendalam terhadap sesuatu. Dan kamu…kelihatan seperti orang yang nggak punya trauma,”

“Lo bener,”  kata gue cepat. “Gue cuma ingin dia senang….”

Adjani mengangguk-angguk. “Berarti kamu disuruh apa aja sama pacar kamu, mau?” tanya dia, itu kedengaran seperti mengejek.

“Selama itu bagus buat gue apa masalahnya?”

“Bagus,”  kata dia, akhirnya tersenyum setuju.

“Tapi, kata psikiater itu bener juga,”  kata gue lagi, menerawang sambil jalan bareng cewek yang penampilannya itu belum berubah juga. “Dia nyuruh gue berdamai sama masa lalu, sama apa…yang bikin semuanya jadi berantakan. Mungkin, karena itu gue disuruh ke psikiater karena psikiater lebih tahu apa yang harus gue lakuin….”

“Nggak benar, Ferre…,” kata Adjani, melirik gue. “Yang tahu persis apa yang harus kamu lakukan itu adalah diri kamu sendiri. Bukan orang lain. Orang lain boleh tahu apa yang harus dan  nggak harus kamu lakukan, tapi masalahnya apa kamu bisa menganggap semua yang orang katakan itu benar?”

Gue kembali terdiam. Setiap dia mulai serius, gue bakalan dengar sampai dia berhenti.

“Tuhan memberi kita hati untuk memiliki perasaan…,” sambung dia. “Agar kita percaya sama diri sendiri, bukan yang orang lain katakan,”

Tapi, gue harus mengakui apa yang Adjani katakan benar, karena gue rasa dia memang benar. Begitu juga dengan Pak Moldy –psikiater itu, bilang. Berdamai dengan hal yang menurut kita adalah masalah dengan menerima bahwa semua itu terjadi dan nggak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya. Kita hanya perlu, memperbaiki yang sekarang supaya nggak melakukan kesalahan yang sama.

Dengan berat hati gue harus ke sana lagi –tempat yang nggak pernah gue datangi selama hampir dua tahun ini. Terakhir, gue datang, gue diusir dengan berbagai cara sama orang-orang yang neriakin gue pembunuh. Gue nggak sempat mengucapkan maaf dan penyesalan gue, karena kita harus berakhir dengan cara yang buruk.

Terkadang, kalau gue ingat semuanya lagi, gue jadi senyum-senyum sendiri. Gue cuma bocah yang naif, yang merasa cinta itu indah saat kita masih muda. Gue jatuh cinta sama cewek pendiam di sekolah sementara gue disukai sama cewek-cewek yang jauh lebih cantik. Pilihan gue nggak salah. Sama sekali nggak salah pada awalnya, kita sama-sama janji saling sayang seumur hidup, tapi Rena bilang gue cukup mencintai dia sepanjang umurnya aja. Tapi, cinta yang kita banggain itu, hancur oleh kenaifan kita yang lupa. Dia harus menanggung semua yang gue lakuin hingga meregang nyawa, sendirian. Membawa bukti cinta yang seharusnya hidup dan tumbuh.

Gue menarik nafas berat, di depan nisan yang bertuliskan nama Rena. Gue ingat saat gue selalu kepikiran untuk berbaring di samping dia di sini, karena gue nyesal sampai ingin mati juga. Tapi, selalu ada yang ngalangin gue, dan berhenti merasa kalau mati adalah caranya membayar semua yang terjadi gara-gara gue.

“Maafin aku, Rena…,” ucap gue tertunduk sambil menaruh setangkai mawar putih di samping nisannya. Gimana pun juga, gue nggak akan pernah ngelupain dia sebagai cinta pertama yang indah. Walaupun sangat lama, gue nggak pernah mau nyebut namanya dan mengubur dia rapat-rapat di satu tempat di hati gue, gue nggak benar-benar niat untuk menghapus dia selamanya.

***

Setelah saat yang berat itu hampir berlalu, gue berusaha melakukan yang terbaik. Gue berusaha supaya semuanya seimbang supaya gue bisa bahagia lagi seperti saat gue masih punya Rena di sisi gue. Gue kembali ke teman-teman gue yang kepo dan sok asik, bangun lebih pagi supaya bisa ketemu Mama dan Erick di meja makan dan sorenya ketemu Gladys kalau nggak ada janji sama Pak Moldy. Gue mulai merasa kepingan-kepingan kebahagiaan gue yang terberai ke mana-mana mulai gue temukan dan bisa disatukan.

Satu kali, gue menatap diri gue di cermin. Gue sangat yakin, bayangan di depan gue adalah Ferre –bukan orang lain.

“Hei,”  gue menunjuk dengan tegas. “Ini hidup gue. Dan siapapun lo, tolong, jangan lagi bikin gue bingung dengan apa yang pernah lo lihat. Mata ini…milik gue sekarang,”

Tapi, mata itu balas menatap gue. Nggak semenakutkan yang gue pikir –tatapan mata yang terlihat di cermin, terlihat tenang. Ya, gue tahu, gue nggak pernah menatap dengan cara yang demikian tenang dan berwibawa.

“Kamu ngomong sama siapa sih?” tegur Gladys tiba-tiba udah ada di belakang gue dan gue sempat kaget.

“Nggak…,” jawab gue ngeles, sambil cengengesan dan mendekat sebelum dia nanya-nanya lagi. Nanti dia malah berpikiran kalau ke psikiater nggak bikin gue sembuh, tapi malah jadi tambah parah. Untuk sementara gue berusaha untuk konsen, karena ini saat paling mendebarkan buat gue. Pada akhirnya, saat yang gue tunggu datang juga.

Jangan mikir negatif dulu. Memang semua hubungan serius akan bertemu di situ –tempat tidur. Tapi, seperti yang gue bilang, Gladys satu-satunya cewek yang nggak gue dapat dengan mudah. Dan dia adalah semua yang pernah gue inginkan sejak gue merasa jatuh cinta lagi. Sedangkan body-nya yang asik hanya bonus dan nggak lebih dari itu kalau ada yang mengira kalau gue bakal membuang cewek ini setelah bercinta. Sama sekali nggak berniat buat itu, kalau bisa ini bakalan bertahan selamanya, mengingat perasaan gue yang mendalam dan menggebu-gebu. Dia juga membalas gue dengan cara yang bikin gue tergila-gila.

Satu hal yang pasti, setelah selesai, gue capek dan tepar. Lalu terkesima pada langit-langit kamar Gladys yang serba ungu. Terkesima bukan karena ternyata bisa sampai tiga kali, tapi ternyata gue keliru. Gladys nggak bisa mengusir bayangan cewek itu dari kepala gue. Sekali lagi, gue salah. Salah besar…

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments