[Hal.46] [Ch.9] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Sekarang, cepat jelasin kamu mau ngomong apa,”  kata Gladys, dan gue sempat kaget, caranya ngomong udah kembali lagi kayak kita masih bukan apa-apa. Dia melirik jam tangannya dalam duduk yang angkuh dengan menyilang kakinya, mulai kelihatan nggak sabar melihat gue daritadi ngomong terbata-bata. Tapi, bersyukur dia masih mau naik mobil gue walaupun dia bersikeras nggak mau duduk di suatu tempat yang lebih enak.

“Aku nggak tahu harus mulai dari mana buat ngejelasinnya…,” kata gue, menatap dia lekat-lekat, jelas kelihatan takut sama ekspresinya yang masih aja kesal bahkan setelah lebih dari dua minggu. “Kamu boleh nggak percaya, atau bilang aku aneh, karena memang aku sendiri nganggap itu aneh. Dan asal kamu tahu, aku belum pernah cerita soal ini ke siapa pun, termasuk Nyokap juga Erick, atau siapapun yang dekat sama aku sebelumnya….”

Gladys diam, terlihat memusatkan perhatiannya ke wajah gue.

“Aku nggak tahu persis, tapi sepertinya memang ada hubungannya sama apa yang terjadi ke aku dua tahun yang lalu,”  kata gue memulai, kepala gue tertunduk dan gue memejamkan mata kuat-kuat menahan sakitnya setiap gue ingat kejadian itu. Kejadian yang menurut sebagian orang dalam hidup gue harus gue lupain, karena itu bagian yang cacat –atau hancur. “Kalau  kamu kenal aku sebagai cowok playboy dan nggak bertanggung jawab, itu ada alasannya. Aku pernah pacaran sama cewek dari SMA, namanya Rena. Tapi, sebelum kita lulus, Rena ngaku ke aku kalau dia hamil...,”

Gue perhatikan Gladys terkejut, syok terlihat jelas di wajahnya yang sekarang tegang. Gue lebih tegang lagi, bahkan tangan gue yang mengepal kuat sampai keringat dingin.

“Keluarga aku yang aku tahu nggak bakal menerima keadaan yang seperti itu. Aku panik, dan mutusin nggak mau tanggung jawab,”  kata gue, menahan dada gue yang sesak karena malu. “Dia terus-terusan nuntut sampai aku bingung….”

“Tunggu! Tunggu!” potong Gladys. “Kamu nggak ngebunuh cewek itu kan?”

Gue menggeleng-geleng, tampak memohon supaya nggak memvonis gue lebih dulu.

“Rena bunuh diri…,” kata gue, semakin ketakutan. Tapi, Gladys kelihatannya nggak mau dengar lagi.

Dengan kesal, ia menggeleng-geleng seolah-olah nggak percaya apa yang barusan gue bilang.

“Aku nyesal, Dys…,” kata gue, gemetaran. “Aku nyesal karena terlalu pengecut….”

“Ternyata kamu lebih jelek daripada yang aku pikir, Ras…,” kata dia, dalam dan tajam sambil menatap gue. “Sekarang kamu bisa seenak-enaknya bersikap seolah kamu cowok paling sempurna yang diinginkan semua cewek….”

“Itu masa lalu, Dys… aku udah terima akibat perbuatan aku…,” kata gue, memelas, sebelum dia bilang sesuatu yang lebih bikin gue sakit. “Aku dipukulin sama keluarganya ramai-ramai, sampai sekarat dan….”

Gladys kelihatan menunggu. Dengan ekspresi kesal bercampur sedih.

Gue kembali ke saat-saat itu. Saat rasanya gue nyesal banget dan yang gue lihat adalah kegelapan di mana gue hanya melihat Rena menatap gue sedih. Itulah neraka yang benar-benar bikin gue hancur sampai rasanya gue ingin nyusul Rena dan mengakhiri penderitaan gue sejak dia ninggalin gue dengan cara yang tragis.

“Saat aku koma, bokap sakit, dan begitu aku sadar dia udah nggak ada…,” sambung gue lagi. “Aku kehilangan banyak karena jadi pengecut termasuk juga penglihatan aku….”

“Maksud kamu?” Gladys membelalak.

“Aku sempat buta permanen. Korneanya rusak karena kepala dipukul pakai besi sampai keluar banyak darah. Cuma keajaiban yang bikin aku bisa bertahan hidup. Tapi, hidup pun juga udah kayak di neraka…,” sambung gue. “Kamu tau rasanya buta? Walaupun nggak bisa melihat tapi bisa ngerasain lebih banyak. Kesedihan nyokap dan Erick setiap ngelihat aku. Saat itu rasanya aku nggak ingin hidup lagi karena terlalu banyak bikin mereka menderita….”

Sekarang Gladys diam.

“Aku nggak tahu entah berapa lama rasanya matahari buat aku tenggelam, sampai aku terima donor dari orang lain dan bisa ngelihat lagi. Tapi, sejak pertama kali buka mata… aku mulai sering ngelihat sesuatu yang aneh….”.

Pertama kali gue ngelihat cewek itu, jujur, gue sempat ketakutan dan parno. Cewek itu, muncul sesuka hatinya seolah sengaja mempermainkan gue. Lama-lama gue mulai terbiasa dengan berpikiran kalau siapapun cewek itu pasti dia adalah seseorang yang selalu dilihat oleh pemilik mata ini. Dan sedikitpun gue nggak pernah ingin cari tahu. Hari-hari gue yang berlalu setelah itu, nggak pernah terasa normal lagi sekalipun udah bisa melihat.

Gue masih dikejar rasa bersalah karena kematian Rena dan belum lagi bayangan seorang cewek asing yang terkadang meracuni pikiran gue, bikin gue ingin melarikan diri. Dan satu-satunya cara buat menganggap mereka hanya halusinasi adalah mencari orang lain. Gue mulai pacaran lagi, gonta ganti cewek tiap sebentar karena nggak ada satupun sosok yang bisa menghilangkan bayangan itu dari otak gue. Bahkan seringkali saat gue sedang bersama seorang cewek, rasanya yang gue peluk itu adalah dia –cewek asing itu.

“Kamu harusnya ke psikiater,”  kata Gladys, akhirnya setelah cukup lama dia diam dengerin gue. “Itu namanya delusi berlebihan….”

“Aku nggak gila…,” kata gue, makin putus asa. Ternyata dia nggak berpikiran kalau gue aneh, tapi gila. Itu lebih cukup menggelikan buat gue.

“Fer?” suara Gladys melunak, mendongak ke gue, dia menunjukan kalau sekarang dia prihatin setelah begitu garangnya dia marah seolah gue nggak pantas diampuni. Tangannya meraih tangan gue yang gemetaran. “Aku ngerti itu masa lalu. Masa lalu itu hanya ada di masa lalu. Sekarang, kamu harus keluar dari sana..”

Gue mengangkat kepala dengan ragu-ragu, untuk melihat seberapa pedulinya dia setelah gue jujur. Dan gue berharap lebih dari ini…

“Aku pikir kamu adalah orang yang bikin aku bisa keluar dari bayang-bayang itu. Karena aku cinta sama kamu…,” kata gue, memohon, karena gue nggak punya kata-kata lagi untuk meyakinkan dia bahwa gue serius.

Gladys kelihatan menelan ludah. “Kita semua punya masa lalu, Fer,”  kata dia, lebih tenang, sambil mengusap wajah gue yang basah oleh keringat “Kalau seandainya, kamu jujur dari awal, kamu nggak harus berterus terang dengan cara yang…bikin kamu jadi seperti ini. Aku ngerasa bersalah banget, memaksa kamu untuk ingat semuanya di saat bersamaan….”

Gue bingung, dengan cepat gue hanya meraih tubuhnya ke dekat gue. Memeluk dia erat-erat agar gue percaya bahwa gue belum kehilangan. Masih ada satu kesempatan buat gue. “Kalau aku nggak bilang dengan cara kayak gini, kamu belum tentu mau dengerin aku…,” kata gue, meringis. Lalu Gladys, mendorong gue pelan, hanya untuk menatap gue lagi sambil tersenyum.

“Aku sayang banget sama kamu, Ras…,” kata dia. “Tapi, cara sayang aku ke kamu itu nggak sama. Aku nggak selalu bisa sama kamu, dan jadi yang kamu harapkan. Kalau kamu mau aku ngerti masalah kamu, atau dengerin masalah kamu, aku coba serius dan ngerti dengan catatan kamu harus jujur sama aku soal apapun itu….”

Gue mengangguk dengan lega, benar-benar lega setelah hari-hari dan jam-jam yang menyiksa gue selama gue nggak dengar suaranya. Gue nggak pernah ngerasa sepuas ini dengan cewek walaupun hubungan kita nggak pernah lebih dari pegangan tangan dan ciuman. Gue peluk lagi dia dengan erat. “Makasih, Sayang…,” ucap gue, bahagia banget saat dia mengecup dahi gue dengan manisnya. Bikin gue kembali melayang dan kesasar.

Tapi, gue harus merelakan dia sebentar karena Gladys harus kerja. Dengan sedikit lesu, gue ngantar dia balik ke kantor.

“Oh ya, Fer,”  kata Gladys sebelum turun. “Aku kenal psikiater yang mungkin bisa bantu kamu,”

Gue mendengus, nggak setuju. Dulu juga pernah gue disaranin ke psikiater, tapi gue selalu nolak.

“Nggak selalu yang ke psikiater itu orang gila,”  jelas dia kedengaran  berujar. “Kamu butuh orang sebagai teman bicara dan bisa memahami apa yang kamu rasain dari sisi psikologis,”

“Dys, aku…,” gue coba ngebantah.

“Psikiater pasti ngerti. Anggap aja…seperti punya teman yang setia mendengar….”

Gue masih terlihat protes karena dia mulai maksa gue ngelakuin sesuatu yang nggak ingin gue lakuin. Lalu Gladys kembali mendekat, merayu gue dengan ciuman yang dia pikir bikin gue mau ke psikiater. Tapi, nggaklah. Gue masih 100 % waras kok!

“Itu masalah serius…,” kata dia pelan di telinga gue, dan bikin gue merinding. Gladys selalu tahu cara bikin gue terangsang, tapi sayangnya dia selalu nggak bisa disentuh. “Aku nggak mau….”

Gue mandangin dia serius, tepat ke bibirnya yang pingin gue cium lagi karena sepertinya dia bakal ninggalin gue dalam keadaan nggak terpuaskan.

“Aku nggak mau, kalau nanti sama kamu…,” dia berbisik lagi, penuh godaan. “Kamu malah ngelihat cewek itu lagi….”

Gue mendadak girang. Jadi dia punya rencana supaya kita…

Tiba-tiba Gladys menjauh, kembali dengan sikap biasa. “Oke,”  dia tersenyum. “Aku kerja dulu. Besok, kita bikin janji sama psikiaternya ya?”

“Gladys…,” gue masih pingin ngebantah walaupun sesaat tadi gue langsung menghayal dan melayang.

Rautnya tiba-tiba berubah jengkel, tanpa kata. Dia maksa gue untuk mengangguk, sebelum gue jalan lagi.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments