[Hal.45] [Ch.9] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

🌜 Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia 🌛 Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari🥳

Info Gambar
Kita memutuskan duduk di café seberang jalan depan kampus. Awalnya gue ngerasa aneh, ini pertama kalinya bawa cewek yang kurang menarik untuk dilihat. Sampai mereka yang kenal sama gue malah ketawa-ketawa sambil geleng-geleng kepala. Tapi, gue berusaha untuk nggak peduli. Gue sama cewek ini nggak seperti yang mereka pikirkan.

Cewek ini nggak bicara. Untuk makan siang yang udah hampir telat ini dia cuma pesan sop bening nggak pakai nasi ditambah sari jeruk nipis. Pantesan badannya kurus dan kayaknya nggak sehat.

“Lo cuma makan itu?” tanya gue skeptis.

“Saya nggak terlalu suka makan,”  jawab dia tenang, menyesap kuah supnya dengan sendok, dan kelihatan nikmatin makan siang itu.

Sekali lagi, di saat gue ada kesempatan gue lirik HP gue yang nggak berdering daritadi. Cuma ketiga teman gue yang kepo gue lagi di mana dan terus-terusan ngajak ketemuan –seolah mereka tuh ngebet banget kayak cewek lagi jatuh cinta sama idola.

“Kamu lagi nungguin telpon seseorang?” tegur dia dengan santai mandangin gue.

Agak gusar, gue  ngangguk dengan pelan. Harus gue akui, supaya dia berhenti kepo soal urusan pribadi gue.

“Berantem?” tanya dia dan gue nggak jawab. Sadar kalau sikap gue adalah jawaban iya, dia tersenyum lagi, sebelum minum dari sedotannya. Dan supnya sudah habis, sementara gue belum nyentuh makanan yang gue pesan –sama sekali nggak selera. “Kenapa bisa berantem? Kamu selingkuh?”

Sialan nih cewek? Main tebak-tebak aja!

“Pasti ada kesalahan dari kamu yang nggak bisa diterima sama pacar kamu, sampai dia nggak mau bicara sama kamu,”  komentar dia dan gue semakin kesel aja. Mau gue yang salah, atau siapapun yang mulai, tetap dia nggak punya hak menghakimi gue. Lagian dia tahu apa?

Gue diam, mengernyit. Gue harap itu terlihat antipati supaya dia nggak berkomentar lagi, apalagi komentar yang menyudutkan gue  banget seolah gue ini memang pantas disebut bajingan. Gue nggak mungkin dong curhat sama orang asing kalau gue sayang banget sama cewek gue dan saking sayangnya gue jadi hati-hati banget sampai harus nahan perasaan sendiri. Sementara orang ini, dari penampilannya aja gue  nggak yakin dia ngalamin yang namanya jatuh cinta dengan cara yang wajar. Secara, penampilannya aja udah nggak wajar.

Anehnya dia tersenyum dengan tenang. “Semua orang  butuh waktu buat tenang,”  kata dia, menatap gue dengan ramah.

Gue mengeluh. “Hampir seminggu sih itu bukan menenangkan diri lagi namanya…,” kata gue asal.

Dia ketawa lagi. “Sifat orang itu nggak ada yang sama,”  kata dia lagi. “Kalau dilihat caranya nyuekin kamu, kayaknya dia cewek yang keras,”

Gue mengernyit, kenapa dia bisa tahu?

“Saya juga perempuan,”  kata dia, mengingatkan gue kalau gue lupa dia memang seorang cewek. “Coba deh, kita ambil perumpamaan,”

Gue mulai dengerin dia, karena sejak tadi dia memang selalu ngomong serius. “Ibarat duri dalam daging, orang yang kepribadiannya keras pasti berusaha membuang duri yang bikin sakit itu,”  

“Jadi maksud lo dia mutusin gue gitu?” gue mulai kesal.

“Bisa jadi,”  katanya dan emosi gue tiba-tiba memuncak.

Kenapa gue mau-maunya dengerin orang sinting ini?

“Karena sesuatu yang awalnya dia pikir sempurna ternyata nggak seperti kelihatannya. Sebelum jadi infeksi, harus disingkirkan,”  kata dia, menatap gue semakin serius.

Gue berdiri seketika. “Lo emang sinting ya?” teriak gue.

“Memang apa alasannya dia nggak mau bicara sama kamu hampir seminggu?”balas dia dan terakhir, gue pergi dari tempat itu sebelum dia meracuni otak gue sama pendapat dan caranya yang aneh.

Gue bener-bener nggak ngerti, ada ya cewek aneh model begitu di dunia ini?

***

Seminggu pun berlalu setelah adegan gue walk out dari café dengan membanting pintu. Beberapa orang mungkin masih mempertanyakan kenapa hari itu gue segitu kesalnya setelah bicara sama seseorang? Habis itu gue jadi sadar, masalah yang gue alami itu jadi beban pikiran karena gue nggak pernah bicara sama siapapun soal yang gue alami sekarang atau di masa lalu yang ada hubungannya dengan yang terjadi saat ini.

Orang mungkin mulai heran ngelihat gue, tapi gue sendiri juga nggak kalah heran dengan apa yang gue lakukan.

“Adjani!” gue memanggil cewek itu lagi. Kali ini dengan sikap yang lebih ramah.

Saat gue ngerasa nggak bisa berbagi sama Tora, Bagas atau Danny, juga Mama atau Erick yang sibuk sama kerjaannya, gue nggak punya siapa-siapa. Merasa kalau selama ini gue cukup kesepian dengan banyak hal yang nggak bisa gue mengerti –bayangan-bayangan itu dan perasaan aneh seolah gue sedang menjadi orang lain dengan tubuh gue. Gue menemui cewek aneh itu lagi dan hebatnya dia selalu tersenyum setiap melihat gue, seolah nggak pernah merasa tersinggung dengan kata-kata gue atau sikap angkuh yang sering gue perlihatkan ke dia. Semua gara-gara gue gagal meyakinkan Gladys, gue kembali merasa sendirian di tengah keramaian.

“Kamu nggak coba ketemu langsung?” tanya dia, tenang dan gue selalu heran. Sementara tatapan matanya terkadang kosong.

Gue menggeleng. “Terakhir gue nungguin dia, dia bilang nggak mau bicara,”  jawab gue.

“Sekarang jujur deh, masalah apa yang bikin kamu sama pacar kamu bertengkar?” tanya dia, kembali serius, mandangin gue dan gue terpojok. “Kalau bukan orang ketiga, pasti masalahnya lebih serius,”

“Ada sesuatu yang gue nggak pernah cerita sama dia, tepatnya belom gue ceritain…,” jawab gue dan sulitnya membahas sesuatu yang ingin gue omongin tapi nggak bisa gue omongin, apa lagi sama orang lain yang notabene akan tetap jadi orang lain buat gue. “Itu mulai ngeganggu, sampai dia bertanya-tanya dan mengira kalau gue…aneh….”

Adjani tiba-tiba ketawa. “Aneh?” dia heran. “Aneh gimana?”

“Lebih aneh lagi kalau gue ceritain. Dan gue emang belum pernah cerita ke siapapun…,” kata gue, tertunduk. “Karena itu susah dipercaya….”

Adjani mengangguk-angguk. “Oke,”  katanya. “Kalau kamu berat buat cerita ke saya, nggak apa-apa. Toh, yang lebih butuh penjelasan itu bukan saya, tapi pacar kamu,”

“Tapi, gue nggak bisa ceritain masalah itu,”  kata gue bersikeras.

“Pacar itu orang yang dekat sama kita karena cinta. Dan cinta yang kita dapatin dari pacar itu nggak sama dengan cinta dari keluarga atau sahabat,”  kata dia. “Pacaran adalah saat dua orang belajar saling memahami dan menerima. Kalau akhirnya kamu cerita yang sebenarnya ke dia, baru dia merasa nggak terima, di sanalah kamu harus berhenti. Tapi, selama dia masih mau mengerti, nggak ada salahnya untuk terus mencoba. Intinya sekarang, apapun yang rasanya akan menjadi masalah kalau kamu nggak jujur, ada baiknya kamu katakan….”

Gue terdiam. Sumpah, selama ini gue mikirin itu sendirian sampai nggak tidur-tidur. Yang selalu gue tanyakan setiap malam apa Gladys masih mau bersama gue kalau gue ceritain semuanya?

“Cinta itu bukan sekedar ucapan ‘I love you’ yang enak didengar, Ferre,”  sambung dia. “Cinta itu adalah menerima, kamu ngerti?”

Gue berusaha untuk mengerti. Saat ini, kalau mengalah dan memohon itu kedengarannya masuk akal karena benar-benar mencintai seseorang, nggak mungkin ada stigma harusnya cowok mengejar cewek, bukan sebaliknya. Gue ingin tetap pada prinsip itu, kalau bukan gue yang nunjukin seberapa serius gue sama hubungan ini, dia nggak akan kembali.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments