[Hal.44] [Ch.9] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Ch. 10 - Kesempatan Kedua

Ferre

Gue menarik nafas panjang di pagi yang terasa asing. Gue bangun dari tidur yang sama sekali nggak enak seolah semalam gue nggak bener-bener tidur tapi ngelakuin hal yang lain. Gue harus ngaku dengan sedikit malu, kalau semalam itu gue mimpi; mimpi yang harusnya enak buat anak-anak baru gede tapi buat gue mimpi yang menyiksa banget. Menyiksa karena sudah hampir seminggu berantem sama cewek gue dan menyiksa karena gue mimpinya nggak sama dia, tapi seorang cewek lain –cewek yang sering gue lihat wajahnya setiap bangun tidur dan di mana-mana di tempat tertentu. Gue semakin nggak ngerti, ada ya mimpi begituan sama cewek nggak dikenal. Parahnya, itu terasa nyata dan sialnya, saat sadar gue cuma sendirian di ranjang dengan…yah...’sisa-sisa perjuangan gue’ yang berbekas di seprai.

Kalau si Bi Irah sempat nemu beginian di kamar gue, dia pasti senyum-senyum lucu gitu. Malu banget kan gue? Jadi, pagi-pagi tadi gue menghapus jejak dan turun buat sarapan dengan wajah kusut. Seperti biasa, karena gue bangunnya selalu telat, Mama dan kakak gue udah pergi.Walaupun udah biasa, kadang-kadang gue sedih juga. Seolah-olah, nggak ada yang mau ngurusin gue. Coba Papa masih ada…

“Den, nggak sarapan?” tegur Bi Irah.

Gue menggeleng, dengan lesu langsung ke garasi dan masuk mobil, siap menuju kampus sambil tetap nguap di sepanjang jalan.

Gue menggeledah tas gue yang kegedaan buat dua buah buku yang jarang gue tulisin. Tapi, kaget, saat gue malah nemu satu buku lagi yang jelas bukan punya gue. Cover-nya gambar bunga lagi, kalau ada yang lihat catatan gue modelnya begini kan nggak lucu. Tapi, yang jelas, buku ini bukan milik gue, melainkan seorang cewek amburadul yang ketemu  di kelasnya Bu Ranti. Gue pinjam buku ini minggu lalu dan sejak itu juga dia nggak pernah muncul atau memang gue nggak ngelihat dia lagi. Gimana pun juga buku ini harus tetap dibalikin. Gue pun ngelihat jadwal hari ini. Syukur deh, kelasnya Bu Ranti ada jam dua siang nanti.

Dari seminggu yang lalu, sejak cewek gue neriakin gue aneh, gue memang makin aneh. Gue nggak ketemu teman-teman gue lagi yang menurut gue cuma bikin gue tambah kesel. Selama itu, gue berusaha nelpon atau SMS Gladys, tapi dia seolah nggak peduli. Gue parno sendiri kalau ini artinya putus. Dua jam lalu, gue juga SMS dia lagi dengan isi minta maaf ataupun kata-kata manjur lainnya paling nggak supaya dia ngasih tau kabarnya dengan begitu  gue yakin kalau kita belum berakhir. Belum apa-apa aja gue udah gila setengah mati, gimana kalau nanti rasa cinta gue ini semakin besar ke dia?

Kelas Bu Ranti akhirnya dimulai. Gue memilih tempat duduk paling belakang, sambil merhatiin ke pintu. Untuk mastiin si ‘Adjani’ bakal muncul atau nggak. Gue nggak sabar, begitu gue balikin bukunya, urusan gue sama dia selesai. Karena gue nggak mau, ada orang kedua yang bilang gue aneh. Tapi, dia nggak menunjukan tanda-tanda bakal muncul karena Bu Ranti udah masuk.

Dasar, ternyata ada juga orang yang malas kuliah melebihi gue, gue menggerutu sambil kembali nyimpan catatan itu dalam tas. Dan selagi tangan gue meraih ransel gue yang gue taruh di lantai. Cewek itu datang. Bu Ranti membiarkan dia masuk karena telatnya belum sampai lima menit. Gue pikir dia bakal memilih tempat duduk di belakang, kayak biasanya. Tapi, belagak sok pintar dia duduk di depan! Gue jadi nggak bisa balikin bukunya sampai kelas Bu Ranti selesai. Anehnya, dia nggak merasa kehilangan sesuatu. Paling nggak ingat dong, catatan mata kuliahnya Bu Ranti nggak ada. Dia dengan khidmat-nya mengikuti mata kuliah dan mencatat di buku yang lain.

***

Tapi, cewek itu memang aneh banget. Begitu bubar kelas, dia dengan santainya melenggok keluar bersama kerumunan itu. Sementara gue yang ribet harus ngejar dia sebelum dia lagi-lagi ngilang. Mana jaraknya jauh, gue harus ngejar dia ngelewatin beberapa orang yang ngalangin jalan. Jadinya si cewek yang doyan pakai baju kemeja longgar itu, meninggalkan ruangan dengan indah.

“Adjani!!” gue memanggil di antara puluhan manusia yang lalu lalang di sekeliling gue.

Dia terus aja berjalan, seolah nggak dengar namanya di panggil. Gila!, suara gue kurang keras apa? Udah bikin orang-orang pada ngelihatin gue, cewek itu santai berjalan di lorong.

“Adjani!” panggil gue sekali lagi, begitu sampai di belakangnya dia dan begitu dia menoleh, dia kaget luar biasa.

Nggak perlu segitunya juga kaget sampai melototin gue heran.

Gue segera menyodorkan buku catatannya. “Nih, gue balikin,”  kata gue cepat, sementara nafas gue sesak banget karena ngejar-ngejar dia kayak ngejar cewek yang gue cinta setengah mampus. Mana orang lain pada ngelihatin –jangan-jangan berpikiran kalau gue ada sesuatu dengan cewek aneh begini.

Cewek itu menerima catatannya, lalu tersenyum. “Oh, saya lupa. Catatan saya pinjamin ke kamu,”  kata dia, dengan wajah inosen. “Pantesan saya cariin nggak ketemu,”

What the…   

Sumpah cewek ini bikin gue nggak habis pikir. Masa dia bisa lupa pinjamin catatan ke orang yang dia langgar privasi-nya, lebih-lebih itu seorang cowok keren? Kayaknya dia error deh…

“Lo punya penyakit lupa yang parah banget deh kayaknya…,” komentar gue garing ngelihat dia dengan santainya menatap gue –gue nggak berharap dia klepek-klepek, secara itu bakal lebih ngerepotin, tapi yang bikin gue jadi heran sama orang ini adalah tatapan matanya. Tatapan mata yang kosong sekalipun dia sedang tersenyum. Kaca mata nggak bisa nyembunyiin kalau sorot mata itu menyiratkan kesedihan. “Makasih buat catatannya,”

Dia mengangguk saat masukin bukunya ke dalam tas renjeng yang dia bawa.

Gue masih berdiri. “Sebagai ucapan terima kasih gue, gimana kalau gue traktir lo makan siang?” kata gue, dengan konyolnya dan kenapa juga gue harus ngajak dia pergi.

Oh God, apa jangan-jangan gue terlalu kecewa sama Gladys? Tapi, nggak harus sama cewek ini juga kan? Harusnya gue cari yang cantik tapi…

“Boleh,”  cewek itu tersenyum, lalu pikiran dan perasaan gue berhenti berdebat.

Nggak ada salahnya bersikap ramah sama cewek yang sebenarnya udah nolongin gue untuk lolos dari kuis minggu lalu. Yah, traktir makan juga nggak berlebihan.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments