๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Yang aku lakukan hanya menangis sepanjang hari, jika sepi hampir membunuhku. Keceriaanku nggak lagi terdengar di sekolah dan banyak orang jadi bertanya-tanya. Tapi, aku mendapatkan beberapa kejutan menjelang aku melepaskan masa-masa SMA-ku.
Masih ingat dengan Harris, kakak kelasku yang nyaris memerankan Dr. Coppelius dulu? Tiba-tiba dia bilang suka padaku dan aku jadi bingung. Tapi, itu membuatku tertawa sendiri, karena aku dengan tegas menolaknya –bukan dengan cara menyakitkan dan dia tampak menerimanya. Aku nggak ngerti kenapa tiba-tiba orang-orang jadi berempati padaku. Dan setiap aku memikirkan semuanya kembali, aku putuskan untuk melepaskannya. Aku nggak mau orang lain harus menerima akibat dari apa yang menimpaku.
Januari, Februari, Maret, dan April. Selama itu Rexi nggak pernah muncul lagi. Desas-desus dia dipindahkan ke London kian santer terdengar. Dan memang salah seorang guru memastikan bahwa Rexi sudah nggak ada di Indonesia lagi. Aku menangis, itu pasti –tangis yang sangat keras, yang membuatku seperti anak kecil di depan Andin dan Genta, lalu mereka memelukku dengan erat. Memberiku perlindungan dari rasa kesepian dan tersiksa yang dalam, setelah kepergian Rexi.
Mei, UN yang menakutkan itu datang juga dengan keluh kesahnya yang membuatku uring-uringan. Aku mulai takut soal kelulusan. Aku takut nggak bisa bergabung di pesta kelulusan nanti walaupun sebenarnya aku nggak terlalu bersemangat. Aku melakukan semua yang aku bisa untuk belajar, membaca buku, menghafal walaupun seringkali karena lelah, aku membanting semuanya ke dinding. Aku sudah menyerah menunggunya. Rasanya akan lebih baik jika aku melepaskannya. Dia nggak perlu lagi harus melawan orang tuanya dengan memaksakan diri untuk bersamaku. Bayangkan saja, jika seandainya aku punya orang tua, tentu saja aku nggak ingin mengecewakannya.
Akhirnya aku melepaskan gelar anak SMA itu. Aku berhasil lulus walaupun nilai-nilaiku nggak cemerlang. Yah, siapa juga yang mau melanjutkan ke universitas? Tujuanku setelah ini bahkan belum jelas. Aku belum memikirkannya.
***
“Bos lo yang cakep itu udah nungguin di depan tuh,” kata Andin menyikutku saat aku sedang coret-coret baju di pojok sekolah bersama teman-teman yang lain.
“Hah?” aku melongo dan mulai celingak-celinguk ke gerbang.
Memang, mobil BMW Silver-nya Mas Ubai udah nangkring di depan. Tapi, aku belum mau pergi. Aku belum mengumpulkan tanda tangan atau coretan-coretan yang cukup di seragam putih abu-abuku. Sekarang, harus aku akui, sejak di kantor polisi atau mungkin sejak pesta tahun baru bareng itu, Mas Ubai mulai menunjukan tanda-tanda kalau dia suka sama aku. Memang tampilannya judes dan pemarah plus sudah nggak jambrongan lagi, tapi dia baik dan dewasa. Hanya saja keadaan ini bikin aku jadi bingung, soalnya...sampai sekarang aku masih belum bisa melupakan Rexi yang nggak mungkin aku lupakan. Jadinya, aku sama Mas Ubai masih menggantung. Dan kelihatannya sih, dia kelihatan menunggu, mungkin sampai aku bukan anak SMA lagi, soalnya dia nggak mau dibilang pedofil –dan itu hari ini. Satu lagi nama aslinya ternyata bukan Mimo tapi Abhistama dan dia memang punya keturunan Arab-arab gitu.
***
Coret-coretannya selesai sekitar jam empat sore. Aku sempat lupa kalau Mas Ubai sudah menunggu sejak dua jam yang lalu dan mobilnya masih betah nangkring di depan gerbang sekolah.
“Lo samperin kek!” kata Andin, setengah cemberut.
“Iya ah, bawel!” celetukku sambil berlari menyebrangi halaman sekolah, berniat bilang maaf ke Mas Ubai, tapi sayangnya aku memang belum bisa pergi. Teman-teman yang lain belum mengizinkan.
Dari kejauhan aku lihat seorang cowok berdiri di depan gerbang. Kelihatan sedang menunggu. Tiba-tiba aku jadi merasa bersalah. Tapi, ternyata dia bukan orang yang aku maksud.
Aku nggak tahu di mana Mas Ubai, entah masih di dalam mobil atau keluar dari mobil dan pergi ke mana. Tapi, yang pasti sosok pertama yang aku lihat saat aku keluar dari gerbang sekolah dengan seragamku yang sudah mirip lukisan abstrak itu adalah Rexi.
Dia membalikan badan dan ketika melihatku, ia langsung tersenyum.
Jika ini mimpi yang kembali mempermainkanku, ini benar-benar nggak adil. Karena setiap terbangun dari mimpi itu, aku selalu sedih karena itu hanya mimpi. Dan berharap mimpi itu nggak pernah lagi datang menyiksaku.
Rexi mengenakan kemeja kotak-kotak merah tua dan kaos di dalamnya, jeans hitam, dan sepatu kets bergaris putih. Dia nggak pakai kaca mata. Potongan rambutnya pendek, tapi nggak disisir rapi seperti saat di sekolah dulu, mungkin angin membuatnya acak-acakan. Nggak ada mobil Audi atau Camry hitam yang parkir di sekitar sekolah. Dia kelihatan terpisah dari sebuah paket gedungan yang biasa membawanya ke mana-mana ditambah seorang supir dan beberapa orang bodyguard juga seorang Ibu yang mirip keturunan bangsawan yang mengendalikan semua itu. Dia tersenyum, setelah terakhir kali melihatnya, dia menangis.
Dan aku malah melongo, heran. Jika biasanya aku selalu berlari untuk memeluknya, kali ini aku membeku. Selagi dia mulai melangkah, untuk menghampiriku.
“Hampir setengah tahun nggak ketemu, kamu malah ngelihatin aku kayak orang asing,” kata dia, masih belum hilang senyum di wajahnya.
“Kamu… bukannya… di London?” tanyaku, dalam gelembung yang masih memisahkanku dari kenyataan –ini hanyalah mimpi. Karena saking merindukannya, mimpi pun terasa sangat nyata.
“Dua hari yang lalu,” jawab dia.
Aku semakin bingung.
“Harusnya kamu senang dong. Aku bela-belain terbang 19 jam dari sana untuk ketemu kamu,” kata dia, dengan tenang.
“I…iya, tapi…,” aku memejamkan mataku sekali, lalu menatapnya lagi.
Rexi masih ada, berdiri dengan santai dan kedua tangannya tersimpan di saku celananya. Dia terlihat lebih kurus sekarang. “Aku datang ke sini hanya untuk ngelamar kamu,” kata dia lagi.
Aku nggak tahu harus jawab apa. Mimpi ini benar-benar keterlaluan.
“Ellody?” tegur Rexi mendekat, dan tiba-tiba tangannya menyentuh wajahku. Barulah aku sadar kalau ini bukan mimpi.
Aku mengangkat kepalaku, dan mataku berbinar.
“Aku datang buat ngelamar kamu, seperti janji aku,” sambungnya, membelai pipiku lembut. “Hidup aku nggak berakhir seperti yang kamu bilang. Aku udah buktikan yang pertama, kalau aku nggak lulus dari sekolah ini jadi juara umum, dan aku nggak ngelanjutin kuliah ke luar negri terus lulus pakai gelar cum laude, apalagi sampai jadi eksekutif muda. Dan… aku nggak nikah di usia 28 tahun karena dijodohin. Tapi, aku bakal nikah muda sama pilihan aku yang namanya Ellody, cewek miskin yang buat lulus SMA aja segitu susahnya….”
Aku agak kesal dengan kalimat terakhirnya, tapi aku sudah bisa tertawa lagi. walaupun masih tersendat oleh rasa haru.
“Walaupun belum sampai ending yang happily ever after banget itu, karena aku juga nggak tahu bakal punya anak dua, tapi mungkin kayaknya bakal lebih dari dua dan untuk bagian sekolah di sekolah internasional itu kayaknya boleh juga,” sambung dia, dan tawaku makin keras di sela tetesan air mataku. Dia berhenti mengoceh sebentar. “Jadi…jauh-jauh dari London aku nggak dapat pelukan…atau ciuman atau….”
Aku menariknya segera sebelum dia menyelesaikan kata-katanya yang entah kenapa jadi kedengaran humoris, dan juga sejak kapan dia jadi pintar ngomong. “Kamu!” jeritku merengek, agak kesal juga karena kata-katanya seperti mempermainkanku.
Belaian tangannya masih seperti dulu. Ini benar-benar nyata. Aku kembali bersandar di dadanya.
“Tunggu bentar!” kata dia tiba-tiba dan aku cemberut karena tiba-tiba dia menarik diri. “Aku hampir lupa!”
Rexi merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu yang kemudian ia genggam sebelum ia perlihatkan di depan wajahku. Sebuah kotak beludru warna hitam yang isinya sudah pasti cincin. Rexi sampai beli cincin juga?.
Aku hampir dibuatnya menangis histeris di depan teman-temanku yang lain.
“Janjinya udah kita ucapin lebih dari setahun yang lalu, tapi cincinnya belum ada. Sebenarnya sih aku bisa beliin dari dulu, tapi aku… nggak mau kamu pakai sesuatu yang nggak aku beli dari uang sendiri...,” jelas dia, sambil membuka tutupnya, agar aku bisa memandangi indahnya sebuah permata kecil yang bercokol di atas sebuah cincin emas putih yang tampak berkilau di siang seterik ini. “Jadi…kebetulan di London, nggak ada bodyguard yang jagain, terus juga saya bisa bebas di sana, dan sempat-sempatnya kerja sambilan pulang sekolah,” kenangnya lalu terkekeh sendiri. “Mungkin karena aku terinspirasi sama kamu, jadi ikut-ikutan kerja di Toko CD. Asik juga, ternyata….”
Aku mulai cemberut. “Kamu kebanyakan ngoceh deh!” gerutuku. “Itu cincin mau dipakaiin ke aku atau nggak sih?”
Dia tertawa, lalu mencabut cincin itu dari tempatnya. Lalu memakaikannya di jari manis tangan kiriku. Aku dengar Andin menjerit histeris, diikuti sama yang lain yang menyoraki kami dari kejauhan. Begitu cincinnya terpasang indah di jariku, aku memeluknya sekali lagi. Semua kesedihan selama hampir dua tahun ini, akhirnya terbayar lunas.
“Hanya itu aja?” tanya dia, sedikit menggodaku.
Aku menyernyit. Belum cukup enam bulan jadi Orang London, Rexi berubah sangat jauh. Dia nggak kelihatan kaku lagi!
“Terus kamu mau apa?” tanyaku, jadi malu sendiri.
“Apa ya…?” dia memandang ke segala arah dan kelihatan berpikir, mempermainkanku.
“Ini sekolah, Rexi…,” keluhku, karena aku nggak mungkin menciumnya di sini.
Dia menatapku skeptic mendadak. “Kamu kan udah bukan anak SMA lagi,” katanya. “Seragam kamu udah nggak putih abu-abu lagi warnanya. Kamu mirip lukisan berjalan….”
Aku pun menarik tangannya, dan berlari, meninggalkan tempat itu segera. Aku sudah lama merindukan naik bus bersama. Dan sepanjang jalan kita nggak berhenti-hentinya tertawa sambil bercerita tentang apa yang nggak saling kami ketahui belakangan. Saat berlari-lari di sepanjang rel kereta menuju rumah, kenangan menyakitkan tentang malam itu sudah nggak menakutkan lagi bagiku. Seperti mengecat lingkungan itu menjadi baru dengan cat yang baru yang warnanya lebih cerah. Menutupi semua yang terburuk yang pernah terjadi di sana.
Kami masih tertawa satu sama lain begitu pintu tertutup. Nggak jelas apa yang kami tertawakan, tapi yang jelas terlalu menggembirakan saat bisa memeluknya lagi, dan menciumnya seperti dulu. Lalu mengucapkan cintaku di telinganya dengan berbisik. Sampai kakiku nggak lagi menyentuh lantai, dia mengangkatku dalam pelukan erat yang seakan nggak melepasku lagi untuk alasan apapun –orang tua dan ketakutan terbesar kami. Semua perasaan takut telah hilang ketika kami bersatu.
***
“Terus gimana keluarga kamu?” tanyaku, setelah keindahan hampir berlalu dan aku mulai khawatir sebentar lagi dia harus pergi. Seperti biasaya.
Dia menatapku, dengan sedikit sedih, tapi berusaha tetap tersenyum. “Aku nggak akan pulang ke sana lagi, Ellody,” jawab dia”Karena rumah aku di sini sekarang,”
“Terus?” tanyaku, semakih khawatir, tentang sesuatu yang lebih buruk dari pada kalau dia tetap di sini bersamaku.
“Aku udah mutusin ngelepasin semuanya demi kamu,” tegas dia, membelai pipiku lembut. “Dan orang tua aku udah tau itu, makanya mereka nggak akan paksa aku untuk kembali ke London….”
“Semudah itu?” aku masih belum percaya.
“Ini jalan hidup yang aku mau, Ellody…,” dia berujar, masih kelihatan ingin mengalihkan kalau sebenarnya…Rexi sudah dibuang dari keluarganya. “Aku nggak akan nyesal, sekali pun aku nggak punya apa-apa … tapi aku punya kamu dan itu udah lebih dari cukup..”
ooOoo
Komentar
0 comments