๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Aku berlari di atas batu-batu penyangga rel yang runcing dan sesekali kakiku tersangkut tapi aku menahan sakitnya sambil tetap memperhatikan sekelilingku. Kata Genta, Rexi datang mencariku. Aku senang luar biasa karena ternyata dia nggak liburan ke luar negeri seperti yang aku kira. Aku mulai panik, karena nggak juga melihatnya di antara orang-orang yang duduk sambil memandang gedung tinggi di depan kami, atau menemani anak-anak bermain kembang api. Aku lihat tetangga sebelah membuat acara makan-makan. Mereka memanggang ikan untuk dimakan bersama-sama sambil menunggu hitung mundur. Ya, tinggal beberapa saat lagi, tahun ini akan segera berakhir. Tapi, aku masih mencari wajahnya di antara orang-orang bersuka cita.
“Sepuluh! Sembilan!” mereka mulai menghitung dengan berseru.
Aku sedikit putus asa. Dan kusadari, nafasku sesak dan aku nggak bisa berlari lagi.
“Lima! Empat!” suara keramaian itu terdengar makin keras, mereka berdiri dan mulai menghalangi pandangan.
Aku juga nggak melihat Andin ada di sekitarku, kalau memang kata Genta saat ini Rexi bersamanya.
“Tiga!” suara itu temponya seolah melambat tiba-tiba, saat aku berbalik dan berputar sekali lagi di tengah-tengah warga kampung. “Dua!”
Lalu saat “Satu!” diserukan gedung tinggi di belakang kami dihiasi oleh kembang api besar yang menyeruak, mekar seperti raksasa. Mereka berlomba mengejar langit untuk kemudian meledak membiaskan warna-warna yang indah berupa cahaya-cahaya yang menyebar hingga ke perkampungan di pinggiran rel kereta api. Aku merasa lega, karena kulihat dia berdiri di sana –dan kurasa cukup lama dia membiarkanku kebingungan mencarinya.
Saat semua mata terpana ke gedung itu, Rexi berlari ke arahku untuk memelukku, membuka lengannya lebar-lebar untukku. Aku menangis dibuatnya. Tanpa kata, aku juga tersenyum di saat bersamaan. Rasa lega mengisi setiap ruang kosong di rongga dadaku yang tadi rasanya begitu sesak. Dia juga, nggak bilang sesuatu, ‘aku kangen’ misalnya, atau paling nggak ‘selamat tahun baru’.
Aku nggak tahu entah berapa lama aku bisa memastikan bahwa ini bukan mimpi. Tapi, mungkin terlalu singkat. Tiba-tiba Rexi melepaskanku. Saat aku membuka mata dengan terkejut, dua orang laki-laki berbadan besar dan berpakaian rapi menyeretnya dariku.
Rexi tampak meronta. “Lepas!!” teriak dia, berusaha menarik diri sementara aku menangis karena syok dan seketika aku mengejarnya.
“Ellody!!” suara Andin terdengar histeris, dan ternyata dia berdiri nggak jauh dari kami.
“Rexi!!” aku menjerit, mengejar mereka yang menyeret Rexi lagi.
Rexi menoleh, dan ia kelihatan sangat marah. Ia memaki bodyguard-nya itu. “Lepasin saya nggak?!” ancamnya seolah itu bisa membuat mereka berhenti.
Tapi, bodyguard itu tampak nggak bereaksi. Dengan ekspresi dingin ia tetap memaksa Rexi pergi dengan memegangi lengannya. Begitu juga dengan yang satunya lagi. Mereka membuat Rexi nggak bisa bergerak.
Aku mengambil batu-batu kerikil di sekitar rel kereta. Dengan nekat kulempari mereka satu persatu. Saat itulah Rexi terlepas dari mereka dan aku segera berlari menyambut tangannya. “Cepat, Rexi!” seruku, dan Rexi meraihku. Kami harus kabur sebelum mereka menangkapnya lagi.
Tapi, seorang bodyguard lainnya muncul di depan kami entah dari mana, menghalangi kami.
Aku dan Rexi saling tatap dengan sedih.
“Maafin aku, Ellody…,” kata dia terlihat sangat menyesal, dan itu pertama kalinya aku lihat Rexi meneteskan air mata. Tandanya, ia nggak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia sudah melakukan semua yang dia bisa.
Aku menggeleng-geleng. “Nggak, Rexi…,” kataku nggak rela jika harus berpisah lagi dan air mataku menetes saat seorang bodyguard-nya menarik tubuhnya dariku tapi aku masih memegangi tangannya. Dia juga menggenggam tanganku dengan kuat.
Tapi, seorang bodyguard lagi, menarikku menjauh dari Rexi.
Aku melenguh menahan sakit, bertahan sekuat tenagaku. Tapi, laki-laki itu memang jauh lebih kuat.
“Lepasin dia!!” jerit Andin histeris, memukul-mukul laki-laki itu dengan kedua tangannya, agar melepasku.
Tapi, laki-laki itu mendorong tubuhnya sampai jatuh.
“Andin?!” aku terkejut dan saat itulah genggamanku terlepas. Aku melihat Andin meringis kesakitan di atas batu-batu tajam rel kereta, dan Rexi sudah ditarik pergi dengan paksa. Aku menyaksikannya berlalu dengan air mata dan tangisan, tapi laki-laki itu belum melepaskanku sampai Rexi nggak terlihat lagi. Ia membebaskanku setelah memastikan bahwa mengejar Rexi pun sudah percuma.
Tapi, aku tetap saja berlari. “Rexi!” kusebutkan namanya dengan keras dan putus asa, hingga suaraku serak dan tenggorokanku sakit. “Rexi!”
Di pinggir jalan raya, mereka sudah melempar Rexi ke dalam mobil dan dia masih meronta minta dilepaskan. Dia tampak berteriak, memaki atau mungkin menyerapah, tapi bodyguard-nya terlalu dingin dan kuat.
“Rexi!” aku sudah sampai, tapi mobil itu melaju. Aku belum menyerah karena aku yakin masih bisa mengejarnya karena lalu lintas malam ini sudah pasti nggak bersahabat. Mereka pasti bertemu macet.
Aku nggak peduli jauhnya jalan yang kutempuh sampai bertemu macet panjang di lampu merah. Mungkin saja aku sudah gila, menggeledah jalanan mencari sebuah Camry hitam yang membawa Rexi. Aku berada di tengah-tengah puluhan kendaraan yang menunggu untuk bisa menyebrang di perempatan yang dijagai polisi. Mobil-mobil itu bertumpuk di tengah-tengah dan nggak ada yang mau mengalah. Mereka memberi waktu lebih lama bagiku untuk mencari Camry itu.
Dan Rexi menggedor-gedor kaca mobil, dengan sengaja untuk menunjukan keberadaannya padaku. Suaranya nggak terdengar tapi aku tahu dia tengah memanggil-manggil namaku dengan putus asa.
“Rexi!!” aku senang, meski nggak legabisa melihatnya lagi. Lalu berlari ke mobilnya.
Seorang bodyguard yang duduk di sampingnya, tampak memegangi Rexi dengan sekuat tenaga. Ia bahkan nggak mengizinkan Rexi memanggilku walaupun di dalam sana ia nggak bisa berbuat apa-apa dan perlawanannya pun akan tetap sia-sia. Mereka sangat jahat…bukan…bukan mereka yang jahat, tapi ibunya sendiri.
Aku bisa merasakan derita, yang ia tunjukan saat melihatku berteriak menggedor-gedor kaca mobil memanggil namanya sambil menangis dan menjerit. Sampai seorang polisi menarik tubuhku menjauh dari mobil karena ia pikir aku mengacau. Ternyata bodyguard lain yang naik mobil berbeda yang menyuruh polisi itu –aku melihat mereka berdiri di pinggir jalan, diam dan menyaksikan.
Tapi, Rexi nggak bisa berbuat apa-apa. Dia berhenti melawan, dan akhirnya hanya bisa memandangku diseret seperti binatang dari tengah jalan saat mobil-mobil di depan sudah kembali bergerak.
Sisa malam tahun baru itu berlalu di kantor polisi. Mereka menuntutku atas tindakan membahayakan di jalur lalu lintas.
Salah seorang bodyguard keluarga Rexi terlihat dan sepertinya dialah yang menerima perintah Mama Rexi agar aku ditahan.
***
Air mataku mengering. Aku tertegun lemas dan Andin duduk di sampingku. Berusaha untuk nggak menangis karena kasihan melihatku, belum lagi luka di lututnya yang lecet dan berdarah. Begitu orang tuanya datang, ia langsung jelasin apa yang terjadi. Orang tua Andin terlihat sangat mencemaskanku dan mereka iba sekali. Tapi, mereka nggak bisa berbuat sesuatu, karena laki-laki bodyguard itu masih ada di sana, memastikan aku dihukum.
Genta pun muncul setelah orang tua Andin pergi dan Andin memutuskan untuk tetap tinggal menemaniku.Begitu melihatnya, Andin langsung menangis lagi.
“Lo nggak apa-apa, Zi?” tanya dia pelan.
Aku nggak menjawab dan hanya menatapnya nanar. Setetes air mata jatuh lagi tanpa kusadari. Dan Genta memelukku erat sekali.
“Sabar ya, Zi…,” kata dia, dan Andin ikut berpelukan.
Sekarang aku hanya punya mereka. Aku bersyukur, mereka ada di sini menemaniku. Selalu ada bersamaku di saat tersulitku.
“Kita nggak akan pernah ninggalin lo…,” ujar Andin padaku sambil berusaha tersenyum walaupun air matanya juga masih menetes.
Aku mengangguk-angguk. Lalu melihat seseorang yang sedang bicara dengan polisi jaga juga bodyguard itu. Dia terdengar marah sekali.
“Saya nggak ngerti ya sama aturan yang berlaku di sini. Kenapa anak itu diperlakukan seolah dia baru aja mengendarai mobil sambil mabuk terus nyerempet orang sampai mati?” itu Mas Ubai yang entah gimana bisa ada di sini, dan… lagian kenapa dia bisa tahu aku di kantor polisi.
“Gue yang bilang, El,” kata Genta. “Gue balik ke tempat pesta buat bilang kalau lo ditahan sama polisi,”
“Anak itu yatim piatu, dia nggak punya orang tua,” kata Mas Ubai ketus, pada bodyguard Rexi yang bertampang dingin. “Saya tahu, ini tugas anda, tapi anda juga harus pakai perasaan dong!”
Bodyguard itu diam saja. Hanya memandangi Mas Ubai seperti seorang tentara Inggris. Dia benar-benar terlatih untuk nggak bereaksi menunjukan emosinya.
“Begini saja, Pak,” ujar Pak Polisi sebelum Mas Ubai makin nyolot. “Saya butuh penjamin untuk anak itu kalau dia ingin dibebaskan,”
“Penjamin?” Mas Ubai kedengaran maakin kesal. “Saya kan udah bilang dia nggak punya orang tua,”
“Lalu anda? Apa anda kerabatnya?” tanya Pak Polisi itu lagi.
Mas Ubai terdiam sejenak, dan melirikku. “Bukan,” jawab dia, setelah menghela nafas. “Saya bosnya dan dia adalah karyawan di tempat saya. Saya yang akan menjaminnya,”
Kalau malam itu nggak ada Mas Ubai entah.
***
Komentar
0 comments