[Hal.58] [Ch.12] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Biasanya tiap malam pergantian tahun aku, Genta dan Andin, main kembang api di rel kereta bareng anak-anak kampung. Daripada desak-desakan di jalan ke Monas atau ke puncak kalau hanya ingin lihat kembang api. Di lingkungan dekat rumah, juga masih bisa lihat kembang api meledak di atas gedung tinggi dan kita yang berada di belakangnya ikut nonton sambil duduk di rel kereta. Sebenarnya rencana tahun baruan bersama Rexi itu udah direncanakan tahun lalu, tapi sayang, Rexi nggak bisa karena diajak keluarganya liburan ke Paris. Apa mungkin merekajuga pergi ke luar negeri tahun ini?

“Vdahlah deh, lo pergi aja sama bos lo yang jambrongan itu,”  kata Andin. “Dia bener, lo butuh penyegaran,”

“Terus Rexi?”

Andin menghela nafas. “Memang ada janji sama Rexi?” tanya dia.

Kita belum ketemu lagi untuk membahas pergi malam tahun baru. Aku sangat kecewa karena harapannya sangat tipis.  Kemungkinan besar perayaan tahun ini masih tanpa Rexi. Aku masih menghitung mundur hari demi hari terakhir di tahun ini dan menunggu Rexi setiap malam di depan pintu. Berharap ia akan datang seperti biasanya. Tapi, dia nggak pernah datang sampai akhirnya aku putuskan pergi sama Mas Ubai untuk menghilangkan rasa sedihku.

***

Aku menyanyi di depan orang-orang asing yang tampak mendengarkan nyanyianku dengan serius. Rasanya, sedikit menenangkan saat mereka memberiku tepuk tangan yang disponsori Mas Ubai yang langsung berdiri begitu laguku selesai. Mereka bilang suaraku bagus. Yah, aku memang serba bisa. Andin dan Genta bilang bakatku banyak. Tapi, aku nggak pernah serius terhadap salah satunya. Dulu aku selalu ingin melakukan semua hal yang aku suka sekaligus. Sejak dengan Rexi, aku mulai fokus untuk melukis. Walaupun yang kulukis itu selalu saja dia dan teman-temanku selalu bertanya kenapa Rexi menjadi objek utamanya. Aku bilang, dia indah. Tapi, setelah dia jarang ada, aku nggak lagi melihat keindahan itu. Hanya masalah dan masalah.

Tapi, sebenarnya nggak ada yang istimewa dengan malam itu selain dari kembang apinya. Bagiku, malam yang paling istimewa adalah malam-malam di mana Rexi menyelinap masuk dan membangunkanku. Aku sangat senang dan langsung memeluknya. Walaupun dia harus pergi besok dengan tergesa-gesa, tapi dia selalu berjanji akan datang dan datang lagi. Dan yang paling menyenangkan adalah di malam ulang tahunku yang ke 18, dia menjadikan dirinya  sendiri sebagai kado karena bisa keluar dari rumah tengah malam aja susahnya setengah matijadi nggak sempat beli apa-apa.

“Jadi…gimana? Kamu enjoy kan?” tegur Mas Ubai menghampiri aku yang termenung memperhatikan orang-orang  yang sedang main kembang api sambil minum-minum di kolam renang –mereka semua teman-temannya Mas Ubai, dan yang pasti pesta ini adalah pestanya Mas Ubai.

Aku hanya tersenyum, berusaha terlihat senang, sekalipun pikiranku masih menerawang entah ke mana. Memikirkan ke negara mana Rexi dan keluarganya pergi liburan tahun ini.

Oh ya, bosku ini –aku nggak tahu persis umurnya berapa. Mungkin 25 atau 26 tahunlah. Aku kenal dia sebagai orang yang jutek, pemarah dan galak. Tapi, kadang dia baik juga karena sering mentraktir karyawannya dan mengelola Jukebox-nya dengan rapi. Memang sih tokonya ramai didatangin orang tapi dia paling sebel kalau ada yang nyolong, semua karyawannya pasti dimarahin. Apalagi aku, kehilangan yang terjadi sebagian besar karena kelalaianku. Tapi, aku nggak pernah dipecat.

Mas Ubai memang jambrongan. Dia punya jambang dan jenggot yang lumayan panjang dan rambutnya agak gondrong, mirip cukong-cukong minyak dari Arab. Kata Andin, bukan sifatnya aja yang serem tapi juga tampangnya. Tapi, sekarang, entah kesambet sama jin apa, Mas Ubai yang identik dengan kumis dan jenggot, mencukur rapi semuanya. Dan…yah, tadi saat dijemput dari rumah, aku hampir nggak mengenalinya. Dia kelihatan beda sampai aku pikir Mas Ubai menyuruh temannya buat jemput aku. Kalau dia nggak bicara dengan gaya nyelenehnya, aku mungkin nggak akan tahu kalau dia adalah bosku.

Dia tersenyum. Sejak nggak jambrongan lagi, senyumnya itu terlihat lebih jelas. Wajahnya lebih bersih dan dia nggak lagi kelihatan seperti orang bangsaViking.

Aku berusaha menikmati sisa acara menjelang hitung mundur. Aku lihat di live music, beberapa orang teman Mas Ubai sedang menyanyi dengan ceria. Mas Ubai sempat menghampiri beberapa orang temannya yang baru datang di pinggir kolam renang, saat aku lihat, seorang cewek menarik dan memeluknya mesra. Tapi, Mas Ubai kelihatan tenang-tenang aja, dan malahan cewek itu di dorong sampai kecebur. Acara itu heboh sekali. Semua orang tertawa dan aku hanya menggeleng-geleng dari kejauhan. Begini ya, dunia orang dewasa yang nggak pernah aku tahu?

Saat asyik memperhatikan kolam renang yang ramai tiba-tiba aku melihat seseorang berlari ke pinggir kolam. Ia celingak kiri kanan, ke sekitarnya dengan bingung seperti mencari-cari seseorang.

Aku turun dari kursiku. “Genta?” aku terkejut melihat Genta berjalan di pinggiran kolam renang sementara dia dipelototin sama yang lain.

Begitu melihatku menghampirinya, Genta yang nafasnya sesak, tampak lega. “Untung lo memang di sini!” kata dia, cepat. “Rexi nyariin lo di rel karena dia pikir lo di sana!”

Aku langsung berlari, mengejar detik-detik yang akan segera berlalu dalam hitungan mundur tiga, dua dan satu, dalam hingar bingar Jakarta yang dipadati jutaan manusia yang berdesakan di jalan hanya untuk melihat letusan kembang api termegah di penghujung tahun ini. Aku sama sekali nggak bisa bersabar lebih lama di jalan. Genta mengeluh, berkali-kali membunyikan klakson. Tapi lalu lintas terlalu padat. Bahkan satuan polisi yang berjaga di setiap jalan utama nggak bisa berbuat apa-apa.

Aku nggak bisa menunggu lebih lama lagi. Jadi, aku melompat keluar dari mobil dengan cepat.

“El?!” panggil Genta yang mendongakkeluar dari jendela mobil.

Tapi, aku hanya menoleh sebentar, dan berlari di antara mobil-mobil yang nggak bisa bergerak. Aku berlari secepat yang aku bisa di saat orang-orang hanya bisa menunggu sampai mobil bisa melaju lagi. Meski aku tahu, bahwa jalan menuju rumah masih sangat jauh. Tapi, jika aku memutuskan bersabar di sana, ya, aku mungkin akan melewatkannya. Karena, mungkin mereka akan terjebak macet semalaman. Jalan-jalan utama di tutup. Monas mungkin menjadi lautan manusia, tapi nggak dengan lingkungan tempat tinggalku.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments