๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Terakhir kalinya aku bertemu Rexi, aku mengatakan padanya akan bersabar. Selama apapun yang dia mau, sampai dia benar-benar bisa menjemputku. Dan ia mengangguk. “Aku bakal datang secepatnya, Ellody,” . Tapi, terkadang, aku ingin menyerah, karena nggak sanggup.
“Yah, ngelamun!” seseorang menegurku, sambil menarik helaian rambutku dan aku kaget.
“Mas Ubai?!” aku kelabakan karena ketahuan sama bos malah ngelamun saat ada pelanggan yang mau beli CD. Aku pun segera meninggalkan counter-ku dan menghampiri pelanggan.
Belakangan aku memang sering ngelamun dan itu bukan pertama kalinya ditegur Mas Ubai yang rada jutek itu. Tapi, sebenarnya Mas Ubai itu baik. Kadang dia suka beliin aku milkshake strawberi tapi ya harus diejekin dulu. Aku tahu kok Mas Ubai cuma candain aku, karena aku karyawan yang paling lama dan betah kerja di sini.
Aku baru menyusun kaset yang habis diacak-acak sama pengunjung yang barusan pergi. Sambil memperhatikan Mas Ubai mengawasi karyawan lain. Kayaknya dia nggak marah aku lagi-lagi melongo. Lalu seseorang masuk dari pintu depan –seorang wanita yang aku kira pelanggan toko. Tapi, begitu aku lihat sosoknya dengan jelas lagi, ternyata Mama-nya Rexi. Aku langsung punya firasat buruk soal ini.
Aku membeku pada detik-detik dia melangkahkan kakinya ke dalam dan ia langsung bisa menemukanku berdiri di antara rak-rak kaset yang berbaris di depannya. Ia dengan mudah melewati itu untuk bisa berhadapan langsung denganku, memperhatikan diriku dari ujung kepala dan ujung kaki, dengan ekspresi jijik, seolah aku ini sampah yang mengotori lantai bersih dan terlihat jelas sangat mengganggu. Aku menarik nafas, dengan cemas dan ia bisa merasakan ketakutanku bahkan saat ia belum bicara sepatah katapun. Tatapan angkuh itu sudah mengutarakan segala kemarahan yang ingin ia ungkapkan padaku dan aku menunggu, masih menunggu dengan pasrah.
“Saya nggak ngerti dengan gadis seperti kamu,” kata dia, bengis, suaranya lantang dan menusuk.
Jika aku nggak cukup kuat, aku sudah pasti langsung menangis menghadapinya.
Mama Rexi selalu datang dengan penampilannya yang terhormat, yang membuatku semakin terlihat rendahan. “Sekarang bilang ke saya, berapa yang kamu minta supaya kamu menjauhi anak saya..”
Aku terdengang.
“Kamu jangan pura-pura bodoh ya!” suaranya lebih keras, dan beberapa orang mulai melihat ke sini.
Aku mulai khawatir, kalau dia akan mengatakan lebih dari itu untuk mempermalukanku. Dan kedua kakiku yang berusaha untuk tetap berdiri tegak, gemetaran.
“Apa lagi mau kamu mendekati anak saya kalau bukan karena uang,” tuduh dia semakin bengis, dan pandanganku mengabur oleh butir air mata yang ingin keluar.
“Maaf, ada apa ya?” Mas Ubai tiba-tiba datang, ia menatap wanita itu dengan santai sementara aku menghapus air mataku yang baru jatuh. “Kalau ada masalah pribadi, tolong diselesaikan di luar dan bukan di jam kerja karyawan saya, Bu,”
Mama Rexi mulai terlihat jengkel, tapi ia terbungkam.
“Saya bisa panggil sekuriti untuk mengusir Ibu kalau kehadiran Ibu di sini hanya untuk mengganggu ketenangan di toko saya,” kata Mas Ubai tegas.
“Kamu berani mengusir saya?”
“Selama itu di area saya, saya berhak,” tegas Mas Ubai lagi. “Jadi saya harap Ibu segera keluar dari sini sebelum saya panggilkan sekuriti untuk mengusir Ibu,”
Dengan kesal, Mama Rexi langsung melangkah keluar. Ia naik ke mobil yang parkir tepat di depan pintu toko dan begitu pintunya tertutup, mobil itu melaju kencang.
Untung ada Mas Ubai. Aku nggak nyangka dia bakal bantuin aku. Padahal tadi itu benar-benar rasanya aku mau nangis karena sama sekali nggak bisa jawab. Nyaliku ciut. Semakin lama, keberanianku mulai hilang. Aku benci sama perubahan itu, tapi aku nggak bisa melakukan sesuatu. Kalau Mama Rexi segitu bencinya sama aku karena aku nggak pantas, aku harus gimana lagi? Melepaskan Rexi sama aja rasanya kayak bunuh diri.
“Vdah deh… nggak usah dipikirin,” kata Mas Ubai yang sudah berdiri di belakangku sambil bawa milkshake dan itu ternyata memang buat aku.
“Makasih, Mas,” kataku lesu.
“Kamu sih, nyari pacar anak gedongan yang super kaya. Bisa-bisa kamu dimasukin penjara sama tuduhan yang aneh-aneh,” kata dia, nakut-nakutin lalu ketawa-tawa. “Nyonya itu galak banget ya,”
“Itu pertama kalinya aku ngomong sama Mama-nya Rexi,” kataku, masih lesu.
Mas Ubai kelihatan ngangguk-ngangguk. “Udah deh,” ujar dia lagi. “Kalau segitu menderitanya kamu lepasin aja. Masih banyak kok cowok lain….”
“Tapi, Mas…,” aku jadi nggak bisa ngomong karena Mas Ubai memandangi aku dan aku jadi bingung. Ini kan pertama kalinya kita mengobrol masalah pribadi. Biasanya aku selalu dimarahi karena datangnya telat dan sering nggak masuk. Habis itu kebanyakan melamun lagi….
Rasanya jadi serba susah.
“Oh ya, tahun baru nanti kemana?” tanya Mas Ubai tiba-tiba.
Aku menggeleng. Sama sekali nggak ada rencana.
“Daripada kamu cemberut gitu, mendingan kamu ikut saya aja deh. Acara tahun baruan di cafรฉ. Pasti seru,” hibur dia. “Nah, kamu kan hobi nyanyi tuh. Kamu bisa nyanyi di live music, kalau kamu cukup pede suara kamu bagus,”
Aku masih belum semangat.
“Aah!” Mas Ubai kedengaran mengeluh. “Pokoknya saya nggak terima jawaban nggak. Kamu tuh ya harus dikasih penyegaran. Tuh rambut udah panjang , acak-acakan lagi, untung kamu jalannya masih di tanah, kalau nggak bisa disangkain sundel bolong..”
“Ih, Mas Ubai jahat!” jeritku merengek.
“Ya iyalah. Udah deh, pokoknya saya jemput jam sembilan teng teng, oke?” kata dia, maksa banget, sebelum dia pergi begitu aja dan aku bingung lagi.
Maunya tahun baru itu sama Rexi, soalnya dia pernah kalau mau lihat kembang api berdua. Tapi, aku nggak yakin apa dia bisa kabur tengah malam sementara Mama-nya sudah datang ke sini. Pasti penjagaan Rexi diperketat.
***
Komentar
0 comments