[Hal.56] [Ch.12] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Ch. 12 - Rel Kereta

Ellody

Semua badanku sakit. Aku kaget karena mendengar suara klakson kereta lewat yang perlahan mendekat lalu menggetarkan seisi rumah. Aku dengan nggak sabar menunggu sampai bunyinya yang bising itu berlalu sambil duduk. Dan mataku yang seperti digelantungi setan sampai benar-benar nggak bisa dibuka. Lalu menguap sebelum kembali menjatuhkan badanku yang rasanya seperti kayu. Dan bug!, aku kaget karena kepalaku menghempas sesuatu yang keras.

“Aduh!” aku menjerit kesakitan dan mataku yang berat itu segera terbuka. Ternyata aku baru saja menimpa kepala Rexi yang tidur menelungkup dengan nyaman. Kerasnya benturan kepalaku dan belakang kepalanya, sama sekali nggak membuatnya bergeming.

Coba aku bisa tidur senyenyak itu, aku kembali menguap sambil bergeser dan menemukan tempat berbaring yang pas dengan badanku –di atas punggungnya Rexi. Sayang kan, kalau selagi dia ada di sini, aku lebih banyak tidur? Aku nggak tahu lagi kapan ia bisa kabur ke sini hanya untuk bertemu setelah sekian lama…

Tiba-tiba ku mendengarnya meringis sakit. Aku mengangkat tubuhku perlahan darinya dan menemukan sebuah memar yang membiru di punggungnya dan jadi merasa bersalah. Itu akibat aku memukulnya dengan kayu semalam. Aku mengusap-usap punggungnya dengan pelan, betapa aku menyesal membuatnya kesakitan. Tiba-tiba ia meringis lagi dan bergerak. Mungkin terbangun karena sentuhan yang menyakitkan itu. Ia tampak ingin membalikan badannya, tapi nggak bebas, sehingga aku harus menyingkir ke samping.

Rexi mulai membuka mata, dan seketika dia menyadari bahwa aku sedang memandanginya, dia tersenyum sebelum menggeliat dan kedua tangannya kembali meraihku untuk tidur dalam pelukannya. “Kamu ngapain pagi-pagi udah reseh?” tanya dia, suaranya serak dan kurang jelas.

“Aku nggak reseh kok…,” kataku, mengalungkan tangan kiriku ke pinggang telanjangnya yang terasa hangat di kulitku.. “Cuma…nggak  nyangka, ada kamu pagi-pagi begini….”

Rexi terdengar tertawa pelan. “Kamu mau tiap pagi begini?” tanya dia, mempererat pelukannya lalu membawaku ke atasnya, agar bisa menatap wajahku yang pasti sangat berantakan di tambah rambut yang kusut.

Dengan malu-malu, aku mengangguk, membalas tatapan matanya yang menyipit karena cahaya matahari dari jendela membuatnya silau.

“Kalau gitu kita nikah aja,”  kata dia, dan aku menyambutnya dengan tawa jenaka.

“Aku baru tujuh  belas!” kataku, histeris, sambil tertawa di dadanya.

“Terus kenapa? Umur minimal menikah kan 16 tahun buat perempuan dan 18 tahun buat laki-laki,”  kata dia, ikut tertawa.

“Kita masih sekolah, tau?!” protesku lagi.

“Terus kamu nggak mau?”

“Terus sekolahnya?”

“Bukannya kamu nggak mau sekolah lagi?”

Aku menghela nafas, memejamkan mataku. “Kalau aku sih nggak apa-apa, tapi kamu gimana?” tanyaku, sedih. “Lagian mana mungkin? Keluarga kamu?”

Rexi mulai menepuk-nepuk punggungku dengan pelan sekali. “Aku udah nggak peduli,”  kata dia. “Karena aku takut masa depan aku jadi seperti yang pernah kamu bilang dulu. Nyeremin tau nggak kamu ngasih bayangan yang segitu rapinya dan bikin aku jadi kepikiran?”

“Kok nyeremin sih?” aku heran.

“Aku nggak pernah ingin jadi juara umum. Aku belajar karena itu yang harus saya lakuin di sekolah. Mungkin kamu benar, semuanya udah direncanain sama orang tua aku. Kehidupan dan masa depan, semuanya ada di tangan mereka, bukan aku…,” kata dia, terdengar sedih juga, dan aku memeluknya semakin erat. “Aku nggak mau, Ellody….”

“Terus?”

“Ngebayangin aku harus nikah sama orang yang nggak aku suka, semuanya diatur sampai sedetil-detilnya, itu nggak bisa aku bayangin…,” sambung dia, terdengar mendesah berat. “Tiba-tiba aku jadi takut….”

Aku pun diam.

“Lagian…gara-gara kamu sih…,” kata dia, terkekeh tiba-tiba. “Belum tentu apa-apa, kamu udah ngeramalin masa depan aku yang suram,”

“Suram? Itu sih suram  bukan namanya…,” aku ikut terkekeh di dadanya.

“Suram karena bukan kamu yang menikah sama aku,”  kata dia, dan aku tertegun. “Tapi, orang lain. Makanya jadi suram….”

Aku pun bingung. Memikirkannya batinku jadi sakit. Membayangkan kalau bertemu saja segitu susahnya, apa itu tetap menjamin kita nggak akan berpisah?

“Aku nggak mau ngejalanin hidup yang kayak gitu,”  kata dia. “Aku jadi patah semangat karena aku udah tahu apa yang mereka rencanain sama hidup aku. Dan dari semua itu, yang pasti, mereka nggak akan ngizinin kita bersama. Aku nggak bisa, karena….”

Aku masih diam menunggu kata-katanya.

“Aku ingin buktiin ke kamu kalau hidup aku nggak akan berakhir kayak jalan yang pernah kamu ceritai waktu itu. Karena buat aku ending yang happily ever after banget itu adalah kalau aku bisa sama-sama kamu terus. Berdua, kayak gini…,” kata dia, dan aku jadi ingin menangis, saat Rexi menarik pinggangku bergeser ke atas, untuk menciumku, dan aku menunggu sentuhan yang selalu aku rindukan itu dengan memejamkan mata.

“Rexi…,” aku mendesis, di telinganya saat memeluk tubuh hangatnya dengan erat, dan aku langsung akan merindukan dia begitu dia pergi dari sini. “Aku masih takut kalau setelah ini kita nggak bisa ketemu lagi…kalau aku kangen kamu, aku harus gimana…?”

“Aku pasti datang kok…,” kata dia. “Walaupun mungkin aku harus lompat dari jendela lantai dua. Soalnya di depan pintu, ada bodyguard-nya. Aku bakal ngelakuin segala cara supaya bisa tetap ketemu sama kamu….”

“Mama kamu pakai bodyguard segala?”

Rexi mengangguk. “Aku anak laki-laki satu-satunya …,” kata dia.

“Rexi, aku takut…,” kataku, dan tanpa sadar air mataku menetes, dan mengalir membasahi kulitnya. Aku merasakan sentuhan tangannya membelai dari puncak kepala ke ujung rambutku yang jatuh di punggungku.

“Aku bakal ninggalin semuanya…,” kata dia berbisik. “Demi kamu, demi cinta aku ke kamu… aku  lebih bahagia sama kamu daripada hidup berkecukupan tapi nggak punya cinta, Ellody….”

Aku hanya menangis dalam dekapannya, berharap waktu berhenti di sini, sebelum berbisik dengan malu. “Rexi…,” suaraku gemetaran dan dia menjawabku dengan sangat pelan. “Aku belum mau kamu pergi sekarang…apa kamu bisa tinggal lebih lama?”

Rexi langsung mengangguk lagi, mempererat lingkaran kedua tangannya, dan aku menyilangkan kakiku di antara kedua kakinya. Aku ingin merasakan kehadirannya di sini, sebelum aku benar-benar akan sangat merindukannya. Air mataku nggak bisa berhenti mengalir, aku malah terus-terusan merengek saat dia mendesis, memintaku diam.

Terbuai oleh hawanya yang pekat. Dalam pelukannya, seperti berjalan di hutan dalam tanpa jalan keluar yang selalu membuatku tersesat. Aku mulai takut dengan waktu yang berjalan begitu cepat, hanya untuk dapat menyentuh dan merasakan, saat-saat kita saling memiliki yang singkat. Aku nggak ingin turun dari tempat tidur, berusaha menahannya dan ia berusaha memberikan yang terbaik sebelum pergi.

Selangkah dia keluar dari rumahku, dadaku terasa sesak. Aku mulai merasa bahwa mencintai Rexi rasanya begitu menyakitkan. Hari-hari yang kujalani tanpanya terasa begitu panjang, dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya adalah jeda yang sangat lama dan berkali-kali membuatku putus asa. Aku nggak pernah menyentuh kuas atau kanvas atau cat minyak lagi –aku belum mengeluarkannya dari peti yang kusimpan di dapur dan bertumpuk dengan perabotan rongsokan lainnya. Aku nggak membutuhkannya lagi. Karena tanpa Rexi, aku nggak bisa melukis apapun. Semua yang terindah yang bisa kuungkapkan sudah lenyap. Hari-hariku habis hanya untuk memikirkan apa dia baik-baik saja. Semakin lama, semakin cinta ini membuatku gila. Dan semakin aku lanjutkan, segala hal terasa sangat mustahil.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments