๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Lo kayak hantu deh…,” kata gue dan dia langsung mengernyit heran.
Yah, ekspresinya itu nunjukin kalau dia nggak suka. Artinya dia memang manusia sekarang, bukan dulu. Tapi, sebelum dia sempat ngomong sesuatu, gue dengar suara handphone yang berbunyi. Adjani mulai menggeledah tas jadul-nya, dan ngangkat telepon itu. Gue lega, dia manusia beneran (mana ada hantu punya hp?)
“Ya, Ma?” jawab dia nyuekin guesebentar. Dia melirik jam tangannya. “Iya, setengah jam lagi…aku udah di jalan ke sana kok…ya…ya udah….”
Ternyata nyokap-nya. Pantesan dia kelihatan serius. Anak yang baik.
“Maaf ya, saya harus pergi sekarang,” kata dia dengan cepat.
“Ke mana?” tanya gue, berniat buat ngantar lagi tapi dia langsung ngacir. Malahan sampai lari-larian gitu. Lucu. Gue ketawa sampai dia nggak kelihatan lagi.
Jadinya gue punya banyak waktu luang yang malah bikin gue bingung. Gue udah bolos dua mata kuliah dan hari ini hari Kamis –nggak ada janji ketemu sama Pak Moldy. Ujung-ujungnya gue nyariin temen-temen gue. Lumayan ribet sih, soalnya mereka itu suka ada di mana-mana. Sampai-sampai gue nanyain setiap teman yang gue temuin sepanjang jalan. Hampir semua yang geleng kepala dan bilang nggak tahu. Gini nih rasanya nyari sesuatu yang dibutuhin tapi nggak ketemu juga, kayak orang kesasar jauh banget.
Ampun!, gue ingat sesuatu yang bikin gue nepok jidat gue sendiri. Mereka kan lagi sibuk bikin album karena kabarnya mereka dikontrak sama label terkenal setelah CD demo mereka diterima. Gue tahu betul mereka bertiga –begitu mereka terkenal, mereka nggak perlu kuliah; mereka udah seringkali ngomong gitu ke gue saat mereka masih jadi band amatiran yang pernah dibayar cuma dengan nasi bungkus. Mereka bisa hidup dengan nulis lagu. Benar kata Adjani, kuliah itu cuma buat orang yang ingin kerja kantoran.
Lorong kampus yang dulu biasanya gue lewatin dengan ceria –walaupun niat gue datang bukan buat belajar, malah buat gue godain cewek-cewek lewat, terus cekikikan bareng anak-anak sok asik itu, sekarang terasa sepi. Sekalipun, banyak orang yang lalu lalang, lorong itu terasa lebih panjang dari yang gue tau. Mungkin, karena langkah gue yang lemas dan…gue sendirian. Gue ngerasa udah ngebuang banyak waktudemi hal yang nggak penting. Satu-satunya tujuan gue sekarang adalah Gladys –cewek gue.
Gue tahu mungkin gue terlalu cepat datang buat jemput. Masih jam empat. Tapi, gue nggak tahu harus ke mana lagi. Dengan sabar, gue nunggu di parkiran. Karena dari tadi gue telpon, di-reject terus. Mungkin dia masih ada meeting, atau berurusan sama klien. Nggak cukup setengah jam, gue duduk manis di dalam mobil, gue akhirnya ngelihat dia keluar dari kantornya. Tapi, dia nggak sendirian. Ada seorang laki-laki yang jalan di sampingnya dan mereka kelihatan asik ngobrol sebelum dua-duanya naik ke mobil yang sama. Sementara telpon gue terus-terusan di-reject. Mungkin teman kantor atau kliennya, gue berusaha untuk tenang dan masuk akal –seperti yang selalu dia minta selama ini. Dengan hampa, gue ninggalin parkiran itu, dan lagi-lagi nggak punya tujuan yang pasti.
Mungkin udah resiko punya cewek seorang pekerja kantoran yang di lingkungannya pasti orang-orang mapan dan dewasa. Ferre yang keren itu sekarang berkecil hati –dia nggak ada apa-apanya dibandingin sama laki-laki yang barusan; baik dari penampilan apalagi kepribadian. Gue cuma mahasiswa yang pernah diancam DO. Dulunya gue seorang pemimpi yang ingin nge-band,, tapi band gue sekarang udah sukses tanpa gue. Dan gue nggak dapat apa-apa setelah jadi realistis. Kebayang sudah, saat gue rajin kuliah, temen-temen gue berkarya, nulis lagu, jadi apa yang mereka mau –itulahyang selalu ingin gue lakuin tapi nggak bisa gue lakuin, karena kuliah dan rajin belajar itu lebih masuk akal untuk punya masa depan cerah.
***
Gue ngerasa muak sama diri gue. Selama ini, gue udah jadi orang lain demi orang lain. Sekali lagi, Adjani benar. Apa yang harus dan nggak harus kita lakuin itu hanya kita yang tahu. Ajaibnya dia muncul di depan gue lagi di lampu merah. Dia jalan sendirian dengan cepat kayak dikejar sesuatu. Begitu lampunya hijau, gue langsung tancap gas, sambil sesekali ngelihat ke belakang –Adjani sedang jalan di trotoar kearah berlawanan. Gue mulai sibuk cari tempat parkir lain, gue harus turun dari mobil, dan ngejar dia sebelum menghilang lagi.
Begitu ketemu pinggir jalan yang kayaknya aman untuk parkir, gue langsung keluar, dan Adjani masih kelihatan walaupun jauh banget. Terpaksa gue harus lari, nyeberang jalan di detik-detik lampu hijau baru nyala. “Adjani!” panggil gue dan menerobos barisan orang-orang yang berjalan di sepanjang trotoar. Tapi, dia terlalu jauh dan jalan yang bising oleh klakson di lampu merah, melenyapkan suara gue di udara. Dia terus berjalan lurus ke suatu tempat.
Saat gue sampai di depan sebuah bangunan di mana dia menghilang, gue sedikit kaget. Gedung itu adalah sebuah galeri seni. Menjelang pintu masuk, gue lihat beberapa banner pameran lukisan yang sedang berlangsung. Adjani benar-benar nggak kelihatan lagi, mungkin dia masuk ke sana. Tapi, gue perhatikan orang-orang yang masuk ke sana, mereka kayaknya bukan sembarang orang. Mereka turun dari mobil-mobil mewah yang terparkir rapi di halaman samping gedung dengan setelan formal. Gue jadi nggak yakin Adjani pergi ke tempat ginian, sementara penampilannya itu…sama sekali nggak cocok untuk tema acara.Tapi, gue lihat sendiri dia berbelok ke arah sini!
Ke mana dia?, gue masih bertanya-tanya saat berdiri di depan pintu dan seorang penjaga menyapa gue.
“Selamat malam, Pak...,” cewek bergaun merah itu tersenyum sambil mempersilakan gue masuk.
Gue pikir gue bakal dicegat karena sama sekali nggak diundang ke pameran. Dengan senang hati, gue masuk dan suasana di dalam yang tenang bikin gue tambah bingung. Pameran itu didatangi banyak orang –ada orang asing juga, mereka menyebar di setiap lukisan yang terpapang berjejer di dinding putih dan masing-masingnya di terangi lampu.
Adjani nggak ada di sana. Gue mulai mencari, menelusuri setiap ruang yang hanya di isi oleh para kolektor dan pemandu yang jelasin soal lukisan yang mereka cermati. Gue hampir menyerah, tapi melihat lukisan yang dikumpulkan di satu ruangan itu bikin gue nggak merasa sia-sia berlari sampai ke sini. Dan gue juga nggak nyangka, ngelihat sebuah lukisan yang kayaknya familiar banget. Lukisan bernama Sang Dewa yang terpajang di antara lukisan-lukisan abstrak yang gue nggak ngerti maknanya. Gue pernah lihat lukisan itu di sekolahnya Starla dan seorang guru di sana pernah bilang kalau lukisan itu memenangkan sebuah lomba.
Nama Ellody, tertera di label di bawah lukisan itu. Tapi, nggak ada keterangannya.
Gue sentuh lukisan itu, bisa gue rasain kuasan cat yang mengering dan menjadi timbulan di permukaan kanvas yang terasa kasar. Ini lukisan yang asli –dan mungkin yang ada di sekolah itu cuma posternya karena ia dibingkai dengan kaca. Untuk mengenang sang pelukis yang sudah meninggal dunia.
“Ferre?” seseorang menegur gue.
Seketika gue menoleh ke belakang dan melihat Adjani.
“Lukisannya nggak boleh dipegang,” kata dia, mengingatkan dengan hati-hati tapi gue malah melongo, sampai dia menghampiri.
Gue tersadar, dan linglung.
“Ngapain kamu ke sini?” tanya dia, heran.
“Gue tadi lihat lo jalan di depan,” jawab gue jujur.
“Dan kamu ngikutin saya sampai ke sini?” tanya dia hati-hati.
Gue diam. Nggak senyum, nggak juga menunjukan ekspresi santai. Gue masih bingung, karena merasa aneh. Sama lukisan ini, sama cewek ini.
Adjani tersenyum, dan gue mulai tenang. “Kamu suka lukisan itu?” tanya dia, perhatiannya tertuju ke lukisan di belakang gue.
“Gue pernah lihat lukisan ini di sebuah sekolah. Kalau nggak salah SMA Bhakti Nusa,” jelas gue, ikut mandangin lukisan itu, lalu tertawa sendiri. “Di pajang di lorong yang biasanya cuma ditempeli kata-kata mutiara…gue pikir lukisan itu spesial banget, karena satu-satunya,”
“Yah, itu cuma poster. Aslinya ada di sini,” jelas dia, tampak kagum pada proyeksi –dari cat minyak berbentuk sosok seorang lelaki tampan yang tertidur di sana. “Dari dulu lukisan ini selalu ada di sini dan kebetulan hari ini kolektornya bikin pameran. Kamu bisa lihat, karya dari semua pelukis terkenal dipamerkan
Gue mengangguk. “Lukisannya emang bagus sih. Tapi, sayang…pelukisnya udah meninggal ya?” tanya gue sambil menoleh ke dia.
Adjani agak terkejut, sepertinya dia nggak tahu soal itu.
“Gurunya yang bilang,” jelas gue. “Tapi, gue nggak tahu kenapa,”
Adjani ikut menoleh ke gue. “Dia meninggal dunia karena kecelakaan, dua tahun lalu,” jawab dia, terlihat sedih, ternyata dia tahu. Nggak masuk akal kalau Adjani nggak tahu, jika dia suka dengan lukisan ini. “Hm…ngomong-ngomong kamu alumni SMA Bhakti Nusa?”
Gue menggeleng. “Gue cuma datang ke acara pensinya doang karena diajak temen,” jawab gue. “Kayaknya sekolah itu heboh banget. Mereka bikin drama yang lucu banget, kalau nggak salah tuh… judulnya apa ya...pokoknya cerita tentang boneka-boneka gitu deh….”
“Coppelia?” tanya Adjani, lalu tersenyum.
“Iya! Coppelia!” jawab gue dengan semangat, tapi heran. “Kenapa lo bisa tahu?”
Dia masih tersenyum. “Sini deh,” kata dia ngajak gue ke sudut lain yang ada banyak lukisan lagi.
Ada sebuah lukisan seorang gadis cantik, duduk manis membaca buku. Memakai gaun hijau muda. Pipinya merah seperti tomat, tapi sinar matanya kosong. Dia tampak seperti gadis pemurung. Dan benang-benang halus mengikat kedua tangan dan kakinya.
Di bawahnya tertera sebuah nama ‘The Girl with Enamel Eyes’, karya Ellody.
“Ini Coppelia?” tanya gue kagum.
Adjani hanya tersenyum.
“Sumpah itu dongeng lucu banget,” kata gue, sambil tertawa.
“Itu bukan dongeng, Ferre,” kata Adjani.
“Iya gue tahu. Itu sebenarnya diangkat dari cerita pertunjukan balet kan?” kata gue, ingat sama yang pernah dijelasin Gladys dulu. “Tapi, cuma ada di luar negeri,”
“Di sini ada kok,” kata Adjani, masih tersenyum tenang. “Sekolah Namarina. Mereka pernah buat pertunjukan balet dengan tema Coppelia,”
“Lo pernah nonton?”
Adjani menggeleng pelan. “Nggak,” jawab dia. “Saya pernah dapat undangan tapi saya nggak bisa datang,”
“Oh ya?”
“Saya kenal banyak orang-orang seni,”
“Jadi… sebenarnya lo juga pelukis?”
Awalnya dia terdiam. “Saya kan udah bilang kalau saya penyanyi,” kata dia, sok misterius lagi.
“Terus kenapa bisa ada di pameran lukisan?”
Adjani kelihatan berpikir, tapi selagi gue nunggu jawaban handphone gue bunyi. Terpaksa gue harus pamitan mundur sebentar buat ngangkat telpon Gladys.
“Kamu di mana, Sayang?” tanya dia.
“Lagi di rumah nih…,” jawab gue, menyetel suara gue supaya serak. “Bangun tidur….”
“Tidur?” dia kayaknya heran.
“Iya, capek banget…,” kata gue sambil ngawasin Adjani dalam jarak sepuluh meter dan dia masih mencermati lukisan di depannya. “Tadi jadwal kuliah siang nggak ada, ya udah, aku pulang aja, nyampai di rumah ketiduran,”
Semua itu jelas bohong. Gue nggak kelamaan mikir karena ngeles adalah bakat gue. Secara kalau gue nggak bisa ngeles-in cewek, nggak mungkin gue bisa jadi playboy. Ya, ya, ya, penyakit bajingan gue mulai kambuh setelah beberapa saat lalu gue berniat untuk lebih banyak jujur.
“Jadi kamu nggak bisa jemput aku dong?” tanya dia, kedengaran agak kecewa.
“Mau dijemput sekarang?” tanya gue; lagi-lagi bullshit.
“Nggak usah aja deh. Dari rumah kamu ke sini pasti lama. Kamu juga harus siap-siap dulu kan?” kata dia. “Aku pulang naik taksi aja ya?”
“Nggak apa-apa nih?” gue agak bersemangat karena kayaknya dia ngerti.
“Nggak apa-apa kok…,” kata dia, baru kedengaran enak. “Kamu lagi capek kan? Istirahat aja. I love you, Sayang,”
Telponnya ditutup. Dan gue ngerasa aman untuk sementara waktu. Tapi, pas gue balik mau nyamperin Adjani, dia sedang ngobrol sama seseorang –wanita berambut pendek yang gayanya nyentrik, pakai syal coklat motif macan. Sebelum gue sempat menghampiri, mereka udahan ngobrol dan wanita nyentrik itu langsung pergi melihat koleksi yang lainnya.
Adjani mulai melangkah, melewati lukisan-lukisan yang pernah dibuat Ellody, seakan ingin menunjukan semua yang galeri ini punya tentang pelukis itu.
“Setiap lukisan itu punya arti. Arti yang ingin ditunjukan seorang pelukis lewat rasa dan warna,” kata Adjani. “Kamu bisa perhatiin kan masing-masing pelukis itu punya gaya yang berbeda. Karena pemikiran setiap orang itu memang beda. Tapi, di sisi lain, mereka berusaha membuat orang lain bahkan yang nggak ngerti seni bisa melihat dengan cara yang sama, mendapatkan arti yang sama,”
Gue ketemu sebuah lukisan rel kereta api dengan perkampungan di kiri dan kanannya, terlihat nyata walaupun itu cuma lukisan dua dimensi yang dibuat dengan kuas dan cat minyak. Tapi, menatap ke ujung rel yang menyatu bisa terlihat ada sesuatu yang menunggu di sana, dan siapapun yang menyusuri rel ini begitu inginnya ke sana.
“Lalu menurut lo apa arti lukisan Dewa itu?” tanya gue tiba-tiba pingin cekikikan, karena Adjani mulai serius lagi. “Apa karena cowok itu terlalu keren dan kayaknya cocok jadi model?”
Adjani sedikit melongo sebelum tertawa ringan. “Potret seseorang dilukis karena pelukisnya menganggap orang itu spesial,” jawab dia, ketawa. “Sama kayak nyimpan foto pacar di dompet,”
Gue ngangguk-ngangguk. Dan mulai ngerasa kalau harusnya kita keluar dari sini.
***
Kita sudah selesai keliling-keliling dan semua lukisan udah selesai dikomentari, walaupun lebih banyak ngawurnya. Awalnya dia nolak, ngaku masih ada urusan, tapi gue maksa karena nggak ingin ditolak ketiga kalinya.
“Lo tunggu di sini, gue ngambil mobil parkir di depan dulu”Kata gue.
“Memang mau ke mana pakai mobil segala?” tanya dia heran.
“Udah, pokoknya tunggu bentar di sini,” jawab gue.
“Nggak perlu repot-repot jemput mobil. Di sekitar sini ada kok tempat makan yang enak,” kata dia. “Jalan kaki bisa langsung sampai,”
Yah, dia bikin gue berubah pikiran. Tapi, gue nggak tahu tempat makan enak yang dia maksud itu adalah warung pinggir jalan yang Indonesia banget. Piring-piring bertumpuk di satu tempat. Pelanggan bisa pilih sendiri makanannya yang ditata di atas meja panjang; lauk yang serba digoreng-goreng, sambal, kerupuk, sayur tumis sama sayur rebus, dan banyak lagi yang nggak bisa gue sebutin satu-satu. Gue ragu-ragu, seumur hidup mana pernah gue makan di tempat kayak gini?
Tapi, demi menghargai Adjani, gue rela ikut ngantri sama bapak-bapak yang kelihatannya laper banget.Setelah ngambil makanan kita duduk paling ujung di deretan orang-orang yang makan sambil ngobrol, ditemenin suara kendaraan lewat dan ksatria bergitar alias pengamen. Suasana ini bikin gue jadi kayak manusia gunung baru ketemu sama yang namanya keramaian dan nggak pernah ngerasa segitu senangnya bicara sama orang lain. Entah karena Adjani ternyata nggak se-ngebosenin penampilannya yang cupu. Yah, gue jadi ingat Rena dulu pakai kaca mata juga, dan gue sering banget nge-bully dia bareng temen-temen gue. Rasanya seperti kembali ke tahun-tahun di mana gue cerita banyak hal tentang impian dan harapan gue, tentang musik dan gitar; dan lagu, pokoknya segala sesuatu yang pernah gue buang dari hidup gue dulu…
ooOoo
Komentar
0 comments