๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Tadi, kamu ketemu Pak Moldy kan?” tanya Gladys.
Gue ngangguk aja karena lagi serius nyetir.
“Terus gimana?” tanya dia.
“Ya…gimana apanya?” balas gue, lagi malas mikir sekarang. Bakalan ribet kalau gue jelasin obrolan kami tadi siang dan pertanyaan klise Pak Moldy ‘apa belakangan ada yang bikin gue merasa terganggu?’. Gue ngejawab ‘nggak’ dengan cepat. Supaya dia ngambil kesimpulan kalau gue udah nggak bermasalah. Setiap dia mancing-mancing gue dengan pertanyaan yang ingin mengorek gangguan yang gue alamin, gue ngeles, dan ini malah bikin proses-nya jadi lebih lama. Secara, catatan yang dibuat Pak Moldy tentang gue belum lengkap, karena dia belum tahu persis. Gue udah pasti nggak mau ngebahas sesuatu yang pribadi banget; Pak Moldy bukan Dr. Boyke atau Dr. Naek L Tobing. Kayaknya gue bakalan lebih lama lagi harus melakukan kunjungan yang menurut gue sia-sia itu.
Mungkin satu-satunya jalan sekarang untuk ngilangin bayangan itu adalah cari donor kornea yang baru, supaya mata ini bisa diganti. Tapi, itu nggak mungkin. Kata Erick sih, cari donor mata itu gampang-gampang susah. Jadinya, gue harus ngikutin alur. Gue nggak mau hubungan gue berantakan.
“Pak Moldy bilang apa aja?” tanya Gladys, mau tahu banget. Dan gue masih nggak punya jawaban.
Gue mengalihkan perhatian ke angka yang berkedip di lampu merah. Tiga, dua, satu, nol, lampunya merah. Gue agak kesal sama mobil yang di depan, karena dia jalannya kelamaan dan gue harus kena lampu merah dua kali, menjadi barisan pertama di belakang zebra cros. Gue makin nggak sabar.
“Ya, harus jawab pertanyaannya kayak…,” pikiran gue ngelantur kayak jawaban yang sedang gue ucapin tanpa sadar. Mata gue tertuju ke sekelompok pejalan kaki yang mau nyebrang. Dan…gue lihat Adjani, di antara mereka. Dia sendirian, masih dengan setelan yang dia pakai saat ketemu di kampus tadi dan tas renjeng rajutan berwarna krem dengan nuansa jadul banget, ditambah kaca mata yang hampir segede muka. Jangan-jangan dia memang hantu jaman dulu yang kesasar di era modern karena arwahnya yang penasaran –yah gue merinding lagi…
“Ferre?” Gladys negur gue lagi, karena gue semakin ngelantur. Dan lampunya udah hijau, gue geram banget diklakson beruntun dari belakang plus dimaki sama bapak-bapak yang sengaja mendongak keluar dari mobilnya.
Gladys pun berhenti bertanya sampai gue sampai depan rumahnya. Dia masih kelihatan bertanya-tanya, dan gue mulai mikir jawaban yang tepat. Karena gue tahu, cewek gue ini orangnya detil. Dia harus tahu segala hal tentang gue, apalagi kalau tampang gue murung dan nggak enak dilihat.
“Kamu capek banget ya?” tanya dia, membelai wajah gue lembut.
Gue menggeleng.
“Ada masalah?”
Gue menggeleng lagi.
Dia mengangguk. “Oh, ya udah…,” kata dia, tampak maklum. “Kamu nggak mau masuk?”
Gue tersenyum, karena tau itu bukan tawaran biasa –bukan tawaran untuk sekedar duduk sambil minum dan nonton TV di sofa. Nggak tahu deh, apa dia selalu merasa kalau gue badmood, dia harus bikin gue senang dengan cara yang…(ada di kepala gue)?
“Starla lagi nggak ada,” kata dia memperjelas.
“Maaf ya, Sayang”Kata gue, berharap cukup menyesal atau keberatan nggak singgah kali ini. “Aku ada janji sama Erick,”
Dia tersenyum, tapi ada kecewa di matanya. Sekarang gue beneran nyesal deh, bikin dia merasa nggak diinginkan walaupun ini baru pertama kali. Tapi, penolakan udah terlanjur diungkapkan. Yah, ini juga pertama kalinya gue bohong –rasa bersalah gue segitu gedenya seolah gue selingkuh sama cewek lain.Tapi, lumayan lega saat dia akhirnya turun dengan ciuman perpisahan yang nyaris bikin gue berubah. Nyatanya, buat gue, hubungan yang sehat itu bukan hubungan yang nggak pernah ada pertengkaran. Sepanjang jalan balik ke rumah gue terus berpikir soal ini.
***
Kita ketemu, dan mesra-mesraan kayak orang yang nggak ketemu berbulan-bulan. Seingat gue, Gladys nggak pernah biarin gue murung, sedih apalagi galau. Dia nelpon gue teratur. Pagi buat mastiin gue udah bangun, sarapan dan pergi kuliah. Siang buat ngingetin makan siang dan janji sama Pak Moldy. Sore buat jemput dia terus pergi jalan. Skemanya teratur dan harus gue akui Gladys punya kemampuan mengatur yang sempurna. Hasilnya, gue bangun pagi, sedikit olahraga dan nilai-nilai gue naik. Efek sampingnya gue malah diketawain Erick dan temen-temen gue –seolah mereka ngerasa perubahan gue itu bukan sesuatu yang positif. Mungkin mereka (temen-temen gue) kesal karena gue nggak datang di debut perdana band ‘Sun Dance’. Gue sempat kepikiran sampai murung di depan Gladys, tapi dia selalu ngebujuk gue dengan caranya, hanya supaya gue nggak mikirin temen-temen gue yang menurut dia nggak penting.
Awalnya, gue ngerasa memang harus memilih. Semua hal nggak bisa gue seimbangin –pacar yang perhatian dan teman-teman yang selama ini bikin hari gue berwarna. Gue emang nggak merasa memilih salah satu di antara dua hal itu, tapi kayaknya orang selain gue bisa melihat jelas kalau gue lebih mementingkan pacar gue dalam segala hal. Sementara pacar gue ini? Yah, kita sering ketemu dan jalan bareng, nggak pernah ada masalah yang berarti. Dari caranya, dia jelas berusaha membuat gue nggak merasa kesepian tapi tetep aja gue ngerasain kesepian itu.
Gimana pun juga, Gladys seorang workaholic. Gue bisa mengurutkan hal-hal penting dalam hidupnya –Nela, kerjaan, kuliah, dan… klien-kliennya (itu terbukti dari telepon-telepon yang dia terima tiap sebentar setiap kita nge-date dan dia betah lama-lama ngomong di telpon, nganggurin gue dan di sanalah gue ngerasa bahwa sebenernya gue masih kesepian). Satu lagi, berdasarkan prioritas itu gue nggak tahu gue ada di urutan ke berapa. Bukannya gue nggak hargain perhatiannya dia, tapi lama-lama gue jadi sadar, tujuan dia ngebujuk gue dengan body-nya yang seksi itu hanya supaya dia nggak perlu berurusan sama masalah gue. Dia memang perhatian –perhatian untuk mastiin gue nggak punya masalah yang bikin dia merasa terganggu, karena kalau dia terganggu, itu juga bakal ngeganggu prioritas yang ada di kepalanya. Sementara dia tetap butuh seorang pacar yang bisa dia panggil ‘Sayang’ tanpa banyak tuntutan (gue memang nggak pernah minta dia begini atau begitu). Awalnya gue nganggap, itu bentuk rasa cinta gue ke dia, berusaha buat ngerti dan nerima. Tapi, lama kelamaan, kelihatan seolah gue jadi nggak prinsipil dan…nggak tegas. Gladys bikin gue kayak anak kecil yang bisa dibujuk pakai permen dan coklat atau segala sesuatu yang rasanya enak. Yah, anak kecil terlalu banyak dikasih makan permen dan coklat, bisa obesitas dan nggak sehat –itulah gue sekarang.
Waktu gue masuk rumah dengan lesu sekitar jam tujuh malam, gue kaget ketemu Erick di teras depan. Dia lagi nelpon dan kelihatan galau bicara dengan seseorang di sana. Dia nggak lihat gue ngelewatin dia gitu aja, dan saat itu gue dengar dia lagi ada masalah sama tunangannya. Kayaknya serius banget, sampai dia teriak-teriak. Gue sempat melongo, seperti berkaca dengan cermin yang bisa memantulkan keburukan dari sebuah hubungan yang bermasalah. Melihat Erick yang kayaknya nggak puas karena merasa diabaikan –begitulah gue harusnya, saat Gladys seolah nggak lihat gue ada di depannya. Rasanya itu lebih manusiawi buat seorang laki-laki; marah, kesal dan emosi. Gue meredam itu seolah gue ini si poker-face atau sedang pakai topeng badut –selalu tersenyum.
Pagi-pagi gue bangun, setelah telepon dari Gladys yang terdengar perhatian banget. Dan gue udah ter-doktrin dengan baik untuk menjawab dengan cara yang sistematis juga supaya nggak ada pertanyaan lain yang gue nggak bisa jawab atau keluhan yang membuat aturan baru lewat kata-kata ‘Kamu harus bla bla….”. Tapi, gue nggak langsung bangun dan turun dari tempat tidur; males banget! Gue baru berangkat ke kampus setelah telpon kedua Gladys yang ngingetin gue buat ketemu Pak Moldy, dan gue udah ngelewatin satu mata kuliah. Ini kedua kalinya gue bohong.
***
Komentar
0 comments