[Hal.52] [Ch.11] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Gue nggak ngitung berapa lama gue ngejalanin hubungan yang ‘serius’ dengan cewek workaholic itu. Selama gue cinta, ini bakal terus bertahan. Selama gue merasa perubahan gue sejak kenal dia semakin baik, ini disebut hubungan yang positif. Gue merasa itu benar saat gue lihat nama gue di papan pengumuman hasil UTS, gue ada di nomor enam –lumayan, karena selama ini nama gue selalu berada paling bawah dan dicetak dengan warna merah pula. Saat lagi-lagi senyum sendiri, gue ngelihat Adjani.

Cewek itu, nggak cuma penampilannya aja yang aneh. Gayanya juga. Mengendap-endap ke papan pengumuman dengan mata tertutup, dengan konyolnya dia mengepal tangannya di atas kepala dan mulut komat-kamit –suaranya nggak jelas, tapi kedengaran kayak baca mantra. Nih orang ngapain sih?

Pelan-pelan dia buka matanya, mencari-cari sesuatu dengan cepat di daftar nama mahasiswa itu. Lalu mendadak, cemberut dan sedih –persis kayak anak kecil yang merajuk karena nggak naik kelas. Mungkin namanya dicetak dengan warna merah. Gue ngakak, dan dia sadar sedari tadi gue merhatiin dia.

“Waktu gue selalu ada di daftar merah, gue nggak pernah segitu sedihnya,”  kata gue.

Dia kelihatan menghela nafas. “Yah, saya nggak heran,”  dia kembali dengan sikapnya yang biasa –tenang dan dewasa. Tapi hanya sesaat, lalu ketawa nggak jelas, gue juga ikut ketawa.

“Lo kemana aja belakangan?” tanya gue.

Dia kelihatan mikir –modus. “Saya sibuk urusan di luar,”

“Lo kerja?”

Dia menggeleng dengan ragu. “Nggak bisa disebut kerjaan sih…,” jawab dia, mulai melangkah karena ia nggak antusias lagi dengan pengumuman UTS-nya.

“Lo niat kuliah nggak sih?” tanya gue, sambil ngikutin langkahnya.

“Kuliah itu cuma buat orang yang mau kerja kantoran,”  kata dia.

“Oh ya? Kalau lo kuliah, berarti lo punya niat jadi orang kantoran kan?”

Dia tertawa pelan. “Memang saya kelihatan kayak orang yang mau kerja kantoran?”

Gue ikut tertawa, lalu menggeleng. “Nggak banget,”  kata gue. “Terus kenapa psikologi?”

“Karena di sini nggak ada jurusan untuk orang yang nggak ingin kerja kantoran,”  jawab dia ngasal, dia konyol juga ternyata.

“Emang lo seniman?” tanya gue dan dia menatap gue. “Penari? Pemain teater? Pematung? Atau pelukis?”

Adjani tertawa. “Kamu bakal percaya kalau saya bilang saya ini penyanyi?” tanya dia.

Gue angkat bahu, sambil ketawa. “Orang serius itu biasanya jujur, gue percaya kok,”

“Saya tahu bedanya orang yang pura-pura percaya dan jujur,”  dia tersenyum.

“Habis ini lo mau ke mana?” tanya gue, basa basi karena nggak tahu lagi apa yang mau gue omongin.

Dia melirik jam tangannya. “Ada urusan,”  jawab dia”Saya harus pergi sekarang,”

“Mau gue antar?” tanya gue tiba-tiba.

Dia agak kaget. “Kamu mau ngantar saya?”

“Sebenarnya sih…gue masih ada janji, sama psikiater,”  kata gue dengan jujur. “Tapi, tiba-tiba aja gue jadi males….”

“Wow…,” dia tertawa tapi ragu-ragu. “Saya nggak mau kamu batal ke psikiater cuma gara-gara nganterin saya….”

“Kenapa?” gue rada kecewa.

Dia tertawa lagi. “Saya nggak mau pacar kamu marah kalau kamu nggak ketemu sama psikiater,”  jelasnya, nggak berhenti ketawa.

 “Lo jangan lebay deh….”

Adjani masih ketawa, ngetawain gue yang terlihat seperti anak mami. “Itu ngelanggar peraturan yang dia buat,”  kata dia. “Kalau dia nelpon psikiater kamu dan nanyai kalau ternyata kamu nggak datang, itu bisa jadi masalah,”

“Ya nggak juga…,” gue mulai bingung, kenapa dia bisa sotoy banget sih?

Adjani diam sejenak. “Saya jadi nggak enak,”  kata dia dan ujung-ujungnya dia memang pergi sendiri.

Dasar, cewek misterius…dia muncul dan menghilang gitu aja. Seolah-olah di kampus ini cuma gue yang bisa ngelihat dia. Karena gue nggak pernah lihat dia bicara sama orang lain. Sepintas gue agak ngeri –karena mata gue yang super memungkinkan gue bisa ngelihat hantu. Tapi, nggak mungkin, toh bajunya ganti-ganti meskipun model dan gayanya sama. Tapi, walaupun yang lebih mirip hantu itu dia, kenapa malah gue yang jadi penasaran? Dia siapa? (maksudnya, walaupun gue tahu namanya Adjani, gue nggak tahu apa-apa selain kepribadiannya yang aneh)

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments