๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Ch. 11 - Ellody dan Lukisannya
Ferre
Mama menatap gue seakan nggak percaya. Gue agak canggung, plus takut. Karena ini pertama kalinya buat gue bilang ke dia kalau sekarang gue udah punya pacar yang ingin gue kenalin secara baik-baik. Terus dia tersenyum. “Kenapa nggak dibawa aja ke rumah?” tanya dia. “Kebetulan besok Mama bisa pulang cepat,”
Gue lega, tapi Erick nggak berhenti-berhentinya mandangin gue skeptis. Gue maklum. Dia satu-satunya saudara yang gue punya dan hampir dalam segala hal kita berbagi walaupun sejak Erick kerja, kita hampir nggak pernah ketemu. Lebih-lebih dia belum lupa masalah yang pernah gue buat dulu dan jika itu selalu berhubungan dengan cewek, dia nggak pernah mau tahu dengan siapa gue dekat atau pacaran. Dia kelihatan menunggu makan malam di malam Minggu di mana Mama antusias menyiapkan hidangan di atas meja sama Bi Irah. Gue juga sempat dengar kata Mama ke Erick yang bilang bahwa saat ini gue 21 tahun, dan gue sudah cukup dewasa untuk mengerti.
Tapi, saat gue dengan bangga ngenalin Gladys ke keluarga gue, Erick benar-benar cuek. Dia ada di meja yang sama dengan kita, tapi cuma badannya aja. Dia lebih suka sibuk dengan HP-nya dan gue agak kecewa dengan sikap kakak gue itu. Hanya satu yang bikin gue lega, Mama kelihatan suka sama Gladys.
“Hebat ya kamu, kerja sambil kuliah…,” kata Mama, nggak berhenti-berhentinya mandangin Gladys yang selalu tersenyum. “Kenapa sih kamu suka sama anak Tante yang bandel ini?”
“Mama…,” gue protes, karena malu. Masa gue dibilang bandel.
Gladys cuma tersenyum manis.
“Tante senang kamu sempatin datang ke sini,” kata Mama lagi.
Erick kelihatan melirik gue lagi, sedikit mengalihkan perhatiannya dari layar handphone, lalu geleng-geleng kepala dan gue mengernyit kurang senang.
“Saya juga senang kok, Tante…,” kata Gladys dan mereka mulai asyik mengobrol berdua. Kalau dilihat-lihat mereka cocok juga –mungkin karena dua-duanya sama-sama wanita kantoran yang sibuk sama jadwal kerja yang padat, teman-teman sekantor yang reseh dan hal-hal yang berhubungan dengan karier. Gue pikir itu sesuatu yang bagus. Kalau Mama setuju kayak gini kan enak.
Masalahnya, tetap aja Erick kelihatan kurang sreg.
***
“Sejak kapan selera lo berubah?” tanya dia, saat kita ngobrol di teras depan sedangkan Gladys masih di dapur sama Mama dan Bi Irah beres-beres.
“Maksud lo selera gue berubah gimana, Rick?” balas gue, terkekeh heran.
“Seingat gue lo nggak suka sama tipe cewek yang almost perfect gitu,” jelas dia. “Lo lebih suka cewek biasa buat serius… kalau gue nggak salah,”
“Lo nggak salah,” kata gue, sedikit murung, dan tersenyum getir. “Kalau menurut lo tipe gue itu adalah Rena….”
Erick kelihatan kaget. Mungkin karena udah lama banget, gue nggak pernah nyebut nama itu.
Gue masih tersenyum. “Gue udah nggak apa-apa lagi…,” kata gue sambil menyikut lengannya. “Udah dua tahun juga….”
Erick pun diam sejenak. “Lo nyari cewek perfect supaya Mama setuju?” tanya dia pelan.
Gue angkat bahu. “Pertama gue lihat dia, gue langsung suka. Yah, emang sih dia cuma pakai celana jeans sama t-shirt doang, dan gue nggak nyangka ternyata dia cewek kantoran…,” jelas gue.
“Berarti lo ketipu?” tanya dia lagi.
Gue terkekeh. “Ya, nggak lah,” gue menyikut lengannya lagi, lebih keras. “Gue…udah naksir duluan, ya mau gimana lagi,”
Erick mengangguk-angguk, sekilas kelihatan ngerti, tapi mungkin dia menahan banyak kata di mulutnya sekarang, karena dari kemarin dia nggak terlalu pingin tahu soal pacar gue.
“Gue beruntung ketemu dia, dan lebih semangat buat berubah,” kata gue lagi.
“Berubah? Lo berubah demi siapa?” Erick tertawa geli. “Berubah demi diri lo sendiri atau…demi cewek itu?”
“Emang apa bedanya?” gue mengernyit.
“Ya, bedalah, o’on!” dia tolak belakang kepala gue sampai gue menggerutu. “Emang apa sih dari lo yang berubah gara-gara cewek itu? Perasaan lu tetep aja cowok tengil..”
Sumpah! Kakak gue ini nyebelin banget?! Apa dia nggak lihat gue rajin kuliah, nggak pernah pulang dalam keadaan mabuk, udah nggak dugem dan minum lagi, dan… gue udah bisa lagi menyebut nama ‘Rena’ padahal sebelum ini bibir gue berat banget untuk ngucapinnya dan bahkan bawah sadar gue nolak kalau dia pernah ada di hati gue?
“Gue ke psikiater,” kata gue, menatap dia serius dan abang gue itu melongo. “Atas sarannya Gladys supaya gue nggak terus-terusan dikejar rasa bersalah dan…nggak ngerasain sesuatu yang aneh yang terjadi setelah kejadian itu….”
“Aneh apaan?” Erick kedengaran nyolot. “Lo tuh nggak saraf! Mental lo tuh nggak sakit! Kalau lo sakit, gue sama Mama udah duluan bawa lu ke psikiater!”
“Rick, dengerin gue dulu…,” kata gue, panic karena Erick mendadak kesel banget. “Gue sempat ke makamnya Rena buat minta maaf, karena saran psikiater itu. Dia bilang gue harus berdamai sama masa lalu. Kalau nggak gue nggak akan bisa tenang. Kata dia, justru beban itu yang bisa membuat gue tertekan dan sakit jiwa…seharusnya, dari dulu itu yang harus gue lakuin. Bicara sama seseorang yang bisa ngerti apa yang gue alamin..”
“Justru karena cewek itu lo jadi sakit jiwa,” kata dia dan gue langsung terdiam, ternyata Erick segitu nggak sukanya sama Gladys.
“Gue nggak sakit jiwa,” kata gue, setengah teriak dan Erick cuma mandangin gue, sebelum tiba-tiba dia pergi dalam keadaan marah.
Erick cuma nggak ngerti kesulitan gue. Tapi, gue juga berharap dia bisa ngerti, karena gue nggak pernah cerita. Ya, gue takut dibilang sakit mental dan dia yang bakal ngirim gue psikiater. Dulu gue benci psikiater karena nggak mau disebut gila dan gue berusaha kelihatan normal. Tapi, itu dulu. Seiring waktu gue merasa bahwa nggak ada yang nggak beres dengan diri gue, toh setiap orang juga punya masa lalu yang buruk dan nggak ingin diingat. Kalau Erick memang sebel sama Gladys karena nyuruh gue ke psikiater –seolah Gladys pikir gue gila, itu wajar. Tapi, gue nggak tahu cara ngasih pengertian ke Erick supaya dia nggak merasa kalau Gladys nganggap gue gila.
Duh, kepala gue tiba-tiba jadi sakit.
***
Komentar
0 comments