๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Kamu takut aku dikeluarin dari sekolah?” tanyaku. “Siapa peduli? Kamu kan tahu dari dulu aku juga nggak mau sekolah. Kalau dikeluarkan dari sekolah juga bagus dong, aku bisa punya lebih banyak waktu,”
“Ellody!”. Kata Rexi. “Semuanya nggak semudah itu….”
“Aku nggak ngerti deh…,” kataku, berusaha tetap tenang. “Kamu takut apa? Takut keluargaku dihancurkan sama seperti yang terjadi sama Wanda?”
Rexi menatapku, matanya membesar, dia terlihat lebih terkejut lagi. “Kamu….”
“Semua orang nyebut-nyebut nama itu dan bilang kalau aku bakal senasib sama dia…,” jelasku, supaya Rexi tahu kalau itu sekarang bukan rahasianya saja. “Apalagi Monalisa, dia kelihatan senang kalau aku juga dikeluarkan dari sekolah. Tapi, dia salah. Dia nggak tau sesenang apa aku kalau nggak perlu sekolah. Lagian…aku juga nggak punya keluarga yang bisa dihancurkan….”
Rexi terdiam. Dia berusaha untuk tetap tersenyum padaku. Saat dia mendekat, aku yakin belum akan kehilangan dia.Tapi, itu adalah terakhir kalinya aku melihat Rexi datang ke sekolah. Kabar kalau Rexi dikirim ke luar negeri begitu cepat menyebar seperti virus dalam seminggu. Aku kembali menjadi lelucon yang membuat para pembenciku tertawa. Aku memang nggak senasib sama Wanda, tapi mereka bahkan menjamin kalau nasibku sekarang jauh lebih buruk dari Wanda.
Semuanya hancur. Aku nggak pernah merasa begitu kehilangan seperti ini sejak ayah dan ibu meninggal. Dan kenangan mereka semua ada di tempat yang sama –rumahku. Aku menunggu, berharap dia kembali tapi membayangkan bahwa London seperti Neverland –tidak semua yang ke sana bisa kembali dengan mudah, karena tempat itu terlalu jauh. Aku nggak bisa mengejarnya dengan kecepatan dalam mimpi sekali pun. Yang tersisa dari semua yang pernah kita rasakan adalah lukisan-lukisan yang sekarang terlihat seperti mimpi buruk. Jejak yang tak bisa dihapus. Aku merana, meradang, dan menerjang semua itu sampai hancur.
Aku baru menyadari bahwa semua itu berarti bagiku, saat Andin menamparku dengan sangat keras. Di depanku, adalah kehancuran yang kuciptakan dengan tanganku. Aku merusak karya-karyaku sendiri dan berteriak menyesalinya. Sejak itu, aku nggak pernah lagi membuat yang baru. Aku menyimpan semua itu dalam peti dan nggak pernah lagi menyentuhnya. Setiap hari, aku ke sekolah, berusaha untuk tetap terjaga dan mimpi-mimpi indah nggak pernah lagi mendatangiku. Rexi membawa pergi semuanya, tanpa sisa.
Pensi tahun ini mulai disiapkan. Kalau bukan karena sudah janji sama Bu Mita tahun kemarin, aku sudah pasti keluar dari klub kesenian. Tapi, tahun ini, aku ditunjuk menjadi Roro Jongrang dan aku harus melakukannya dengan sempurna. Rutinitasku hampir sama seperti tahun lalu, terlalu padat. Untuk sekolah, latihan drama, kerja sambilan dan belajar untuk ujian. Setelah Rexi nggak ada, hidupku kembali seperti semula tapi tanpa melukis. Kami masih kembali ke ruang musik yang penuh, untuk menari, minum dan merokok.Tapi, betapapun senangnya aku seperti yang bisa dilihat, aku nggak merasa hidup. Aku merasa seperti Coppelia yang masih dikendalikan oleh Dr. Coppelius dengan benang-benang tak terlihat. Aku terikat sangat erat dengan Rexi. Dia masih menawan setiap bagian dari diriku, tangan dan kakiku, pikiranku dan perasaanku diikat dengan benang-benangnya. Sehingga, setiap aku ingin lari darinya aku nggak bisa.
Pensi tahun ini nggak kunantikan dengan riang. Aku hanya ingin acara ini selesai, sehingga aku punya waktu dua hari untuk libur sekolah dan fokus mencari uang untuk biaya sekolahku.
***
“Ayo dong, Roro Jongrang nggak boleh cemberut…,” ujar Andin, menghibur sambil tersenyum. “Ingat, ini kan cita-cita lo masuk ke sekolah ini. Jadi pemeran utama!”
Aku berusaha tersenyum, menunjukan sisa semangat yang aku punya karena sebenarnya aku masih sangat lelah. Aku nggak peduli kalau seandainya nanti aku malah nggak konsen di panggung dan yang terburuk bakal dilempar tisu atau botol plastik kalau aku nggak bisa membuat mereka terkesan. Dengan langkah yang berat, aku mulai adegan pertama.
Begitu ada di panggung, aku terkejut karena nggak banyak orang yang menonton. Ya, aku sedikit kecewa, pensi tahun ini beda dari tahun lalu. Tapi, karena nggak ramai itulah, aku bisa melihat seseorang yang sedang menonton dengan antusias, di barisan paling depan.
“Wahai, Putri Roro Jonggrang, maukah engkau menjadi permaisuriku?” Bondowoso berseru, tapi aku menatap ke luar dari panggung.
Kepalaku senyap. Nggak ada suara lain yang bisa menembus keramaian ini dalam kepalaku. Aku tersentak karena melihat Andin kasak-kusuk di belakang panggung dan gerak bibirnya mengatakan “Dialog!” berulang-ulang.
Si Bondowoso mulai kelihatan gusar, karena aku membuat jeda yang terlalu lama.
Aku terkesiap, dan mendadak lupa apa yang harus diucapkan. Yang mau kuucapkan sekarang adalah ‘Aku melihat Rexi! Dia datang!’.
“Ba…baiklah, Bondowoso!” kataku lantang, dan kulihat Andin menyandar dengan lega di sana. “Aku bersedia menerima lamaranmu, tapi kamu harus memenuhi satu syaratku,”
“Apakah syaratmu itu, Roro Jonggrang?” tanya Bondowoso, dia mengucapkannya dengan serius.
“Buatkan aku seribu candi dan dua buah sumur dalam waktu semalam,” jawabku dan Bondowoso pun menyanggupinya.
Aku menyingkir ke belakang panggung sementara Bondowoso melanjutkan adegannya. Dengan nggak sabar, aku menghampiri Andin yang beru selesai deg-degan.
“Gue lihat Rexi!” seruku bahagia, sambil menyeretnya ke tempat di mana ia bisa terlihat sedang menonton.
Andin melongo, ikut memandang ke tempat aku menunjuk dengan kegirangan.
Rexi tampak melihat kami mengintip dari balik panggung lalu tersenyum.
Dia datang! Aku harap ini bukan mimpi. Aku ingin berlari ke sana, memastikan kalau aku sedang nggak berhalusinasi. Tapi, dari senyum Andin aku benar-benar yakin bahwa sosok itu adalah Rexi. Aku jadi nggak sabar ingin menyelesaikan dramanya agar bisa ke sana.
Setelah Roro Jonggrang dikutuk jadi batu oleh Bondowoso, drama pun selesai. Semua pemain maju ke panggung untuk memberi pernghormatan terakhir, sebelum kami kembali ke belakang dengan langkah yang teratur. Aku sedikit kecewa karena Rexi nggak terlihat lagi. Kemana dia pergi?
***
Ternyata dia sudah ada di belakang panggung, menungguku bersama Andin dan Genta yang ikut bergembira melihat berlari ke arahnya lalu memeluknya dengan sangat erat. Aku nggak peduli orang-orang di sekitar kami. Aku hanya merasa bahwa mereka semua menghilang dari duniaku beberapa saat. Kusentuh wajahnya dan kutatap matanya, dia benar-benar Rexi yang kurindukan.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanyaku, heran, sambil memandanginya dari ujung kepala ke ujung kaki.
Rexi mengenakan seragam putih abu-abu juga. “Aku bolos…,” jawabnya. “Aku kan udah janji bakal datang ke pertunjukan drama kamu,”
“Aku pikir kita nggak bisa ketemu lagi, mereka bilang kamu dikirim ke luar negeri…,” kataku sedikit sedih.
“Nggak kok…,” jawabnya berujar. “Aku cuma pindah sekolah….”
Aku mengangguk mengerti. Setidaknya lega, kalau kita belum selesai. Aku pikir aku nggak akan pernah lagi melihatnya. Mengingat semuanya kembali, aku ingin menangis saking bahagianya. Hari-hari yang telah kujalani tanpanya itu terasa sangat berat, tapi terbayar begitu aku tahu bahwa dia nggak melupakanku. Kita masih berjalan di jalan yang sama, meskipun harus berjauhan sementara waktu. Rexi diawasi dua puluh empat jam sehari untuk memastikan bahwa dia nggak kabur untuk menemuiku.
Rasanya begitu tersiksa ketika kita nggak bisa lagi ketemu sesering dulu. Aku nggak kunjung terbiasa tanpa kehadirannya karena dulu kita punya setiap hari untuk bersama. Sebulan sejak pertemuan kembali itu nggak kalah beratnya bagiku. Aku hanya melamun dan berharap punya kesempatan lagi untuk bisa melihatnya. Dan malam-malam yang sedih pun berlalu dengan terjaga, kadang aku nggak bisa tidur karena terlalu merindukannya dan kadang…menangis sendiri.Aku berubah jadi pemurung dan teman-temanku khawatir soal itu. Nggak ada lagi Ellody yang cerewet dan tukang bikin masalah. Ia menjadi lebih tenang dan pendiam.
***
“Lo dipanggil sama kepala sekolah tuh,” kata Genta padaku.
Aku pura-pura nggak mendengar, apa lagi sih?, aku menggerutu karena seingatku aku nggak pernah lagi bikin masalah yang berarti. Aku rajin ke sekolah, selalu ngerjain PR, dan nggak pernah nyolot lagi.
Andin menarikku agar berdiri. “Udah deh sana!” paksa dia kelihatan bersemangat sekali menyuruhku seperti memintaku minum obat supaya sembuh.
Tingkah mereka itu mencurigakan!
“Ada apaan sih?” balasku kesal, sambil menarik lenganku dari Andin. “Males gue! Palingan gue diceramahin lagi,”
“Nggak bakalan deh,” ujar Andin. “Kita jamin,”
Aku semakin heran. “Terus apa?” dan jadi nggak sabaran.
“Lo menang lomba lukis, tau nggak sih?” kata Andin cengar-cengir.
“Ngaco lo ya?” cetusku. “Gue nggak pernah ikut lomba lukis kali! Kepsek pasti salah orang tuh!”
Mereka saling tatap, lalu tersenyum padaku. “Sorry, kita ngambil lukisan yang ada di rumah lo, terus ngirimin lukisan itu ke panitia lomba…,” jelas dia, nyengir.
“Apa lo bilang?” aku terkejut, nggak langsung percaya omongan mereka. Kapan mereka mengutil dari rumahku?
“Waktu lo ngamuk, cuma itu lukisan yang nggak rusak…,” jelas Genta. “Sayang kan kalau lukisan sebagus itu juga lo rusak….”
***
Komentar
0 comments