[Hal.48] [Ch.10] LOVE AT THE FUTURE PAST - Baca Online Novel Dewasa Romantis

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Ch. 10 - Tujuh Belas

Ellody

Awalnya aku  agak keberatan. Rexi dan diskotik. Kalau orang-orang tahu, sudah pasti mereka pikir kalau aku ini pembawa virus yang menjangkit seorang anak teladan menjadi liar dalam semalam. Malam ini, 12 November, ulang tahunku yang ke tujuh belas dan dirayakan dengan cara yang nggak biasa. Aku sudah menjanjikan hari ini kepada kedua temanku yang pada awalnya merasa nggak yakin akan pergi kalau aku membawa serta pacarku. Tapi, Rexi memaksa. Dan terpaksa Genta harus melakukan sedikit trik agar Rexi bisa masuk ke tempat hiburan bagi orang-orang 21 tahun ke atas itu.

Saat Rexi tahu, kalau kita sebenarnya bikin KTP palsu dia menyebut kami kriminal cilik. Aku cuma ketawa karena sekarang kami juga membuatkannya sebuah KTP palsu –tiket masuk ke diskotik, untuknya. Dia terus-terusan bertanya kenapa aku ingin sekali melewatkan malam ulang tahunku di sini. Aku bilang ini, ulang tahun yang ke-tujuh belas, ulang tahun yang beda dari tahun-tahun sebelumnya. Lagipula ini sebuah janji antara aku, Andin dan Genta yang sudah lebih dulu menginjak usia tujuh belas tahun dan kami juga merayakannya dengan pesta seperti ini.Untuk dikenang selamanya.

“Aku janji ini yang terakhir…,” ujarku, memastikan pada Rexi bahwa aku nggak akan lagi datang ke sini supaya dia bisa lebih tenang.

“Janji?” dia tampak bersunggung-sungguh saat memberiku jari kelingkingnya, dan aku mengaitkan kelingkingku di sana. Dia pun tertawa sebelum terkejut karena aku mengacak-acak rambutnya yang rapi.

“Ini bukan sekolah, Rexi. Kamu nggak perlu harus rapi,”  kataku, membantunya membentuk tampilan rambut yang kelihatan lebih keren dan mengambil kaca matanya. “Malam ini kita 21 tahun!”

Andin dan Genta sudah ada di lantai dansa, sementara aku masih berdebat dengan Rexi soal turun ke sana atau nggak. Rexi melarang karena takut aku disenggol orang mabuk, tapi aku memaksa dengan menariknya serta. Dia harus merasakan betapa senangnya di bawah sana, di bawah cahaya lampu yang menari, dan membawa kita tempat yang berbeda. Malam itu menyenangkan. Kita menari selama berjam-jam, basah dan berkeringat, seketika aturan menghilang di dalam kepala kita yang pusing. Walaupun terjatuh dan tersungkur berkali-kali, kita tetap tertawa berjalan bersama menuju mobil Honda Civic tahun 90-an punya ayah Genta yang sering ngadat di jalan.

“Lo mau diantar ke mana, Rex?” tanya Genta. Entah perasaanku saja atau suaranya memang terdengar loyo seperti mabuk berat.

“Jangan pulang…,” kata Rexi singkat sebelum dia rebah, tepat di bahuku dan aku terbahak, begitu juga Andin dan Genta yang duduk di depan.

“Kalau besok dia kenapa-napa, lo harus tanggung jawab, Zi…,” Andin mengingatkan sebelum kembali tertawa nggak jelas sepanjang perjalanan  ke rumahku.

Pagi-pagi, aku terbangun dan berteriak histeris. Sudah jam sepuluh siang dan sialnya hari ini masih hari Rabu –bukan hari libur sekolah. Aku melewatkannya dan menemukan wekerku yang sudah hancur di lantai, aku ingat tadi entah jam berapa –biasanya jam enam, benda itu berbunyi dan karena kesal aku melemparnya ke lantai. Kepalaku luar biasa sakit, seperti dihantam oleh batu yang berat sekali sampai melihatpun aku harus mengucek-ngucek mata sampai penglihatanku sempurna. Dan begitu semuanya jelas, begitu otak dan mataku tersiknron dengan baik, aku melihat Rexi yang masih tertidur di bawah selimut –di sampingku, aku terkejut sampai jatuh dan tubuhku disambut oleh lantai yang dingin dan kepalaku terbentur ke meja lampu.

“Apa sih…,” aku dengar suara gerutuan sebelum Rexi mendongak ke bawah dan melihatku lalu tiba-tiba matanya membelalak. Aku berteriak, menarik selimutku dan dia ikut terjatuh ke bawah karena selimut itu juga menggulung tubuhnya yang nggak pakai baju.

Benar-benar pagi yang canggung. Kita bolos sekolah dan membuat semua orang bertanya-tanya karena ini pertama kalinya.

***

Andin dan Genta, mungkin nggak merasa heran. Aku protes karena mereka tetap bisa masuk setelah malam yang kita habiskan sama-sama tapi mereka malah menyebut aku dan Rexi bodoh.

 “Lo yang salah, siapa suruh lo bikin dia mabuk,”  kata Andin. “Lo nggak denger orang-orang mulai berpikir macam-macam soal kalian….”

“Ngapain juga dipikirin…,” kataku acuh.

“Lo emang nggak perasa ya, Rexi dipanggil sama guru karena dia bolos,”  kata Andin, ketus. “Lo nggak kasihan reputasinya jadi hancur gara-gara lo nggak bisa jaga imej-nya,”

“Kalau Rexi butuh jaga imej, mendingan dia nggak usah pacaran sama gue. Dia cocoknya sama Monalisa, supaya nggak dikatain seleranya payah,”  kataku, nyolot karena kesal. “Omongan orang sirik  nggak perlu didengerin!”

Mereka hanya menghela nafas. Tapi, masih tetap menyalahkan aku yang mengajak Rexi. Ya, sebenarnya aku merasa bersalah sih…

“Bukan salah kamu kok…,” dia berujar saat aku minta maaf dengan menyesal. “Kan aku yang minta diajak….”

“Iya tapi kan…semua orang jadi mikir yang negatif soal kamu…,” kataku.

“Aku merasa nggak terganggu kok,”  Rexi masih tersenyum. Walaupun dia pemarah, dia ternyata lebih pengertian dari yang aku kira. “Itu hak setiap orang untuk berpendapat, yang penting kita nggak apa-apa….”

Hanya karena kata-katanya yang sabar kita bertahan. Meskipun aku nggak meragukan, semakin lama, semakin kelihatan bahwa yang banyak berubah dalam hubungan ini adalah Rexi. Dari seorang murid teladan yang juara kelas, dia digeser sampai jauh sekali –nomor sembilan. Aku terlalu banyak menyita waktunya untuk menemaniku melukis dan kadang dia nekat keluar rumah sendiri untuk menjemputku dari kerja sambilan. Kami terlalu banyak bersama, bahkan di hari minggu dia juga menemuiku. Kami seolah nggak bisa dipisahkan dan kalau dipisahkan keduanya akan mati. Orang-orang bilang kami sama-sama sudah gila, tapi kami nggak peduli. Tapi, perubahan itu terjadi karena kami mulai kehilangan kendali dan aku bisa merasakan bahwa kami sedang berdiri di pinggir jurang. Jika ceroboh sedikit kami akan jatuh ke dalamnya.

***

Aku hampir menangis, berusaha menahan nafas agar Rexi nggak mendengarnya. Aku nggak sabar dengan tiga menit pada aturan pakai sebuah test pack yang baru aku beli. Garis yang aku takutkan nggak pernah timbul bahkan setelah lebih dari lima menit. Aku berlari keluar dari kamar mandi dengan gembira untuk memeluk Rexi yang juga kelihatan lega. Esok hari kami tetap ke sekolah, jadi pasangan yang mulai diperhatikan. Bahkan guru pun ikut prihatin dengan prestasi Rexi yang jauh merosot. Satu kali kami berdua dipanggil ke ruang guru.

Hal yang aku tahu, aku disalahkan karena memberi pengaruh buruk pada murid teladan ini. Tapi, mereka nggak menegaskan bahwa pacaran itu dilarang. Satu hal yang mungkin membuatku mulai khawatir adalah peringatan guru konseling itu tentang orang tua Rexi yang tentu nggak suka dengan perubahan Rexi. Kami mulai menunggu bom waktu yang sebentar lagi akan meledak. Dan sebelum bom itu meledak kami selalu berpegangan tangan, saling meyakinkan bahwa betapapun besar ledakan itu, kami nggak akan hancur.

Hari yang ditunggu-tunggu tiba –masa-masa terakhir di kelas dua yang penuh kenangan. Tahun ketiga kami akan segera datang. Melalui pengumuman saat upacara penyerahan penghargaan bagi murid-murid pintar, kami tahu kalau Rexi sudah benar-benar didepak dari peringkat sepuluh besar. Dia masih terlihat biasa saat pembagian raport dan sudah pasti orang tuanya datang. Ya, ini pertama kalinya aku bertemu dengan Mama-nya Rexi. Dia sama sekali jauh dari kesan Nyonya kaya yang glamor, dandanan dan busananya biasa saja, tapi keangkuhannya membuat apapun yang ia kenakan di tubuhnya terlihat mahal. Ketika dia melihat Rexi dan aku sedang bercanda di ujung lorong bersama dengan Andin dan Genta, dia langsung menghampiri.

Wanita itu masih belum terlalu tua. Rambutnya yang hitam dikuncir dan dia melangkah dengan tenang ke arah kami. “Rexi,”  panggil dia dan Rexi tampak kaget melihat Mama-nya. “Ayo pulang,”

Dia seolah nggak melihat kami bertiga ada di sekitar Rexi. Aku bisa merasakan ketakutan Rexi yang sekarang benar-benar jauh berubah. Dia jarang memakai kaca matanya, rambutnya yang dulu selalu disisir rapi sekarang agak acak-acakan, dan ujung kemejanya yang biasanya dimasukan ke dalam celana sekarang ia biarkan menutup ikat pinggangnya. Aku rasa Mama-nya akan mengomentari itu juga setelah mereka bicara soal raport-nya.

Rexi berlari menyusul langkahnya, tapi tiba-tiba dia kembali hanya untuk pamitan padaku. bahkan saking cemasnya, Rexi lupa kalau dia belum bilang apa-apa. “Aku pergi dulu ya…,” kata dia sambil menyentuh pipiku sebentar tapi aku malah merinding.

Mamanya Rexi menoleh ke arah kami sebelum Rexi kembali berlari ke arahnya.

Aku mulai merasakan ketakutan itu. Tapi, Rexi selalu tenang. Dia nggak pernah membahas soal keluarganya, sekalipun aku terus bertanya-tanya dengan khawatir. Di tahun ajaran baru, kita nggak lagi sekelas tapi aku tahu dia mulai nggak bebas. Dia nggak bisa lagi menyuruh supirnya pulang duluan sementara ia pergi denganku. Dia nggak pernah lagi keluar rumah malam-malam untuk menjemputku dari kerja sambilan. Hanya di sekolah kita bertemu, namun dia mulai terlihat murung. Makin lama makin nggak bisa disembunyikan kalau sebenarnya Rexi mendapatkan tekanan yang luar biasa dari keluarganya. Dengan liar, gosip-gosip mulai terdengar dan sebagian orang menikmatinya.

Mereka kembali menyebutkan nama itu –Wanda, yang aku tahu sebagai pacar Rexi yang dulu. Monalisa pernah bilang bahwa aku akan senasib dengan gadis itu. Dia dikeluarkan dari sekolah atas permintaan Mama Rexi supaya bisa dipisahkan dari Rexi. Nggak ada yang tahu kemana gadis itu menghilang, tapi keluarganya hancur berantakan hanya karena pernah pacaran dengan Rexi. Betapapun menakutkannya itu, aku nggak pernah gentar.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments