[Hal. 28] [Ch. 7] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Papa dan Mama menyambut kami dengan hangat. Mereka sudah tahu bahwa aku akan mengenalkan seorang gadis pada mereka dan bahkan mereka sangat penasaran. Aku sudah pernah mengatakan bahwa Zuri berdarah Minang. Mendengarnya, Papa begitu senang. Mereka sudah menduga karena terlalu asyik di Padang, aku pasti akan menikah dengan gadis Minang nantinya.

Melihat ada orang sekampung yang datang ke rumah, Papa tampak bersemangat. Menjadi-jadi sudah mereka bicara dalam bahasa Minang sampai Mama yang tidak terlalu bisa sesekali mengernyit dan bertanya.

“Di mana kampung?" tanya Papa, keluar dengan logat Soloknya.

“Semua keluarga saya sudah menetap di Padang turun temurun. Kami turun dari Solok…," jawabnya.

“Oh ya?" pria berusia lebih dari setengah abad itu tampak bersemangat. "Solok? Daerah mana?”

“Gunung Talang," jawab Zuri, di sela senyumnya yang bingung.

“Di Padang kamu tinggal di mana?" tanya Papa lagi.

Untuk pertanyaan yang satu itu, Zuri tampak tidak punya jawabannya. Ia hanya tertunduk diam. Pasti teringat pada rumahnya yang sudah menjadi puing dan sekarang digantikan oleh bangunan baru yang dibuat oleh kerabat ibunya dan dihuni lagi oleh orang lain. Katanya walaupun ia masih berhak atas warisan tanah turun temurun di keluarganya, ia tampak tak peduli.

Tiba-tiba Mama menyikut Papa, mengingatkan padanya bahwa orang tua Zuri sudah meninggal dunia dalam bencana 30 September tahun lalu. Ya, aku sudah pernah memberitahu Mama bahwa Zuri yatim piatu tapi tidak dengan penyakitnya. Itu tidak mungkin kukatakan walau semakin hari Zuri makin pucat saja.

Setelah 30 menit berbincang santai, Mama mengajak kami ke ruang makan. Katanya dia sudah memasak hidangan special menyambut kami. Ya, masakan Padang sudah terhidang di atas meja. Aku sudah lama merindukan ini.

Zuri tercenung. Ia hanya memandangi makanan di atas meja saat aku dan Papa sudah membalikan piring dan bersiap menyendok nasi.

“Zuri?” tegurku dan ia segera tersadar. Seulas senyum terukir di bibirnya saat menatapku. “Kamu kenapa?”

Zuri mengeleng-geleng. “Aku cuma ingat suasana di rumah dulu…,” katanya dan semua mata kini memandang ke arahnya dengan prihatin.

“Anggaplah kami keluargamu, Zuri…” ujar Mama, menatapnya lembut dan Zuri kembali tersenyum sambil mengangguk. “Maaf masakan Padang ala orang Sunda berbeda dengan masakan Padang asli," katanya kemudian sambil tertawa. "Orang Padang suka sekali dengan makanan pedas tapi berbeda dengan Papanya Attar. Karena terlalu lama tinggal di rantau, sudah tidak terbiasa dengan cabe keriting orang Solok.”

Zuri membentuk segaris senyum di bibirnya. Ia tampak tertarik dengan rendang yang tak seperti rendang itu, warnanya yang kekuningan membuatku tersenyum makin lebar. Seperti itulah rendang buatan Mama yang orang Sunda sementara Rendang asli itu warnanya coklat tua kehitaman dengan wangi yang khas.

***

 “Kamu menceritakan keadaanku kepada orang tuamu?" tanya Zuri padaku.

Aku menggeleng. "Aku tahu kamu tidak pernah ingin dikasihani” jelasnya. "Menceritakannya hanya membuat kamu dikasihani oleh mereka”

“Tapi, dengan alasan apa aku diperbolehkan tinggal di sini… Ibu dan ayah kamu baik sekali kepadaku… aku merasa segan, terlebih tidak baik bagi seorang gadis tinggal di rumah seorang lelaki," kata Zuri yang kembali terlihat bimbang.

Aku  tertawa pelan, sambil membelai rambut di puncak kepalanya dengan lembut. "Ini bukan rumahku tapi rumah orang tuaku," tegasku. "Lagipula ini bukan Padang. Siapa yang peduli? Aku juga jarang di rumah karena sibuk. Karena itu aku meninggalkan kamu di sini supaya tidak kesepian.

“Tapi, sampai kapan?”

“Jangan bertanya sampai kapan seolah ada jangka waktunya," ujarku, menatapnya lekat-lekat untuk meyakinkannya bahwa ia akan baik-baik saja. "Tidak pernah ada jangka waktunya. Begitu pekerjaanku di sini selesai, kita akan pergi lagi. Mungkin ke Raja Ampat, mungkin ke Manado, Surabaya. Bisa saja. Siapa yang tahu?”

“Apa bisa terus seperti itu?” Zuri masih menatapku dengan bimbang.

“Bisa saja,” jawabku singkat dan bermaksud menyudahi pembicaraan karena aku harus kembali ke Jakarta. Masih ada pekerjaan yang menunggu di sana. “Aku pergi dulu," kataku pamitan tapi, Zuri tiba-tiba meraih tanganku sebelum sempat aku menjauh.

“Attar!” panggilnya tiba-tiba.

Sedikit terkejut, aku membalikan badan, menemukan seberkas senyum di bibir Zuri yang menunjukan bahwa ia mengharapkanku untuk kembali secepatnya. Aku membalas senyuman itu untuk kemudian memeluk tubuh kurus Zuri dengan sangat pelan –takut  akan meremukan tulang-tulangnya yang lemah. Sudah hampir setahun bersama, baru sekali ini Zuri izinkan aku mendekat. Namun, tak menimbulkan perasaan lega di hatiku.

“Nanti aku telepon," ujarku sebelum benar-benar pergi. Walaupun aku ingin lebih lama berada di dekatnya dengan membatalkan pekerjaan hari ini. Demi Zuri, apapun akan aku lakukan. Tapi, pertanyaannya, adakah semua yang kulakukan membekas di hati perempuan itu selagi kenangan akan kekasih lamanya masih bersemayam di sana? Di dalam pikirannya juga? Jika lebih lama seperti, apakah hatiku tak akan hangus juga?

Aku  pergi membawa semua keluh kesah itu keluar. Melewati dinding rumah ini, aku kembali menjadi seseorang yang kosong. Membutuhkan pengisi, membutuhkan suara-suara dalam kepalaku untuk menghilangkan bisikan untuk memaksa Zuri menerimaku. Aku punya daya untuk melakukan semua yang aku inginkan, tapi tidak kepada Zuri. Meski aku memiliki jiwanya, tubuhnya, tapi tanpa hati, sama saja dengan hidup bersama mayat berjalan. Tak ada yang bisa kulakukan untuk bisa menyentuhnya, walaupun sedikit.

Padahal, begitu kami bertemu lagi, aku mencampakan Amelia –kekasihku. Aku dengan senang hati memperlihatkan kepada teman-temanku, inilah sosok yang sangat kukagumi meski hanya seorang perempuan sekarat. Tapi, dengan membayangkan sosok Zuri yang dulu, membuatku percaya, suatu saat dengan usaha yang keras, lelaki Cina itu akan sirna dari hatinya. Namun, terlalu lama menunggu, Zuri tak juga menunjukan tanda-tanda akan membuka pintu hatinya. Jika pun ada kuncinya, kemana aku harus mencari? Apa yang bisa dilakukan jika Zuri sendiri tak mengkehendaki diriku di sisinya, menjadi pengganti Han?.

Kecewa, aku pun melarikan diri ke dalam cahaya malam di mana aku bisa tertawa dan meninggalkan kegelisahan barang semalam bersama perempuan asing. Tak puas juga, aku menyingkirkan perempuan itu sesuka hati karena tidak membuatku senang. Tapi, tetap saja aku  tidak bisa menyerah akan Zuri.

Sepahit itukah cinta yang sebenarnya? Jika saja dulu, aku menyadari perasaan Zuri padaku, dia tidak akan pergi dengan lelaki itu. Tentu lelaki itu tidak akan pernah merampas cintanya. Tentu tak sesulit ini menggali perasaan yang telah terkubur sekian tahun di hatinya. Terbayang bila mana aku menyadari lebih cepat, perasaan Zuri akan terbalas. Tak perlu dia merasa cemburu pada Asha. Dia juga tidak akan jatuh hati pada Han, pada seorang lelaki yang jelas tak akan pernah bisa hidup berdampingan dengannya. Kami akan bertemu setiap hari di kelas, makan nasi Rendang setiap hari di kedai sebelah, mengobrol tak tentu waktu, tak ada kesedihan, hanya tawa, dan tentu… tak akan ada perbedaan yang memisahkan.

Tapi, membayangkan sikap Zuri padaku saat ini, seolah aku tak pantas untuk kesempatan kedua. Seolah telah begitu salah  pernah mengabaikan perasaannya dulu. Kenapa begitu sakit setiap memikirkannya?. Apakah aku harus mengambil keputusan agar Zuri menerimaku lagi?

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments