๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Paris van Java
Jakarta, 30 Desember 2010…
“Bandung?" Zuri mengerutkan dahinya, meyakinkan dirinya bahwa yang aku katakan kurang dari lima detik tentang rencana pindah ke Bandung adalah benar. Ia menatapku bingung.
Aku berusaha untuk selalu tersenyum padanya. “Ya, begitulah resiko pekerjaanku," ujarnya. "Ada banyak kegiatan nasional yang dilaksanakan di seluruh Indonesia yang ditangani oleh kantorku”
Zuri tertunduk murung.
“Kenapa?" tanyakur, menyadari Zuri tampak tak senang dengan rencanaku. "Ada apa?”
“Tidak apa-apa," jawab Zuri, mengangkat kepalanya, berusaha tersenyum. "Berapa lama kamu di Bandung?”
“Aku tidak tahu," jawabku. "Bisa jadi sangat lama. Kamu tahu, orang tuaku menetap di sana”
Pergi ke Bandung sama artinya pulang kampung bagiku. “Aku akan kenalkan kamu kepada mereka," kataku berujar lagi.
“Apa?" Zuri kembali terkejut, lalu tampak bingung. “Kenapa tiba-tiba…”
Aku meraih tangannya. "Kamu takut apa?" balasku. "Tentu aku harus mengenalkan kamu kepada mereka”
Zuri tertunduk lagi.
“Kamu jangan berpikir yang macam-macam dulu," ujarku. "Tidak apa-apa menjalin hubungan silaturahmi dengan keluargaku bukan?”
Aku tahu Zuri pasti sedang berpikir jika hanya menjalin hubungan silaturahmi tentu tidak masalah baginya. Tapi, dia tampak memusingkan sebagai apa aku akan mengenalkannya kepada orang tuaku. Aku sudah berusaha bersikap sebagaimana dulu kami pernah bersahabat dekat, mengobrol sambil tertawa. Tapi, semua itu tak sama lagi, lantaran dulu Zuri begitu menikmati suasananya karena menyukaiku, jadi ia akan mendengarkan apapun kata-kata yang keluar dari bibirku.
Sekarang… tentu semua sudah berubah. Perasaan sukanya itu sudah hilang entah ke mana. Malahan sekarang setiap berhadapan denganku, saat itu pula ia merasa tak nyaman dengan tatapan penuh perhatianku yang ia tak bisa membalasnya dengan cara yang sama.
Tak bisakah perasaan itu kembali saja agar ia tak bisa merasa bersalah dan gelisah seperti ini di depanku?
***
Dalam perjalanan menuju Bandung, Zuri tampak terus memikirkannya. Ia diam dan menatap dengan kosong jalan-jalan yang telah kami lewati. Euphoria keseruan Tour de Singkarak telah berlalu. Saat-saat ketika ia melirik kepadaku tiap sebentar dengan tersenyum sudah tidak pernah kulihat lagi akhir-akhir ini. Tiada tiupan angin membelai rambut panjangnya yang lurus yang membingkai senyum itu. Karena ia tidak membiarkan angin masuk dengan menutup jendela. Padahal katanya dia suka sekali berpergian untuk melihat tempat-tempat yang belum pernah ia datangi.
Pemandangan favoritnya adalah Kota Jakarta di malam hari dari ketinggian. Ia menyukai biasan lampu kota di sepanjang jalan yang menurutnya tampak seperti sungai berpendar dari gedung pencakar langit. Aku masih ingat senyum yang ia perlihatkan padaku saat kami merapat ke dinding kaca di kantorku di saat aku merasa kota ini begitu membosankan dengan segala hiruk pikuknya.
“Semuanya tampak indah. Sama seperti saat naik pesawat. Ketinggian membuat persawahan dan perumahan menjadi sekecil kotak korek api. Dari ketinggian semua tampak seperti ilusi dan mendarat di tanah rasanya seperti kembali kepada kenyataan,” kata dia dan aku mendengarkannya dengan baik.
“Aku pikir kamu takut dengan ketinggian” kataku, teringat pada insiden bunuh diri Liong tigaaa taaahun yang lalu dan itu berhubungan dengaaan ketinggian.
Zuri menggeleng. Dia tidak menatapku. Namun, senyumnya masih terlihat saat ia menunjuk tepat ke arah tuguuu api yang terkenal itu. “Dulunya di sana adalah tempat aku ingin berada” jelasnya. “Padang tidak memiliki apa-apa selain dari adat matrilinialnya. Di sana tidak ada pencakar langit karena rawan bencana. Lagipula mereka juga tidak membutuhkannya. Kupikir kota besar dengan gedung-gedung tinggi sangat menakjubkan seperti gambar-gambar di kalender.”
“Oh ya?” aku ikut memandang puncak tugu Monas yang berkilauan.
“Seperti sebuah Neverland. Aku ingin pergi ke sana. Tapi ada yang bilang tidak ada yang bagus dari Neverland itu.”
“Neverland? Mana ada Neverland di sini.”
“Neverland bagiku adalah tempat yang menurutku tidak akan pernah bisa kudatangi dan itu adalah kota ini. Aku selalu ingin merantau daripada tinggal di kampung….”
Aku tertawa. Ada-ada saja. “Orang-orang di sini sudah sesak dengan kepadatan dan polusi. Padang adalah kota yang mereka cari. Indah, orang-orangnya ramah dan makanannya enak-enak” jelasku. “Kejamnya kota ini menjadikan orang-orangnya egois….”
“Ya, karena mereka tidak merasakan bagaimana menjadi orang Minang,” Zuri terdengar sarkastis.
Aku masih menyimpan tawaku. “Kenapa kamu berkata seperti orang Cina yang tidak mau mengaku Cina di tengah-tengah pribumi?” kataku. “Harusnya kamu bangga menjadi orang Minang.”
Zuri menoleh. Rautnya berubah –terlihat kaget. Lalu ia kembali pada sungai lampunya. Beberapa saat ia termangu. “Ya…,” jawab dia, kembali murung.
Lalu aku merangkul bahunya. Dan menepuknya dengan pelan. “Jangan lagi berpikir tentang Neverland,” kataku. “Tinggal katakan ke mana kamu ingin pergi, kita pasti ke sana. Tidak ada Neverland di dunia nyata, Zuri. Tidak ada tempat yang tidak bisa dituju”
Zuri hanya sesekali ia melihat ke arahku. Meski tak bertemu mata langsung, aku tahu ada keraguan, ada kebimbangan yang melanda hatinya. Suka cita itu telah berlalu, sehingga ia kembali merasa serba salah. Seolah merasa tak bisa tinggal, tapi tak tahu juga harus pergi ke mana. Hidup segan mati tak mau, seperti tanaman di musim kemarau yang sulit mendapat air. Lama kelamaan ia pun mati di bawah teriknya matahari. Begitulah Zuri saat ini.
Seolah kebaikanku padanya mulai seperti bumerang. Dilemparkan jauh-jauh tapi kembali lagi padanya, menebasnya. Setiap aku lakukan itu, semakin Zuri takut ini tak terbalas. Yang ia katakan hanyalah segala hal yang menyakitkan hatiku. Sampai hati ia menghindar ketika aku mendekat hanya untuk sekedar membelai puncak kepalanya atau saat ia tepiskan tanganku perlahan darinya saat ingin memeluknya.
Terkadang, aku nyaris tidak bisa menyembunyikan rasa kecewaku. Untuk mengalihkan semua itu aku berusaha untuk tetap tersenyum, lalu pamitan membawa kekecewaan itu setiap bertemu dengannya. Sampai kapan akan terus seperti ini?, aku mulai melambungkan anganku untuk melarikan diri dari kenyataan ini.
***
Jakarta, 30 Desember 2010…
“Bandung?" Zuri mengerutkan dahinya, meyakinkan dirinya bahwa yang aku katakan kurang dari lima detik tentang rencana pindah ke Bandung adalah benar. Ia menatapku bingung.
Aku berusaha untuk selalu tersenyum padanya. “Ya, begitulah resiko pekerjaanku," ujarnya. "Ada banyak kegiatan nasional yang dilaksanakan di seluruh Indonesia yang ditangani oleh kantorku”
Zuri tertunduk murung.
“Kenapa?" tanyakur, menyadari Zuri tampak tak senang dengan rencanaku. "Ada apa?”
“Tidak apa-apa," jawab Zuri, mengangkat kepalanya, berusaha tersenyum. "Berapa lama kamu di Bandung?”
“Aku tidak tahu," jawabku. "Bisa jadi sangat lama. Kamu tahu, orang tuaku menetap di sana”
Pergi ke Bandung sama artinya pulang kampung bagiku. “Aku akan kenalkan kamu kepada mereka," kataku berujar lagi.
“Apa?" Zuri kembali terkejut, lalu tampak bingung. “Kenapa tiba-tiba…”
Aku meraih tangannya. "Kamu takut apa?" balasku. "Tentu aku harus mengenalkan kamu kepada mereka”
Zuri tertunduk lagi.
“Kamu jangan berpikir yang macam-macam dulu," ujarku. "Tidak apa-apa menjalin hubungan silaturahmi dengan keluargaku bukan?”
Aku tahu Zuri pasti sedang berpikir jika hanya menjalin hubungan silaturahmi tentu tidak masalah baginya. Tapi, dia tampak memusingkan sebagai apa aku akan mengenalkannya kepada orang tuaku. Aku sudah berusaha bersikap sebagaimana dulu kami pernah bersahabat dekat, mengobrol sambil tertawa. Tapi, semua itu tak sama lagi, lantaran dulu Zuri begitu menikmati suasananya karena menyukaiku, jadi ia akan mendengarkan apapun kata-kata yang keluar dari bibirku.
Sekarang… tentu semua sudah berubah. Perasaan sukanya itu sudah hilang entah ke mana. Malahan sekarang setiap berhadapan denganku, saat itu pula ia merasa tak nyaman dengan tatapan penuh perhatianku yang ia tak bisa membalasnya dengan cara yang sama.
Tak bisakah perasaan itu kembali saja agar ia tak bisa merasa bersalah dan gelisah seperti ini di depanku?
***
Dalam perjalanan menuju Bandung, Zuri tampak terus memikirkannya. Ia diam dan menatap dengan kosong jalan-jalan yang telah kami lewati. Euphoria keseruan Tour de Singkarak telah berlalu. Saat-saat ketika ia melirik kepadaku tiap sebentar dengan tersenyum sudah tidak pernah kulihat lagi akhir-akhir ini. Tiada tiupan angin membelai rambut panjangnya yang lurus yang membingkai senyum itu. Karena ia tidak membiarkan angin masuk dengan menutup jendela. Padahal katanya dia suka sekali berpergian untuk melihat tempat-tempat yang belum pernah ia datangi.
Pemandangan favoritnya adalah Kota Jakarta di malam hari dari ketinggian. Ia menyukai biasan lampu kota di sepanjang jalan yang menurutnya tampak seperti sungai berpendar dari gedung pencakar langit. Aku masih ingat senyum yang ia perlihatkan padaku saat kami merapat ke dinding kaca di kantorku di saat aku merasa kota ini begitu membosankan dengan segala hiruk pikuknya.
“Semuanya tampak indah. Sama seperti saat naik pesawat. Ketinggian membuat persawahan dan perumahan menjadi sekecil kotak korek api. Dari ketinggian semua tampak seperti ilusi dan mendarat di tanah rasanya seperti kembali kepada kenyataan,” kata dia dan aku mendengarkannya dengan baik.
“Aku pikir kamu takut dengan ketinggian” kataku, teringat pada insiden bunuh diri Liong tigaaa taaahun yang lalu dan itu berhubungan dengaaan ketinggian.
Zuri menggeleng. Dia tidak menatapku. Namun, senyumnya masih terlihat saat ia menunjuk tepat ke arah tuguuu api yang terkenal itu. “Dulunya di sana adalah tempat aku ingin berada” jelasnya. “Padang tidak memiliki apa-apa selain dari adat matrilinialnya. Di sana tidak ada pencakar langit karena rawan bencana. Lagipula mereka juga tidak membutuhkannya. Kupikir kota besar dengan gedung-gedung tinggi sangat menakjubkan seperti gambar-gambar di kalender.”
“Oh ya?” aku ikut memandang puncak tugu Monas yang berkilauan.
“Seperti sebuah Neverland. Aku ingin pergi ke sana. Tapi ada yang bilang tidak ada yang bagus dari Neverland itu.”
“Neverland? Mana ada Neverland di sini.”
“Neverland bagiku adalah tempat yang menurutku tidak akan pernah bisa kudatangi dan itu adalah kota ini. Aku selalu ingin merantau daripada tinggal di kampung….”
Aku tertawa. Ada-ada saja. “Orang-orang di sini sudah sesak dengan kepadatan dan polusi. Padang adalah kota yang mereka cari. Indah, orang-orangnya ramah dan makanannya enak-enak” jelasku. “Kejamnya kota ini menjadikan orang-orangnya egois….”
“Ya, karena mereka tidak merasakan bagaimana menjadi orang Minang,” Zuri terdengar sarkastis.
Aku masih menyimpan tawaku. “Kenapa kamu berkata seperti orang Cina yang tidak mau mengaku Cina di tengah-tengah pribumi?” kataku. “Harusnya kamu bangga menjadi orang Minang.”
Zuri menoleh. Rautnya berubah –terlihat kaget. Lalu ia kembali pada sungai lampunya. Beberapa saat ia termangu. “Ya…,” jawab dia, kembali murung.
Lalu aku merangkul bahunya. Dan menepuknya dengan pelan. “Jangan lagi berpikir tentang Neverland,” kataku. “Tinggal katakan ke mana kamu ingin pergi, kita pasti ke sana. Tidak ada Neverland di dunia nyata, Zuri. Tidak ada tempat yang tidak bisa dituju”
Zuri hanya sesekali ia melihat ke arahku. Meski tak bertemu mata langsung, aku tahu ada keraguan, ada kebimbangan yang melanda hatinya. Suka cita itu telah berlalu, sehingga ia kembali merasa serba salah. Seolah merasa tak bisa tinggal, tapi tak tahu juga harus pergi ke mana. Hidup segan mati tak mau, seperti tanaman di musim kemarau yang sulit mendapat air. Lama kelamaan ia pun mati di bawah teriknya matahari. Begitulah Zuri saat ini.
Seolah kebaikanku padanya mulai seperti bumerang. Dilemparkan jauh-jauh tapi kembali lagi padanya, menebasnya. Setiap aku lakukan itu, semakin Zuri takut ini tak terbalas. Yang ia katakan hanyalah segala hal yang menyakitkan hatiku. Sampai hati ia menghindar ketika aku mendekat hanya untuk sekedar membelai puncak kepalanya atau saat ia tepiskan tanganku perlahan darinya saat ingin memeluknya.
Terkadang, aku nyaris tidak bisa menyembunyikan rasa kecewaku. Untuk mengalihkan semua itu aku berusaha untuk tetap tersenyum, lalu pamitan membawa kekecewaan itu setiap bertemu dengannya. Sampai kapan akan terus seperti ini?, aku mulai melambungkan anganku untuk melarikan diri dari kenyataan ini.
***
Komentar
0 comments