๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Zuri sedang tidak ada. Aku memintanya untuk hadir di pertemuan perkumpulan sesama penderita kanker. Di sana ia akan mendapatkan banyak teman untuk bertukar cerita. Dia juga bisa bertemu dengan mantan penderita penyakit mematikan itu yang paling tidak bisa memberinya semangat. Di sini dia tidak punya teman. Dia tidak tahu tempat dan jalan, terkurung di rumah sendirian selama aku bekerja akan sangat membosankan baginya. Aku tidak ingin tinggal di sini malah membuatnya makin kesepian walau aku sangat berharap punya banyak waktu untuk menemaninya.
Tapi, ada sesuatu yang selalu menggangguku. Aku merasa telah melewatkan sesuatu di saat kurasa aku telah menjauhkannya dari bayang-bayang masa lalunya.
Sebuah buku harian tebal tersimpan di bawah bantal, bersama sebuah novel Buya Hamka yang sama lusuhnya. Aku tahu bahwa dia selalu menulis. Dulunya juga begitu. Buku itu selalu dia sembunyikan di dalam tasnya. Setiap aku mendapatinya menulis, ia akan menutupnya segera. Dia seolah tidak ingin aku melihat apa yang ditulisnya di buku itu. Memang, aku juga tidak pernah bertanya tentang apa yang selalu dia tulis.
Tapi, kalau bukan karena aku bertemu dengan sosok itu kemarin, rasa penasaranku tak akan sebesar ini. Cinta macam apa yang telah merenggut jiwanya juga? Aku tahu bahwa perbuatanku kali ini sangat tidak pantas. Tapi, aku…
Ah, sudahlah. Aku mulai membalik lembaran-lembaran yang telah dia tulisi. Namun, hatiku miris begitu membaca lembaran-lembaran yang ia tulis saat kami masih kuliah. Ada banyak lembaran yang ia tulis tentangku. Tentang cerita-ceritaku serta perasaannya padaku. Entah. Aku hampir tidak bisa bernafas membaca setiap ungkapan perasaan yang tak pernah ia sampaikan padaku.
Entah sejak kapan aku merasa hampa seperti ini. Kekasih, teman, benda atau kesenangan yang dipuja tidak bisa mengisi kekosongan itu. Sebab sejak mengenal dia, seolah ada lubang di hati. Hingga tanpa sadar, aku bersedih dan menangis untuk sesuatu yang tak pernah ada. Cintanya.
Tapi, tahu apa aku tentang cinta?
Aku tidak mengerti kenapa dulu ia tidak pernah berterus terang padaku. Kenapa dia hanya memendamnya saja?
Aku menarik nafas beberapa kali. Penyesalan mulai mengendap-endap ke dalam hatiku saat setiap cerita mulai berpindah ke Liong lalu Han. Hingga aku menemukan sebuah alamat surel dan kata sandinya pada salah satu lembaran. Dari bentuk tulisan yang jelas bukan tulisan tangan Zuri aku yakin Han yang menuliskannya. Seketika aku menjadi tidak sabar untuk membuka komputer. Aku tahu apa yang kulakukan saat ini lebih dari sekedar ingin tahu. Ini salah. Tapi, jantungku menjadi tidak tenang. Aku seolah diburu oleh sesuatu yang lebih mengerikan dari hewan buas –kenyataan.
Jemariku gemetaran. Ketika surel itu berhasil dibuka dan aku menemukan banyak surel baru yang sepertinya belum pernah dibaca. Semuanya dari Han. Beberapa saat kemudian aku bertanya kenapa Zuri tidak pernah membacanya? Apa dia tidak tahu?
Bingung, panik, dan penasaran. Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Kenapa ada banyak sekali email yang tak terbaca yang hampir semuanya berjudul ucapan maaf? Namun, akhirnya aku memutuskan untuk membuka surel pertama dari bawah yang masih berhuruf tebal.
Zuri,
Maafkan aku atas semua yang kukatakan. Aku menyesal telah mengatakan hal yang begitu kejam kepadamu sedangkan aku sendiri juga tercabik dengan kata-kata yang aku tuliskan sendiri. Aku sudah lama membaca surelmu, butuh waktu yang lama juga bagiku untuk membalasnya, untuk menyampaikan semua yang aku rasakan begitu kamu putuskan cinta kita begitu saja. Aku sakit hati, namun sakit hatiku tidak lebih besar dari rasa cintaku kepadamu.
Karena itu, aku ingin menarik kembali semua kata-kataku. Dengan ini aku memohon maaf, untuk semuanya. Aku berharap kamu membalas suratku segera, agar jelas bagi kita ke mana kita akan melangkah.
Salam rindu dari Han.
Surel itu dikirim pada tanggal 06 Februari 2008. Dikirim berselang dua jam setelah email terakhir yang dibaca Zuri dan isinya sangat menyakitkan. Mungkin surel inilah yang membuat Zuri tidak pernah membuka kotak surelnya lagi. Zuri patah hati dan ia tidak pernah tahu bahwa Han tampak menyesal telah mencampakannya.
Aku pun membuka surel berikutnya yang dikirim tiga hari setelahnya.
Zuri Sayang,
Mengapa kamu belum juga membalas suratku? Bisakah kamu bayangkan betapa gelisahnya aku saat ini, menunggu satu balasan saja yang menyatakan kamu baik-baik saja? Apa yang kamu lakukan? Di manakah kamu sekarang? Katakan, aku akan menjemputmu ke sana, supaya kita bisa bersama kembali.
Han
Seminggu kemudian, surat berikutnya kembali masuk.
Zuri, di manakah kamu sekarang? Aku sudah mencarimu ke Padang, ke rumahmu. Tapi, betapa terkejutnya aku menemukan rumahmu sudah berganti menjadi bangunan lain. Mengapa kamu tidak menjelaskan bahwa Bapak dan Ibumu meninggal dunia karena bencana itu?
Aku mohon, tenangkanlah jiwaku ini dengan satu balasan bahwa kamu baik-baik saja. Aku tidak tahu lagi harus mencari ke mana. Gempa itu seolah telah menghapus jejakmu hingga aku benar-benar kehilangan.
Surel berikutnya menyusul tiga hari kemudian.
Zuri, di manakah kamu sekarang? Aku sudah berada di Ubud, mendatangi rumah Uni Nazia, tapi dia telah pindah. Aku tidak tahu lagi ke mana mencarimu, jalanku telah gelap. Aku mohon, balaslah surat aku walaupun hanya sepenggal hanya untuk memberitahuku di mana keberadaanmu. Percayalah, aku pasti akan datang.
Dasar, bajingan….
Seketika amarah tersulut di dalam dadaku. Membaca semua surat-surat mereka bahkan saat mereka masih menjalin hubungan. Dari sana aku tahu bahwa Han ternyata kuliah kedokteran di Singapura dan selama di Singapura mereka hanya berkomunikasi lewat surel. Memang, hatiku terbakar tapi apalah dayaku sekarang? Aku hanya tidak pernah menyadari perasaan Zuri. Namun, masih belum terlambat untuk menyingkirkan lelaki itu selamanya dari hatinya.
Salahmu sendiri, Han….
Aku mulai mengetik sebuah surat baru untuk lelaki itu. Membalas surel terakhir yang ia kirimkan sejak enam bulan yang lalu. kemudian kutandakan surel-surel yang sudah dibaca untuk menghapusnya. Zuri tak akan pernah menemukannya. Tidak untuk selamanya.
Aku sadar akan kejahatanku sendiri, tapi ini demi kebaikan Zuri. Aku tidak ingin kehilangan Zuri untuk kedua kalinya. Lelaki itu harus dienyahkan bagaimana pun caranya. Dia sudah tak pantas…
Komentar
0 comments