๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Surat Cinta
Jakarta, 02 Agustus 2010
Rumah sakit di Jakarta tidak sama dengan rumah sakit di Padang. Gedungnya lebih besar dan fasilitasnya lebih lengkap. Hari pertama ia masuk ke sana, Zuri tercengang dengan sekitarnya, bagaimana begitu teraturnya para pasien yang datang berobat, dilayani dengan perawat yang ramah penuh senyum pula. Suasana yang bersih dan nyaman dibuat untuk pasien agar mereka merasa betah dan menjadikan rumah sakit seperti rumah sendiri. Tapi, senyaman apapun rumah sakit ini, ia tetaplah rumah sakit, tak ada yang mau sakit walau tinggal di tempat seperti ini.
Seorang dokter wanita, dr. Arinda, usianya sekitar empat puluh tahunan menyambut kami di ruangannya. Awalnya Zuri tampak canggung. Ia menatapku sesekali dengan ragu. Ya, sejak datang ke Jakarta dia kembali menjadi pemurung.
“Seharusnya kamu di-kemoterapi," kata dokter wanita itu dan Zuri langsung menggeleng.
Zuri tampak tidak setuju. "Kalau di-kemoterapi tentu aku harus tinggal di sini setelahnya…," kata dia.
“Tapi, hanya itu jalan satu-satunya. Kalau tidak stadiumnya akan terus meningkat," kata dokter itu lagi. "Konsumsi obat terus menerus juga berakibat kepada kekebalan tubuh. Lama-lama daya tahan tubuh kamu akan semakin menurun, Zuri. Karena penyakit akan semakin kebal dengan dosis yang tinggi.”
“Semua pilihanku sama saja, dokter. Biar dioperasi, di-kemoterapi, atau mengandalkan obat-obatan, rasa sakit itu tetap akan sama. Yang membedakan hanyalah apakah itu akan mempercepat atau memperlambat kematianku…," katanya, tertunduk. Dan betapa hatiku tersayat mendengarnya. "Tapi, tak ada yang tahu tentang kematian seseorang, bukan? Aku belum ingin menyerah, dengan kemoterapi, lalu terbaring di sini selama sisa hidupku…. Aku tidak menginginkannya…”
Dokter itu terdiam. Lalu menatapku untuk meminta pendapatku. “Turuti saja, Dokter…,” kataku lalu ia pun mengangguk-angguk mengerti. Tampak iba pada wajahnya saat ia melirik Zuri yang tertunduk lemah dan pasrah.
“Hanya…katakan padaku… apa yang bisa aku lakukan untuk bisa tetap berada di luar sana…," kata Zuri, kembali memohon. "Aku sekarat…”
Akhirnya, dr. Arinda menuliskan lagi resep obat untuknya, dengan dosis yang lebih tinggi. Tak bisa lagi ia membujuk Zuri untuk dirawat. Tak bisa kupatahkan semangatnya yang luar biasa untuk tetap sembuh. Meski tak bisa dipungkiri, banyak yang tak bisa bertahan hidup lama setelah kemoterapi yang menyakitkan, yang merontokan setiap helaian rambut, dan yang menghisap badan hingga kurus kering dan pucat. Zuri tampak tidak ingin menyerah.
“Bagus." Aku mengalungkan lenganku di bahunya saat kami berjalan hendak meninggalkan ruma sakit. "Begitulah seharusnya, Zuri. Semangat”
Aku memberinya senyum optimis. Dan dia membalasnya. “Kita akan pergi ke mana?” tanya dia, penuh harap.
“Festival Danau Toba nanti,” jawabku senang. “Tapi, kita harus ke Bandung dulu”
“Bandung?”
“Aku harus bertemu orangtuaku, Zuri. Mereka bisa marah karena aku belum pulang sama sekali”
Zuri pun mengangguk-angguk. Tampaknya dia bersedia ikut. Aku meraih tangannya dan menggenggam dengan erat. Aku tidak akan melepaskannya lagi. Namun, tiba-tiba jantungku berdetak keras saat kami akan berbelok di koridor yang akan membawa kami keluar dari rumah sakit. Meskipun ramai, aku masih dapat melihatnya dan aku yakin aku tidak salah mengenali orang.
Han. Sosok seorang dokter yang tengah berbicara dengan seorang perawat di ujung lorong itu adalah dia. Tapi… dia seorang dokter?
Aku tidak memastikannya.
“Ada apa, Attar?" tanya Zuri yang heran saat aku memutar arah.
Aku hanya tersenyum padanya. “Mungkin akan lebih dekat kalau lewat sini,” kataku pada Zuri yang tampaknya tidak menyadari apa-apa. Syukurlah.
Tapi, kebetulan sekali dia bertugas di sini….
***
Komentar
0 comments