๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Etape demi etape telah kami lewati.Balapan dimenangkan oleh pembalap dari Iran. Aku sempat terpisah dari Zuri beberapa saat karena harus bekerja sedang ia lebih memilih menunggu di garis finish.
Ya, seminggu lebih balapan diadakan, rasanya begitu melelahkan. Tapi, aku belum ingin mengakhirinya karena aku harus meninggalkan Padang dan kembali ke Jakarta bersama rekan-rekanku. Rasanya waktu berlalu begitu cepat.
“Kamu tahu akan tinggal di mana setelah ini?" tanyaku dan Zuri hanya diam saja. Tampak kebingungan di wajahnya. Pesta telah usai. Keramaian telah pergi. Kampung halaman ini akan kembali seperti semula. “Kamu harus tetap berobat. Jika penyakitnya belum terlalu parah, masih bisa disembuhkan”
“Entahlah, Attar…," Zuri pun tertunduk dengan sedih. Betapa aku ingin merangkulnya saat ini. Tapi, dia tak akan menyukainya.
"Kamu tahu, banyak di luar sana penderita kanker yang bisa sembuh? Beberapa di antaranya menjadi motivator bagi yang lain untuk terus bertahan. Walaupun banyak yang diselamatkan oleh keajaiban, tapi tidak ada salahnya untuk terus mencoba,” aku berujar agar secercah harapan terbit di wajahnya. Tapi tidak. Keceriaannya telah sirna bersamaan dengan euphoria Tour de Singkarak yang telah berlalu.
“Lalu aku harus bagaimana? Bekerja saja aku tidak bisa…," pungkasnya, semakin bersedih. "Apa yang bisa aku lakukan?”
“Jangan menyerah. Satu-satunya cara adalah jangan menyerah," jawab Attar, menatapnya lekat-lekat. "Masih ada banyak hal yang bisa kamu lakukan”
Zuri masih diam. Dia membuatku tidak punya pilihan. Mana mungkin aku meninggalkannya? Dalam keadaan sakit? Walau tak tahu apa yang mungkin terjadi nanti, tapi yang pasti jika aku pergi, mungkin hari ini akan menjadi hari terakhir aku bisa melihatnya.
“Kalau kamu mau, ikutlah denganku ke Jakarta," katanya dan seketika ia mengangkat kepalanya, memperlihatkan rasa terkejut yang sangat. Matanya membelalak dan aku tersenyum.
“Ke Jakarta?” berikutnya dia tampak tidak setuju. Zuri menggeleng pelan sekali. “Aku pulang ke Padang, karena tidak ingin berlama-lama di luar… karena waktuku tidak banyak…”
“Siapa bilang? Siapa yang tahu hidup dan mati seseorang, Zuri?. Tidak usah berputus asa begitu, kamu harus tahu betapa luasnya dunia ini. Betapa waktu hanya akan menjadi ilusi bagi kita yang berusaha menjalankannya dengan sepenuh hati…," ujarku lagi. "Aku akan tunjukan bahwa tidak selalu sisa hidup kita dihabiskan dengan berkeluh kesah akan kematian. Kita hidup untuk sebuah tujuan, dan kita harus temukan tujuan itu. Tiada kehidupan diciptakan tanpa satu maksud. Dibalik kesusahan akan ada kebahagiaan. Demikian Tuhan itu ciptakan segala sesuatu berdampingan, ada sedih ada bahagia, ada siang ada malam, ada laki-laki ada perempuan. Tak mungkin menakdirkan kita hanya untuk derita saja, tak mungkin pula untuk bahagia saja. Tapi, bahagia tak datang begitu saja, kita harus mencarinya”
Kembali ia meneteskan air mata. Dia membuatku tidak berdaya.
“Kenapa kamu melakukan semua ini?" tanyanya tiba-tiba. "Aku tidak menyangka bahwa kita akan bertemu dan kamu akan memberikan semua ini padaku…”
Aku menggeleng. Mendekat satu langkah. Memberanikan diri untuk menyentuh pipinya yang basah. "Kamu mengenal aku bukan barang sehari dua hari. Sudah lama, bukan?" kenangnya. "Lama kita berteman. Tak ingat saat kamu kerjakan tugas-tugasku saat aku tidak masuk kuliah? Atau kamu tanda tangankan daftar hadirku?”
Seulas senyum tampak di bibirnya.
“Akan tetapi, aku merasa sedikit menyesal," kataku lagi. Aku harus meyakinkannya untuk pergi bersamaku. "Aku putuskan hubunganku dengan Asha, karena aku tidak butuh hubungan di mana aku merasa dikendalikan dan dibebankan perasaan takut kehilangan oleh cinta butaku kepadanya. Begitu aku lepaskan aku tahu, aku sadar, siapa orang yang selalu bersamaku di saat susah, dan aku abaikan ketika suka cita. Hanya saja saat itu, kamu telah jatuh cinta dengan orang Cina yang selalu membuat kamu menangis. Aku merasa di antara kita ada jarak yang jauh sekali, saat kamu tak pernah bicara denganku lagi. Begitu kamu kembali menyapa, aku tahu bahwa kamu bukan lagi Zuri yang pernah aku kenal, kamu adalah Zuri yang pandai berpura-pura. Zuri yang aku kenal sudah dibawa oleh lelaki Cina itu. Aku tahu, betapa hancurnya kamu saat itu tapi aku tak melakukan apa-apa. Semuanya semakin terlambat sebab bencana tahun lalu yang membuat aku benar-benar kehilanganmu. Tanpa mengatakan apa-apa kamu pergi ke Ubud, bahkan juga tidak pamitan sehingga aku tidak bisa mengatakan… bahwa aku menyayangimu…”
“Sekarang… apa yang kamu harapkan dari perempuan yang sekarat sepertiku…?" tanya dia, meneteskan air mata lagi.
Aku bisa merasakan bahwa ia tengah gemetaran, lalu menggenggamnya tangannya yang dingin dan basah oleh keringat. "Aku tidak mengharapkan apa-apa. Sama seperti bila aku lapar tentu aku akan makan walaupun nanti aku akan lapar lagi.” Ucapku, menatapnya lekat-lekat. "Bila kamu belum bisa menerimaku pun tak apa-apa. Tapi, setidaknya sebagai seorang sahabat, sebagaimana dulunya kita pernah dekat, izinkan aku membantumu….”
“Tapi kamu sudah membantuku, bahkan lebih dari yang aku harapkan…," katanya. "Sudah terlalu banyak aku menyusahkanmu. Aku tidak ingin dengan pergi ke Jakarta, aku malah menjadi beban sedang aku tidak bisa berbuat apa-apa…”
“Tidak ada manusia yang tidaak berguna," ujarku lagi. Dan aku menjadi semakin tidak sabar. "Kamu tak perlu memikirkannya. Bila kamu ingin membantu, bantu aku dengan mendengarkan saja. Itu sudah cukup. Aku tidak mungkin meninggalkanmu sementara aku tahu kamu akan terlunta-lunta. Hatiku tidak akan tenang, karena itu demi kebaikanmu, kebaikanku juga, tidak ada salahnya kamu ikut denganku. Sampai kamu bisa berdiri lagi, kembali menjadi Zuri yang pernah kukenal, Zuri sahabatku…”
Komentar
0 comments