๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Dari Seberang Laut
Padang, 01 Juni 2010…
Etape satu akan dimulai. Zuri terlihat sedang memandangi keramaian dengan hampa. Lima menit lagi, kami sudah harus berada di mobil. Tepat tiga puluh menit sebelum para pembalap bertolak dari garis finish. Aku megajak Zuri melewati keramaian yang masih membuatnya takjub menuju sebuah mobil yang akan mengajak kami berpacu bersama para pembalap itu.
Warna-warni terlihat di garis finish. Para penonton riuh di pinggir lintasan tengah menunggu dengan suka cita. Saat itu, kami harus berangkat lebih dulu bersamaan dengan iringan VIP.
Zuri mengernyit saat ia akan naik ke salah satu mobil yang berada di urutan lima di belakang mobil patwal polisi. “Apa tidak apa-apa, Attar?” dia bertanya dengan wajah tidak yakin.
“Memang kenapa?” balasku.
“Ini mobil VIP,” kata dia.
“Iya, lantas kenapa?”
Zuri masih tampak ragu-ragu.
“Kita harus segera naik, Zuri,” kataku saat sirine mobil patwal mulai meraung-raung. “Balapannya akan dimulai. Kita harus berada di depan dengan jarak sepuluh menit dari pembalap”
Tampaknya Zuri masih bingung. Tapi, senyum terukir di wajahnya saat ia akhirnya naik juga ke mobil. Begitu Zuri sudah duduk dan memasang sabuk pengaman, mobil mulai bergerak maju, mengisi celah kosong tepat di belakang mobil berstiker VIP lainnya.
“Apa yang akan kita lakukan selama balapan?” tanyanya lagi.
Aku menoleh. “Lihat saja nanti,” jawabku dan dia pun tersenyum.
Iring-iringan di belakang patwal polisi sudah tersusun rapi. Kami menunggu beberapa saat sampai mobil polisi berjenis sedan itu mulai melaju. Aku menyetel radio, mendengarkan informasi terakhir selagi Zuri mengamati kelompok bermotor dan berseragam hijau terang. Melalui handset, aku dapat memastikan bahwa kami sudah harus bergerak. Grand start akan segera dimulai.
Aku menoleh ke arahnya sejenak, sambil merekatkan kedua tanganku pada setir. Menunggu mobil VIP di depan kami bergerak. “Kamu akan menyukainya, Zuri” kataku sebelum sirine mulai bergerak menjauh. Mobil di depan telah beranjak.
Zuri tertawa pelan. Pandangannya lurus ke depan. Pada saat itu, ia tak lagi menatap dengan kosong. Ya, itu suatu kemajuan. Setelah sekian lama, mungkin ini pertama kalinya lagi, aku merasa bahagia bersamanya. Ada semacam perasaan berbeda ketika aku memandangi senyum yang terus terukir di bibirnya selama kami berpacu dengan kecepatan 150 km / jam di jalan bebas hambatan. Perasaan yang berbeda dari pada saat kami masih menjadi sepasang mahasiswa yang dulu bersahabat. Mungkin karena aku telah menemukannya kembali dan untuk kali ini, aku tidak akan pernah melepaskannya lagi…
Jalan telah dikosongkan. Polisi berada di sepanjang jalan untuk mengamankan. Mereka memblokade jalan dan memastikan tidak ada kendaraan melintas atau warga yang menyeberang sebelum pembalap lewat. Memang ini menimbulkan kemacetan yang luar biasa. Biasanya akan selalu ada keluhan-keluhan tapi balapan ini tidak bisa tidak dilakukan hanya karena menurut sebagian warga tidak ada manfaatnya sama sekali. Hanya membuat orang-orang bersumpah serapah karena harus menunggu lama. Balapan ini bukan kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat. Tour de Singkarak adalah milik dunia. Di Indonesia sendiri Tour de Singkarak adalah sebuah gelaran nasional yang kebetulan dibuat di Sumatera Barat –sekali lagi, karena Sumatera Barat itu indah. Dan penggagas-penggagas balap sepeda ini memiliki misi penting. Mereka ingin provinsi yang pernah terguncang tahun lalu ini kembali bangkit. Mereka ingin suatu saat nanti Tour de Singkarak akan seperti Piala Dunia, di mana orang-orang dari seluruh dunia akan datang untuk menyaksikan setiap etape-nya.
Pinggir jalan penuh oleh warga yang menunggu para pesepeda mengayuh pedal dengan begitu lincahnya. Anak-anak sekolah sengaja diliburkan untuk memeriahkan balapan dengan mengibarkan bendera merah putih kecil di sepanjang jalan di lingkungan sekolah mereka. Zuri tampak senang melihat mereka hingga ia meminta agar aku menurunkan kaca agar ia bisa melihat dengan jelas sambutan itu.
Rambut panjangnya yang lurus tertiup angin. Sesekali dia menoleh padaku dengan senyum lebar. “Ini hebat, Attar!” serunya. Ya, dia mungkin terlihat pucat. Tapi, di mataku dia tetap adalah seorang perempuan yang cantik.
Tiba-tiba kami mendengar suara klakson. Sebuah mobil tim memimta kami menyingkir karena mereka ingin lewat lebih dulu. Mereka melaju lebih cepat dari mobil kami.
“Apa yang akan mereka lakukan?” tanya Zuri padaku.
“Itu mobil tim dua,” jawabku. “Di dalam sana sudah ada semua perlengkapan keperluan atlit juga License Officer-nya.”
“Setiap tim memiliki mobil masing-masing?”
Aku mengangguk. “Mereka akan memastikan bahwa atlit di tim mendapatkan apa yang dia butuhkan,” sambungku.
Zuri menoleh ke belakang, karena mendengar suara klakson lagi agar kami memberi jalan. Satu mobil lagi yang membawa dua unit sepeda di atasnya. Pada stiker di belakangnya bertuliskan ‘Neutral Service’. “Bagaimana dengan mobil yang itu?”
“Jika ada sepeda yang rusak, mereka akan menggantinya dengan sepeda yang mereka bawa”
“Lalu kumpulan orang-orang bermotor yang pakai seragam serba hijau itu? Apa yang mereka lakukan?”
“Mereka disebut Marshal. Tugas mereka adalah menunjukan arah kepada pembalap agar mengikuti rute etape. Kamu tahu mereka didatangkan khusus dari Jogja?”
“Hebat…”
“Nah, kamu lihat mobil yang berstiker Race Doctor tadi?”
Zuri mengangguk-angguk.
“Di dalamnya ada dua orang dokter. Mereka biasa tidak boleh berada jauh dari rombongan pembalap. Kalau ada yang kecelakaan dan terluka mereka akan mengurusnya.” Jelasku semakin bersemangat.
“Bagaimana mereka akan menentukan pemenangnya?”
“Itu tugas Race Director dan Commissaire. Mobil mereka akan berada di dekat pembalap. Nanti akan ada banyak pemenang dengan beberapa kategori. Seperti Raja Tanjakan atau Raja Tikungan. Pemenang utama adalah pembalap yang memiliki catatan waktu terbaik dari semua etape”
Zuri tidak bicara lagi. Ia tampak menikmati kecepatan ini. Aku sudah lama tidak melihatnya seceria itu. Entah mungkin karena sudah cukup lama aku tidak melihatnya. Aku tidak dapat mengalihkan perhatianku darinya. Saat ia tersenyum begitu kami melewati jalan pinggir laut seolah itu adalah hal terindah yang pernah ia lihat. Sementara bagiku memandangi wajahnya yang terbingkai oleh rambutnya yang menari-nari mengikuti arah angin, adalah hal terindah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Aku bisa saja mengatakan padanya bahwa aku sangat merindukan saat-saat kami masih bersama sebagai sahabat untuk selanjutnya menyatakan bahwa aku sangat berharap saat ini kami bisa menjadi lebih dari itu.
Tapi…memanggil kembali kenangan lama, juga akan mengembalikan kedua orang itu dalam ingatannya. Ada baiknya jika aku terus membawanya menjauh dari semua itu….
***
Padang, 01 Juni 2010…
Etape satu akan dimulai. Zuri terlihat sedang memandangi keramaian dengan hampa. Lima menit lagi, kami sudah harus berada di mobil. Tepat tiga puluh menit sebelum para pembalap bertolak dari garis finish. Aku megajak Zuri melewati keramaian yang masih membuatnya takjub menuju sebuah mobil yang akan mengajak kami berpacu bersama para pembalap itu.
Warna-warni terlihat di garis finish. Para penonton riuh di pinggir lintasan tengah menunggu dengan suka cita. Saat itu, kami harus berangkat lebih dulu bersamaan dengan iringan VIP.
Zuri mengernyit saat ia akan naik ke salah satu mobil yang berada di urutan lima di belakang mobil patwal polisi. “Apa tidak apa-apa, Attar?” dia bertanya dengan wajah tidak yakin.
“Memang kenapa?” balasku.
“Ini mobil VIP,” kata dia.
“Iya, lantas kenapa?”
Zuri masih tampak ragu-ragu.
“Kita harus segera naik, Zuri,” kataku saat sirine mobil patwal mulai meraung-raung. “Balapannya akan dimulai. Kita harus berada di depan dengan jarak sepuluh menit dari pembalap”
Tampaknya Zuri masih bingung. Tapi, senyum terukir di wajahnya saat ia akhirnya naik juga ke mobil. Begitu Zuri sudah duduk dan memasang sabuk pengaman, mobil mulai bergerak maju, mengisi celah kosong tepat di belakang mobil berstiker VIP lainnya.
“Apa yang akan kita lakukan selama balapan?” tanyanya lagi.
Aku menoleh. “Lihat saja nanti,” jawabku dan dia pun tersenyum.
Iring-iringan di belakang patwal polisi sudah tersusun rapi. Kami menunggu beberapa saat sampai mobil polisi berjenis sedan itu mulai melaju. Aku menyetel radio, mendengarkan informasi terakhir selagi Zuri mengamati kelompok bermotor dan berseragam hijau terang. Melalui handset, aku dapat memastikan bahwa kami sudah harus bergerak. Grand start akan segera dimulai.
Aku menoleh ke arahnya sejenak, sambil merekatkan kedua tanganku pada setir. Menunggu mobil VIP di depan kami bergerak. “Kamu akan menyukainya, Zuri” kataku sebelum sirine mulai bergerak menjauh. Mobil di depan telah beranjak.
Zuri tertawa pelan. Pandangannya lurus ke depan. Pada saat itu, ia tak lagi menatap dengan kosong. Ya, itu suatu kemajuan. Setelah sekian lama, mungkin ini pertama kalinya lagi, aku merasa bahagia bersamanya. Ada semacam perasaan berbeda ketika aku memandangi senyum yang terus terukir di bibirnya selama kami berpacu dengan kecepatan 150 km / jam di jalan bebas hambatan. Perasaan yang berbeda dari pada saat kami masih menjadi sepasang mahasiswa yang dulu bersahabat. Mungkin karena aku telah menemukannya kembali dan untuk kali ini, aku tidak akan pernah melepaskannya lagi…
Jalan telah dikosongkan. Polisi berada di sepanjang jalan untuk mengamankan. Mereka memblokade jalan dan memastikan tidak ada kendaraan melintas atau warga yang menyeberang sebelum pembalap lewat. Memang ini menimbulkan kemacetan yang luar biasa. Biasanya akan selalu ada keluhan-keluhan tapi balapan ini tidak bisa tidak dilakukan hanya karena menurut sebagian warga tidak ada manfaatnya sama sekali. Hanya membuat orang-orang bersumpah serapah karena harus menunggu lama. Balapan ini bukan kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat. Tour de Singkarak adalah milik dunia. Di Indonesia sendiri Tour de Singkarak adalah sebuah gelaran nasional yang kebetulan dibuat di Sumatera Barat –sekali lagi, karena Sumatera Barat itu indah. Dan penggagas-penggagas balap sepeda ini memiliki misi penting. Mereka ingin provinsi yang pernah terguncang tahun lalu ini kembali bangkit. Mereka ingin suatu saat nanti Tour de Singkarak akan seperti Piala Dunia, di mana orang-orang dari seluruh dunia akan datang untuk menyaksikan setiap etape-nya.
Pinggir jalan penuh oleh warga yang menunggu para pesepeda mengayuh pedal dengan begitu lincahnya. Anak-anak sekolah sengaja diliburkan untuk memeriahkan balapan dengan mengibarkan bendera merah putih kecil di sepanjang jalan di lingkungan sekolah mereka. Zuri tampak senang melihat mereka hingga ia meminta agar aku menurunkan kaca agar ia bisa melihat dengan jelas sambutan itu.
Rambut panjangnya yang lurus tertiup angin. Sesekali dia menoleh padaku dengan senyum lebar. “Ini hebat, Attar!” serunya. Ya, dia mungkin terlihat pucat. Tapi, di mataku dia tetap adalah seorang perempuan yang cantik.
Tiba-tiba kami mendengar suara klakson. Sebuah mobil tim memimta kami menyingkir karena mereka ingin lewat lebih dulu. Mereka melaju lebih cepat dari mobil kami.
“Apa yang akan mereka lakukan?” tanya Zuri padaku.
“Itu mobil tim dua,” jawabku. “Di dalam sana sudah ada semua perlengkapan keperluan atlit juga License Officer-nya.”
“Setiap tim memiliki mobil masing-masing?”
Aku mengangguk. “Mereka akan memastikan bahwa atlit di tim mendapatkan apa yang dia butuhkan,” sambungku.
Zuri menoleh ke belakang, karena mendengar suara klakson lagi agar kami memberi jalan. Satu mobil lagi yang membawa dua unit sepeda di atasnya. Pada stiker di belakangnya bertuliskan ‘Neutral Service’. “Bagaimana dengan mobil yang itu?”
“Jika ada sepeda yang rusak, mereka akan menggantinya dengan sepeda yang mereka bawa”
“Lalu kumpulan orang-orang bermotor yang pakai seragam serba hijau itu? Apa yang mereka lakukan?”
“Mereka disebut Marshal. Tugas mereka adalah menunjukan arah kepada pembalap agar mengikuti rute etape. Kamu tahu mereka didatangkan khusus dari Jogja?”
“Hebat…”
“Nah, kamu lihat mobil yang berstiker Race Doctor tadi?”
Zuri mengangguk-angguk.
“Di dalamnya ada dua orang dokter. Mereka biasa tidak boleh berada jauh dari rombongan pembalap. Kalau ada yang kecelakaan dan terluka mereka akan mengurusnya.” Jelasku semakin bersemangat.
“Bagaimana mereka akan menentukan pemenangnya?”
“Itu tugas Race Director dan Commissaire. Mobil mereka akan berada di dekat pembalap. Nanti akan ada banyak pemenang dengan beberapa kategori. Seperti Raja Tanjakan atau Raja Tikungan. Pemenang utama adalah pembalap yang memiliki catatan waktu terbaik dari semua etape”
Zuri tidak bicara lagi. Ia tampak menikmati kecepatan ini. Aku sudah lama tidak melihatnya seceria itu. Entah mungkin karena sudah cukup lama aku tidak melihatnya. Aku tidak dapat mengalihkan perhatianku darinya. Saat ia tersenyum begitu kami melewati jalan pinggir laut seolah itu adalah hal terindah yang pernah ia lihat. Sementara bagiku memandangi wajahnya yang terbingkai oleh rambutnya yang menari-nari mengikuti arah angin, adalah hal terindah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Aku bisa saja mengatakan padanya bahwa aku sangat merindukan saat-saat kami masih bersama sebagai sahabat untuk selanjutnya menyatakan bahwa aku sangat berharap saat ini kami bisa menjadi lebih dari itu.
Tapi…memanggil kembali kenangan lama, juga akan mengembalikan kedua orang itu dalam ingatannya. Ada baiknya jika aku terus membawanya menjauh dari semua itu….
***
Komentar
0 comments