๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Zuri tampak berdiri di antara orang yang lalu lalang. Ia memperhatikan setiap gerakan orang-orang yang melewatinya begitu saja seakan ia adalah sesosok makhluk halus yang tak kasat mata. Zuri tidak jauh berbeda dengan yang dulu. Dia hanya bicara seperlunya, menjawab hanya apabila ditanya dan dalam setiap kesempatan berkumpul ia lebih banyak diam dan mendengarkan. Tapi, saat melihatku datang setidaknya dia sudah berusaha untuk tersenyum.
Hanya saja, semakin aku memperhatikannya, aku merasa ada yang hilang. Dia hidup, bernafas, dan berjalan, layaknya orang normal. Tapi, ada sebuah keganjilan, apabila ia sedang menatap. Seakan menghayati setiap apa yang dia lihat, dia memandang terlalu lama ke satu arah bahkan di sana tak ada apa-apa. Ketika menghampirinya aku baru sadar bahwa ternyata jiwanya berada di tempat lain. Ia baru kembali saat aku menegur dan dengan bingung ia bertanya apakah aku mengatakan sesuatu padanya.
Zuri seringkali bingung setiap aku bertanya tentang apa yang ia pikirkan. Tapi, terlalu berat bagiku untuk menyebut nama lelaki itu di depannya bahkan hanya untuk memintanya melupakan. Mungkin mendengar nama itu hanya akan membuatnya gelisah.
“Kamu tidak biasa berada di keramaian?” tanyaku dan Zuri mengusahakan senyum di bibirnya.
Zuri menggeleng. “Mereka sibuk sekali,” jawab dia singkat. “Sementara aku tidak melakukan apa-apa. Rasanya segan, Attar…”
“Mereka tahu kalau kamu sedang sakit. Sudahlah, tidak usah dipikirkan…” ujarku sambil mengeluarkan sesuatu dari ranselku. Sebuah kamera. “Daripada bosan, lebih baik kamu memotret”
“Aku tidak bisa pakai kamera, Attar,” kata dia senang, tapi malu-malu.
“Tidak sulit,” jelasku, menyalakan kameranya lalu menyerahkan benda itu padanya dan menunjukan sebuah tombol. “Tinggal pencet tombol yang ini, mengerti?”
“Semudah itu?”
“Ya, semudah itu.”
“Kamera ini milikmu, Attar?”
“Ya, tapi aku tidak mungkin memotret,” jelasnya.
“Jadi apa yang kamu lakukan?”
“Mencari sponsor. Mengawasi balapan. Memastikan semuanya berjalan lancar,” jelasku.
“Oh ya? Pasti berat bukan? Tapi… seperti apa pekerjaan mengawasi itu?” Zuri bertanya lagi, sembari memandangi sekelilingnya. Tampak beberapa orang sibuk menempeli stiker pada mobil-mobil official, tampak orang-orang berseragam hijau menyala, tampak pula atlit-atlit asing yang berlalu lalang denga sepeda mereka.
Aku tersenyum. “Nanti kamu akan tahu sendiri,” jawabku, tersenyum memastikan bahwa Zuri akan merasakan pengalaman yang luar biasa seperti saat pertama kali aku bergabung pada tim official sejak pertama Tour de Singkarak diadakan.
***
Balapan akan berlangsung selama enam hari dan tebagi menjadi enam etape dengan total jarak tempuh 551 km. Etape pertama akan dimulai di Kota Padang dan sepenuhnya pembalap akan mengelilingi jalan-jalan utama kota ini. Etape kedua besok hari akan berangkat dari Padang menuju Padang Pariaman dan di hari yang sama pembalap akan bertolak dari Kota Pariaman menuju Danau Maninjau. Kemudian keesokan hari dari Maninjau pembalap akan menuju ke Bukitinggi, Kota Jam Gadang. Di hari keempat dan kelima pembalap akan memacu kecepatan dari Kota Padang Panjang menuju Sawahlunto dan dari sana mereka akan berlomba ke Batusangkar. Hari terakhir adalah etape enam di mana mereka akan memulainya dari Kota Jam Gadang menuju Solok dan berakhir di Danau Singkarak.
Danau Singkarak adalah danau terbesar dari empat danau yang ada di Sumatera Barat dan semuanya terkenal sampai ke penjuru negeri. Pemandangan dan suasana danau inilah yang awalnya membuatku jatuh cinta untuk tinggal di sini beberapa tahun yang lalu ketika sesekali mengunjungi kampung halaman ayah. Keindahan alamnya, budaya uniknya yang lain daripada yang lain serta keramahan orang-orangnya. Pantas saja Papa yang berasal dari Solok sangat membanggakan kampung halamannya sendiri walaupun belum tentu dalam setahun ia bisa pulang. Dengan bangganya ia mengaku bahwa ia adalah orang Minang tapi walaupun juga berdarah Minang, aku tidak lantas bisa menyebut diriku orang Minang. Karena pada dasarnya, orang Minang mengambil garis keturunan ibu sehingga aku yang lahir seorang wanita Sunda tidak memiliki suku.
Di Bandung sana, mereka menyebutku orang Padang, tapi di Padang sini mereka menyebutku orang Sunda. Padahal aku sudah bisa berbahasa mereka dengan fasih, bersikap seperti orang Padang yang tahu alua jo patuik[1], anggo-tanggo[2], dan raso jo pareso[3] yang membuat sifat orang Minang mampu berbaur di mana pun berada seperti pepatah mereka dima bumi dipijak disitu langik dijunjuang[4].
Saat pertama kali datang ke sini dan berbaur, aku tidak terlalu bisa berbahasa Minang. Mengerti, tapi tidak bisa mengucapkannya dengan benar bahkan sampai-sampai setiap huruf a di belakang sebuah kata aku menggantinya dengan huruf o. Seperti ‘juga’ menjadi ‘jugo’ –dalam bahasa Minang tidak ada kata ‘jugo’ melainkan ‘juo’. Tidak semua kata dalam bahasa Minang berarti sama bila huruf a terakhir diganti dengan huruf ‘o’. Malahan setiap aku dengan percaya diri berbahasa Minang, teman-temanku akan tertawa karena bicara dengan logat Sunda. Logat Minang hampir sama dengan Batak, keras dan khas, hampir semua orang Minang tidak dapat menghilangkan aksen ini walaupun mereka sedang berbicara dengan Bahasa Indonesia.
Di kampus, ada berbagai macam etnis dan mayoritas adalah Tionghwa. Rata-rata mereka berbahasa Indonesia dan sedikit campuran Minang dengan aksen cina –yang logatnya terdengar seperti tokoh Mei Mei dalam film anak-anak Upin dan Ipin yang ditayangkan setiap hari di TV. Bahasa universal di kampus adalah Bahasa Indonesia tapi segelintir anak pribumi pasti berbahasa Minang tapi dengan gaya anak muda alias gaul. Seperti layaknya di Jakarta atau Bandung yang menyebut ‘lo’ atau ‘gue’, di Padang Bahasa gaul untuk kata serupa adalah ‘ang’ untuk laki-laki , ‘kau’ untuk perempuan, sedangkan untuk ‘aku’ mereka memakai kata ‘den’ atau ‘awak’ untuk bahasa yang lebih halus. Heran, di tanah jawa kata ‘Den’ berarti panggilan terhormat untuk seorang tuan muda sedangkan kata ‘awak’ dalam bahasa Melayu berarti ‘kamu’.
Orang Minang pertama yang kukenal tidak memiliki aksen Minang saat berbahasa Indonesia di kampus adalah Zuri –aku pikir dia tidak berasal dari Padang, tidak bersuku Chaniago. Dia yang memberitahuku bahwa aturan bahasa Minang tidak selalu berakhiran ‘o’ dan ia tertawa ketika mengatakannya di kelas. Kupikir itu adalah senyuman termanis yang pernah kulihat dari seorang gadis Minang walaupun pada akhirnya aku tertarik juga dengan salah seorang gadis keturunan Sunda –mungkin karena darah ayahku yang menikahi wanita Sunda. Begitu hubunganku berakhir, rasanya aku sudah berbuat tolol dengan membuang waktuku bersama gadis yang hanya membuatku tidak tenang. Ketika aku bertanya di mana teman-temanku di saat sedih, aku hanya ingat Zuri, tapi dia sudah tidak ada ketika aku kembali ke saat-saat di mana kami menghabiskan jeda antar mata kuliah dan Zuri mendengarkan semua ceritaku tentang kampung halamannya.
Setelah gempa naas, aku kembali mencarinya tapi tidak kusangka aku benar-benar kehilangan jejak. Entah, rasanya seperti berusaha mengenal orang yang tak pernah kutemui. Dia menghilang begitu saja seakan ia tak pernah ada. Seolah ia hanya sebuah cerita yang ikut terkubur bersama reruntuhan rumahnya. Terakhir melihatnya adalah ketika wisuda, aku hanya bisa mengucapkan selamat atas gelar cum laude-nya dan ia hanya tersenyum, sebelum berlalu. Aku kira, aku masih dapat bertemu dengannya, tapi kalau saja gempa tahun lalu tidak menghempaskan Padang, mungkin aku akan mengubah banyak hal.
Namun, saat ini aku sama sekali tidak merasa lega setelah menemukannya kembali. Zuri sedang sekarat. Lagipula yang berdiri di depanku saat ini hanyalah seorang mayat hidup, sementara jiwanya tertinggal entah di mana..
***
[1] Frase Minang tentang kesesuaian sesuatu berdasarkan prosedur dan tata cara yang berlaku dalam adat. Kata ‘alua’ berarti alur yang maksudnya sesuai dengan tata cara adat sedangkan ‘patuik’ berarti ‘patut’ yang maksudnya kepantasan sesuatu pada tempatnya.
[2] Frase Minang tentang pedoman kehidupan kemasyarakatan. Kata ‘anggo’ berarti ‘anggaran’yang maksudnya ketentuan pokok sedangkan ‘tanggo’ berarti ‘tangga’ yang maksudnya adalah ketentuan pelaksanaan.
[3] Frase Minang tentang kearifan dan kebijaksanaan dalam berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain. Kata ‘raso’ berarti ‘rasa’ merupakan pengertian dari perasaan bukan apa yang dicecap. Sedangkan ‘pareso’ berarti ‘periksa’ merupakan kesadaran untuk berhati-hati dalam berkata-kata.
[4] Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung
Komentar
0 comments