[Hal. 21] [Ch. 4] NAME OF YESTERDAY

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Sepeda Impian

Padang, 26 Mei 2010…

“Kalau kamu sakit begini harusnya kamu menetap di Ubud," kataku padanya, berujar.

Zuri menggeleng. Tak sampai setahun bertemu, Zuri menjadi lebih keras kepala dari yang kutahu. "Apa yang bisa aku lakukan di sana?" tanya dia, dengan wajahnya yang pucat menahan sakit. Dia baru siuman setelah semalam salah seorang petugas room service hotel menemukannya tergeletak di dekat meja rias. "Mati di negeri orang, juga dikubur di negeri orang sementara aku berasal dari sini? Aku bukan terbuang. Aku pergi ke Ubud karena di sini tak punya tempat tinggal. Terlebih dengan keadaan seperti ini, tinggal di rumah kerabat hanya menyusahkan saja”

Lama tidak mendengar kabarnya, bagaimana mungkin aku tidak akan terkejut dengan diagnosa dokter pagi ini?. Zuri menderita penyakit mematikan! Waktu yang dia punya tidak akan lebih lama dari setahun.

“Aku masih ingat dengan kerabat ibu. Bukannya tak pernah mereka menampungku sementara. Mereka orang yang baik, meski di belakangku mereka mengeluh karena kepayahan hidup selepas gempa. Lantaran tempat usaha Mak Etek runtuh menjadi puing.aku tidak bisa kembali tinggal di sana dengan keadaan begini pula. Mereka akan merasa terbebani walau mungkin aku tak akan memintakan biaya berobat yang tak sedikit”.

Lalu ia tertunduk dan menangis. Zuri, mengapa semua ini harus kamu yang menerimanya?

“Mungkin ini balasan karena pernah durhaka kepada ayah dan ibu…,” sesalnya. “ayah pernah bilang, kalau orang tua sudah tak ada, ke mana akan pergi. Atau karena di dalam hati kecilku pernah mengutuk kekerasan hati mereka padaku. Atau karena pernah menyalahkan mereka atas derita yang kurasakan lantaran memisahkanku dengan Han. Atau  karena tidak ikhlas menjalankan hidup setelah kepergian Han…. Entah, Attar…, entah…”

Setiap dia menyebut nama itu lagi, hatiku bergetar. Zuri masih saja memikirkan orang itu padahal ia tahu mereka tidak akan bisa bersama. Tidak di dunia ini, tidak juga di akhirat. Sekarang orang tuanya sudah tak ada, lelaki itu juga telah meninggalkannya. Sekarang, tinggal dia sendiri, menanggungkan penderitaan yang begitu besarnya, begitu perihnya, sampai-sampai tak bisa menangis lagi oleh sebab air matanya telah kering.

Ah, Zuri…

“Kenapa kamu menjauhiku begitu saja?" kataku. “Sampai sekarang, aku tidak mengerti, mengapa kamu tiba-tiba marah…”

Tiba-tiba dia tersenyum, meski tatapan matanya nanar dan ia kembali tertunduk. Tanpa jawaban.“Heran bila sekarang Attar bertanya demikian penuh harap kepada gadis yang sekarat ini. Seakan menunggu sebuah jawaban cinta yang belum pernah terucap,” ia memandangku dengan sedih, dengan iba, sekaligus tak percaya.

Aku hanya tersenyum. “Bagaimana tidak? Dicari kamu seolah tidak ada di mana pun. Lebih-lebih setelah gempa, kamu benar-benar menghilang. Rupanya sudah tinggal di Bali,” jelasku. “Kamu adalah sahabatku, Zuri. Bagaimana pun kamu membenciku atas semua salahku yang bahkan tidak kusadari, kamu tetap sahabatku…”

“Aku tidak membencimu, Attar…” kata dia perlahan, menatapku lekat-lekat. “Hanya…,” ia tampak tak sanggup melanjutkan.

Betapapun kami bicara yang sejujurnya, masa lalu tidak akan bisa diperbaiki. Aku tahu, masa lalu Zuri adalah mereka. Dan aku sudah lama muak mendengar kabar-kabar tentang saudara kembar itu. Mereka telah menyengsarakan Zuri. Tapi, mengapa ini harus menimpanya? Menimpa seorang gadis pintar yang pada masa mudanya begitu aku kagumi? Sekarang, tubuhnya sudah menyusut, pipinya semakin tirus. Tatapannya seringkali kosong bila ia memandang jauh ke jendela. Aku jadi tidak tega meninggalkannya sendiri di sini, tapi aku juga harus bekerja. Besok balapan etape pertama akan dimulai dan aku harus berada di sini.

“Aku ingin menemani kamu seharian di sini," katanya. "Tapi, aku tidak bisa. Kamu tahu, balapan ini dilakukan di banyak tempat. Jadi aku harus pergi”

"Aku tak ingin tinggal di rumah sakit," katanya seperti sebuah permohonan. "Aku tidak ingin menghabiskan terlalu banyak waktu di tempat seperti ini…”

“Iya, aku mengerti, tapi kamu masih lemah," ujarnya, sambil membelai puncak kepalanya.

“Tak bisakah aku ikut? Aku juga ingin melihat balapan sepeda itu," pintanya lagi.

Beberapa saat, aku terdiam. Sebelum akhirnya mengabulkan permohonannya. "Baiklah. Aku akan mengajakmu melihatnya," katanya,”Tapi, berjanjilah, kamu tidak akan bersedih, tidak akan menangis…”

"Aku janji."

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments