๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Bagian III - Attar
Kemana Kau Pergi
Padang, Juli 2007…
“Kamu pernah dengar sebuah desa yang bernama Mandeh?” tanyaku, dan saat itu Zuri tampak tak tertarik. Dengan buku novel Senja di Himalaya-nya, ia merasa apapun yang ia baca pada setiap lembarannya jauh lebih indah dari selembar foto yang baru kuperlihatkan padanya.
“Tempat apa itu?” ia membalasku tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun. Aku tak benar-benar yakin dia mendengarkan sejak tadi. Padahal aku sudah bilang berkali-kali bahwa Desa Mandeh adalah sebuah desa nelayan di Pesisir Selatan yang pemandangannya luar biasa indah dan Zuri harus tahu bahwa gugusan pulau di kawasan Mandeh hampir sama seperti dengan yang ada di Raja Ampat Papua.
Lautnya yang biru dengan warna Laguna. Pasirnya yang putih. Orang asing lebih dulu melihatnya dibandingkan orang-orang setempat yang lebih memilih melaut. Tapi, itulah keunikannya. Indahnya hanya bisa dinikmati sebelum orang-orang luar tahu dan berbondong-bondong datang ke sana lalu menyisakan sampah.
Aku dan teman-teman menjulukinya ‘Sepotong Surga yang Terhempas ke Bumi’. Bayangkan, sebuah surga! Tapi, surga bagi Zuri tetaplah buku-buku novelnya. Aku sediikit kehilangan akal saat dia tetap membaca. Aku harus mendapatkan perhatiannya.
“Attar!” Zuri tiba-tiba menjerit saat aku merampas buku itu dengan sengaja.
“Membaca terus!” kataku, mengangkat buku itu tinggi-tinggi agar ia tidak bisa meraihnya. Aku hanya mendapatkan perhatiannya ketika dia merasa terganggu. Tapi, aku sangat yakin bahwa dia akan melakukan apa saja agar bukunya dikembalikan ketimbang bicara dengan menatap ke mataku dan setelah itu dia akan pergi. Dia sudah cukup lama menghilang hingga bahkan untuk bertemu saja, aku haru muncul tiba-tiba di depan kelas dan mencegatnya atau melakukan hal-hal bodoh lainnya hanya agar dia bicara denganku lagi.
Terlihat menggelikan saat dia berlari sambil menjerit-jerit sepanjang lorong hanya agar aku berhenti. Aku tertawa saat dia memanggil-manggil namaku. “Attar!” serunya.
Aku terus berlari sambil sesekali melihat ke belakang untuk mempermainkannya. Mungkin aku akan berhasil mendapatkan semua perhatiannya, kalau saja aku tidak menabrak seseorang dan seseorang itu bukanlah si Cina. Ya, aku memang tidak sengaja. Aku terkejut dan orang itu juga. Hantaman tubuhku hampir membuat dia jatuh –aku melihatnya sendiri, bahwa sang naga sedikit terhuyung. Lemah sekali!, pikirku. Tapi, dia tampak tak senang.
Kalau dia mengajakku berkelahi hanya karena menabraknya atau karena mempermainkan Zuri, aku siap saat itu juga. Tapi, akan terlihat bodoh bila aku bersikap sebagai seorang yang perkasa pada seorang laki-laki kurus yang tampangnya hidup segan mati tak mau itu, di saat Zuri sangat mencemaskannya. Bayangkan, Zuri mengabaikan buku dalam genggamanku yang sejak tadi ia kejar mati-matian hanya untuk memastikan kalau Liong tidak terluka –padahal hanya sedikit saja.
Aku sangat kesal. Beberapa saat kemudian, aku cemburu…
“Kamu tidak apa-apa, Liong?” Zuri berdiri tepat di hadapanku. Tepat-di-hadapanku. Tapi, dia seolah tidak melihatku.
Liong menggeleng. Dia masih tertegun. Oh ya? Mungkin karena aku menabraknya dengan cukup keras. Tapi, sudahlah. Tiba-tiba menjadi tidak bersemangat, aku menyerahkan buku itu tanpa perlawanan dengan sepenuh jiwa. Aku masih terdiam di sana, menyaksikan mereka bertatapan.
Apa-apaan itu? Aku sama sekali tidak mengerti. Di luar dari kenormalan sepasang lelaki dan perempuan yang bisa saja jatuh cinta. Tapi, masalahnya mereka berbeda. Aku sangat mengenal Zuri dan keluarganya. Lagipula, Zuri gadis yang alim –walaupun dia tidak berkerudung, tapi bahkan kelakuannya jauh lebih baik dari yang berkerudung sekalipun. Dia tidak akan tertarik pada orang non-muslim. Tapi, kenyataannya, akulah yang salah.
Mereka seperti sudah lama saling mengenal. Aku tidak tahu persis entah bagaimana mereka berkenalan. Liong adalah mahasiswa baru. Kabarnya dia juga tidak suka bergaul dengan yang lain. Melihat ia dan Zuri punya kesamaan, tidak heran. Yang mengherankan itu justru saat Zuri tertawa bersamanya karena aku tahu selama ini Zuri sangat jarang tertawa. Dia terlalu pendiam dan tertutup. Hampir tidak pernah aku melihatnya banyak bicara tapi dengan Liong tampak selalu ada hal menarik yang mereka bahas.
Mereka masuk ke perpustakaan, mencari buku-buku fiksi. Kadang terlihat mereka membacanya bergantian lalu saling berkomentar. Lalu Zuri menulis sambil berpikir. Tampak ada sebuah pekerjaan yang serius. Pernah satu kali aku membuntuti ke mana mereka menghilang saat jam istiharat dan menemukan mereka di atap. Mereka duduk di pinggiran atap padahal itu dilarang karena berbahaya. Mereka bisa saja terjatuh.
Tapi, tak berselang lama, akhirnya ada juga yang terjatuh dari atas sana.
Aku sedang berada di kelas saat seseorang berseru, “Ada yang mati terjatuh!”
Seisi kelas berhamburan, berlari ke halaman depan dengan rasa ingin tahu. Namun, saat menemukan sesosok mayat bersimbah darah itu bukan Zuri, aku merasa lega walaupun itu juga tak pantas. Kutoleh ke atas, seseorang terlihat mendongak kemari.
“Zuri?!”
Ketakutan, aku segera berlari menaiki tangga ke lantai empat di mana Liong baru saja terjatuh. Begitu menemukan Zuri di sana, ia sudah terduduk di bawah panasnya matahari. Wajahnya memucat, tubuhnya dingin dan gemetaran serta berkeringat, dan matanya kosong mengalirkan air mata di pipinya. Dia tidak melihatku. Dia bahkan juga tidak mendengarku, bahkan di saat aku berteriak agar dia tidak melihat ke bawah.
Aku menariknya menjauh dari pinggir atap. Tapi, tubuhnya menegang. Dia tidak bicara sepatah kata pun. Hanya ringisan ketakutan saat akhirnya dia menemukanku. “Liong.... aku tidak menghentikannya…” dia berkata dengan gemetar. Lalu menyadari sesuatu dalam genggaman tangannya. Salib giok. “Aku memegang tangannya, Attar…,” kata dia lagi menjelaskan bagaimana ia bisa mendapatkan benda itu.
Aku hanya memeluknya dan ia menangis terisak di dadaku. Aku mengerti, menyaksikan sendiri orang yang bunuh diri adalah trauma terbesar yang pernah Zuri alami. Selama bersahabat dengannya, aku sudah tahu bahwa dia memang penyendiri tapi sejak kematian itu, dia menjadi semakin anti-sosial. Dia bahkan menghindariku dan aku merasa begitu tidak berguna, terlebih ketika sosok lain dari wujud Liong mulai hadir dalam hidupnya. Kurasa sejak itulah aku benar-benar kehilangan kesempatanku untuk menunjukan bahwa aku sangat menyayanginya lebih dari seorang sahabat…
Komentar
0 comments