[Hal. 32] [Chapter 9] I LOVE YOU BUT...

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Valde sudah bekerja sambilan di sini kurang lebih selama enam bulan –dia selalu mengambil shift sore karena pagi sampai siang disibukan oleh jadwal kuliah. Aku nggak menyangka dia benar-benar punya semangat untuk kuliah di jurusan arsitektur dan mengejar impiannya jadi arsitek.

“Kuliah sambil kerja apa nggak capek?” tanyaku.

“Ya, kalau capek kerja aku bisa minta libur sehari. Di sini gajinya masih dibayar harian jadi nggak masalah. Nggak masuk ya nggak dibayar. Nggak apa-apa juga,” jawab dia. “Asal kuliah nggak terganggu.”

“Aku salut sama kamu. Kamu bisa fokus dan serius....”

Aku ingat waktu di coffee shop dia sering jadi employee of the month. Masuk jarang telat. Libur hampir nggak pernah. Dia selalu jadi barista favorit pelanggan karena sopan. Dia juga sering membantuku setiap kali aku melakukan kesalahan saat meracik kopi.

Bertemu dengannya lagi, aku membuang jauh-jauh semua rasa segan karena pernah menyakitinya dulu. Ada sedikit rasa malu di hatiku ketika berhadapan dengannya lagi; aku yang dia kenal sekarang hanyalah seorang pembantu. Meskipun itu nggak benar tapi kalau aku bilang yang sebenarnya mungkin akan menimbulkan kesalahpahaman. Lagipula kejadian yang membuatku terjebak di sini sangat menakutkan –aku nggak mau mengungkitnya lagi. Aku belum siap menceritakannya pada Valde yang seperti biasanya selalu penuh perhatian.

“Kita seringkali nggak punya pilihan selain harus mencintai apa yang kita lakukan buat hidup. Tapi, kadang-kadang itu juga nggak mudah...,”

Aku mengangguk mengerti. Aku juga sering mengalami hal yang buruk.

“Di sekitar kita ada banyak macam orang yang mempengaruhi kita...,” katanya dengan tatapan hampa –dan dia seolah sedang menyuarakan apa yang aku pikirkan saat ini.

“Memangnya apa pengalaman nggak enak kamu selama kerja di sini?”

“Banyak, Bell...,” dia terkekeh. “Kamu tahu ‘kan gimana rasanya berurusan sama orang kaya?”

Ah iya, Skyline adalah apartemen bagi upper-class. Ada banyak manusia sombong seperti Nial yang tinggal di tempat ini.

“Kamu pernah berurusan sama Nial?” tiba-tiba saja aku menanyakannya. “Maksudku... kamu ‘kan tahu dia mungkin orang yang paling galak yang tinggal di gedung ini. Pasti ada sesuatu yang bikin semua orang jadi tahu banget kalau dia memang tukang marah.”

“Nggak sih. Rata-rata aku dengar dari ART-nya aja. Mereka semua nggak pernah lama kerja di sana. Kalau untuk membaur sih... kayaknya nggak pernah. Dia nggak pernah balas kalau disapa. Aku pernah ketemu di lift soalnya.”

Oh, aku sudah bisa membayangkan bagaimana dia terus melangkah dan menatap ke depan seakan-akan nggak ada orang di sekitarnya. Dia juga memperlakukanku begitu.

“Kamu sering dimarahin?” tanya Valde kemudian sambil tertawa. Sepertinya dia bakal meledekku kalau aku cerita betapa nggak enaknya tinggal sama orang sombong itu.

“Tiap hari baget! Pokoknya ada aja yang selalu bikin dia marah. Dia punya banyak aturan,” jawabku dan setiap mengingat bagaimana caranya bicara membuatku kesal dalam hati. “Nggak boleh mandi air hangat tiap hari, nggak boleh ada junkfood atau makanan instan, harus makan sayur, dia bilang aku berisik, cerewet, dia juga ngeluh soal parfumku.”

Valde tertawa. “Kedengaran kayak pacar tukang ngatur aja, Bell...,” ledeknya lagi. “Masa iya boss kamu begitu?”

“Banget, Val!” tukasku.

“Dia masak sayur tiap hari dan aku harus makan!”

“Tunggu, tunggu!” potong Valde. “Nial yang masak?”

Aku mengangguk. “Dia yang masak karena aku nggak bisa masak.”

Valde berhenti tertawa. Rautnya tiba-tiba menjadi serius. “Kamu serius jadi ART-nya tapi nggak bisa masak?”

Sial! Aku baru saja mengatakan sesuatu yang seharusnya dia nggak tahu!

Aku bingung. Aku keceplosan lagi!

“Ng... aku cuma tugas bersih-bersih...,” jawabku; sedikit ragu-ragu.

Padahal yang aku lakukan hampir seharian hanyalah nonton TV dan tidur siang sampai bosan. Tuhan, ocehanku memang selalu membawa musibah bagiku. Valde nggak boleh tahu alasan sebenarnya aku tinggal di apartemen Nial.

“Yah, dia itu... perfeksionis. Dia... dia nggak mau dimasakin orang lain karena takut diracun...,” jelasku setelah Valde sepertinya meragukan jawabanku sebelumnya.

Valde mengangguk-angguk tapi dia nggak lagi tertawa seperti tadi. Ada sesuatu yang mulai tampak mengganggunya.

“Val, aku balik dulu ya...,” kataku.

Aku harus pergi sekarang sebelum ocehanku semakin membeberkan kebohonganku sendiri.

***
Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments