[Hal. 31] [Chapter 9] I LOVE YOU BUT...

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Nial sudah masuk ke ruangan rahasianya dan aku memilih nonton TV. Namun satu jam kemudian aku langsung bosan. Aku butuh cemilan tapi Nial nggak mengizinkanku keluar sendiri. Aku terpaksa menurut karena nggak mau disalahkan gara-gara hari itu aku nggak beli apa pun di supermarket.

Aku pergi ke dapur untuk mengambil minuman –sebotol jus jeruk dengan bulir asli di dalamnya. Aku mengambil satu dan kulihat tempat sampah di dekat wastafel sudah hampir penuh. Itu harus segera dibuang sebelum menyebabkan bau busuk. Apartemen memiliki tempat pembuangan sampah umum di lantai satu. Setiap pagi petugas kebersihan kota akan menjemput sampah-sampah itu dengan truk besar.

Begitu teraturnya tempat ini, pikirku setelah melempar kantong plastik besar itu ke tumpukan sampah yang bau itu.

“Bellisa?” seseorang menegurku dan itu membuat jantungku nyaris copot.

Aku pikir itu Nial yang marah dan membuntutiku karena aku memang nggak diizinkan keluar sendirian.

Tapi bukan. Seorang cowok berseragam biru; setahuku itu seragam karyawan yang bekerja di apartemen.

“Valde?”

Rasa bersalah dua tahun lalu langsung memakanku dengan lahap.

Dia adalah cowok di coffee shop yang suka padaku tapi kutolak dengan menyakitkan.

“Aku nggak nyangka kita bakal ketemu lagi di tempat kayak gini,” katanya dengan senyum lebar seolah begitu menyenangkan bertemu denganku lagi.

Padahal aku benar-benar salah tingkah. Sungguh, aku bingung. Kenapa harus bertemu lagi dengannya?

Kami meninggalkan tempat pembuangan sampah itu untuk sedikit mengobrol sebelum aku kembali ke atas.

Aku pikir aku meninggalkan kesan jelek padanya karena bilang padanya kalau aku... lebih suka dengan orang yang bisa membelikan semua yang aku inginkan. Dia kelihatan lebih tinggi dari terakhir kali aku melihatnya. Sisanya dia tetap sama.

Dulu aku pernah bilang ke Ruby kalau Valde lumayan ganteng karena punya lesung pipi tapi bagi Ruby, tampang sama sekali nggak penting. Tanpa uang semua hal bisa menjadi jelek. Dia juga nggak peduli saat aku bilang Valde itu benar-benar baik. Dia pernah melindungiku dari supervisor-ku yang cabul dan berusaha menyentuhku –aku memang sasaran empuk untuk pelecehan seksual dan untungnya aku selalu selamat.

“Kamu sudah lama tinggal di sini?” tanya dia; pasti dia ingin tahu sekali kenapa aku bisa tinggal di tempat seperti ini –gedung apartemen yang hanya dihuni oleh orang kaya.

Aku menggeleng. Aku bingung menjelaskannya.

“Kamu... berhasil mencapai tujuan kamu ya?” dia bertanya lagi; ada kecewa dalam nada suaranya yang rendah.

Pertanyaannya begitu menjurus.

Memang, kami pernah dekat, tapi itu sebelum aku tahu kalau dia suka padaku. Bermaksud jujur pada kakakku bahwa aku juga ingin pacaran, tapi dia malah melarangnya. Dia nggak merestuinya.

“Hm... sepertinya aku harus balik kerja...,” kata dia dan aku bahkan belum mengatakan sepatah kata padanya.

Valde kelihatan nggak nyaman. Dia pasti salah paham; mengira aku mungkin sudah menikah dengan seseorang yang bisa membuatku tinggal di tempat seperti ini.

“Aku... kerja di lantai enam belas!” kataku dengan cepat sebelum Valde pergi.

Dia harus tahu kalau aku nggak serendah itu. Aku nggak ingin dia berpikiran kalau aku matrealistis.

Valde hanya menatapku. Dia tampaknya nggak langsung mempercayaiku.

“Baru seminggu ini,” jelasku.

Valde tersenyum lagi. “Oke,” katanya. “Tapi, aku tetap harus balik kerja.”

“Aku juga,” kataku. “Bossku orangnya pemarah. Dia nggak suka aku keluar lama-lama.”

“Boss kamu itu... Nial ya?” tanya dia kemudian.

“Ka... kamu tahu dari mana?”

“Satu-satunya orang yang paling galak di lantai enam belas cuma dia,” jawab Valde sedikit terkekeh. “Aku pernah dengar dia pecat ART-nya karena sering keluar diam-diam tanpa izin.”

Aku mengangguk. Kebohonganku ternyata bisa masuk akal.

“Kamu segera balik sana. Nanti nasib kamu juga sama.”

Padahal aku sangat benci melakukannya.

Tapi, apa boleh buat. Aku nggak mau Valde menjauhiku.

Saat ini, aku hanya butuh seorang teman.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments