[Hal. 29] [Chapter 9] I LOVE YOU BUT...

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Pantas aku merasa ada yang memanggil-manggil namaku dari luar. Rupanya memang dia. Lantai pantry sudah menjadi lautan busa dan hampir merembes ke dapur.

Nial menelpon teknisi yang langsung datang satu jam kemudian. Dan sampai saat sebelum mereka datang untuk memperbaikinya, dia sama sekali nggak mau bicara denganku.

“Ini mesin cuci jenis High Efficiency. Sabun yang cocok adalah yang nggak banyak busa. Biasanya itu jenis sabun cair,” jelas teknisi itu pada Nial yang mengangguk-angguk sementara aku sembunyi di balik pintu pantry. “Apa istri bapak pakai detergent bubuk?”

Nial menoleh padaku dengan kesal –kurasa karena orang itu menyebutku istrinya dan dia tampaknya nggak terima. Mungkin karena aku memang kelewat bodoh dan kesalahan yang aku lakukan sangat konyol.

“Tapi, nggak ada masalah dengan mesinnya ‘kan?”

“Saya sudah cek dan nggak ada masalah dengan mesin. Hanya perlu ganti jenis sabunnya, Pak.”

Nial mengangguk mengerti.

Lalu teknisi itu pergi dan aku masih berdiri di pintu pantry dengan ketakutan.

“Maaf, tadi aku nggak dengar kamu manggil-manggil...,” ucapku; tetap merasa nggak enak padanya walaupun mesin cucinya nggak rusak. “Soalnya aku lagi berendam air hangat di bak mandi.”

“Kamu berendam di bak mandi satu jam tiap hari pakai air hangat?” tanya dia; sepertinya yang menjadi sumber kekesalannya bukan lagi mesin cuci itu.

Aku mengangguk. “Tadi kepalaku beneran di dalam air. Makanya aku sama sekali nggak dengar....”

“Kamu sinting?” celetuk dia. “Kamu mau mati tenggelam?”

Aku menggeleng dengan bingung..”

“Suhu panas bisa bikin pusing. Kamu bisa pingsan di bak mandi karena suhu panas bikin tekanan darah bisa berubah. Salah-salah kamu juga bisa tergelincir dan jatuh!” katanya lagi, mulai lagi marah-marahnya.

“Maaf, aku sama sekali nggak tahu...,” ucapku.

Lagi, dia menghela nafas dan meninggalkanku di pantry yang sudah kami bersihkan sesaat sebelum teknisinya datang. Aku mengikutinya ke dapur.

Dia lagi-lagi memulai pekerjaan yang paling sering dilakukannya –memasak. Rasanya aku ingin bilang dia lebih cocok jadi Bapak Rumah Tangga setelah menikah. Aku mulai membayangkan bagaimana rasanya kalau jadi istrinya; tiap hari makan enak dan memandangi dia memakai celemek dan mengaduk di wajan dengan gagah sekali.

Ya Tuhan, kepalaku rasanya mau meledak!

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments