๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Di alam nyata, aku tahu kalau dia nggak akan jadi milikku. Tapi, kenapa juga dia harus menghancurkan khayalanku? Benar-benar membikin frustasi saja!
“Ih! Aku cuma lapar...,” gerutuku, sedikit malu. Aku ketahuan.
Tapi, kekesalanku segera sirna dengan makanan yang sudah tersaji di atas meja.
Jenisnya nggak banyak tapi enak. Sayangnya dia suka sekali makanan dengan banyak sayuran hingga aku harus memilih menu yang ada daging atau ikannya saja.
“Kenapa sayurnya nggak dimakan?” tanya dia tiba-tiba.
“Aku nggak suka sayur,” jawabku. Kurasa dia sudah tahu itu sejak awal.
Kenapa baru protes sekarang? Aku heran kenapa cara makanku juga jadi masalah untuknya.
“Kamu pikir aku masak cuma buat disisihkan di piring?” celetuknya.
Kapan sih dia nggak marah? Apa yang aku lakukan selalu saja salah!
“Kamu kurus kayak kurang gizi. Masih aja nggak mau sayur,” dia menggerutu.
Dia benar-benar membuatku gila.
Tanpa membantahnya, aku pun memakan sayuran itu. Mengumpulkannya di dalam mulutku meskipun dengan perasaan tersiksa. Bagiku sayuran rasanya pahit! Nggak seperti telur, daging, atau ikan, atau kentang. Aku benci sayur! Aku benci dia yang memaksaku memakannya!
Malamnya aku menangis di kamar sebelum tidur.
Sudah lama rasanya aku nggak menangis sesenggukan begini.
Aku merindukan kebebesanku!
***
Aku mengikuti keinginannya lagi –mandi air dingin. Mungkin dia benar soal mandi air hangat dan sesuatu yang berhubungan dengan perubahan tekanan darah karena hawa panas –dia ‘kan sarjana kedokteran. Lagipula kemarin aku memang sedikit merasa pusing begitu keluar dari air.
Dan seperti biasanya, aku menemukan dia di dapur, sedang membuat sarapan.
Aku duduk di meja makan, menunggu dia selesai. Lalu kami makan dalam kebisuan dan setelah selesai, aku kembali ke kamar dan dia entah sibuk melakukan apa. Namun aku sering melihat dia masuk ke satu ruangan di sebelah ruang TV yang pintunya selalu ditutup. Dia selalu menunjukan sikap kalau aku nggak boleh masuk atau bahkan mendekat dalam radius lima meter.
Dia benar-benar memperlakukanku seperti binatang peliharaan, bukan manusia.
“Soal mesin cuci itu...,” dia bersuara –tiba-tiba. Biasanya dia nggak akan bicara kalau aku nggak bertanya sesuatu padanya.
Saat ini aku hanya sedang malas mengajaknya bicara. Pasti ujung-ujungnya dia marah. Lagipula sekali aku bicara aku nggak akan bisa menutup mulutku dan itu membuatnya sebal. Aku nggak suka dia sebal padaku karena itu hanya akan menunjukan betapa terpaksanya dia harus menampungku di sini. Sementara dia... punya kehidupan. Dia juga pasti merindukan pacarnya yang nggak bisa dia izinkan kemari karena pasti akan menimbulkan masalah baru.
Semua yang ada di pikiranku membuatku gila. Aku hanya menjadi pelampiasan kekesalannya karena kejadian malam itu membuatnya harus berurusan dengan orang yang nggak rapi seperti aku.
“Aku nggak tahu tentang High Effiency dan hal-hal semacam itu,” jelasnya. “Dan yang aku tahu sabun cuci itu hanya deterjen.”
Apa dia sedang mengakui kesalahannya?
“Kamu nggak dengerin penjelasan orang di toko soal mesinnya?”
Ternyata dia juga bisa mengaku salah. Cukup salut.
Dia menggeleng. “Aku hanya tanya mesin yang bisa langsung mengeringkan dan mereka kasih aku rekomendasi jenis yang itu,” jelasnya, sedikit ada penyesalan di wajahnya karena membuatku benar-benar merasa bodoh dan bersalah seakan baru saja menghilangkan uang senilai empat puluh juta –harga mesin cuci itu.
“Tapi, seharusnya kamu juga nggak menghilang waktu aku sedang belanja,” katanya dan dia benar-benar membuatku ingin mengubur kepalaku di tanah.
Aku nggak menjawabnya. Hanya menambah beban pikiran saja.
Berhubung dia membuatkan wafle madu, ya sudah. Makanan manis selalu yang terbaik.
Aku nggak terlalu memusingkannya. Tinggal menunggu apa lagi yang akan menjadi masalah sampai aku tahu semuanya dan setelah itu aku lebih baik mengisolasi diriku darinya.
***
Setelah selesai makan aku mengumpulkan piring dan gelas dari atas meja. Aku berniat untuk mencucinya langsung.
“Lukanya udah kering,” kataku saat Nial mendekat hanya untuk melarangku mengerjakannya. Aku memperlihatkan jariku yang terluka kepadanya agar dia nggak menjadikan itu masalah.
Dia nggak menanggapiku dengan menaruh piring kotor yang baru dipakainya di tumpukanku. Sepertinya dia sudah mengizinkanku membantunya mengurusi apartemen mewahnya yang membosankan.
“Kamu pakai parfumnya Wanda?” tanya dia sambil mengendus dengan muka masam.
Baiklah, kita mulai lagi.
“Kenapa?”
“Hidungku sakit...,” keluhnya segera menjauh dariku.
Apa sih yang bisa disukai orang ini?
“Aku selalu nggak suka setiap dia pakai parfum itu...,” katanya lagi benar-benar menjaga jarak. “Wanginya bikin hidung sakit. Ya Tuhan, jangan dekat-dekat.”
Aku juga nggak mau dekat-dekat kamu!
Laki-laki perfeksionis sialan!
***
Komentar
0 comments