๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Nial?
Tapi, itu nggak mungkin. Dia nggak pernah memanggil namaku –karena dia bahkan nggak pernah memulai percakapan denganku. Kalaupun dia perlu untuk memberitahuku sesuatu dia menyebutku dengan ‘hei’.
Setelah selesai mandi aku langsung teringat pada cucianku di pantry. Itu terlupa begitu saja gara-gara pesan ‘Aku kangen kamu’ yang kubaca di handphone-nya.
Aku benci harus merasa cemburu. Dan harusnya aku nggak cemburu. Aku nggak berhak untuk cemburu. Cemburu nggak akan mengubah apa pun. Aku bukan siapa-siapanya.
Aku rasa aku akan frustasi tinggal lebih lama di sini!
Beberapa saat lalu terpikir olehku untuk melarikan diri diam-diam. Bagaimana kalau pacarnya tiba-tiba datang ke sini dan menemukanku? Apa Nial akan bilang kalau aku cuma pembantu karena kebetulan pembantu yang terakhir berhenti?
Apa setelah itu aku harus berpura-pura jadi pembantu karena nggak ingin masalah semakin berlarut-larut? Membayangkannya saja membuatku depresi. Sungguh. Aku sangat mudah ketakutan.
Ya, aku ingat rasanya cemburu yang benar-benar menyakitkan sampai rasanya aku ingin menghilang saja. Itu akan sama rasanya saat Ruby memintaku untuk melupakan Alex karena aku nggak mungkin bersamanya. Mereka saling mencintai dan Ruby memintaku untuk mengerti.
“Kalau kamu selalu berpikir untuk bisa melakukan sesuatu buat aku, inilah saatnya. Jangan pernah bilang apa pun ke Alex. Tolong, Bellisa,” katanya; menagih kembali semua pengorbanan yang telah dia lakukan untukku. “Lupakan Alex. Demi aku.”
Aku berusaha untuk nggak menangis. Hatiku benar-benar sakit tapi kakakku malah mengatakan hal yang lebih menyakitkan lagi. “Kakak ngomong apa sih?” balasku.
Ruby mengatakan sesuatu yang membuatku sangat terpukul.
“Tanpa perlu bilang begitu aku juga ngerti...,” ucapku mengungkapkan betapa kecewanya aku dengan pikiran buruknya tentang diriku.
Ruby membuatnya seolah-olah aku orang yang sama egois dengan dirinya. Seolah-olah aku akan merebut Alex darinya. Padahal, aku sama sekali nggak pernah berniat untuk mengganggu. Aku memang terluka tapi itu nggak membuatku gelap mata dan ingin menyakiti kakakku sendiri.
Namun, sepertinya Ruby-lah yang gelap mata.
Mamaku selalu mengingatkanku soal ini: kita akan selalu bertemu dengan orang yang egois –bahkan itu orang itu bisa sangat dekat. Kalau tersakiti olehnya, jangan pernah menjadi demikian juga. Nggak akan ada tempat yang layak untuk orang yang egois. Suatu saat dia akan tersisih sendiri karena keegoisannya.
Pada akhirnya pun, aku memutuskan untuk pergi menjauh. Menunjukan padanya bahwa aku nggak seegois dirinya. Meskipun itu sebuah tindakan yang keras kepala. Aku akan hidup dengan menyedihkan di luar sana tanpanya. Tapi, setelah dijalani, ternyata nggak begitu buruk. Aku kembali pada ibu yang pernah kami sakiti perasaannya.
Sekarang aku di sini. Di depan kaca rias dan baru saja mengenakan baju yang bagus. Dengan sedikit semprotan parfum Anna Sui Fantasia Mermaid-nya Wanda, aku merasa bahagia. Aku menghirupnya dengan khidmat –mensyukuri akhirnya aku bisa punya parfum semahal ini walaupun pemberian orang lain.
Apa pun yang menyenangkan sekarang selayaknya memang harus disyukuri, karena begitu keluar dari kamar ini dan berhadapan dengan Nial, aku akan kembali merasa sial –karena jatuh cinta padanya.
Namun, aku akan mengambil langkah mundur perlahan-lahan. Suatu saat aku akan meninggalkan tempat ini. Dan aku akan mengenangnya sama seperti yang kulakukan dengan Alex. Mungkin suatu saat nanti aku akan jatuh cinta lagi....
Semoga saja.
Dengan keceriaan berkat parfum Wanda, aku segera menuju pantry untuk mengambil cucian yang pasti sudah selesai. Tapi yang kutemukan di tempat itu adalah busa melimpah di seluruh lantai yang berasal dari mesin cuci. Nial berada di sana dan menatapku dengan wajah merah padam.
Aku benar-benar dalam masalah.
***
Komentar
0 comments