๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Dia terus memasang tampang masam setelah kami naik ke mobil dan siap-siap untuk pulang.
“Kamu lama...,” kataku membela diri. “Aku juga nyariin kamu di tempat bahan pokok tapi nggak ketemu.”
Bukankah dia cuma mau belanja bahan makanan? Kenapa dia malah ke mana-mana?
Ah sudahlah, orang kaya mah bebas!
“Aku pergi ke toko elektronik. Mau lihat mesin cuci seperti yang ada di laundry itu.”
“Kamu mau beli mesin cuci?”
Entah mengapa aku jadi sedikit bersemangat.
Nial mengangguk pelan tanpa menatapku. Dia sudah mulai serius menyetir.
“Mesin cuci yang langsung kering tanpa dijemur?”
“Harusnya. Kamu pikir di apartemen bisa pasang jemuran kain? Rumahku bukan kos-kosan,” celetuknya, ketus. “Itu alasan kenapa punya mesin cuci juga percuma.”
Tadi dia bilang ‘aku sibuk’.
Aku sedikit sebal. “Masa iya kamu nggak tahu kalau sekarang udah ada mesin cuci yang bisa langsung kering...,” gumamku.
“Mana mungkin aku tahu hal-hal kayak gitu? Memangnya aku perempuan rumah tangga?!” Nial bertambah jengkel.
“Kenapa kamu harus marah?” aku bergumam lagi, merengut.
Nial menghela nafas; seperti menahan kesal. “Besok siang barangnya diantar ke apartemen,” dia berkata dengan nada yang lebih rendah.
Hah?
“Kamu udah beli?” tanyaku.
“Terus ngapain aku ke sana kalau aku nggak beli?”
“Tadi kamu bilang mau lihat-lihat aja...”
Nial benar-benar marah sekarang. Dia memukul setir dan kelihatan frustasi bicara denganku.
Aku nggak mengerti kenapa dia begitu mudah marah.
“Yang aku tahu kan mesin kayak gitu harganya mahal...,” kataku, menunjukan sedikit penyesalan karena membuatnya kesal. Sebenarnya aku senang, dia membeli mesin cuci itu agar aku bisa mencuci baju di apartemen tanpa repot.
“Kamu benar-benar ya...,”
“Ya, maaf...” ucapku. ”Aku memang bodoh... nggak langsung mengerti kamu bilang apa....”
Lagi-lagi ia terdengar menghembuskan nafas lelah. “Aku juga sudah pesan mesin setrikanya,” dia memberitahuku.
Dia benar-benar nggak bisa ditebak.
***
Komentar
0 comments