[Hal. 22] [Chapter 8] I LOVE YOU BUT...

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Nial sama sekali nggak kelihatan ketika aku keluar kamar untuk sedikit beradaptasi dengan apartemennya. Mungkin sebuah tur kecil untuk melihat ruangan lain selain dari kamar Nial, Wanda, dapur, dan ruang tengah yang luas tempat aku berdiri sambil memperhatikan sekitarku dengan bingung.

“Aku mau keluar sebentar,” suara Nial sedikit mengagetkanku karena kupikir dia mungkin tidur siang atau apalah.

Bukannya dia juga terluka?

Aku menemukannya baru saja keluar dari kamarnya yang pintunya berhadapan dengan ruang TV. Dia mengenakan celana jeans dan kaos hitam polos.

“Kamu mau ke mana?”

“Ada urusan sebentar,” dia menjawabnya dengan acuh.

“Jadi aku bakal tinggal sendiri?”

Dia menoleh padaku sambil mendengus. “Kamu takut?” tanya dia; mungkin menyadari kalau aku langsung panik.

Nial menarik nafas panjang.

***

“Kamu ke laundry tiap hari?” aku menanyai Nial setelah hampir tiga puluh menit duduk di sebelahnya kami sama sekali nggak punya percakapan.

Rasanya keputusan untuk ikut dia mengantar pakaian kotor ke laundry jadi serba salah. Sekarang aku harus terjebak dalam keheningan yang canggung berdua saja dengannya di mobil.

Nial hanya mengangguk dengan pandangan lurus ke depan; memperhatikan jalan dan tangan di atas kemudi. Dia seratus kali lebih keren ketika menyetir dan Ya Tuhan, aku hampir gila karena wangi parfumnya.

“Pantas di apartemen kamu nggak punya mesin cuci...,” aku bergumam; aku tahu itu nggak penting. Tapi, apa lagi yang menarik untuk dibahas?

Apa yang kutahu tentang dia masih nol. Aku baru mengenalnya dua hari lalu. Wanda hanya bilang kalau dia tukang marah, otoriter, dan perfeksionis.

“Aku sibuk,” jawabnya singkat.

“Kamu kerja?” aku bertanya lagi; mulai memahami pola ini: ia selalu menjawab setiap kutanya dan sepertinya itulah cara agar nggak terjebak dalam kebisuan.

“Ya, sejenis itulah,” balasnya.

“Hari ini kamu nggak masuk kerja, boss kamu nggak marah?”

“Aku nggak punya boss.”

“Kamu boss-nya?”

Nial nggak menjawab, dia juga nggak menoleh sedikitpun; sepertinya dia nggak suka topik soal pekerjaannya.

Lalu hening lagi sampai tiba di laundry langganan dan berlanjut bahkan setelah dari tempat itu. Kami dalam perjalanan kembali ke apartemennya yang menjemukan. Sebaiknya dia mengizinkanku nonton TV karena seharian ini aku nggak melakukan apa-apa selain tiduran di kamar sambil memikirkan dia sedang apa.

Aku seringkali berharap kami bisa mengobrol santai –yah, kurang lebih seperti yang aku lakukan dengan Wanda. Kami mengobrol apa saja.

“Besok kamu ke sana lagi?” tanyaku; benar-benar nggak punya ide untuk memulai.

“Nggak,” jawabnya datar. “Kenapa?”

“Nggak ada sih...,” balasku, kebingungan lagi.

“Kamu punya baju kotor?”

“Bajunya Wanda. Tapi nanti aku bakal cuci sendiri begitu pulang ke rumah,”

“Harusnya tadi kamu juga bawa baju kotor itu biar sekalian.”

“Ah, nggak usah! Laundry di tempat langganan kamu pasti mahal. Mereka pakai alat yang canggih banget. Mesin cuci langsung kering tanpa dijemur dan mesin setrika yang langsung bisa melipat baju. Ajaib!”

“Nggak tuh.”

Aku lupa kalau uang ratusan ribu untuk sekali cuci dan dibayar dimuka itu jumlahnya nggak seberapa untuk orang seperti dirinya. Aku nggak mengerti dengan diriku yang seringkali berbuat dan berkata bodoh akhir-akhir ini.

“Baju Wanda bisa rusak kalau kamu cuci sendiri,” katanya, dan itu terdengar menyindir.

Siapa suruh dia nggak punya mesin cuci di rumahnya! Apartemen seluas itu, dia nggak punya barang-barang rumah tangga yang lengkap. Dia perhitungan sekali atau bagaimana sih?

“Harusnya baju Wanda kamu laundry aja. Toh juga bukan kamu yang bayar,”

Orang yang pelit bicara sekalinya berkomentar benar-benar menyebalkan!

Akan lebih baik aku menutup mulutku saja daripada mengajaknya bicara.

Ini masih sore, jalanan padat. Aku bisa mendengar klakson mobil bersahutan menunggu antrian di lampu merah. Nial mengambil belokan yang aku tahu sekali bukan jalan menuju kembali ke apartemennya.

“Kita mau ke mana?” tanyaku, bertanya lagi.

“Bahan makanan di kulkas sudah banyak yang habis,” jawabnya.

Apa yang ada di pikirannya itu hanya memasak saja?

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments