[Hal. 26] [Chapter 8] I LOVE YOU BUT...

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Mesin cuci pesanan Nial datang jam dua siang tadi. Teknisi toko sudah langsung memasangnya di pantry –tempat khusus peralatan bersih-bersih yang berada di satu ruangan lainnya di sebelah dapur.

Mesin cuci otomatis kapasitas tujuh kilogram dengan pengisian dari depan. Sedangkan mesin setrikanya belum datang; katanya dipesan dari luar negeri karena bukan produksi lokal. Pengirimannya butuh waktu paling cepat satu minggu sejak pemesanan. Yah, begitu mesin setrikanya sudah datang, aku sudah nggak tinggal di sini lagi. Tapi paling nggak sekarang aku bisa mencuci semua baju Wanda yang sudah kupakai dan mengembalikannya seperti semula saat dia kembali nanti.

“Wanda mau bicara sama kamu,” Nial datang dan langsung menyodorkan handphone-nya padaku ketika aku duduk sambil menunggu cucianku berputar di dalam mesin.

Akhirnya ada kabar juga dari Wanda dan itu tepat saat aku sedang memikirkannya.

“Hai, Bellisa, apa kabar?” sapa dia begitu aku menyapanya dengan ‘halo’ yang gembira.

“Aku baik, Kak. Kak Wanda gimana?” tanyaku menyaksikan Nial langsung pergi.

“Jauh lebih baik. Aku sudah di Bali sekarang. Di tempat Devon,” jawabnya.

“Syukur deh. Aku selalu kepikiran dan sering nanyain kakak ke Nial, tapi dia bilang kalau Kakak bakal balik ke sini lagi.”

“Aku nggak bisa ke sana untuk sementara, Bell.”

“Kenapa?”

“Aku harus ninggalin Jakarta dulu. Mungkin sebulan sampai tiga bulan.”

“Terus barang-barang Kakak gimana? Oh ya, aku juga mau ngasih tahu kalau aku pakai baju kakak selama di sini.”

“Nggak apa-apa, Bell. Kamu boleh ambil kok. Toh, juga itu hanya sebagian kecil dari yang aku punya.”

“Hah? Beneran, Kak?”

“Iya, aku nggak masalah. Malahan aku segan ngasihnya baju-baju bekas aku.”

“Baju kakak bagus-bagus kok. Walaupun banyak juga yang nggak cocok di badanku karena aku kurus....”

“Jangan kecil hati gitu. Yang penting harus tetap percaya diri.”

Make up sama parfumnya juga, Kak?”

Ya, ya, aku memang serakah. Habisnya barang-barang Wanda semuanya mahal. Siapa yang nggak akan kepincut?

 “Iya. Itu sekarang punya kamu.”

“Makasih, Kak....”

“Bellisa, maaf ya... aku bikin kamu jadi ikut-ikutan kena masalah,” kata Wanda kemudian; nadanya pelan sekali. Aku tahu dia juga merasa bersalah. “Aku dengar dari Nial kalau kamu hampir aja jadi sasaran mereka....”

Aku diam. Ya, kejadian itu memang menakutkan. Kadang aku masih paranoid tentang suara-suara di dalam rumah tengah malam.

“Tapi... Nial nggak jahatin kamu ‘kan?”

Dia baik –sudah cukup baik untuk orang judes dan ketus seperti dirinya. Dia memasak makanan yang enak setiap hari. Dia juga langsung membelikan mesin cuci agar aku bisa pakai baju bersih. Dia mengizinkan aku nonton TV seharian.

Yah, walaupun dia bukan teman bicara yang asyik seperti Wanda atau Lulu. Tapi, dia nggak pernah menggangguku, malah sebaliknya. Dia bilang aku berisik dan terlalu banyak tanya.

“Dia menelpon ke tempat kerjaku dan bilang kalau aku berhenti,” jawabku.

“Dia sampai sejauh itu?”

Aku mengangguk-angguk. “Aku masih bingung, Kak. Kalau sudah aman dan aku pergi dari sini, aku harus nyari kerjaan baru lagi.”

Wanda nggak menjawabku.

“Aku nggak mungkin tinggal di sini selamanya,” sambungku.

“Semuanya bakal baik-baik aja. Percaya deh. Tapi, kamu tinggal di sana dulu.”

“Tapi, Kak, aku....”

“Kejadian malam itu juga menakutkan buat dia sendiri. Kamu hampir dicelakai orang gara-gara kami dan kalau itu sampai terjadi, kami berdua juga bakal ikut frustasi. Nial dan Braska pernah berkelahi sebelumnya. Braska kalah karena itu dia bawa teman-temannya. Awalnya dia sama sekali nggak merasa takut tapi melihat kamu juga ikut kena getahnya, dia kecolongan dan panik. Sangat panik, Bellisa.”

Seharusnya aku tetap diam di kamar, sesalku dalam hati.

“Aku tahu itu juga salahku karena minta kamu buat nemenin aku....’”

Ya, aku juga nggak menyangka. Siapa yang tahu aku bakal kembali lagi ke sini. Lalu semua ini terjadi.

“Aku minta maaf ya....”

“Nggak apa-apa, Kak. Toh itu sudah terjadi... yang penting aku nggak kenapa-napa... dan Kakak juga udah aman di sana....”

“Iya. Aku juga nggak akan balik ke Braska lagi. Apa yang terjadi ke kamu, bikin aku sadar sesadar-sadarnya kalau seharusnya aku ninggalin dia sejak dia mulai kasar. Selama ini aku selalu takut diancam tapi sekarang aku nggak peduli lagi....”

Suaranya bergetar hebat. Aku tahu Wanda menahan tangis saat dia berkata ‘dia akan baik-baik saja’. Nggak ada orang yang akan baik-baik saja saat berpisah dengan orang yang dicintai –walaupun dia sering kali terluka karenanya. Terlepas dari semua itu, aku percaya mereka memulai hubungan itu karena cinta.

Aku bisa memahami Wanda meski aku hanya tahu sekilas tentangnya. Setiap sebelum tidur Mama selalu cerita kalau banyak sekali hal-hal menyenangkan yang pernah dia lalui bersama ayahku yang abusif. Mereka meninggalkan keluarga masing-masing demi cinta mereka. Hanya saja, kadang orang-orang bisa berubah karena dunia ini selalu punya cara untuk menempatkan kita di tempat yang paling nggak kita inginkan –itulah kehidupan. Keras dan sama sekali nggak bisa diprediksi.

Mama bisa saja pergi seperti yang seharusnya dia lakukan. Tapi, dia pernah bilang, sekali kamu mengikat hatimu dengan seseorang karena cinta, kamu nggak akan pernah bisa benar-benar pergi darinya sekali pun pikiranmu menginginkannya. Karena cinta bukan berasal dari pikiran tapi perasaan. Ibuku nggak meninggalkan ayahku, karena hatinya terlanjur terikat –lepas dari cinta bukan perkara mudah. Ayahku juga nggak pernah membiarkannya pergi. Kami pernah melarikan diri darinya, tapi dia berusaha untuk terus menemukan kami.

“Kamu tahu, Bell, Nial marah besar ke aku di telpon. Ini gara-gara aku maksa kamu buat menginap.”

“Aku ngerti, Kak. Kakak nggak usah merasa bersalah terus. Aku nggak akan bilang Mama kok....”ujarku, berusaha untuk membuatnya tenang dengan itu.

Ya, dia juga sedih saat ini atas apa yang menimpanya. Aku nggak boleh menambah beban –aku sudah bisa membayangkan bagaimana kemarahan Nial terhadapnya.

“Waktu itu siapa yang tahu Braska bakal datang? Aku sembunyi di sini karena dia juga nggak mau cari masalah sama Nial. Lagian saat itu aku ngerasa bosan. Aku nggak punya teman buat ngobrol. Sejak sama Braska, aku nggak temenan lagi sama siapa-siapa karena dia cemburuan...,” jawabnya dan dia juga menarik nafas –ketahuan kalau dia memang menangis.

Ternyata masalahnya lebih berat dari yang aku kira –sebuah kesalahpahaman yang benar-benar merugikan!

“Nial pasti melindungi kamu. “Kamu aman selama ada Nial.”

Aman dari orang-orang jahat tapi nggak aman dari dia sendiri. Entah. Aku mempunyai ketakutan terhadap sesuatu yang nggak aku ketahui tentang Nial. Atau... itu hanya perasaanku saja. Orang itu... melakukan hal-hal nggak terduga yang terkadang bikin aku merasa istimewa tapi di saat yang sama dia juga bersikap seolah aku ini merepotkan.

“Aku pernah bilang ‘kan kalau Nial orang yang insecure. Banyak hal di sekelilingnya yang bikin dia nggak nyaman. Dia punya segalanya. Dia bisa melakukan apa aja untuk mengatasinya itu meski pun kadang-kadang caranya agak egois. Tapi, kamu harus percaya kalau dia bisa menyelesaikan masalah. Dia merasa bertanggungjawab karena ini harus terjadi ke kamu juga.”

Aku diam. Mendengarkan Wanda dengan sangat hati-hati. Paling nggak penjelasannya sedikit menenangkanku.

“Mereka masih mengintai kesempatan untuk membalas. Aku kenal Braska. Masalah kayak gini nggak sekali dua kali terjadi, Bell.”

“Kenapa nggak lapor polisi aja? Kalau mereka ditangkap, kita semua aman ‘kan?”

“Itu nggak akan mempan buat Braska. Dia sudah sering lolos dari masalah karena uang. Nial nggak melaporkannya karena nggak mau ada ribut-ribut karena orang tua mereka saling kenal. Lagian juga kalau keluarganya tahu soal ini, Nial sendiri juga bakal kena masalah....”

“Iya, Kak, aku ngerti...,”

Sepertinya aku memang nggak punya pilihan lain.

“Kamu bisa telepon aku kalau ada masalah. Aku tahu, Nial bukan orang yang mudah. Dia bakal bikin kamu serba salah. Tapi, dia baik. Dia laki-laki yang baik. Kalau kamu nggak percaya Nial, kamu bisa percaya sama aku.”

Aku tahu. Semoga saja aku nggak keburu depresi karena bosan.

Kami mengakhiri obrolan itu. Dan begitu teleponnya di tutup, aku langsung mendengar suara pesan masuk. Aku nggak membukanya tapi aku bisa melihat jendela kecil pesan itu menampilkan baris pertamanya.

Dari: Nadine.

Isinya: Aku kangen kamu.

Bagiku itu cukup menakjubkan –mengetahui Nial memang punya pacar.

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments