[Hal. 25] [Chapter 8] I LOVE YOU BUT...

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Lukanya sudah menutup,” katanya. “Nggak perlu diperban lagi. Sebentar lagi juga kering.”

Aku hanya mengagguk. Aku juga merasa lukanya membaik dan hanya sedikit gatal di pinggiran. Dia bilang itu pertanda akan segera sembuh.

“Kamu gimana? Kamu nggak pernah pergi ke dokter?” aku bertanya ingatan  detik-detik dia nggak berdaya di lantai setelah dipukuli berandal itu masih segar di kepalaku. Menyisakan ketakutan tersendiri setiap kuingat kepalanya terluka dan darah menetes cukup banyak dari sana.

“Aku pernah dihajar lebih parah,” katanya saat mengemasi peralatan P3K-nya.

“Kamu... mengobati diri sendiri?”

Nial mengangguk. “Aku punya banyak obat.”

“Kamu nggak takut salah obat? Antibiotik harus resep dokter ‘kan? Gimana kalau kamu overdosis?”

“Nggak akan.”

Aku benar-benar nggak bisa menutup mulutku walau aku tahu dia bakal menjawabnya dengan datar atau malah ketus di saat aku menginginkan dia untuk lebih santai dan terbuka. Aku mungkin akan terbiasa tapi aku memang nggak bisa diam. Ada saja yang membuatku ingin tahu.

“Aku pernah dengar temanku di tempat kerja istrinya keguguran karena beli obat asam lambung sendiri di apotik. Kamu nggak bisa sembarangan minum obat. Itu bahaya.”

Nial nggak menjawabku. Dia sepertinya nggak peduli dengan apa yang aku katakan. Dia membawa kotak P3K nya dan menyimpannya di salah satu kabinet yang ada di dapur.

“Kamu pasti kena pukul di kepala ‘kan? Kamu nggak takut geger otak?”

“Geger otak?” dia menjawabku dengan kerutan di dahinya.

“Ada lho orang yang mendadak mati karena geger otak yang di awal nggak kelihatan,”

“Siapa lagi itu?”

“Anak di dekat tempat tinggalku. Sebelumnya dia kecelakaan motor tapi kayaknya nggak kenapa-napa dan bahkan dia sempat nolongin temannya yang terluka parah. Tahu-tahu, dia meninggal seminggu kemudian. Kata dokter, ternyata dia geger otak akibat kecelakaan itu.”

“Aku nggak geger otak,” jawab Nial; dingin. Dia berpindah ke sofa malasnya dan menyalakan TV.

Sudah nggak mau melapor polisi, dia juga nggak pergi ke rumah sakit. Kenapa sih dia selalu nggak melakukan apa yang seharusnya dia lakukan? Apa dia memang suka menyepelekan segala sesuatu?

“Kamu harus ke rumah sakit dulu untuk memastikannya,” kataku, menghampirinya. “Jangan mengambil resiko.”

“Aku nggak geger otak. Aku justru bisa gila karena kamu nggak berhenti ngomong,” celetuknya.

“Aku cuma cemas. Aku tinggal di sini juga karena kamu cemas kalau preman itu sampai mencariku. Kenapa aku nggak boleh khawatir soal kamu?”

Akhirnya dia menoleh padaku ketika aku sudah berada di dekat sofanya. “Aku nggak mengalami tanda-tanda geger otak,” dia menjawab dengan suara yang lebih rendah.

“Gimana kamu tahu?” aku belum puas dengan jawaban itu; dia sudah mengatakan itu sejak tadi ‘kan?

Dia menatapku cukup lama sebelum menghembuskan nafas dengan pelan. “Aku sarjana kedokteran,” jawabnya. “Jadi aku sedikit tahu soal itu. Kamu puas sekarang?”

Apa?

Oke, kejutan yang lainnya lagi.

“Kamu... dokter?”

“Nggak semua sarjana kedokteran itu jadi dokter,” jawabnya. “Untuk jadi dokter ada tahapan lagi setelah lulus dari kedokteran dan aku nggak mengambilnya.”

“Sayang banget kalau gitu....,” gumamku. “Kenapa kamu nggak jadi dokter aja? Sayang lho. Katanya masuk kedokteran itu susah, belum lagi biayanya. Kenapa kamu berhenti di tengah jalan?”

“Di keluargaku nggak ada yang mau aku jadi dokter,” jawabnya; dia mulai kesal lagi. “Udah! Udah! Kenapa aku harus jawab semua pertanyaan kamu sih?”

“Aku penasaran,” jawabku sedikit gemetaran; suaranya menyambar jantungku. “Habisnya... aku kira kamu... koki atau chef.”

“Hah?”

“Kamu nggak ngerjain hal yang lain selain masak. Masakan kamu juga enak... apa aku salah?”

“Aku masak karena kita harus punya sesuatu untuk dimakan. Aku nggak suka makanan dari luar. Dan aku bukan pengangguran. Aku diam di rumah karena nggak mau ditanyain orang soal luka-luka ini,” jelasnya kemudian dengan tenang sambil menunjuk ke pelipisnya yang masih ditutupi plester.

Sepertinya aku sudah terlalu banyak bertanya; padahal aku juga ingin tahu kenapa dia nggak mau ada yang tahu tentang kejadian malam itu?

Siapa yang dia inginkan untuk nggak usah tahu tentang asal muasal luka di wajahnya? Keluarganya? Apa dia takut keluarganya khawatir?

Oh ya?

Nial pernah menegaskan kalau dia juga punya kehidupan. Tapi, kehidupan seperti apa?

Apa... dia juga punya pacar?

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments