[Hal. 20] [Chapter 7] I LOVE YOU BUT...

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Besok aku harus masuk kerja,” kataku. “Aku nggak mungkin bolos terus....”

“Aku udah menelpon ke tempat kerja kamu tadi pagi,” jawabnya tenang dan tetap menikmati makannya sementara aku tertegun. “Aku bilang kamu berhenti.”

“Hah?”

Kenapa dia seenaknya begini?

“Kamu nggak usah kerja buat orang yang culas kayak gitu.”

Aku pikir Nial sedikit... entah, kelewatan mungkin? Maksudku... kenapa dia melakukan hal yang sebenarnya nggak perlu dia lakukan? Ayolah!

“Lagian sampai situasinya aman kamu nggak akan bisa bebas keluar,” jelasnya; dengan nada datar. “Aku yakin dia pasti bakalan memecat kamu juga kalau kamu kelamaan membolos.”

“Kamu nggak bisa seenaknya begitu...,” protesku tapi dengan suara tertahan; takut itu akan membuatnya marah.

Wanda bilang dia menyeramkan kalau marah. Berdebat pun nggak akan pernah bisa menang darinya.

“Aku nggak seenaknya,” balas dia. Tetap dengan sikap tenangnya seolah yang dia katakan sama sekali nggak mengganggu dan yang dia lakukan itu benar.

Apa sih yang dia pikirkan?

Kenapa dia mencampuri urusanku juga seperti dia mencampuri urusan pribadi Wanda?

“Aku kira apa yang terjadi semalam sama-sama bikin kita trauma,” tegasnya, menatapku dengan datar. “Siapa yang mengira kalau ujung-ujungnya mereka punya niat jelek ke kamu padahal tujuan mereka kemari hanya untuk memaksa Wanda ikut dengan Braska.”

“Aku juga punya kehidupan sendiri...,” kataku setengah memohon.

Raut Nial berubah jengkel. Dia menaruh sendok dan garpunya dan berhenti makan. Lalu menatapku dengan wajah jengkel itu. “Kamu pikir aku nggak punya?” balasnya ketus.

Sepertinya dia nggak sadar dengan posisiku. Aku... hanya orang asing ‘kan? Selangkah aku meninggalkan tempat ini, mungkin dia akan lupa semua ini; tentang aku dan juga kejadian menakutkan itu. Kenapa dia berbuat sejauh ini hanya untuk membuat apa yang terjadi di sini semakin sulit dilupakan? Padahal itu harus aku lupakan bagaimana pun caranya!

“Aku udah bilang nggak mau mengambil resiko lagi,” tegasnya. “Kenapa kamu harus keberatan berhenti dari kerja paksa itu?”

Karena itulah caraku menjalani hidupku.

Apa yang salah?

Nggak semua orang seberuntung dirinya ‘kan?

“Aku merasa bersalah, oke?” katanya kemudian, membersihkan tenggorokannya seolah apa yang dia katakan barusan begitu sulit untuk diungkapkan. “Aku bisa kasih kamu uang kalau kamu khawatir soal itu.”

Bukan begitu caranya menunjukan rasa bersalah!

Apa yang dia katakan?

Dia justru tengah mengatur hidupku dan bukannya melindungiku demi rasa bersalahnya! Dia keliru!

“Untuk sementara hanya itu yang bisa dilakukan,” dia menegaskan lagi. “Kamu dikirim ke sini karena ibu kamu cemas soal Wanda. Kalau kamu juga nggak mau dia ikut mencemaskan kamu dan Wanda dapat masalah dari ayahnya kalau sampai mereka tahu soal ini, sebaiknya kamu tetap di sini.”  

Aku sudah kehilangan kata-kataku karena mencoba untuk menemukan jawaban dari banyak pertanyaan yang berkelebat di otakku tentang mengapa semuanya menjadi semakin rumit untuk dipahami.

“Tapi, nanti aku juga akan tetap pergi dari sini ‘kan?” aku bertanya untuk yang terakhir kali dan dia nggak menjawabnya.

Dia melanjutkan makan siangnya dan setelah itu kami nggak lagi punya pembicaraan yang penting. Nial melemparkan terlalu banyak padaku. Aku mulai takut dengan diri dan perasaanku. Ya, aku terjebak dengannya berdua saja di tempat ini!

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments