๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Aku nggak menemukan Wanda di tempat di mana dia tidur.
Apa Nial dan Wanda bertengkar lagi? Aku memberanikan diri keluar kamar untuk mencari tahu. Seharusnya aku memang tetap berada di dalam; namun aku nggak bisa menahan rasa penasaranku.
Ternyata mereka kedatangan tamu –seorang lelaki mengenakan jaket kulit hitam dengan potongan rambut cepak. Tubuhnya juga besar dan tinggi –kelihatannya juga lebih besar dari Nial. Aku langsung menebak kalau dia adalah Braska –pacar Wanda yang menjadi sumber pertengkaran.
Aku mulai punya firasat buruk kalau malam ini seseorang akan jatuh. Benar saja; dua orang yang juga berbadan besar memberondong masuk. Dengan satu tendangan di perut oleh Braska, Nial langsung jatuh.
“Ya Tuhan!” Wanda memekik; hendak berlari ke Nial yang tersungkur kesakitan. Tapi, Braska menariknya. Memeganginya agar ia melihat bagaimana kemudian dua orang yang dibawanya mulai memukuli Nial yang berusaha melawan dalam perkelahian yang nggak seimbang itu.
Tubuhku menggigil. Suara-suara mereka sangat mengganggu. Aku berlari ke dapur, bersembunyi di bawah meja seolah itu dapat menghalangi suara-suara kesakitan menusuk telingaku –lenguhan sakit, pukulan, dan tangisan Wanda, menyatu dalam kengerian.
Aku nggak seharusnya berada di sini.
“Harusnya lo nggak ikut campur,” katanya.
“Braska! Cukup!” jerit Wanda meratap.
Mungkin mereka sudah melumpuhkan Nial.
“Ini nggak bakal terjadi kalau daritadi lo dengerin kata-kata gue, Wanda,” kata Braska dengan nada tinggi.
Wanda hanya meratap sesekali menjerit kesakitan.
“Orang ini mau diapain lagi, Bras?”
“Terserah kalian aja. Gue mau bawa cewek nggak tahu diri ini dulu.”
“Braska! Sakit! Lepasin gue!” Wanda memekik lagi dengan putus asa. Sepertinya dia diseret keluar oleh lelaki itu.
Kedua berandalan itu masih berada di dalam rumah.
“Lo ngapain sih?”
“Nyari barang yang bisa dijadiin uang.”
“Kita ke sini bukan buat ngerampok. Gue mau nyusul Braska turun!”
“Ntar dulu....”
“Apa sih?!”
“Kayaknya ada orang lain....”
Aku menutup mulutku; menenggelamkan wajahku di antara kedua lututku. Berusaha untuk bernafas tanpa suara di bawah meja selagi suara langkah kaki itu mendekat. Dan mereka menemukanku.
Salah seorang dari mereka menarikku dari bawah meja.
Aku menjerit sekeras yang aku bisa saat mereka menyentuhku dengan tangan kotor mereka yang menjijikan. Lalu kulihat Nial tergeletak dengan bercak darah di lantai; nggak bergerak.
Ya Tuhan!
“Kayaknya dia pacar si bajingan kaya,” kata salah seorang dengan topi kupluk di kepala dan disambut dengan senyum licik oleh rekannya. “Cantik juga ceweknya....”
Mereka menyeretku dengan kasar. Aku meronta dengan putus asa.
“Lepasin!” pekikku.
Kewalahan, si topi kupluk menjatuhkanku di tempat yang sama mereka menemukanku. Tubuhku seakan remuk di dalam ketika menghempas lantai keras. Kepalaku sakit karena terbentur di saat yang sama pandanganku sedikit mengabur.
Samar-samar aku juga melihat bagaimana pikiran menjijikan mereka terhadapku terpapar di wajah jelek mereka dalam keadaan setengah sadar. Tubuhku sudah kehilangan dayanya dan kalau pun aku mencoba melawan, itu akan percuma. Seperti malam itu ketika kusaksikan ayahku nyaris membunuh ibu dan kakakku pada malam sebelum dia mati.
Aku memejamkan mataku; kurasakan tetesan panas dipaksa mengalir keluar dari sana. Dalam pikiran yang mengutuk hidupku sepenuhnya yang terlalu sulit dan sial serta betapa nggak adilnya kehidupan ini padaku, aku pikir aku lebih baik mati saja. Kalau mereka nggak mencabut nyawaku, aku akan mengakhirinya sendiri.
“Aaaaaaaaargh!”
Suara jeritan ngeri itu menggema dengan keras di telingaku di saat yang sama satu hantaman keras terdengar.
Aku berusaha membuka mataku untuk melihat apa yang terjadi.
Si topi kupluk jatuh di sampingku dengan darah yang mengalir dari kepalanya. Dia meringkuk kesakitan dan temannya sudah nggak kelihatan. Mungkin melarikan diri.
Nial terlihat dengan tongkat pemukul baseball yang tadi digunakan berandal itu untuk menghajarnya.
Ia meringis kesakitan dan Nial menarik bajunya agar berdiri dan menerima satu pukulan keras yang membuatnya tersungkur kedua kalinya. Tanpa kata-kata, Nial mengayunkan tongkat itu lagi namun ia berhasil menghindar dengan berlari –berlari sejauh-jauhnya dan kabur dengan langkah terseok.
Nial nggak mengejarnya.
Tak ada siapa pun lagi selain kami sekarang.
Nial melepaskan tongkat baseball itu dan darah yang mengotori ujungnya terpercik di lantai lalu berlutut di sampingku –rautnya tampak menyesal.
“Maaf...,” ucapnya meraih tubuhku dan semua menggelap dalam dekapannya.
Aku tahu kalau aku sudah aman....
Aku masih mendengar suara-suara itu. Kepalaku terasa berat. Aku terjaga tapi nggak bisa menggerakan tubuhku.
“Sialan!” seseorang terdengar bersumpah serapah.
Siapa itu?
Aku mencari asal suaranya dengan menajamkan penglihatanku terhadap sekitarku namun kepalaku terlalu sakit; mungkin karena benturan yang kualami ketika mereka menjatuhkanku.
“Gue dipukul di kepala! Untung bajingan kaya itu udah gue hajar sampai mampus!”
Mereka kembali?!
Ya Tuhan!
Apa yang mereka lakukan pada Nial?
Mereka... sudah membunuhnya?
“Tapi, sebagai gantinya lo dapat ceweknya ‘kan?”
Ku sadari kedua tangan dan kakiku terikat di tempat tidur. Dan dua orang –si topi kupluk dan temannya yang berjenggot itu mendekatiku dengan seringai iblis mereka.
“Jangan!” aku menjerit tapi nggak ada suara yang terdengar.
Jangan!
Jangan!
***
Komentar
0 comments