[Hal. 15] [Chapter 5] I LOVE YOU BUT...

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Aku lapar. Kamu mau pesan makanan apa?” tanya Wanda kemudian setelah obrolan itu semakin melantur sampai cerita masa kecilnya bersama dua adik lelakinya.

Ia turun dari tempat tidur dan meraih handphone yang ia abaikan selama bercerita –ingin memesan makanan lagi.

“Apa aja,” jawabku mengikuti Wanda yang bergerak keluar kamar.

Dan bau wangi makanan menyeruak begitu kami berada di ruang tengah.

Nial memasak makan malam di dapur.

“Gue baru mau pesan makanan,” kata Wanda padanya.

“Gue nggak makan makanan sampah,” cetus Nial.

Tadi, Wanda sempat bilang kalau sebenarnya apartemen ini punya banyak aturan yang harus dipatuhinya kalau mau tinggal. Salah satunya, nggak boleh ada junkfood atau makanan instan. Semua yang dia makan haruslah makanan yang mengandung kecukupan gizi dan sehat. Dia berhenti merokok dan minum. Dia juga bahkan membuat gym mini untuk berolahraga.

Penjelasan sepanjang itu disingkat oleh Wanda dengan kata : membosankan. Kebiasaan Nial banyak berubah lima tahun belakangan –mungkin faktor umur. Nial dua puluh sembilan tahun sekarang.

Wanda merengut dan mengambil tempat duduk di salah satu kursi meja makan. Dia batal memesan makanan karena pastinya masakan Nial jauh lebih enak dan mulai menunggu.

Aku segera menghampiri Nial. Aku jadi nggak enak karena dia melakukannya sendiri padahal dia jelas-jelas memasak untuk kami semua.

“Aku bisa bantu apa?” tanyaku padanya.

“Nggak. Nggak usah. Udah hampir selesai,” jawabnya sambil menoleh padaku –ke tanganku yang diperban. “Tangan kamu luka.”

“Nggak apa-apa kok,” ujarku.

Dia masih fokus dengan perban yang membalut jariku dan tiba-tiba meraihnya. “Ini basah,” katanya. “Aku udah bilang jangan sampai kena air.”

“Iya, maaf. Tapi, nggak sengaja kecelup di bathtub,” jelasku.

Nial menaruh spatula yang sedang ia gunakan untuk mengaduk makanan yang sedang dimasak di wajan dan kemudian pergi mengambil kotak obat setelah mematikan api kompor. Dia mencuci tangannya di keran air wastafel sebelum mulai melepas perban yang hampir sepenuhnya merah karena rembesan darah yang belum berhenti.

Aku melihat ujung jariku yang mengerut karena lembab sekaligus perih. Dia melumuri luka sayatan itu denga obat luka berwarna coklat tua yang ketika tetesannya mengenai bagian yang terbuka membuatku menjerit kesakitan sampai ingin menangis.

“Tahan! Jangan cengeng!” katanya.

Air mataku keburu menetes karena itu benar-benar perih sampai ke kepala.

Obat apa sih itu?

Tahap terakhir, Nial kembali membalutnya dengan perban yang baru.

“Jangan sampai basah lagi,” Nial memperingatkan dengan nada ketusnya.

Aku dan Wanda terpaksa hanya duduk menunggu di meja makan sampai dia selesai. Lalu kami makan malam dengan tenang –kejadian tadi siang tampak nggak lagi berpengaruh karena mereka kembali seperti biasanya. Saling mencela dan mempertahankan pendapat masing-masing.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments