[Hal. 14] [Chapter 5] I LOVE YOU BUT...

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Stupid Girls

Sebenarnya tadi aku ingin menolak –lagi-lagi karena alasan segan pada Nial. Tapi, Wanda benar-benar memaksa. Dia bersikeras ketika Nial keberatan.

Nial terpaksa menyetujui itu. Dia nggak lagi berkomentar. Walaupun terlihat nggak suka dari caranya kembali duduk di sofa dengan mendecak kesal, dia nggak mempermasalahkannya lagi.

Kadang aku ingin tahu bagaimana rasanya punya sahabat laki-laki yang benar-benar pengertian –ya walaupun, secara kasat mata Nial memang jutek dan judes. Aku mengerti, dia nggak ingin Wanda terjebak dalam hubungan yang toxic dengan pacarnya. Aku rasa dia mengizinkanku untuk menginap karena saat ini aku bisa membuat Wanda sedikit lebih tenang.

Wanda meminjamkan bajunya lagi untuk bisa dipakai tidur. Ketika aku selesai mandi dia sedang tiduran di ranjangnya sambil main handphone.

Aku memahami hubungan seperti itu karena aku dan kakakku adalah hasil dari sebuah toxic marriage.

***

“Nial nyeremin kalau udah marah,” kata Wanda padaku. “Aku nggak mau ribut sama dia kalau dia lagi emosian. Berdebat sama Nial nggak akan menang. Kamu dengar sendiri ‘kan dia itu pedes banget.”

Ya aku tahu. Dia melampiaskan kekesalannya kepada benda mati karena nggak tahu harus bicara apa pada Wanda yang juga keras kepala.

Tapi, tunggu, dari caranya menghadapi Nial, aku malah mengira justru Wanda yang mengendalikan situasi. Namun, kini aku menyadari, sikap seenaknya itu dia tunjukan karena memang mau bagaimana pun, Nial akan selalu pantang kalah.

“Dia otoriter,” sambung Wanda. “Nggak ada seorang pun yang tahan sama sifatnya. Buat semua mantan pacarnya, Nial adalah mimpi buruk.”

Aku terdiam. Memandangi luka di jariku yang masih dibalut oleh perban yang sedikit basah karena berendam tadi, aku merasa Nial punya satu sisi baik dan itu seperti sebuah plot twist dalam cerita.

“Cuma... kalau buat aku, sejelek-jeleknya Nial dengan semua perfeksionisnya, kata-kata nyebelinnya, dia jauh lebih baik dari Braska. Dia lebih menghargai cewek karena dia punya ibu dan adik cewek.”

“Terus kenapa mantan pacarnya bilang dia mimpi buruk?”

Stupid girls,” Wanda terdengar mencemooh. “Yah, dari semua yang kamu lihat dari dia secara fisik, kamu pasti bakal mengira dia adalah tipe cowok yang ideal. Nggak ada manusia yang sempurna di dunia ini, Bell. Dia juga punya kekurangan. Dia... hanya orang yang merasa insecure dengan sekelilingnya. Setiap orang ‘kan punya beban masa lalu yang mempengaruhi sikapnya. Dan cewek-cewek goblok itu nggak mau tahu karena mereka cuma mau sama uangnya. Jadi mereka nggak mau mengerti. Untungnya sih, Nial udah berhenti berurusan sama cewek-cewek semacam itu.”

Orang seperti Nial juga bisa merasa nggak aman?

“Kenapa? Kamu minat jadi pacarnya?” tanya Wanda tiba-tiba –menatapku serius,

“Ah, enggak!” celetukku langsung dan Wanda terkekeh. “Dia mana mungkin mau sama aku!”

“Jadi kalau dia mau, kamu juga mau gitu?” goda Wanda, masih tertawa meledek. Dia kembali ceria dan seenaknya lagi.

Aku benar-benar malu.

“Setahuku, Nial nggak punya tipe cewek tertentu sih...,” katanya. “Tapi, yang namanya anak old money, yang dekatin dia pasti cewek-cewek cantik. Ada yang model, selebriti juga.  Makanya dia pacaran sama yang begitu-begitu terus.”

Ya, itu sangat mudah dipahami. Aku; gadis yang bukan siapa-siapa ini memang berpikir satu juta kali untuk mendekati orang seperti Nial.  Jangankan mendekat, melihat dari jauh saja juga sudah untung. Saingannya berat ‘kan?

Melihat Wanda yang sedikit melamun saat bercerita soal Nial, aku jadi ingat apa yang aku pikirkan tadi ketika mereka bersitegang karena pacar Wanda yang aku tahu sekarang namanya Braska.

Wanda bercerita tentangnya seolah dia sangat memahami Nial. Nial sangat mencemaskan Wanda. Aku merasa ada kecemburuan karena Wanda meninggalkannya di meja makan karena panggilan telepon itu dan dia bahkan sampai menendang meja. Kalau mereka saling memahami tentang mengapa mereka begini atau begitu, bukankah misteri terpecahkan? Mereka lebih cocok jadi kekasih daripada sahabat. Kenapa malah berpacaran dengan orang lain hanya untuk berakhir dengan menyakitkan?

“Aku kira... Nial suka sama Kakak,” kata-kata itu terlompat begitu saja dan aku menemukan Wanda sedikit melongo.

Tapi, dia menyambungnya dengan tertawa geli. “Nial suka sama aku?” dia balas bertanya tanpa berhenti tertawa.

Apa dia menganggap yang aku katakan itu lelucon?

“Gimana ya cara bilangnya...,” Wanda bergumam; memandang ke segala arah kecuali wajahku. Lalu menatapku lekat-lekat. “Kalau dia suka sama aku, aku nggak bakal berani numpang di rumahnya.”

Aku mengerutkan dahi; maksudnya apa sih?

Wanda menghela nafas panjang. “Gini ya, Nial itu... bukan tipe yang suka memendam perasaan. Kalau dia suka sama aku, pasti bakal langsung kelihatan.”

“Ya, mungkin karena dia kakak punya pacar jadinya dia....”

“Stop, Bellisa! Jangan lugu gitu dong!” potongnya, dan tetap tertawa di sela-sela kalimatnya. Dia sama sekali nggak mau dengar pendapatku yang mungkin terdengar sok tahu. “Dia orangnya ambisius. Kalau dia mau sesuatu, dia bakal berusaha untuk mendapatkannya. Nggak terkecuali cewek yang sudah punya pacar sekali pun, pasti dia bakal rebut.”

Hah?

“Lagian... kalau dia memang naksir aku... aku pasti bakal ‘diserang’ karena Nial itu buas. Kamu tahulah, dia tinggal sendiri dan kesepian, ” sambungnya. Tawa Wanda mempermainkanku.

Meski pun belum pernah, ya... aku sedikit tahu hal-hal semacam itu. Seks seperti sebuah candu.

Baiklah, ini menjawab pertanyaan mengapa Nial nggak tergoda dengan Wanda yang hampir selalu tampil seksi dengan hotpants-nya. Itu karena dia memang nggak punya perasaan apa-apa terhadapnya.

Hanya pikiranku saja yang menganggap bahwa persahabatan cowok dan cewek itu nggak mungkin. Aku benar-benar salah mengartikan kemarahan Nial soal panggilan telepon itu. Aku juga bakal bersikap begitu pada pacar temanku yang kurang ajar.

“Kok kayaknya kamu lega gitu sih?” tegur Wanda; dan dia lagi-lagi membuatku malu. “Jangan-jangan tadi kamu pikir kita bakal saingan buat Nial?”

“Ih, Kakak! Jangan gitu kenapa sih?”

Aku dan Wanda tertawa.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments