๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Darkest Place
Di tengah-tengah ruang keluarga yang tampak seperti ring tinju –alih-alih menjadi tempat berkumpul semua anggota keluarga, ia satu-satunya yang masih berdiri dengan tegak, memandang dengan bengis dan nafas terengah-engah setelah ‘menaklukan’ semua orang. Perabotan rumah berada di posisi yang nggak seharusnya; bahkan sebagian besarnya patah atau hancur –meja makan, kursi, pajangan kaca, pot bunga, apa pun yang sebelumnya tertata dengan rapi, sekarang berantakan.
Aku seringkali mengira kami akan mati di tangan ayahku setiap ia marah dan mulai memukul dengan membabi buta. Di dalam keremangan, aku melihatnya seperti sesosok makhluk besar berotot dengan wajah menakutkan dan tato di sekujur badan; seorang monster.
Sebelum malam itu menjadi akhir dari tirani ayahku, aku nyaris mati berkali-kali. Dan setiap mengingat rasa sakit yang disebabkan oleh keberingasannya, tubuhku menggigil; begitu hafal dengan teror yang dia tebarkan lewat caranya menatap dan bicara, serta gestur tubuhnya.
Dalam pikiranku, ayahku akan datang terus dan terus untuk menyiksa aku, ibu dan kakakku –bahkan setelah dia tiada. Bagiku, dia nggak benar-benar mati sekalipun aku menyaksikan sendiri bagaimana ia dimakamkan. Dia hadir dalam mimpi buruk berkepanjangan; seperti luka yang nggak pernah sembuh walau telah diobati.
Dokter bilang ini hanya soal waktu. Nggak ada istilah membaik atau belum. Karena luka batin bukan luka yang bisa dilihat. Sembuh atau nggak, tergantung bagaimana orang itu bisa mengatasinya. Bagaimana aku bisa mengalahkan semua rasa takut terhadap semua yang ada di kepalaku; monster itu.
Kedengarannya aku masih mempunyai banyak pilihan setelah mengakui bahwa monster besar dalam hidupku adalah ketakutanku sendiri. Aku telah menghabiskan banyak waktu untuk melarikan diri darinya. Akan tetapi, waktu hanyalah ilusi. Dokter mungkin hanya menyembuhkan rasa sakit, tapi nggak dengan rasa takut. Trauma yang sesungguhnya masih bersemayam di satu tempat di dalam diriku; karena ia lebih nyata dari kehidupanku sendiri.
Ayahku memang sudah tiada dua sepuluh tahun yang lalu; tapi melihat Nial berdiri dengan kedua tangan mengepal kuat di hadapan meja yang terbalik, monster itu seakan hidup lagi di dalam dirinya.
“A... aku mau pulang...,” kataku, menjauh dari kekacauan itu.
Aku harus menjauhi orang ini.
Nial menoleh masih dengan tatapan menakutkan itu. “Kata siapa kamu boleh pulang?!” hardiknya.
***
Komentar
0 comments