๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Sekali pun dia sedang melakukan hal yang terpuji, caranya bicara dan menatap tetap nggak berubah; tetap saja datar dan dingin. Dia hanya menjadi sedikit cerewet dengan Wanda, namun kata ‘menyebalkan’ benar-benar mendefinisikan dirinya.
“Aku benar-benar nggak ngerti maunya perempuan,” dia bergumam; terdengar menghela nafas. Aku kira dia sedang berbicara dengan dirinya sendiri karena suaranya pelan sekali. “Dia sudah tahu kalau laki-laki itu brengsek....”
Aku diam saja dan masih mempertanyakan apakah dia sedang mengajakku bicara atau apa? Dua hari berturut-turut datang ke sini, kami nggak pernah punya percakapan.
Nial menoleh padaku. “Menurut kamu kenapa bisa begitu?” dia bertanya dan aku bingung.
Apa yang bisa kujawab? Aku sama sekali nggak mengerti dengan permasalahan Wanda dan pacarnya. Aku juga baru tahu kalau Wanda tinggal di sini ternyata karena melarikan diri dari pacarnya yang suka main tangan.
Kalau ayahnya tahu, Wanda pasti akan diseret pulang.
Tapi, aku tahu rasanya kengerian saat hidup dengan seseorang yang selalu mengandalkan kekerasan untuk menambah masalah alih-alih menyelesaikan masalah. Aku memahami itu karena aku bahkan sampai menyebut ayahku seorang monster tapi ibuku sangat mencintainya; terbukti mereka bisa punya Ruby dan aku.
“Mamaku... pernah bilang... lebih baik dipukuli daripada harus hidup sendirian dan kesepian...,” kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirku setelah pertanyaan Nial.
Nial menatapku heran. “Maksudnya?”
Aku melanjutkan menyapu sampah makanan dan mendorongnya ke pengki untuk bisa memasukannya ke dalam plastik sampah.
“Ayah kamu juga abusif?” tanya dia; sepertinya itu menarik seluruh perhatiannya dan topik beralih dari Wanda ke latar belakang keluargaku. Dia meninggalkan meja yang sudah berdiri tegak dan menghampiriku.
“Dia udah meninggal,” jawabku; mencoba diplomatis agar kami nggak mengganti topiknya. “Mama-ku juga udah hidup bahagia sekarang...”
Aku kurang suka membicarakan masa lalu. Hanya membuka jahitan luka lama yang belum sembuh; dan nggak akan pernah sembuh. Masa lalu yang buruk itu adalah luka yang nggak akan bisa sembuh.
Orang ini benar-benar penuh kejutan. Setelah aku terkesan karena dia bisa memasak dan masakannya enak, dia bisa mengobati luka dengan cekatan layaknya seorang dokter, dan sekarang dia bisa menebak dengan benar kalau ayahku nggak sekedar abusif –dia monster.
Aku belum pernah membicarakan masa laluku dengan orang lain. Cara terbaik untuk melupakannya adalah dengan nggak pernah menceritakannya.
Aku membeku. nggak tahu berapa lama itu.
Aku pikir dia hanya orang yang terlahir dalam keadaan yang beruntung. Dia nggak punya kelebihan apa-apa selain dari yang diwariskan oleh keluarganya turun temurun. Tapi, Sekarang dia juga menunjukan kalau dia punya keahlian untuk mengidentifikasi sesuatu dengan petunjuk yang singkat. Dan dia sama sekali nggak menyadari kalau aku memandanginya sangat lama dan dia juga melakukan hal yang sama.
Mata bertemu mata; kusadari caranya menatapku sudah berubah dan itu seakan menarikku ke dalam rasa yang membingungkan di saat yang sama semua indra perasaku yang mudah takut ingin menjauh darinya.
“Itu yang aku takutkan bakal terjadi ke Wanda kalau dia nggak menghentikannya,” dia berkata. “Laki-laki itu pernah masuk penjara karena kasus yang sama.”
“Aku tahu. Harusnya kamu cegah dia pergi,” kataku.
“Dia bakal balik lagi. Barang-barangnya masih ada di kamar. Lagian dia bisa pergi ke mana?” balas Nial acuh. “Sebelumnya dia tinggal bareng pacarnya.”
***
Rasanya sedikit lebih baik ketika aku bekerja sama dengannya membereskan dapur. Nial menyusun perabotan yang tadi dia tendang dan aku membereskan sampah dengan tangan yang diperban.
Seperti yang dikatakan Nial, Wanda kembali; meskipun dengan wajah cemberut. Menemukanku masih sibuk di dapur dia mencoba tersenyum.
“Aku pikir kamu udah pulang,” katanya. Dari dekat, aku bisa melihat matanya sedikit merah; bekas tangisan.
Aku melirik Nial yang sebelumnya memintaku agar nggak bilang apa-apa soal tendangan mautnya ke meja makan karena emosi Nial nggak mendengarkannya. Nial hanya menoleh sekilas lalu mengabaikan kami dengan menonton TV di sofa malasnya.
“Iya, ini juga mau pulang kok,” kataku.
Ia mengangguk mengerti lalu melirik Nial yang cuek.
Aku bersiap-siap untuk pulang ketika Wanda tiba-tiba menghampiriku lagi. “Bellisa, aku bisa minta tolong nggak?” dia bertanya.
“Ya, apa?” jawabku.
“Kamu jangan pulang ya. Nginap di sini lagi malam ini,” katanya.
Mau nggak mau aku menoleh ke Nial yang sepertinya cukup kaget mendengar Wanda masih belum mengnginkanku pergi.
***
Komentar
0 comments