๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Sekujur tubuhku masih gemetaran dan aku berusaha menenangkan diri; berkata berulang-ulang pada diriku ‘aku sudah sembuh’. Aku nggak perlu ketakutan. Namun, melihat Nial lagi, kepanikan itu timbul dan rasa pedih di ujung jari sangat mengejutkanku.
“Aduh...,”
Kulihat darah segar telah menetes pada ujung jari telunjukku yang tergores oleh pecahan kaca.
Nial yang menyadarinya segera menghampiriku. “Ada apa?” tanya dia.
Aku menggenggam jariku yang berlumuran darah. Sempat mengira dia akan marah-marah karena keteledoranku.
“Kenapa kamu nggak hati-hati sih?” tanya dia dan langsung saja menarik tanganku yang terluka untuk melihatnya dari dekat. Kekhawatiran mulai bisa terbaca lewat sikapnya.
Apakah karena dia merasakan bahwa aku gemetaran dan keringat dingin?
Apakah karena dia akhirnya menyadari ketakutanku sudah berlangsung sejak detik dia menendang meja sampai terbalik?
Nial memusatkan seluruh perhatiannya pada luka di jari terlunjukku.
Lalu rautnya melunak. “Tunggu di sini,” katanya dan aku terdiam menyaksikan dia pergi ke ruangan lain dan kembali dengan sebuah kotak P3K. Kemudian mengeluarkan barang-barang yang dia butuhkan untuk mengobati lukaku. Ia pergi ke wastafel untuk menampung air dengan ember kecil.
Aku diam saja; menyaksikan bagaimana dia membersihkan jariku yang terus mengalirkan darah segar. Aku seringkali meringis kesakitan dan dia selalu berkata ‘tahan, hampir selesai’.
Entah mengapa, aku berhenti gemetaran. Perasaanku sedikit lebih tenang saat memperhatikan dia dengan cekatan mengurus lukaku seolah dia sangat terlatih dan tahu apa yang harus dilakukan; seperti seorang dokter sungguhan. Nggak sampai lima menit lukaku sudah terbungkus oleh kain perban dan plester.
“Jangan sampai basah,” dia berkata. “Kalau kena air, keringnya bakal lama.”
Tiba-tiba saja aku jadi membenci diriku yang plin plan. Beberapa saat lalu, aku menyebutnya monster tapi sekarang entah. Aku ingin meralatnya. Dia nggak semenakutkan yang aku kira walaupun nanti bisa saja dia tiba-tiba meledak.
Komentar
0 comments