[Hal. 8] [Chapter 3] I LOVE YOU BUT...

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Aku sama Nial lihat lho,” kata Wanda yang duduk di meja makan dengan handphone-nya.

Hari ini dia mengenakan jeans dan tanktop; lagi-lagi tampil seksi. Pikiran kotor yang muncul seketika dalam pikiranku adalah kalau Nial laki-laki normal apa dia nggak tergoda sama Wanda? Yah walaupun sahabat, itu nggak menutup kemungkinan ‘kan?

Ah, kenapa sih aku ini?

Kalaupun terjadi sesuatu di antara mereka juga bukan urusanku!

Sementara Nial nggak kelihatan sejak aku pulang naik taksi atas permintaan Wanda karena Nial sulit sekali diajak untuk mejemputku dan tiba jam tujuh malam. Sebenarnya aku ingin tahu dia ke mana tapi mungkin rasanya aneh kalau aku bertanya.

“Lihat apa?” aku balas bertanya memasukan sampah dapur ke dalam sebuah plastik besar; aku  ingin sedikit membantu beres-beres karena aku pernah dengar kalau Nial mengeluh soal apartemennya berantakan gara-gara Wanda.

Wanda mengerutkan dahinya dan sekarang telah sepenuhnya meninggalkan layar handphone-nya dan menaruhnya di atas meja. “Si botak jelek itu marahin kamu di depan pintu,” jawabnya. “Pantas Tante Maya mau kamu berhenti dari sana.”

Aku hanya tersenyum.

“Kenapa kamu nggak tinggal sama Tante Maya aja?” tanya Wanda lagi. “Aku rasa kalian bisa mulai lagi dari awal.”

“Aku bukan anak di bawah umur, Kak,” aku mengingatkannya kalau umurku 21 tahun. “Bukan berarti karena aku nggak tinggal sama Mama, kami nggak bisa mulai dari awal.”

“Ya sih...,” Wanda tampak langsung memahaminya. “Mungkin Tante Maya hanya nggak mau kamu kesulitan apalagi masalah uang. Dia juga nggak mau terkesan menelantarkan kamu. Selama ini dia harus hidup dengan anggapan kayak gitu dari orang-orang padahal mereka nggak tahu yang sebenarnya.”

Wanda benar. Berat untuk mengakui kalau ibuku bukan penyebab perang dingin itu. Aku dan Ruby yang meninggalkannya. Aku nggak mau meminta pada Mama karena masih segan. Setelah perselesihan dengan Ruby, aku hanya ingin bersandar pada seseorang dan ibuku satu-satunya tempat yang tiba-tiba muncul dalam pikiranku.

Memang Mama pasti nggak akan mempermasalahkan apa pun yang aku minta darinya. Tapi, sebelum aku kembali padanya, aku sudah punya kehidupan sendiri; dan inilah dia. Lagipula aku terbiasa hidup sendiri. Canggung rasanya kembali pada Mama di saat aku harusnya benar-benar sudah mandiri.

By the way, kamu nggak pernah komunikasi sama Ruby?” tanyanya kemudian.

“Nggak,” jawabku.

“Kenapa?”

Aku... nggak mau membicarakan soal Ruby.

Sudah hampir satu tahun sejak memutuskan pergi darinya, aku nggak mau lagi membahasnya. Karena setiap memikirkannya, aku teringat pada hal-hal menyedihkan yang memaksaku jadi keras kepala dan itu hanya akan membuatku merasa marah.

Ruby telah membuangku. Dia telah bersikap egois padaku sehingga aku nggak punya pilihan selain pergi agar dia bisa bahagia tanpa perlu melihatku terluka. Aku hanya... nggak bisa... ‘mengikuti’ langkahnya yang semakin cepat sampai-sampai kalau berlari pun aku nggak akan bisa menyusulnya. Aku merasa sudah nggak mengenalinya lagi.

Itulah yang terbaik yang bisa kulakukan untuknya setelah semua pengorbanannya demi diriku. Aku merelakan apa yang paling aku cintai untuknya.

Wanda tampak menyadari bahwa aku menghindarinya dengan berhenti bertanya.

“Tante Maya pernah cerita nggak kalau aku punya dua orang adik cowok?” tanya dia kemudian. “Padahal dulu aku maunya cewek.”

Aku mengangguk. Ya, Mama pernah cerita. Tapi nggak banyak. Kedua adik Wanda tinggal bersama ibu mereka sejak berpisah.

“Mereka di mana sekarang?” tanyaku.

“Yang satu di Amerika, yang satu di Bali,” jelasnya. Ia kembali memegang handphone-nya. “Kamu mau lihat fotonya?”

Aku menghampirinya dengan cukup penasaran.

Wanda memperlihatkan sebuah foto di mana ada dia dan kedua adik laki-lakinya yang tampan. Ketiganya tersenyum lebar dengan busana santai berlatar pinggir jalan yang sepertinya bukan di Indonesia. Wanda yang memakai sunglasses berada di tengah-tengah dan merangkul kedua adiknya. Mereka mirip, tapi ada satu perbedaan yang mencolok: warna kulit.

“Ini Simon, dia tepat di bawah aku. Sekarang dia magang di kantor hukum yang ada di Los Angeles,” jelasnya menunjuk laki-laki berkacamata dan juga berkulit gelap di sebelah kanannya.

Aku dan Ruby juga mirip. Tapi, Ruby lebih cantik. Dia disukai banyak cowok.

Lalu dia berpindah ke adik lelakinya, yang berkulit putih di sebelah kiri. “Nah, kalau yang ini Devon, yang paling ngerepotin aku kalau udah bikin ulah. Dia akrab sama Nial. Kalau mereka udah ketemuan, pasti bakal bikin masalah.”

“Lo nggak bosen ngebahas soal gue melulu?” suara itu kembali menyambar kami.

Aku terkejut bukan main tapi Wanda hanya nyengir padanya tanpa merasa bersalah.

“Lo udah balik?” itulah caranya menyapa Nial yang ternyata pergi keluar.

Nial sudah berada di ruang depan dengan banyak sekali kantong plastik yang penuh dengan bahan makanan.

Dia pergi berbelanja sendiri?

“Hari ini Nial mau masak,” kata Wanda padaku. “Masakannya enak banget lho, Bell!”

“Berisik! Bantuin gue!” teriaknya setelah menaruh semua itu di atas meja.

“Oke, Boss!” seru Wanda dengan cepat lalu membantu Nial memasukannya ke dalam kulkas.

Sementara aku hanya duduk diam ala gadis manis di meja makan menunggu mereka selesai.

Persahabatan mereka sangat unik di saat yang sama aku mencoba mencari tahu apakah mungkin ada sesuatu di antara mereka lewat gestur yang mereka tunjukan satu sama lain.

Aku nggak tahu kenapa aku jadi ingin mau tahu sekali. Sejak kemarin ini menggangguku: mungkin karena setelah Wanda memberitahu bahwa Nial sedang nggak menjalin hubungan dengan siapa-siapa aku sedikit senang.

Aku mengingat lagi saat pertama kali aku melihatnya; dia benar-benar menarik seluruh perhatianku sampai aku lupa beberapa saat lalu aku masih memikirkan Alex karena merindukannya.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments