[Hal. 5] [Chapter 2] I LOVE YOU BUT...

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Wanda memesan tiga jenis pizza; bolognaise, lada hitam, dan macaroni and cheese.

“Aku paling suka sama mac and cheese,” katanya menyodorkan pizza yang dia maksud padaku. “Kamu cobain deh.”

Aku mengangguk dengan canggung lalu mengambil sepotong.

Wanda makan pizzanya dengan lahap; mengingatkanku pada Ruby yang suka sekali dengan junkfood dan mengemil sambil nonton film.

“Aku punya kakak yang suka sekali sama kentang goreng dan cola,” kataku; tersenyum hampa. “Dan nggak peduli sebanyak apa pun dia makan, dia tetap kurus.”

“Oh ya?” Wanda menyahut dengan mulut penuh pizza dan ia menyeka lelehan keju mozarNadine yang menempel di bibirnya yang berwarna peach. “Aku pernah dengar soal dia dari Tante Maya. Hm... siapa namanya?”

“Ruby,”

Wanda mengangguk-angguk. “Aku dengar kamu ngalamin masa-masa yang sulit ya sama Ruby?” tanya dia.

Nggak juga. Sebenarnya hubungan kami dekat; saling membutuhkan. Ya, kami saling memiliki sebelum Ruby menjadi sedikit egois. Aku nggak mau membahasnya.

“Jadi pizza ini mau dihabisin sendiri?” tanyaku serius memandangi pizza yang terlalu banyak untuk dua orang di depan kami.

“Siapa lagi yang mau ngabisin kalau bukan aku? Mumpung selera makanku lagi tinggi.”

“Pacar kakak nggak suka pizza?” tanyaku dan tiba-tiba dia batuk.

Wanda tersedak! Dia berlari ke kulkas.

“Kakak nggak apa-apa?” aku menghampirinya dengan cemas selagi dia meneguk sebotol air mineral yang baru dia ambil dari pendingin.

Butuh beberapa saat baginya untuk lepas dari sakit di tenggorokan dan dadanya dan menjawab pertanyaanku. Dia berisyarat dengan tangannya dia baik-baik saja. Hanya tersedak oleh pizza; tampaknya nggak terlalu buruk.

“Nial bukan pacarku, oke?” dia memberitahuku dengan tegas; tampaknya benar-benar keberatan saat aku menyebut cowok itu pacarnya. Lalu dia tertawa.

Baiklah, aku salah paham. Pantas mereka nggak terlihat seperti kekasih.

“Maaf, Kak... Habisnya... kayak serasi sih...,” kataku sedikit malu.

Wanda tertawa; lebih keras. “Serasi? Serius ah, kamu!” katanya sambil kembali duduk di kursinya dan mengambil potongan pizza yang tadi ditinggalkannya karena tersedak. “Serasi dari mananya?”

Ya, secara fisik. Sama-sama tinggi. Sama-sama cantik dan tampan. Apa lagi?

“Kami udah sahabatan sejak lama,” jelasnya kemudian. “Dan aku di sini cuma tinggal sementara alias numpang, Bell. Ya kali, aku bakal tinggal selamanya di tempat ngebosenin kayak gini.”

Oke, laki-laki bertubuh tinggi dan berotot itu namanya Nial. Dan dia bukan pacar Wanda. Dan dia juga pemilik apartemen ini.  Dan dia bukan si gangster –pantas dia nggak ada tato, yah walaupun dia sedikit menyeramkan.

Entah mengapa aku sedikit lega.

Entah.

“Aku syok kamu bilang dia pacarku,” celetuknya, masih belum berhenti tertawa. “Emangnya kita kayak pacaran?”

Wanda mulai makan lagi; kelihatannya sudah lupa soal apa yang dia ceritakan tentang Nial barusan. Sementara aku benar-benar penasaran, kenapa sih mereka nggak pacaran? Lagipula, kalau Nial yang segitu kerennya nggak menarik buat Wanda, apa seleranya lebih tinggi lagi? Setampan apa sih si gangster itu?

“Lo itu bener-bener ya? Udah numpang tinggal di rumah orang, pakai acara nge-gosipin tuan rumah segala,” suara sinis itu terdengar dan langsung menjawab pertanyaanku.

“Gue juga kepaksa tinggal di sini!” celetuk Wanda dengan mulut penuh makanan dan dia melirik Nial dengan sinis. “Lo pikir tinggal bareng sama lo enak kayak tinggal di hotel?”

Nial sudah ganti baju. Oke, sepertinya habis mandi. Dia wangi. Aromanya bahkan sudah tercium dari jarak tiga meter.

Begitu dia mendekat, harum itu seakan mengerubungiku.

“Ya udah tinggal di hotel aja sana! Gue juga nggak mau lo tinggal lama-lama di tempat gue!” balas Nial. Mungkin dia sedikit kesal karena Wanda sedikit menghinanya. “Lo bikin apartemen gue berantakan juga!”

“Gue udah pesanin jasa bersih-bersih. Nggak usah lebay deh lo.”

“Iya, tapi juga ujung-ujungnya gue yang bayarin. Sama aja!”

“Bayar jasa bersih-bersih cuma berapa sih?! Duit segitu banyak, masih aja perhitungan!”

Apa mereka selalu seperti ini?

Aku merasa nggak enak karena duduk di kursi dapurnya. Siapa yang tahu apa yang dipikirkan Nial soal aku? Dengan cepat, aku menghabiskan potongan pizza-ku.

“Permisi, Kak, aku mau istirahat dulu,” kataku pada Wanda; menyela perdebatan kecil mereka, tanpa berani menoleh ke Nial yang berdiri nggak jauh dariku dan tampak nggak tertarik dengan pizza di atas meja.

“Santai aja,” ujar Wanda, tersenyum lebar kepadaku setelah satu detik lalu dia kelihatan sebal pada sahabatnya itu. “Kamu baru makan sepotong, masa udah kenyang sih?”

Aku hanya tersenyum

“Kenapa sih lo juga harus bawa adek lo tinggal di  sini?” celetuk Nial, akhirnya mengungkapkan kekesalannya. “Rumah gue bukan panti sosial!”

Wanda kembali pasang muka masam; dia menaruh sepotong pizza yang baru dia gigit ujungnya.

“Gue butuh nge-gosip! Bosan kali tiap hari lihat muka lo yang jutek!” tukasnya lalu menoleh padaku. “Bellisa, kamu di sini aja. Jangan ladenin cowok gila kayak dia. Bikin mumet! Mending kita habisin pizza-nya.”

Ini mulai membingungkan. Aku terdiam di tempatku. Menatap Wanda yang senyam-senyum usil dan Nial yang benar-benar jengkel. Keduanya sama-sama cukup mengintimidasiku.

Laki-laki itu pergi dengan muka masam.

Wanda mendengus. Ia menarik nafas panjang lalu tersenyum ramah padaku. “Sorry, ya, dia memang kayak gitu,” kelakarnya. “Sebenarnya dia itu baik kok. Cuma ya agak.... ngeselin makanya nggak punya pacar sampai sekarang.”

Nggak punya pacar? Hampir saja aku bertanya alasan kenapa cowok seganteng itu nggak punya pacar. Apa kriterianya banyak? Tapi, aku menahan diriku untuk nggak terlalu banyak tanya.

Aku hanya penasaran dan itu nggak dosa ‘kan?.

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments