๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Lovers
Saat aku keluar dari kamar setelah mandi dan ganti baju –punya Wanda, sepasang kekasih itu terlihat duduk di sofa di depan TV layar datar besar yang menggantung pada dinding abu-abu. Di bawahnya ada meja panjangan rendah dengan warna hitam mengkilat polos di mana perangkat home theatre tersusun. Sekat-sekat di bawahnya masing-masing diisi dengan patung kayu kecil berbagai bentuk –pilihan mereka untuk pajangan ternyata sangat kaku
“Apaan sih ini?!” tegur lelaki itu saat Wanda yang bersandar rendah menaikan sebelah kakinya ke sandaran sofa dan posisinya hampir berada tepat di atas kepala pacarnya yang duduk pada ujung lainnya.
Dengan kasar, laki-laki itu menyingkirkannya hingga Wanda terkejut.
Wanda mendecak keras. “Reseh ah!” gerutunya.
Aku nggak menyangka kalau hubungan mereka seperti itu –saling seenaknya, alih-alih romantis atau mesra. Ataukah hal-hal seperti itu hanya ada di film?
Wanda kemudian menyadari kehadiranku. “Kamu udah selesai, Bell?”
Ia meninggalkan sofa berikut pacarnya yang menoleh padaku dengan tampang kusut. Sulit untuk bersikap biasa saat tahu ada orang yang merasa terganggu.
Mungkin kehadiranku merusak suasana tapi aku benar-benar nggak bisa menolak ajakan Wanda untuk menginap agar kami bisa mengobrol dengan leluasa –semacam girl’s talk, karena katanya dia nggak bisa ke mana-mana. Dia butuh seorang teman.
Pacarnya langsung melipir saat Wanda mengajakku bergabung dengan mereka di ruang TV.
“Kamu suka pizza nggak?” tanya dia.
Aku mengangguk; hampir nggak punya makanan pantangan kecuali sayuran.
“Aku udah pesan daritadi,” jelas dia. “Bentar lagi datang kok.”
***
Saat aku keluar dari kamar setelah mandi dan ganti baju –punya Wanda, sepasang kekasih itu terlihat duduk di sofa di depan TV layar datar besar yang menggantung pada dinding abu-abu. Di bawahnya ada meja panjangan rendah dengan warna hitam mengkilat polos di mana perangkat home theatre tersusun. Sekat-sekat di bawahnya masing-masing diisi dengan patung kayu kecil berbagai bentuk –pilihan mereka untuk pajangan ternyata sangat kaku
“Apaan sih ini?!” tegur lelaki itu saat Wanda yang bersandar rendah menaikan sebelah kakinya ke sandaran sofa dan posisinya hampir berada tepat di atas kepala pacarnya yang duduk pada ujung lainnya.
Dengan kasar, laki-laki itu menyingkirkannya hingga Wanda terkejut.
Wanda mendecak keras. “Reseh ah!” gerutunya.
Aku nggak menyangka kalau hubungan mereka seperti itu –saling seenaknya, alih-alih romantis atau mesra. Ataukah hal-hal seperti itu hanya ada di film?
Wanda kemudian menyadari kehadiranku. “Kamu udah selesai, Bell?”
Ia meninggalkan sofa berikut pacarnya yang menoleh padaku dengan tampang kusut. Sulit untuk bersikap biasa saat tahu ada orang yang merasa terganggu.
Mungkin kehadiranku merusak suasana tapi aku benar-benar nggak bisa menolak ajakan Wanda untuk menginap agar kami bisa mengobrol dengan leluasa –semacam girl’s talk, karena katanya dia nggak bisa ke mana-mana. Dia butuh seorang teman.
Pacarnya langsung melipir saat Wanda mengajakku bergabung dengan mereka di ruang TV.
“Kamu suka pizza nggak?” tanya dia.
Aku mengangguk; hampir nggak punya makanan pantangan kecuali sayuran.
“Aku udah pesan daritadi,” jelas dia. “Bentar lagi datang kok.”
Komentar
0 comments