๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Aku harus selalu ingat bahwa Nial mempunyai seorang kekasih yang sedang merindukannya –aku melihatnya berdiri di depan pintu apartemen.
Seorang gadis dengan jumpsuit merah muda cerah. Rambutnya dikucir dengan klimis ke belakang. Dia menggeggam clutch kristal transparan di tangannya. Penampilannya menjabarkan dengan jelas kalau dia memang Nadine –gadis yang selama ini dalam pikiranku pastilah orang yang cantik dan berkelas. Dalam pikiranku, gadis seperti itulah yang sepadan dengannya. Tapi, ternyata dia lebih –lebih dari yang aku pikirkan.
Dengan sabar dia berdiri sambil membunyikan bel beberapa kali. Aku pikir aku akan menunggu dari jauh sampai dia pergi. Toh di dalam nggak ada orang.
Tapi, aku keliru. Pintu terbuka dan Nial keluar.
Dia sudah kembali selama aku pergi?
Gadis itu terlihat senang ketika ia mengalungkan kedua lengannya di bahu Nial.
Dia bisa memeluknya dengan begitu mudah, sementara aku? Mengkhayal saja aku nggak berani....
***
Sakit tapi nggak berdarah –aku pernah dengar itu sebagai bahan candaan di internet. Tapi, sebenarnya, itu bukan lelucon melainkan ungkapan dari satu perasaan campur aduk dan berkecamuk di mana semua yang terburuk jadi satu.
Kalau orang-orang bilang, rasanya seperti ditusuk ribuan jarum sekaligus; itulah yang kurasakan saat ini. Rasa sakit yang sama ketika Alex memberitahuku kalau dia jatuh cinta pada Ruby dengan senyum sumringah di wajahnya. Dan aku membalasnya dengan senyum yang sama, meskipun di dalam hati aku sudah lebih dulu menangis.
Aku memutuskan untuk pergi.
“Apa kita bisa keluar sebentar?” aku menghampiri Valde yang sedang duduk sambil merokok nggak jauh dari kantornya.
Valde sama sekali nggak bertanya padaku tentang kenapa tiba-tiba aku mengajaknya pergi –meninggalkan tempat sialan itu!
Valde mengajakku naik motor dan kami berkeliling. Walaupun dingin –ya, ini jam sebelas malam, biasanya aku sudah meringkuk di bawah tempat tidur. Kadang-kadang menangis sampai ketiduran. Ini pertama kalinya lagi aku menghirup udara luar setelah tiga minggu terkurung.
“Kamu lapar nggak?” tanya dia dari depan.
Aku mengangguk. Aku juga rindu rasanya makan di pinggir jalan. Kami pun berhenti di warteg favoritnya.
Untuk sesaat aku bisa lupa soal teman-teman Braska yang mungkin masih mengintai. Andai aku bisa menyukai Valde lagi. Ini akan menjadi sebuah kencan yang menyenangkan –bukan sebuah pelarian gara-gara aku melihat orang yang aku sukai bermesraan dengan orang lain.
“Val, aku boleh minta tolong nggak?”
“Apa?”
“Kamu bisa ngantar aku pulang?” tanyaku dan sepertinya Valde terkesiap.
Dia mengangguk tapi gurat kecewa terlihat di wajahnya walaupun ia tersenyum.
“Maksudku... bukan ke apartemen itu, tapi rumahku.”
Aku nggak mau lagi kembali ke sana –hanya untuk melihat kalau mereka nggak hanya sekedar berpelukan.
***
Komentar
0 comments